Jumat, Mei 31, 2024

TANYA JAWAB - PENDAPAT YANG MEMPERBOLEHKAN PEREMPUAN HAID MEMBACA AL-QUR'AN


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mohon solusinya barangkali ada pendapat yg menyatakan klo wanita yg haid itu blh baca quran, soalnya ana punya adik yg mondok di pondok tahfiz, klo haid kan terhalang membaca yg di khawatirkan hafalan nya akan lupa๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh. 

Pendapat yang memperbolehkan perempuan haid membaca Al-Qur'an itu bersumber dari madzhab Maliki, sedangkan tiga madzhab lainnya memang mengharamkan. Jadi solusinya jika memang khawatir lupa hafalannya, maka boleh taklid atau mengikuti pendapatnya madzhab Maliki tersebut. Tapi tetap, saat membaca itu tidak disertai menyentuh mushafnya.

Adapun dalam madzhab Syafi'i, perempuan haid itu sebenarnya diperbolehkan membaca Al-Qur'an namun dengan membacanya dalam hati, atau dengan menggerakkan bibir namun jangan sampai mengeluarkan suara sehingga terdengar oleh dirinya sendiri, tapi rasanya dalam keadaan seperti itu sangat sulit dan tidak nyaman. Jadi jika demikian, maka solusi terakhirnya memang mengikuti pendapatnya madzhab Maliki saja.

๐Ÿ“š Keterangan :

ุงุฎุชู„ู ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ุญูƒู… ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ุญุงุฆุถ ู„ู„ู‚ุฑุขู†، ูุฐู‡ุจ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุงู„ุญู†ููŠّุฉ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ุฅู„ู‰ ุญุฑู…ุฉ ู‚ุฑุงุกุชู‡ุง ู„ู„ู‚ุฑุขู† ู„ู‚ูˆู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ู„ุง ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ุญุงุฆุถ ูˆู„ุง ุงู„ุฌู†ุจ ุดูŠุฆุง ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู†

“Para fuqoha berbeda pendapat mengenai hukum membaca Al-Qur'an bagi perempuan haid. Jumhur fuqoha dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi'i dan Hambali berpendapat bahwasanya haram bagi perempuan haid membaca Al-Qur'an berdasarkan sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Perempuan haid dan orang junub tidak diperbolehkan membaca sesuatu pun dari Al-Qur'an” 

๐Ÿ“• (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah jilid 18, hlm. 321)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุญุงุฆุถ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ููŠ ุญุงู„ ุงุณุชุฑุณุงู„ ุงู„ุฏู… ู…ุทู„ู‚ุง، ูƒุงู†ุช ุฌู†ุจุง ุฃู… ู„ุง، ู„ุง ุฎุงูุช ุงู„ู†ุณูŠุงู† ุฃู… ู„ุง. ูˆุฃู…ุง ุฅุฐุง ุงู†ู‚ุทุน ุญูŠุถู‡ุง، ูู„ุง ุชุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ุญุชู‰ ุชุบุชุณู„ ุฌู†ุจุง ูƒุงู†ุช ุฃู… ู„ุง، ุฅู„ุง ุฃู† ุชุฎุงู ุงู„ู†ุณูŠุงู†، ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ู…ุนุชู…ุฏ ุนู†ุฏู‡ู…، ู„ุฃู†ู‡ุง ู‚ุงุฏุฑุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุทู‡ุฑ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ุฉ، ูˆู‡ู†ุงูƒ ู‚ูˆู„ ุถุนูŠู ู‡ูˆ ุฃู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฅุฐุง ุงู†ู‚ุทุน ุญูŠุถู‡ุง ุฌุงุฒ ู„ู‡ุง ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ุฅู† ู„ู… ุชูƒู† ุฌู†ุจุง ู‚ุจู„ ุงู„ุญูŠุถ، ูุฅู† ูƒุงู†ุช ุฌู†ุจุง ู‚ุจู„ู‡ ูู„ุง ุชุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ

“Para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa perempuan sedang haid itu diperbolehkan untuk membaca Al-Qur'an disaat sedang keluarnya darah secara mutlak. Entah (pada saat itu kondisinya) disertai junub ataupun tidak, dan entah karena khawatir lupa ataupun tidak. Adapun pada saat darah haidnya sudah berhenti, maka tidak diperbolehkan membaca Al-Qur'an sampai dia mandi (atau bersuci terlebih dahulu). Entah (pada saat itu kondisinya) disertai junub ataupun tidak, kecuali jika khawatir lupa (maka diperbolehkan). Pendapat tersebut merupakan pendapat yang mu'tamad (didalam madzhab Maliki), sebab seorang perempuan itu dipandang mampu untuk bersuci dalam kondisi darahnya sudah berhenti. Namun ada juga keterangan dhoif yang menyebutkan bahwa seorang perempuan disaat darah haidnya sudah berhenti itu tetap diperbolehkan membaca Al-Qur'an, asalkan kondisinya tidak disertai junub. Adapun jika disertai junub sebelumnya, maka tidak diperbolehkan untuk membaca Al-Qur'an (sampai dia bersuci terlebih dahulu)” 

๐Ÿ“• (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah jilid 18, hlm. 322)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุฃู…ุง ุฌูˆุงุฒ ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ูู„ู…ุง ูŠุฑูˆู‰ ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู†ู‡ุง ูƒุงู†ุช ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆู‡ูŠ ุญุงุฆุถ ูˆุงู„ุธุงู‡ุฑ ุงุทู„ุงุนู‡ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู…، ูˆุฃู…ุง ุงู„ู…ู†ุน ูู‚ูŠุงุณุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู†ุจ ูˆุงู„ูุฑู‚ ู„ู„ุฃูˆู„ ู…ู† ูˆุฌู‡ูŠู† ุฃู† ุงู„ุฌู†ุงุจุฉ ู…ูƒุชุณุจุฉ ูˆุฒู…ุงู†ู‡ุง ู„ุง ูŠุทูˆู„ ุจุฎู„ุงู ุงู„ุญูŠุถ

“Adapun yang memperbolehkan perempuan haid membaca Al-Qur'an adalah riwayat yang bersumber dari sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha yang menyebutkan bahwasanya beliau pernah membaca Al-Qur'an dalam keadaan haid, dan hal itu terjadi atas sepengetahuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Adapun larangan membaca Al-Qur'an ini diqiyaskan dengan hukumnya orang junub, dan perbedaan antara keduanya itu ada dua segi. Yakni junub terjadi karena keinginan yang melakukan, sedangkan hal ini berbeda dengan perempuan haid, dan masa junub tidak selama masa haid” 

๐Ÿ“• (Adz-Dzakhirah jilid 1, hlm. 379)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุงู„ุญุงุฆุถ ูˆุงู„ู†ูุณุงุก ููŠ ุฐู„ูƒ ูƒุงู„ุฌู†ุจ ูˆุณูŠุฃุชูŠ ุญูƒู…ู‡ู…ุง ููŠ ุจุงุจ ุงู„ุญูŠุถ ูˆู„ู…ู† ุจู‡ ุญุฏุซ ุฃูƒุจุฑ ุฅุฌุฑุงุก ุงู„ู‚ุฑุขู† ุนู„ู‰ ู‚ู„ุจู‡ ูˆู†ุธุฑ ููŠ ุงู„ู…ุตุญู ูˆู‚ุฑุงุกุฉ ู…ุง ู†ุณุฎุช ุชู„ุงูˆุชู‡ ูˆุชุญุฑูŠูƒ ู„ุณุงู†ู‡ ูˆู‡ู…ุณู‡ ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠุณู…ุน ู†ูุณู‡ ู„ุฃَู†ู‡ุง ู„ูŠุณุช ุจู‚ุฑุงุกุฉ ู‚ุฑุขู†

“Perempuan haid dan nifas itu dianggap sama seperti orang junub, dan hukum tentang keduanya akan dibahas pada bab haid. Maka bagi orang yang sedang mengalami hadas besar, itu diperbolehkan membaca Al-Qur'an dalam hati, melihat mushaf, membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang sudah dinasakh tulisannya, menggerakkan bibir dan suaranya tidak terdengar oleh dirinya sendiri, karena yang demikian ini tidaklah dianggap sebagai membaca” 

๐Ÿ“• (Mughni Al-Muhtaj jilid 1, hlm. 119)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุฑุน) ููŠ ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ุญุงุฆุถ ุงู„ู‚ุฑุขู†، ู‚ุฏ ุฐูƒุฑู†ุง ุฃู† ู…ุฐู‡ุจู†ุง ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ุชุญุฑูŠู…ู‡ุง ูˆู‡ูˆ ู…ุฑูˆูŠ ุนู† ุนู…ุฑ ูˆุนู„ูŠ ูˆุฌุงุจุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…، ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุงู„ุญุณู† ุงู„ุจุตุฑูŠ ูˆู‚ุชุงุฏุฉ ูˆุนุทุงุก ูˆุฃุจูˆ ุงู„ุนุงู„ูŠุฉ ูˆุงู„ู†ุฎุนูŠ ูˆุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ ูˆุงู„ุฒู‡ุฑูŠ ูˆุฅุณุญุงู‚ ูˆุฃุจูˆ ุซูˆุฑ. ูˆุนู† ู…ุงู„ูƒ ูˆุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฃุญู…ุฏ ุฑูˆุงูŠุชุงู† ุฅุญุฏุงู‡ู…ุง ุงู„ุชุญุฑูŠู…، ูˆุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุงู„ุฌูˆุงุฒ ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุฏุงูˆุฏ. ูˆุงุญุชุฌ ู„ู…ู† ุฌูˆุฒ ุจู…ุง ุฑูˆูŠ ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู†ู‡ุง ูƒุงู†ุช ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆู‡ูŠ ุญุงุฆุถ ูˆู„ุฃู† ุฒู…ู†ู‡ ูŠุทูˆู„ ููŠุฎุงู ู†ุณูŠุงู†ู‡ุง

“(Cabang), terkait beberapa pendapat ulama mengenai hukum membaca Al-Qur'an bagi perempuan haid. Telah kami sebutkan bahwasanya pendapat yang masyhur dalam madzhab kami (madzhab Syafi'i) itu menyatakan bahwa perempuan haid diharamkan membaca Al-Qur'an berdasarkan riwayat yang bersumber dari sayyidina Umar, Ali dan Jabir radhiyallahu 'anhum. Dan ini juga merupakan pendapatnya imam Hasan Al-Bashri, Qotadah, Atho, Abul Aliyyah, An-Nakhoi, Sa'id bin Jubair, Az-Zuhri, Ishaq bin Rahawaih dan Abu Tsaur. Sedangkan pendapat dari imam Malik, imam Abu Hanifah dan imam Ahmad itu terdapat dua keterangan. Yang pertama menyatakan haram dan yang kedua menyatakan boleh, dan ini juga merupakan pendapatnya imam Daud Adz-Dzohiri. Mereka (yang memperbolehkan perempuan haid membaca Al-Qur'an) berhujjah memakai riwayat yang bersumber dari sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya sayyidah Aisyah pernah membaca Al-Qur'an sedangkan saat itu beliau dalam keadaan haid, karena lamanya juga masa haid dan dikhawatirkan lupa (hafalannya)” 

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 2, hlm. 287)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

TANYA JAWAB - APAKAH UANG TERMASUK BENDA RIBAWI?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Mau bertanya soal fulus atau uang, bagai mana peranan fulus ato uang yg ada pada zaman ini yg berkaitan dgn hukum2 riba dan zakat uang, apakah fulus itu benda riba sehingga muamalah nya ada syarat sebagaimana syarat dlm benda riba seperti emas? Dan apakah wajib zakat?๐Ÿ™๐Ÿ™

๐Ÿ”„ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Dalam konteks pembahasan dizaman modern seperti sekarang ini, sepanjang yang saya ketahui dari para guru bahwasanya uang yang ada pada hari ini, itu telah menempati posisi yang sama sebagaimana emas dan perak (dinar dan dirham) pada zaman dulu, dan wajib dikeluarkan zakatnya sebagaimana wajibnya zakat pada emas dan perak. Sebab jika dulu yang berperan untuk mengukur harga barang dan dipakai sebagai alat transaksi itu adalah dinar dan dirham, maka pada hari ini dinar dan dirham tidak lagi dipakai, tapi yang dipakai hari ini adalah uang. Dan antara uang dengan emas, itu mempunyai hukum serta illat yang sama dan keduanya masuk dalam kategori Al-Amwal Ar-Ribawiyah seperti yang telah difatwakan oleh lembaga-lembaga fiqih yang ada di seluruh dunia.

๐Ÿ“ Catatan :

Uang dan fulus itu berbeda, karena zaman dulu fulus tidak berperan sebagai alat tukar untuk mengukur harga barang kecuali hanya untuk barang-barang yang remeh (murah). Mangkanya didalam kitab-kitab fiqih klasik kita akan banyak menemukan keterangan bahwa fulus tidak wajib dizakati, ya karena memang illat riba yang melekat pada emas dan perak itu tidak melekat pada fulus. Walhasil, fulus zaman dulu dan uang hari ini sangatlah jauh berbeda peranannya. Ringkasnya, fulus zaman dulu itu bukan benda berharga, berbeda dengan uang pada hari ini meskipun secara dzatnya hanyalah sebuah kertas, namun ya kertas yang punya nilai berharga tentunya.

๐Ÿ“š Keterangan :

ุฃู…ุง ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ (ุงู„ุจู†ูƒู†ูˆุช) ูู„ู… ูŠุจุญุซู‡ุง ุงู„ู…ุชู‚ุฏู…ูˆู† ู…ู† ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู„ุนุฏู… ูˆุฌูˆุฏู‡ุง ููŠ ุฒู…ุงู†ู‡ู…، ูˆู‚ุฏ ูƒุชุจุช ููŠู‡ุง ุฑุณุงุฆู„ ุฌุฏูŠุฏุฉ ุฃุดู…ู„ู‡ุง (ุงู„ูˆุฑู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠ) ู„ู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุณู„ูŠู…ุงู† ุจู† ู…ู†ูŠุน ุจุญุซ ููŠู‡ุง ุงู„ุชุงุฑูŠุฎ ูˆุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ูˆุฑู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠ، ุซู… ู‚ูŠู…ุชู‡ ูˆุญูƒู…ู‡ ู…ุณุชู†ุจุทุง ู…ู…ุง ูƒุชุจู‡ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ุงู„ู†ู‚ูˆุฏ ูˆุฃุญูƒุงู… ุงู„ูู„ูˆุณ، ูˆุงุณุชู†ุชุฌ ุฃู† ุงู„ูˆุฑู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠ ุซู…ู† ู‚ุงุฆู… ุจุฐุงุชู‡ ู„ู‡ ุญูƒู… ุงู„ู†ู‚ุฏูŠู† ู…ู† ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ููŠ ุฌุฑูŠุงู† ุงู„ุฑุจุง ูˆุงู„ุตุฑู ูˆู†ุญูˆู‡ู…ุง

“Adapun uang kertas, maka para fuqoha terdahulu tidak pernah membahasnya, sebab uang kertas belum pernah ada pada zaman mereka. Adapun risalah terbaru mengenai hukum uang kertas itu telah ditulis, diantaranya adalah kitab Al-Waraq An-Naqdi karya Syeikh Abdullah bin Sulaiman bin Mani yang mana beliau membahas didalamnya mengenai sejarah dan hakikat uang kertas. Kemudian nilai dan hukumnya yang digali dari apa yang pernah ditulis oleh para fuqoha terdahulu dalam masalah nuqud (dinar dirham) dan fulus. Dan beliau telah menyimpulkan bahwa uang kertas itu merupakan alat tukar yang menempati posisi emas dan perak dari segi hukumnya, yakni dalam hal yang berkaitan dengan riba, shorf (tukar menukar) dan yang lainnya” 

๐Ÿ“• (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah jilid 26, hlm. 372)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ููƒู„ ู…ุง ูŠุฌุฑูŠ ุงู„ุชุนุงู…ู„ ุจู‡ ู…ู† ุงู„ุฃุซู…ุงู† ูˆูŠู‚ูˆู… ู…ู‚ุงู… ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ูƒุงู„ุนู…ู„ุงุช ุงู„ุฑุงุฆุฌุฉ ุงู„ุขู† ูŠุนุชุจุฑ ู…ุงู„ุง ุฑุจูˆูŠุง ูˆูŠุฌุฑูŠ ููŠู‡ ุงู„ุฑุจุง ุฅู„ุญุงู‚ุง ุจุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ

“Setiap sesuatu yang digunakan sebagai alat tukar dan menggantikan posisi emas dan perak (untuk bertransaksi) seperti mata uang yang ada pada saat ini, maka tergolong sebagai benda ribawi dan berlaku hukum-hukum riba didalamnya karena dianalogikan dengan emas dan perak” 

๐Ÿ“• (Al-Fiqhul Manhaji jilid 6, hlm. 67)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู‚ุฏ ุงูุชุช ูƒู„ ุงู„ู…ุฌุงู…ุน ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุจุฃู† ุงู„ู†ู‚ูˆุฏ ุงู„ูˆุฑู‚ูŠุฉ ู„ู‡ุง ู…ุง ู„ู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ู…ู† ุงู„ุฃุญูƒุงู…

“Semua lembaga-lembaga fiqih (yang ada diseluruh dunia) telah memfatwakan bahwa uang kertas telah menempati posisi yang sama seperti halnya emas dan perak dari segi hukum-hukumnya” 

๐Ÿ“• (Mausu'ah Al-Qadhaya Al-Fiqhiyyah, hlm. 331)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุนู„ุฉ ุงู„ุฑุจุง ููŠ ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ูู‡ู…ุง ุฌู†ุณ ุงู„ุฃุซู…ุงู† ุบุงู„ุจุง، ูˆูŠู‚ุงุณ ุนู„ูŠู‡ู…ุง ุจู‚ูŠุฉ ุงู„ู†ู‚ูˆุฏ ุงู„ุชูŠ ุชุนู…ู„ ุจุฏู„ ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ

“Illat riba yang terdapat pada emas dan perak adalah gholabatu tsaman (cerminan harga atau nilai yang biasa dipakai sebagai alat transaksi dalam jual beli). Dan uang kertas dianalogikan dengan emas dan perak sebagai pengganti alat tukar keduanya”

๐Ÿ“• (Al-Mu'tamad Fil Fiqih Syafi'i jilid 3, hlm. 106)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุจุฎุตูˆุต ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุนู…ู„ุงุช ุงู„ูˆุฑู‚ูŠุฉ ุฃู†ู‡ุง ู†ู‚ูˆุฏ ุงุนุชุจุงุฑูŠุฉ ููŠู‡ุง ุตูุฉ ุงู„ุซู…ู†ูŠุฉ ูƒุงู…ู„ุฉ ูˆู„ู‡ุง ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ุงู„ู…ู‚ุฑุฑุฉ ู„ู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ู…ู† ุญูŠุซ ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุฑุจุง ูˆุงู„ุฒูƒุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ู… ูˆุณุงุฆุฑ ุฃุญูƒุงู…ู‡ู…ุง

“Khusus terkait hukum-hukum mata uang kertas, bahwasanya uang kertas itu tergolong sebagai alat transaksi yang mempunyai sifat sebagai barang berharga secara keseluruhan. Dan didalamnya juga terdapat hukum syar'i sebagaimana hukum yang terdapat pada emas dan perak entah itu yang berkaitan dengan riba, zakat, salam dan pada seluruh hukumnya” 

๐Ÿ“• (Fiqhul Islami jilid 7, no. 5105)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฅู† ู…ู† ู…ุธุงู‡ุฑ ุงู†ุญุทุงุท ุงู„ููƒุฑ ูˆุฏูˆุงู‡ูŠ ุงู„ุนู„ู… ุฃู† ูŠู‚ุงู„: ุฅู† ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ู„ุง ุชูˆุฒู†، ูู„ุง ุชุนุชุจุฑ ู…ู† ุงู„ุฑุจูˆูŠุงุช، ุจู„ ุชุฃุฎุฐ ุญูƒู… ุงู„ุนุฑูˆุถ ุงู„ุชุฌุงุฑูŠุฉ، ุฃูˆ ูŠู‚ุงู„: ุฅู† ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ูƒุงู„ูู„ูˆุณ ู„ุงูŠุฌุฑูŠ ููŠู‡ุง ุงู„ุฑุจุง. ูˆู‡ุฐุง ุฌู‡ู„ ูˆุงุถุญ ุจุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ู†ู‚ูˆุฏ، ูุฅู†ู‡ุง ุซู…ู† ุงุตุทู„ุงุญูŠ ู„ู„ุฃุดูŠุงุก، ุณูˆุงุก ุฃูƒุงู†ุช ู…ุนุงุฏู† ุฃู… ุฃูŠ ุดูŠุก ุขุฎุฑ، ูˆู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ู„ุง ุชุจูŠุนูˆุง ุงู„ุฏูŠู†ุงุฑ ุจุงู„ุฏูŠู†ุงุฑูŠู†. ูˆุนู„ูŠู‡ ูุงู„ู‚ูˆู„ ุจุนุฏู… ุฌุฑูŠุงู† ุงู„ุฑุจุง ููŠ ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ุงู„ุชูŠ ูŠุชุนุงู…ู„ ุจู‡ุง ุงู„ู†ุงุณ ุงู„ูŠูˆู… ู‚ูˆู„ ุบูŠุฑ ุตุญูŠุญ، ูˆุงู„ุงุตุญ ุฃู† ุงู„ู†ู‚ูˆุฏ ุงู„ูˆุฑู‚ูŠุฉ ู„ู‡ุง ุญูƒู… ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ููŠ ุฌุฑูŠุงู† ุงู„ุฑุจุง ุจู†ูˆุนูŠู‡ ููŠู‡ุง ูˆูƒุฐุง ููŠ ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ

“Sesungguhnya diantara bentuk kesalahan dari cara berpikir dan ketidak mengertian terhadap ilmu adalah semisal perkataan seseorang: Uang kertas itu tidak ditimbang sehingga tidak tergolong sebagai benda ribawi, akan tetapi uang kertas itu tergolong sebagai komoditas tijaroh (yakni seperti barang dagangan biasa). Atau saat seseorang mengatakan: Uang kertas itu seperti halnya fulus (yang terbuat dari tembaga), sehingga riba tidak berlaku didalamnya. Maka, ini merupakan kebodohan disebabkan ketidak mengertiannya terhadap hakikat nuqud, karena uang kertas adalah cerminan harga (atau nilai) untuk mengukur suatu barang entah itu berupa logam ataupun yang lainnya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian menjual (menukar) satu dinar dengan dua dinar. Dengan demikian, perkataan orang yang menyatakan bahwa tidak ada riba pada uang kertas yang biasa dijadikan sebagai alat tukar (alat transaksi) pada hari ini, adalah tidak benar. Karena yang benar bahwasanya uang kertas itu telah menempati posisi emas dan perak dari segi hukumnya yang berkaitan dengan masalah riba, begitu juga yang berkaitan dengan wajibnya zakat” 

๐Ÿ“• (Fiqhul Islami jilid 5, no. 3752)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุญูƒู… ุจูŠุน ุงู„ุตุฑู ูˆุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู…ุงู„ูŠุฉ). ุงู„ุตุฑู: ู‡ูˆ ุจูŠุน ู†ู‚ุฏ ุจู†ู‚ุฏ ุณูˆุงุก ุงุชุญุฏ ุงู„ุฌู†ุณ ุฃูˆ ุงุฎุชู„ู، ูˆุณูˆุงุก ูƒุงู† ุงู„ู†ู‚ุฏ ู…ู† ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ، ุฃูˆ ู…ู† ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ุงู„ู…ุชุนุงู…ู„ ุจู‡ุง ุงู„ุขู† ูู‡ูŠ ุชุฃุฎุฐ ุญูƒู… ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ู„ุงุดุชุฑุงูƒู‡ู…ุง ููŠ ุงู„ุซู…ู†ูŠุฉ. ุฅุฐุง ุจุงุน ู†ู‚ุฏุง ุจุฌู†ุณู‡ ูƒุฐู‡ุจ ุจุฐู‡ุจ، ุฃูˆ ูˆุฑู‚ ู†ู‚ุฏูŠ ุจุฌู†ุณู‡ ูƒุฑูŠุงู„ ุจุฑูŠุงู„ ูˆุฑู‚ูŠ ุฃูˆ ู…ุนุฏู†ูŠ ูˆุฌุจ ุงู„ุชุณุงูˆูŠ ููŠ ุงู„ู…ู‚ุฏุงุฑ ูˆุงู„ุชู‚ุงุจุถ ููŠ ุงู„ู…ุฌู„ุณ. ูˆุฅู† ุจุงุน ู†ู‚ุฏุง ุจู†ู‚ุฏ ู…ู† ุบูŠุฑ ุฌู†ุณู‡ ูƒุฐู‡ุจ ุจูุถุฉ، ุฃูˆ ุฑูŠุงู„ุงุช ูˆุฑู‚ูŠุฉ ุณุนูˆุฏูŠุฉ ุจุฏูˆู„ุงุฑุงุช ุฃู…ุฑูŠูƒูŠุฉ ู…ุซู„ุง ุฌุงุฒ ุงู„ุชูุงุถู„ ููŠ ุงู„ู…ู‚ุฏุงุฑ، ูˆูˆุฌุจ ุงู„ุชู‚ุงุจุถ ููŠ ุงู„ู…ุฌู„ุณ

“(Hukum shorf dan uang kertas). Shorf adalah jual beli (atau pertukaran antara) nuqud dengan nuqud entah itu yang sejenis ataupun yang berbeda jenis, dan entah itu nuqud dari jenis emas dan perak, atau nuqud dari jenis uang kertas yang ada sekarang. Dan uang kertas ini telah menempati posisi emas dan perak dari segi hukumnya dimana (illat keduanya) adalah tsamaniyah (cerminan harga atau nilai yang biasa dipakai sebagai alat transaksi dalam jual beli untuk mengukur harga barang). Maka jika dilakukan (penukaran) nuqud yang sejenis semisal emas dengan emas, atau uang kertas jenis riyal dengan uang kertas jenis riyal yang lain, atau dengan jenis logam, maka wajib sepadan nominalnya dan wajib serah terima dimajelis akad. Namun jika dilakukan (penukaran) nuqud yang berbeda jenis semisal emas dengan perak, atau uang kertas riyal saudi dengan uang kertas dollar amerika, maka boleh tidak sepadan nominalnya namun serah terimanya tetap wajib dilakukan dimajelis akad”

๐Ÿ“• (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah jilid 2, hlm. 425)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฅู† ุงู„ุนู„ุฉ ููŠ ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ู‡ูŠ ุงู„ุซู…ู†ูŠุฉ، ุฃูŠ ุฃู†ู‡ุง ุชุณุชุนู…ู„ ููŠ ุงู„ุจูŠุน ูˆุงู„ุดุฑุงุก ูˆุฅู†ู‡ุง ุซู…ู† ุงู„ุฃุดูŠุงุก، ููƒู„ ู…ุง ูƒุงู† ุซู…ู†ุง ู„ู„ุฃุดูŠุงุก ูˆู„ูˆ ู„ู… ูŠูƒู† ุฐู‡ุจุง ุฃูˆ ูุถุฉ ูุฅู†ู‡ ูŠุฌุฑูŠ ููŠู‡ ุงู„ุฑุจุง، ูุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ููŠู‡ุง ุงู„ุฑุจุง ู„ุฃู†ู‡ุง ุซู…ู† ุงู„ุฃุดูŠุง

“Sesungguhnya illat yang terdapat pada emas dan perak adalah nilainya (yang berfungsi sebagai alat tukar), yaitu bahwa emas dan perak digunakan dalam transaksi jual beli sehingga masuk dalam kategori barang berharga yang dipakai sebagai alat tukar. Maka dari itu setiap sesuatu yang merupakan alat tukar meskipun bukan emas dan perak, adalah benda ribawi. Walhasil uang kertas (yang ada pada hari ini) adalah termasuk benda ribawi karena digunakan sebagai alat tukar (untuk mengukur harga barang sebagaimama emas dan perak pada zaman dulu)” 

๐Ÿ“• (Majma' Fiqih Al-Islami jilid 3, no. 1651)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ููŠูƒูˆู† ุงู„ูˆุฑู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠ ุงู„ู…ุนุงุตุฑ ุซู…ู† ุงู„ุฃุดูŠุงุก ููŠุฌุฑูŠ ููŠู‡ ุงู„ุฑุจุง ูˆุชุฌุจ ููŠู‡ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ูˆู‡ูˆ ุฑุฃูŠ ุณุฏูŠุฏ

“Maka dari itu uang kertas yang ada sekarang adalah sebagai mu'ashiru tsaman (yakni pengukur harga) untuk sesuatu sehingga berlaku hukum-hukum riba didalamnya serta terkena kewajiban zakat, dan ini merupakan pendapat yang tepat” 

๐Ÿ“• (Al-Mu'amalatul Maliyyah, hlm. 150)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุนู„ูŠู‡ ูุงู„ุฐูŠ ู†ุฑุงู‡ ุฃู† ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ุชุฃุฎุฐ ุญูƒู… ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ู…ู† ุชุญุฑูŠู… ุงู„ุฑุจุง ูˆูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ู…ุง ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู…

“Dengan demikian kami berpendapat bahwa uang kertas itu mempunyai hukum yang sama seperti halnya emas dan perak dalam hal yang berkaitan dengan haramnya riba, wajibnya zakat dan yang lainnya, wallahu a'lam”

๐Ÿ“• (Fatawa Al-Mishriyyah, no. 3392)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุฃู† ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ูŠุฌุฑูŠ ููŠู‡ุง ุงู„ุฑุจุง ู„ูŠุณ ู‚ูˆู„ ุนู„ู…ุงุก ุงู„ู…ู…ู„ูƒุฉ ุงู„ุนุฑุจูŠุฉ ุงู„ุณุนูˆุฏูŠุฉ ูู‚ุท ูƒู…ุง ุฃุธู‡ุฑุช ุงู„ุญู„ู‚ุฉ ุจู„ ุนู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุฌุงู…ุน ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ูˆุฏูˆุฑ ุงู„ุฅูุชุงุก ููŠ ุงู„ุนุงู„ู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุจู‡ุฐุง ูˆู…ู† ุงู„ุฃู…ุซู„ุฉ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ูุชูˆู‰ ู…ุฌู…ุน ุงู„ุจุญูˆุซ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุจุงู„ู‚ุงู‡ุฑุฉ ุนุงู… ูกูฃูจูฅ ู‡ู€، ูˆูุชูˆู‰ ู…ุฌู…ุน ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ุจุฌุฏุฉ ุงู„ุชุงุจุน ู„ู…ู†ุธู…ุฉ ุงู„ู…ุคุชู…ุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ุนุงู… ูกูคู ูฆ ู‡ู€ ูˆุนุงู… ูกูคูกูฅ ู‡ู€، ูˆูุชูˆู‰ ู…ุฌู…ุน ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ุจุงู„ู‡ู†ุฏ ุนุงู… ูกูคูกู  ู‡ู€، ูˆุชูˆุตูŠุฉ ุงู„ู…ุคุชู…ุฑ ุงู„ุซุงู†ูŠ ู„ู„ู…ุตุฑู ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ุจุงู„ูƒูˆูŠุช ุนุงู… ูกูคู ูฃ ู‡ู€

“Pendapat yang menyatakan bahwa riba itu berlaku pada uang kertas bukanlah pendapat yang muncul dari para ulama kerajaan Arab Saudi saja sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi itu juga merupakan pendapatnya para ulama yang berasal dari lembaga-lembaga fiqih dunia (Majma' Fiqih), dan lembaga-lembaga fatwa yang ada didunia pun menyatakan seperti itu. Semisal fatwa Majma' Al-Buhuts Al-Islamiyyah yang ada di Kairo pada tahun 1385 hijriyah, kemudian fatwa dari hasil muktamar Majma' Fiqih Al-Islami yang diselenggarakan di Jeddah pada tahun 1406 hijriyah, lalu fatwa Majma' Fiqih Al-Islami yang ada di India pada tahun 1410 hijriyah, dan hasil muktamar kedua yang diselenggarakan oleh bank-bank islam yang ada di Kuwait pada tahun 1403 hijriyah”

๐Ÿ“• (Majma' Fiqih Al-Islami, no 10 tahun 2001 M)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฅุฐุง ูƒุงู† ู…ู† ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุงู„ู…ุชู‚ุฏู…ูŠู† ู…ู† ูŠุฑู‰ ุฃู† ุงู„ุฑุจุง ู„ุง ูŠุฌุฑูŠ ููŠ ุงู„ูู„ูˆุณ ุงู„ู…ุนุฏู†ูŠุฉ ุงู„ู†ุญุงุณูŠุฉ، ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠู…ูƒู† ู‚ูŠุงุณ ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ูู„ูˆุณ ุงู„ู…ุนุฏู†ูŠุฉ ุงู„ู†ุญุงุณูŠุฉ ู„ุฃู†ู‡ ู‚ูŠุงุณ ู…ุน ุงู„ูุงุฑู‚ ูˆูŠุชุถุญ ุงู„ุชูุฑูŠู‚ ููŠู…ุง ูŠู„ูŠ: ุฃู† ุงู„ูู„ูˆุณ ุงู„ู…ุนุฏู†ูŠุฉ ุฅุฐุง ุฒุงู„ ุงุนุชุจุงุฑู‡ุง ูƒู†ู‚ุฏ ุชุนูˆุฏ ูƒุนุฑุถ ู„ู‡ ู‚ูŠู…ุฉ، ุฃูŠْ ู…ุซู„ ู‚ุทุน ุงู„ุฃุซุงุซ ุฃู…ุง ุงู„ูˆุฑู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠ ูู‡ูˆ ุจุฎู„ุงู ุฐู„ูƒ. ุฃู† ุงู„ูู„ูˆุณ ุงู„ู…ุนุฏู†ูŠุฉ ุชุณุชุฎุฏู… ู„ู…ุญู‚ุฑุงุช ุงู„ุณู„ุน ุฃูŠْ ุดูŠุก ุญู‚ูŠุฑ ุงู„ุซู…ู†، ูˆู…ุง ู„ุง ุชุจู„ุบ ู‚ูŠู…ุชู‡ ุฏุฑู‡ู… ูุถุฉ ูุถู„ุงً ุนู† ุฏูŠู†ุงุฑ ุฐู‡ุจ، ุจุฎู„ุงู ุงู„ูˆุฑู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠ ุงู„ุฐูŠ ู‚ุฏ ูŠุดุชุฑู‰ ุจู‡ ุงู„ุดูŠุก ุงู„ุซู…ูŠู†. ูˆู„ุฐุง ูุฅู† ุฅุธู‡ุงุฑ ุงู„ุญู„ู‚ุฉ ู‚ูŠุงุณ ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ูู„ูˆุณ ู…ู† ุจุงุจ ุงู„ุชู„ุจูŠุณ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุณ

“Jika para fuqoha terdahulu berpandangan bahwa riba tidak berlaku pada fulus yang terbuat dari tembaga, karena memang uang kertas tidak bisa disamakan (dianalogikan) dengan fulus yang terbuat dari tembaga tersebut. Sebab keduanya memiliki sisi perbedaan yang sangat jelas, yakni: (Pertama), fulus tidak seperti nuqud yang mempunyai nilai (yakni mempunyai sifat sebagai barang berharga), tapi fulus itu seperti halnya urudh yakni seperti perabotan (dan urudh-urudh lainnya). Adapun uang kertas, itu jelas berbeda dengan fulus (karena uang kertas mempunyai sifat sebagai barang berharga). (Kedua), fulus hanya digunakan untuk menilai (membeli) barang yang murah, yang mana harganya itu tidak sampai satu dinar, bahkan tidak sampai satu dirham. Berbeda halnya dengan uang kertas yang bisa digunakan untuk menilai (membeli) barang berharga (yang mahal). Atas dasar itu, menganalogikan (atau menyamakan) uang kertas dengan fulus adalah termasuk dalam kategori penyesatan ditengah-tengah manusia”

๐Ÿ“• (Majma' Fiqih Al-Islami, no 10 tahun 2001 M)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู†ุต ุงู„ุฅู…ุงู… ู…ุงู„ูƒ ุนู„ู‰ ุฃู† ูƒู„ู…ุง ูŠุฑุชุถูŠู‡ ุงู„ู†ุงุณ ูˆูŠุฌุนู„ูˆู†ู‡ ุณูƒุฉ ูŠุชุนุงู…ู„ูˆู† ุจู‡ุง ูุฅู†ู‡ ูŠุฃุฎุฐ ุญูƒู… ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ู…ู† ุงู„ุฌู„ูˆุฏ

“Nash imam Malik yang menegaskan bahwa sesuatu yang diterima (atau dipakai) oleh manusia untuk digunakan sebagai alat tukar dalam transaksi (jual beli), maka hukumnya sama seperti emas dan perak meskipun terbuat dari kulit”

๐Ÿ“• (Al-Mudawanah jilid 3, hlm. 5)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฅู† ู…ู…ุง ู„ุง ุดูƒ ููŠู‡ ุฃู† ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠ ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‚ุฏูŠุฉ ูˆุงุฌุจุฉ، ู†ุธุฑุง ู„ุฃู†ู‡ุง ุนุงู…ุฉ ุฃู…ูˆุงู„ ุงู„ู†ุงุณ ูˆุฑุกูˆุณ ุฃู…ูˆุงู„ ุงู„ุชุฌุงุฑุงุช ูˆุงู„ุดุฑูƒุงุช ูˆุบุงู„ุจ ุงู„ู…ุฏุฎุฑุงุช، ูู„ูˆ ู‚ูŠู„ ุจุนุฏู… ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠู‡ุง ู„ุฃุฏู‰ ุฅู„ู‰ ุถูŠุงุน ุงู„ูู‚ุฑุงุก ูˆุงู„ู…ุณุงูƒูŠู†

“Tidak diragukan lagi bahwa uang kertas itu wajib dikeluarkan zakatnya, dengan memandang bahwa uang kertas merupakan harta yang umumnya dimiliki oleh manusia dan modal utama untuk tijaroh (perdagangan), syirkah (kerjasama bisnis) serta umumnya dijadikan sebagai harta simpanan (tabungan). Oleh karena itu seandainya dikatakan bahwa uang kertas tidak wajib dikeluarkan zakatnya, maka yang demikian itu akan mengakibatkan hilangnya (hak) orang-orang fakir dan orang-orang miskin”

๐Ÿ“• (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah jilid 23, hlm. 265)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูŠุฑูˆู† ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠ ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู…ุงู„ูŠุฉ، ู„ุฃู†ู‡ุง ุญู„ุช ู…ุญู„ ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ููŠ ุงู„ุชุนุงู…ู„ ูˆูŠู…ูƒู† ุตุฑูู‡ุง ุจุงู„ูุถุฉ ุจุฏูˆู† ุนุณุฑ، ูู„ูŠุณ ู…ู† ุงู„ู…ุนู‚ูˆู„ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู„ุฏู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุซุฑูˆุฉ ู…ู† ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ุงู„ู…ุงู„ูŠุฉ، ูˆูŠู…ูƒู†ู‡ู… ุตุฑู ู†ุตุงุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ู…ู†ู‡ุง ุจุงู„ูุถุฉ ูˆู„ุง ูŠุฎุฑุฌูˆู† ู…ู†ู‡ุง ุฒูƒุงุฉ، ูˆู„ุฐุง ุฃุฌู…ุน ูู‚ู‡ุงุก ุซู„ุงุซุฉ ู…ู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุนู„ู‰ ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠู‡ุง ูˆุฎุงู„ู ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ูู‚ุท
 
“Jumhur fuqoha menyatakan bahwa uang kertas itu wajib dikeluarkan zakatnya, sebab uang kertas telah menggantikan posisi emas dan perak sebagai alat tukar (dalam transaksi) dan mudah untuk ditukarkan dengan perak. Maka tidak masuk diakal kalau ada manusia yang mempunyai harta dalam bentuk kertas yang mana harta tersebut bisa ditukar dengan nishob zakat perak namun mereka tidak mengeluarkan zakatnya. Maka dari itu para ulama dari tiga madzhab telah sepakat mengenai wajibnya zakat uang kertas, hanya madzhab Hambali saja yang berbeda” 

๐Ÿ“• (Fiqih Madzahibul Arba'ah jilid 1, hlm. 549)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ 

Selasa, Mei 28, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM MENDIRIKAN SHOLAT JAMAAH SETELAH JAMAAH PERTAMA SELESAI


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.

Saya prnh telat datang ke mesjid bersama 2 org tmn saya, dan kebetulan shalat berjamaah nya sudah selesai. Yg ingin di tanyakan, sebaiknya saya shalat sendiri-sendiri atau shalat berjamaah bersama 2 tmn saya itu? Dan bagaimana hukumnya?๐Ÿ™

๐Ÿ”„ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Mendirikan sholat jamaah dimana sebelumnya sudah dilaksanakan sholat jamaah, itu hukumnya diperinci sebagai berikut :

1. Jika masjid yang hendak dilaksanakan sholat jamaah kedua itu merupakan masjid yang didalamnya terdapat imam ratib, maka mendirikan sholat jamaah kedua dihukumi makruh kecuali jika ada izin dari imam ratibnya tersebut, dan ini merupakan pendapat yang shohih didalam madzhab Syafi'i. Sedangkan sebagian ulama menyatakan tidak makruh, dan yang menyatakan demikian diantaranya adalah imam Ahmad dan imam Ibnul Mundzir. Juga pendapat syadz dan dhoif yang pernah dihikayatkan oleh imam Rafi'i. Insyaa Allah saya akan cantumkan beberapa perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai hal ini.

2. Namun jika masjidnya adalah masjid matruq, yaitu masjid yang berada dijalan-jalan yang disediakan untuk orang-orang yang singgah dari kalangan musafir, atau masjid yang tidak terdapat imam ratib didalamnya, atau masjid-masjid kecil yang berada dipasar-pasar dan tempat lalu lalang manusia, maka mendirikan sholat jamaah kedua dimasjid tersebut tidak dihukumi makruh.

๐Ÿ“ Catatan : 

Imam ratib adalah imam yang ada disebuah masjid, yang mana dia menjadi imam tetap dimasjid tersebut saat diselenggarakannya sholat jamaah pada setiap waktu. Dan dimasjid itu juga terdapat jamaah tetap dari kalangan orang-orang mukim (penduduk setempat).

๐Ÿ“š Keterangan :

ุฃู…ุง ุญูƒู… ุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ูู‚ุงู„ ุฃุตุญุงุจู†ุง ุฅู† ูƒุงู† ู„ู„ู…ุณุฌุฏ ุงู…ุงู… ุฑุงุชุจ ูˆู„ูŠุณ ู‡ูˆ ู…ุทุฑูˆู‚ุง ูƒุฑู‡ ู„ุบูŠุฑู‡ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ููŠู‡ ุงุจุชุฏุงุก ู‚ุจู„ ููˆุงุช ู…ุฌุฆ ุงู…ุงู…ู‡ ูˆู„ูˆ ุตู„ู‰ ุงู„ุงู…ุงู… ูƒุฑู‡ ุฃูŠุถุง ุฅู‚ุงู…ุฉ ุฌู…ุงุนุฉ ุฃุฎุฑู‰ ููŠู‡ ุจุบูŠุฑ ุงุฐู†ู‡ ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ูˆุจู‡ ู‚ุทุน ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ูˆุญูƒู‰ ุงู„ุฑุงูุนูŠ ูˆุฌู‡ุง ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠูƒุฑู‡ ุฐูƒุฑู‡ ููŠ ุจุงุจ ุงู„ุฃุฐุงู† ูˆู‡ูˆ ุดุงุฐ ุถุนูŠู ูˆุฅู† ูƒุงู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ ู…ุทุฑูˆู‚ุง ุฃูˆ ุบูŠุฑ ู…ุทุฑูˆู‚ ูˆู„ูŠุณ ู„ู‡ ุงู…ุงู… ุฑุงุชุจ ู„ู… ุชูƒุฑู‡ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ููŠู‡ ู„ู…ุง ุฐูƒุฑู‡ ุงู„ู…ุตู†ู

“Adapun hukum mengenai permasalahan ini, maka para ulama madzhab kami menyatakan: Jika disebuah masjid terdapat imam ratib dan masjidnya bukan termasuk masjid matruq (yakni masjid yang berada dijalan-jalan yang tidak terdapat imam ratib), maka makruh hukumnya bagi yang lain untuk mendirikan sholat jamaah lebih dulu sebelum datang imam ratibnya tersebut. Dan jika imam ratibnya sudah mendirikan sholat jamaah, maka makruh juga mendirikan sholat jamaah yang lain tanpa seizin dari imam ratibnya. Ini adalah pendapat yang shohih dan masyhur yang merupakan kepastian dari pendapatnya jumhur ulama. Namun imam Rafi'i menghikayatkan sebuah pendapat bahwasanya hal itu tidak dimakruhkan sebagaimana disebutkan dalam bab adzan, hanya saja itu merupakan pendapat yang syadz dan lemah. Dan jika masjidnya itu merupakan masjid matruq atau bukan masjid matruq yang tidak terdapat imam ratib, maka tidak dimakruhkan mendirikan sholat jamaah kedua sebagaimana yang disebutkan oleh mushonnif (pengarang kitab)” 

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 4, hlm. 222)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุฑุน) ููŠ ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ู…ุณุฌุฏ ุฃู‚ูŠู…ุช ููŠู‡ ุฌู…ุงุนุฉ ู‚ุจู„ู‡ุง: ุฃู…ุง ุฅุฐุง ู„ู… ูŠูƒู† ู„ู‡ ุฅู…ุงู… ุฑุงุชุจ ูู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ููŠ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ูˆุงู„ุซุงู„ุซุฉ ูˆุฃูƒุซุฑ ุจุงู„ุงุฌู…ุงุน، ูˆุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ู„ู‡ ุฅู…ุงู… ุฑุงุชุจ ูˆู„ูŠุณ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ู…ุทุฑูˆู‚ุง ูู…ุฐู‡ุจู†ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุจุบูŠุฑ ุงุฐู†ู‡ ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุนุซู…ุงู† ุงู„ุจุชูŠ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ ูˆู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ู„ูŠุซ ูˆุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ، ูˆู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ ูˆุงุณุญู‚ ูˆุฏุงูˆุฏ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ ู„ุง ูŠูƒุฑู‡

“(Cabang), terkait beberapa pendapat ulama mengenai hukum mendirikan jamaah baru dimasjid yang sebelumnya sudah dilaksanakan sholat berjamaah: Jika dimasjid tersebut tidak terdapat imam ratib, maka tidak dimakruhkan mendirikan sholat jamaah kedua, ketiga dan seterusnya berdasarkan ijma para ulama. Sedangkan jika dimasjid tersebut terdapat imam ratib dan masjidnya bukan termasuk masjid matruq, maka para ulama madzhab kami menyatakan makruh mendirikan sholat jamaah kedua tanpa seizin dari imam ratibnya. Yang demikian ini juga merupakan pendapatnya imam Utsman Al-Bati, Al-Auza'i, Malik, Al-Laits, Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Hanifah. Sedangkan imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Daud Adz-Dzohiri dan Ibnul Mundzir menyatakan tidak makruh” 

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 4, hlm. 222)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุนู† ุฃุจูŠ ุงู„ู…ุชูˆูƒู„ ุนู† ุฃุจูŠ ุณุนูŠุฏ ู‚ุงู„ ุฌุงุก ุฑุฌู„ ูˆู‚ุฏ ุตู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„ ุฃูŠูƒู… ูŠุชุฌุฑ ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ูู‚ุงู… ุฑุฌู„ ูุตู„ู‰ ู…ุนู‡ ู‚ุงู„ ูˆููŠ ุงู„ุจุงุจ ุนู† ุฃุจูŠ ุฃู…ุงู…ุฉ ูˆุฃุจูŠ ู…ูˆุณู‰ ูˆุงู„ุญูƒู… ุจู† ุนู…ูŠุฑ ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุนูŠุณู‰ ูˆุญุฏูŠุซ ุฃุจูŠ ุณุนูŠุฏ ุญุฏูŠุซ ุญุณู† ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุบูŠุฑ ูˆุงุญุฏ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุบูŠุฑู‡ู… ู…ู† ุงู„ุชุงุจุนูŠู† ู‚ุงู„ูˆุง ู„ุง ุจุฃุณ ุฃู† ูŠุตู„ูŠ ุงู„ู‚ูˆู… ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ู…ุณุฌุฏ ู‚ุฏ ุตู„ู‰ ููŠู‡ ุฌู…ุงุนุฉ ูˆุจู‡ ูŠู‚ูˆู„ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญู‚ ูˆู‚ุงู„ ุขุฎุฑูˆู† ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูŠุตู„ูˆู† ูุฑุงุฏู‰ ูˆุจู‡ ูŠู‚ูˆู„ ุณููŠุงู† ูˆุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ูˆู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูŠุฎุชุงุฑูˆู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฑุงุฏู‰

“Diriwayatkan dari Abul Mutawakkil, dari Abu Sa'id beliau berkata: Seorang laki-laki datang (ke masjid) sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah selesai melaksanakan sholat, kemudian beliau bersabda: Siapa yang ingin berdagang (maksudnya mencari pahala) bersama orang ini? Lalu berdirilah seorang laki-laki dan sholat bersama (laki-laki yang telat datang tadi). Didalam bab ini juga ada riwayat dari Abu Umamah, Abu Musa dan Al-Hakam bin Umair. Abu Isa (imam Tirmidzi) mengatakan: Hadits Abu Sa'id derajatnya hasan, dan ini adalah pendapat yang diambil tidak hanya oleh satu orang saja dari kalangan sahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan selain daripada mereka dari kalangan tabi'in. Mereka mengatakan: Tidak apa-apa melaksanakan sholat berjamaah dimasjid yang (sebelumnya) telah dilaksanakan sholat berjamaah didalamnya, yang demikian ini merupakan pendapatnya imam Ahmad dan imam Ishaq bin Rahawaih. Sedangkan ulama yang lainnya mengatakan: Hendaklah mereka melaksanakan sholat sendiri-sendiri, dan yang demikian ini merupakan pendapatnya imam Sufyan Ats-Tsauri, imam Ibnul Mubarok, imam Malik dan imam Syafi'i. Mereka memilih untuk sholat sendiri-sendiri” 

๐Ÿ“• (Tuhfatul Ahwadzi jilid 2, hlm. 6)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ู‚ุงู„ูˆุง: ูŠูƒุฑู‡ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ู…ุณุฌุฏ ุจุบูŠุฑ ุฅุฐู† ุฅู…ุงู…ู‡ ุงู„ุฑุงุชุจ ู…ุทู„ู‚ุง ู‚ุจู„ู‡ ุฃูˆ ุจุนุฏู‡ ุฃูˆ ู…ุนู‡ ุฅู„ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ ู…ุทุฑูˆู‚ุง ุฃูˆ ู„ูŠุณ ู„ู‡ ุฅู…ุงู… ุฑุงุชุจ ุฃูˆ ู„ู‡ ูˆุถุงู‚ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุนู† ุงู„ุฌู…ูŠุน ุฃูˆ ุฎูŠู ุฎุฑูˆุฌ ุงู„ูˆู‚ุช، ูˆุฅู„ุง ูู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ

”Para ulama madzhab Syafi'i menyatakan: Makruh hukumnya mendirikan sholat jamaah disebuah masjid tanpa seizin dari imam ratibnya secara mutlak entah itu sebelumnya, sesudahnya ataupun bersamaan dengan sholat jamaahnya imam ratib kecuali jika masjidnya itu merupakan masjid matruq (yakni masjid yang berada dijalan-jalan yang disediakan untuk orang-orang yang singgah dari kalangan musafir), atau jika dimasjid itu tidak terdapat imam ratib, atau karena masjidnya terlalu sempit untuk memuat jamaah, atau karena khawatir sholatnya akan keluar dari waktunya. Jika demikian, maka tidak dimakruhkan”

๐Ÿ“• (Fiqih Madzahibul Arba'ah jilid 1, hlm. 395)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูŠู‚ุน ููŠ ุณูˆู‚، ุฃูˆ ููŠ ู…ู…ุฑ ุงู„ู†ุงุณ، ุฃูˆ ู„ูŠุณ ู„ู‡ ุฅู…ุงู… ุฑุงุชุจ، ุฃูˆ ู„ู‡ ุฅู…ุงู… ุฑุงุชุจ ูˆู„ูƒู†ู‡ ุฃุฐู† ู„ู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ، ูู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ููŠ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ูˆุงู„ุซุงู„ุซุฉ ูˆู…ุง ุฒุงุฏ ุจุงู„ุฅุฌู…ุงุน

“Adapun jika masjidnya berada dipasar, atau berada ditempat lalu lalang manusia, atau masjidnya tidak terdapat imam ratib, atau terdapat imam ratib dalam keadaan memberikan izin untuk dilaksanakannya sholat jamaah kedua, maka tidak dimakruhkan adanya sholat jamaah yang kedua, ketiga dan seterusnya berdasarkan ijma para ulama”

๐Ÿ“• (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah jilid 22, hlm. 47)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู„ู‚ุฏ ุตู†ู ู…ูˆู„ุงู†ุง ุงู„ูƒู†ูƒูˆู‡ูŠ ุฑุณุงู„ุฉ ููŠ ู…ุณุฃู„ุฉ ุงู„ุจุงุจ ูˆุฃุชู‰ ููŠู‡ ุจุญุฏูŠุซ ุฃู†ู‡ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ุฏุฎู„ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆู‚ุฏ ุตู„ูŠ ููŠู‡، ูุฐู‡ุจ ุฅู„ู‰ ุจูŠุชู‡ ูˆุฌู…ุน ุฃู‡ู„ู‡ ูˆุตู„ู‰ ุจุงู„ุฌู…ุงุนุฉ. ูˆู„ูˆ ูƒุงู†ุช ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุฌุงุฆุฒุฉ ุจู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ู„ู…ุง ุชุฑูƒ ูุถู„ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ู†ุจูˆูŠ؟ ุฃุฎุฑุฌู‡ ููŠ ู…ุนุฌู… ุงู„ุทุจุฑุงู†ูŠ

“Maulana Al-Kankuhi telah menyusun sebuah risalah terkait permasalahan bab tersebut, dan didalamnya mencantumkan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah masuk ke dalam mesjid sedangkan sholat (berjamaah) telah selesai dilaksanakan. Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam memilih pulang ke rumahnya kemudian berkumpul bersama keluarganya dan melaksanakan sholat bersama mereka. (Maulana Al-Kankuhi menyatakan) : Seandainya mendirikan sholat jamaah kedua itu boleh tanpa disertai kemakruhan, lalu kenapa beliau shallallahu 'alaihi wasallam (lebih memilih) meninggalkan keutamaan sholat dimasjid nabawi? Hadits ini diriwayatkan didalam kitab Al-Mu'jam karya imam Ath-Thobroni”

๐Ÿ“• (Tuhfatul Ahwadzi jilid 2, hlm. 7)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุฃู…ุง ุฑุณุงู„ุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ูƒู†ูƒูˆู‡ูŠ ูู‚ุฏ ุตู†ู ุจุนุถ ุนู„ู…ุงุฆู†ุง ููŠ ุงู„ุฑุฏ ุนู„ูŠู‡ุง ุฑุณุงู„ุฉ ุญุณู†ุฉ ุฌูŠุฏุฉ ูˆุฃุฌุงุจ ุนู† ู…ุง ุงุณุชุฏู„ ุจู‡ ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ูƒู†ูƒูˆู‡ูŠ ุฌูˆุงุจุง ุดุงููŠุง، ูˆู…ู†ู‡ุง ุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ู„ูŠุณ ุจู†ุต ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฌู…ุน ุฃู‡ู„ู‡ ูุตู„ู‰ ุจู‡ู… ููŠ ู…ู†ุฒู„ู‡، ุจู„ ูŠุญุชู…ู„ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุตู„ู‰ ุจู‡ู… ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ، ูˆูƒุงู† ู…ูŠู„ู‡ ุฅู„ู‰ ู…ู†ุฒู„ู‡ ู„ุฌู…ุน ุฃู‡ู„ู‡ ู„ุง ู„ู„ุตู„ุงุฉ ููŠู‡، ูˆุญูŠู†ุฆุฐ ูŠูƒูˆู† ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฏู„ูŠู„ุง ู„ุงุณุชุญุจุงุจ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ู…ุณุฌุฏ ู‚ุฏ ุตู„ูŠ ููŠู‡ ู…ุฑุฉ ู„ุง ู„ูƒุฑุงู‡ุชู‡ุง

“Dan adapun terkait risalahnya Syeikh Al-Kankuhi, maka sebagian ulama kami telah menyusun risalah pula untuk menanggapi beliau dengan risalah yang baik dan menjawab terkait istidlal yang dilakukan oleh Syeikh Al-Kankuhi dengan jawaban yang lengkap. Diantaranya: Hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengumpulkan keluarganya kemudian sholat berjamaah bersama mereka dirumahnya, tapi bisa jadi beliau (telah usai) sholat bersama keluarganya dimasjid. Dan kepulangan beliau ke rumah adalah untuk sekedar mengumpulkan keluarganya, bukan untuk melaksanakan sholat berjamaah didalamnya. Maka dari itu hadits ini malah menjadi dalil terkait dianjurkannya sholat berjamaah dimasjid yang sebelumnya telah selesai dilaksanakan sholat berjamaah satu kali, dan hal itu tidak dimakruhkan”

๐Ÿ“• (Tuhfatul Ahwadzi jilid 2, hlm. 7)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุงู„ุญุงุตู„: ุฃู† ุงู„ุงุณุชุฏู„ุงู„ ุจุญุฏูŠุซ ุฃุจูŠ ุจูƒุฑุฉ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ุนู„ู‰ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชูƒุฑุงุฑ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆุงุณุชุญุจุงุจ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฑุงุฏู‰ ู„ูŠุณ ุจุตุญูŠุญ، ูˆู„ู… ุฃุฌุฏ ุญุฏูŠุซุง ู…ุฑููˆุนุง ุตุญูŠุญุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ุทู„ูˆุจ. ูˆุฃู…ุง ู‚ูˆู„ ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ูƒู†ูƒูˆู‡ูŠ ู„ูˆ ูƒุงู†ุช ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุฌุงุฆุฒุฉ ุจู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ู„ู…ุง ุชุฑูƒ ูุถู„ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ู†ุจูˆูŠ، ูููŠู‡ ุฃู†ู‡ ูŠู„ุฒู… ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ุชู‚ุฑูŠุฑ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฑุงุฏู‰ ุฃูŠุถุง ููŠ ู…ุณุฌุฏ ู‚ุฏ ุตู„ูŠ ููŠู‡ ุจุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ، ูุฅู†ู‡ ูŠู‚ุงู„ ู„ูˆ ูƒุงู†ุช ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฑุงุฏู‰ ุฌุงุฆุฒุฉ ุจู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ููŠ ู…ุณุฌุฏ ู‚ุฏ ุตู„ูŠ ููŠู‡ ุจุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ู„ู…ุง ุชุฑูƒ ูุถู„ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ู†ุจูˆูŠ ูุชููƒุฑ

“Kesimpulannya bahwa beristidlal dengan hadits Abu Bakroh untuk menghukumi makruh mendirikan sholat jamaah (kedua) dimasjid yang sebelumnya telah selesai dilaksanakan sholat berjamaah dan lebih dianjurkan untuk sholat sendiri-sendiri adalah tidak bisa dibenarkan, dan aku pun tidak mendapati adanya hadits shohih yang menunjukkan atas hal itu. Dan adapun pernyataan Syeikh Al-Kankuhi: Seandainya mendirikan sholat jamaah kedua itu boleh tanpa disertai kemakruhan, lalu kenapa nabi shallallahu 'alaihi wasallam (lebih memilih) meninggalkan keutamaan sholat dimasjid nabawi? Hal ini malah menunjukkan kalau sholat sendiri-sendiri dimasjid yang sebelumnya telah selesai dilaksanakan sholat berjamaah itupun dimakruhkan juga. Oleh karena itu aku katakan: Seandainya sholat sendiri-sendiri dimasjid yang sebelumnya telah selesai dilaksanakan sholat berjamaah itu boleh tanpa disertai kemakruhan, lalu kenapa nabi shallallahu 'alaihi wasallam (lebih memilih) meninggalkan keutamaan sholat dimasjid nabawi (dan malah sholat dirumah). Maka renungkanlah hal ini” 

๐Ÿ“• (Tuhfatul Ahwadzi jilid 2, hlm. 7)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Kamis, Mei 23, 2024

TANYA JAWAB - DIBAWAH SAJADAH ADA NAJIS, BAGAIMANA SHOLATNYA?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.

Mau tanya, pada waktu lebaran kemarin saya shalat id di lapangan yg luas bersama yg lainnya. Selesainya dri shalat dan bubar, saya mendapati ada semacam kotoran kucing dibawah sajadah yg saya pakai utk shalat. Yg menjadi uneg-uneg, apakah saat itu shalat saya sah atau tdk krn sblmnya saya tdk tau klo di bawah sajadah ada kotoran kucing.

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Sholat yang dilakukan diatas sajadah yang mana dibawah sajadah tersebut terdapat najis, maka sholatnya dinilai sah. Karena dalam keadaan demikian seseorang yang sholat itu tidak dianggap sedang membawa najis ke dalam sholatnya.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูˆู„ูˆ ุตู„ู‰ ุนู„ู‰ ุจุณุงุท ุชุญุชู‡ ู†ุฌุงุณุฉ ุฃูˆ ุนู„ู‰ ุทุฑูู‡ ู†ุฌุงุณุฉ ุฃูˆ ุนู„ู‰ ุณุฑูŠุฑ ู‚ูˆุงุฆู…ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุฌุงุณุฉ ู„ู… ูŠุถุฑ ูˆู„ูˆ ูƒุงู†ุช ู†ุฌุงุณุฉ ุชุญุงุฐูŠ ุตุฏุฑู‡ ููŠ ุญุงู„ ุณุฌูˆุฏู‡ ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ ููˆุฌู‡ุงู† ุงู„ุฃุตุญ ู„ุง ุชุจุทู„ ุตู„ุงุชู‡ ู„ุฃู†ู‡ ุบูŠุฑ ุญุงู…ู„ ู„ู„ู†ุฌุงุณุฉ ูˆู„ุง ู…ุตู„ ุนู„ูŠู‡ุง

“Seandainya seseorang melakukan sholat diatas karpet yang dibawahnya terdapat najis, atau pada ujung (karpet tersebut) terdapat najis, atau diatas tempat tidur yang dibawahnya terdapat najis, maka yang demikian itu tidak akan sampai merusak (membatalkan) sholatnya. Dan seandainya najis tersebut sejajar dengan dadanya disaat dia melakukan sujud atau yang lainnya, maka dalam keadaan seperti itu terdapat dua pendapat. Menurut pendapat yang shohih sholatnya tidak batal, sebab dalam keadaan seperti itu dia tidak dianggap membawa najis atau tidak dianggap sholat diatas najis” 

๐Ÿ“• (Kifaytul Akhyar jilid 1, hlm. 141)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู„ูˆ ุตู„ู‰ ุนู„ู‰ ุจุณุงุท ุชุญุชู‡ ู†ุฌุงุณุฉ ุฃูˆ ุนู„ู‰ ุทุฑู ู…ู†ู‡ ู†ุฌุงุณุฉ ุฃูˆ ุนู„ู‰ ุณุฑูŠุฑ ู‚ูˆุงุฆู…ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุฌุงุณุฉ ู„ู… ูŠุถุฑ ุณูˆุงุก ุชุญุฑูƒ ุฐู„ูƒ ุงู„ู…ูˆุถุน ุจุญุฑูƒุชู‡ ุฃู… ู„ุง

“Seandainya seseorang melakukan sholat diatas karpet yang dibawahnya terdapat najis atau pada ujung (karpet tersebut) terdapat najis, atau diatas tempat tidur yang dibawahnya terdapat najis, maka yang demikian itu tidak akan sampai merusak (membatalkan) sholatnya entah (tempat-tempat) tersebut ikut bergerak mengikuti gerakan (sholat) atau tidak” 

๐Ÿ“• (Raudhatut Thalibin jilid 1, hlm. 273)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ุงู„ ุงู„ู…ุตู†ู ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูุฅู† ุตู„ู‰ ุนู„ู‰ ุฃุฑุถ ููŠู‡ุง ู†ุฌุงุณุฉ ูุฅู† ุนุฑู ู…ูˆุถุนู‡ุง ุชุฌู†ุจู‡ุง ูˆุตู„ู‰ ููŠ ุบูŠุฑู‡ุง، ูˆุฅู† ูุฑุด ุนู„ูŠู‡ุง ุดูŠุฆุง ูˆุตู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ุฌุงุฒ ู„ุฃู†ู‡ ุบูŠุฑ ู…ุจุงุดุฑ ู„ู„ู†ุฌุงุณุฉ ูˆู„ุง ุญุงู…ู„ ู„ู…ุง ู‡ูˆ ู…ุชุตู„ ุจุงู„ู†ุฌุงุณุฉ

“Mushonnif (pengarang kitab) rahimahullah mengatakan: Seandainya seseorang (hendak) melakukan sholat diatas tanah yang terdapat najis, maka jika najis tersebut diketahui, hendaklah dia menghindarinya dan melakukan sholat ditempat lain. Dan seandainya diatas najis tersebut dihamparkan sesuatu (semisal kain atau sajadah) kemudian sholat diatasnya, maka yang demikian ini diperbolehkan. Sebab dalam keadaan seperti itu dia tidak dianggap bersentuhan dengan najis dan tidak dianggap membawa sesuatu yang menempel pada najis” 

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 3, hlm. 161)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ 

Rabu, Mei 22, 2024

TANYA JAWAB - SEPUTAR WALIMAH NIKAH


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum izin bertanya mengenai hukum walimah nikah dan hadir di acara tersebut bagi yg di undang, bagaimana ketentuan-ketentuannya๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Mengadakan walimah nikah hukumnya adalah sunnah muakkad, dan ini merupakan pendapatnya jumhur ulama dari kalangan empat madzhab. Adapun hukum menghadirinya, pendapat yang shohih dikalangan madzhab Syafi'i menyatakan wajib, namun kewajiban itu bisa gugur jika yang diundang ada uzur. Dan ada juga sebagian ulama madzhab Syafi'i yang berpendapat bahwa menghadiri walimah nikah hukumnya adalah sunnah.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูˆู„ูŠู…ุฉ ุงู„ู†ูƒุงุญ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ุนู†ุฏ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู…ู† ุงู„ุญู†ููŠุฉ ูˆุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ููŠ ุงู„ุฃุตุญ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ

“Mengadakan walimah nikah hukumnya adalah sunnah muakkad berdasarkan pendapatnya jumhur fuqoha dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i menurut pendapat yang shohih, dan juga dari kalangan madzhab Hambali” 

๐Ÿ“• (Raddul Muhtar 'Ala Darrul Mukhtar jilid 6, hlm. 347)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุงู„ูˆู„ูŠู…ุฉ ู„ู„ุนุฑุณ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ู„ุซุจูˆุชู‡ุง ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ูˆู„ุง ูˆูุนู„ุง

“Mengadakan walimatul urs hukumnya adalah sunnah muakkad berdasarkan ketetapan dari nabi shallallahu 'alaihi wasallam baik melalui sabda beliau maupun dari perbuatan beliau” 

๐Ÿ“• (Fiqhul Manhaji jilid 4, hlm. 96)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู‚ุฏ ู†ู‚ู„ ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุฑ ุซู… ุนูŠุงุถ ุซู… ุงู„ู†ูˆูˆูŠ ุงู„ุงุชูุงู‚ ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ูˆู„ ุจูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ู„ูˆู„ูŠู…ุฉ ุงู„ุนุฑุณ ูˆููŠู‡ ู†ุธุฑ، ู†ุนู… ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ู…ู† ุฃู‚ูˆุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ูˆุฌูˆุจ، ูˆุตุฑุญ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ุจุฃู†ู‡ุง ูุฑุถ ุนูŠู† ูˆู†ุต ุนู„ูŠู‡ ู…ุงู„ูƒ، ูˆุนู† ุจุนุถ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ุฃู†ู‡ุง ู…ุณุชุญุจุฉ

“Dan dinukil dari imam Ibnu Abdil Barr, imam Qodhi Iyadh dan imam Nawawi terkait kesepakatan (para ulama) mengenai wajibnya menghadiri walimatul urs. Ya, yang masyhur dari pernyataannya para ulama bahwa menghadiri walimatul urs itu hukumnya memang wajib. Dan jumhur ulama madzhab Syafi'i dan Hambali menjelaskan bahwa hukumnya adalah fardhu ain, dan nash imam Malik juga menyatakan demikian. Sedangkan sebagian ulama madzhab Syafi'i dan Hambali menyatakan bahwa menghadiri walimatul urs itu hukumnya adalah sunnah” 

๐Ÿ“• (Fathul Bari jilid 9, hlm. 149)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: (ุฅุฐุง ุฏุนูŠ ุฃุญุฏูƒู… ุฅู„ู‰ ูˆู„ูŠู…ุฉ ูู„ูŠุฃุชู‡ุง) ููŠู‡ ุงู„ุฃู…ุฑ ุจุญุถูˆุฑู‡ุง ูˆู„ุง ุฎู„ุงู ููŠ ุฃู†ู‡ ู…ุฃู…ูˆุฑ ุจู‡ ูˆู„ูƒู† ู‡ู„ ู‡ูˆ ุฃู…ุฑ ุฅูŠุฌุงุจ ุฃูˆ ู†ุฏุจ؟ ููŠู‡ ุฎู„ุงู، ุงู„ุฃุตุญ ููŠ ู…ุฐู‡ุจู†ุง ุฃู†ู‡ ูุฑุถ ุนูŠู† ุนู„ู‰ ูƒู„ ู…ู† ุฏุนูŠ، ู„ูƒู† ูŠุณู‚ุท ุจุฃุนุฐุงุฑ ุณู†ุฐูƒุฑู‡ุง ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: (Jika salah seorang dari kalian diundang ke acara walimah pernikahan, maka penuhilah undangannya). Didalam hadits ini terdapat perintah untuk menghadiri acara walimah pernikahan dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama terkait hal ini. Namun apakah perintah tersebut bersifat wajib ataukah sunnah? Maka ada perbedaan pendapat. Pendapat yang shohih didalam madzhab kami menyatakan bahwa menghadiri acara walimah pernikahan itu hukumnya adalah wajib bagi setiap orang yang diundang, hanya saja kewajibannya bisa gugur disebabkan adanya uzur sebagaimana yang akan kami sebutkan, insyaa Allah” 

๐Ÿ“• (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim jilid 9, hlm. 570)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ุฃู†ู‡ ูุฑุถ ูƒูุงูŠุฉ ูˆุงู„ุซุงู„ุซ ู…ู†ุฏูˆุจ، ู‡ุฐุง ู…ุฐู‡ุจู†ุง ููŠ ูˆู„ูŠู…ุฉ ุงู„ุนุฑุณ. ูˆุฃู…ุง ุบูŠุฑู‡ุง ูููŠู‡ุง ูˆุฌู‡ุงู† ู„ุฃุตุญุงุจู†ุง: ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุฃู†ู‡ุง ูƒูˆู„ูŠู…ุฉ ุงู„ุนุฑุณ ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ุฃู† ุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ุฅู„ูŠู‡ุง ู†ุฏุจ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ููŠ ุงู„ุนุฑุณ ูˆุงุฌุจุฉ. ูˆู†ู‚ู„ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ุงุชูุงู‚ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ููŠ ูˆู„ูŠู…ุฉ ุงู„ุนุฑุณ، ู‚ุงู„: ูˆุงุฎุชู„ููˆุง ููŠู…ุง ุณูˆุงู‡ุง، ูู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ: ู„ุง ุชุฌุจ ุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ุฅู„ูŠู‡ุง

“Pendapat kedua menyatakan bahwa menghadiri walimatul urs itu hukumnya adalah fardhu kifayah, sedangkan pendapat ketiga menyatakan sunnah. Ini adalah pendapat madzhab Syafi'i mengenai hukum menghadiri walimatul urs. Adapun menghadiri selain walimatul urs (semisal walimatul khitan), maka terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan wajib seperti halnya wajib menghadiri walimatul urs, dan pendapat kedua menyatakan sunnah meskipun untuk walimatul urs hukumnya wajib. Dan dinukil dari imam Qodhi Iyadh terkait kesepakatan para ulama mengenai wajibnya menghadiri walimatul urs. Beliau berkata: Perbedaan pendapat itu hanya untuk selain walimatul urs saja. Al-Imam Malik dan jumhur ulama menyatakan: Tidak wajib menghadirinya (yakni selain walimatul urs)”

๐Ÿ“• (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim jilid 9, hlm. 570)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ู„ุนุฑุณ ูุฑุถ ุนูŠู† ูˆู„ุบูŠุฑู‡ ุณู†ุฉ 
 
“Menghadiri walimatul urs itu hukumnya adalah fardhu ain (wajib bagi setiap orang yang diundang), sedangkan untuk selain walimatul urs hukum menghadirinya adalah sunnah”

๐Ÿ“• (Fathul Wahhab jilid 2, hlm. 104)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Selasa, Mei 21, 2024

TANYA JAWAB - HUKUMAN UNTUK TUKANG SANTET ATAU SIHIR


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.
Mau tanya tentang mslh santet, tenung atau yg sejenisnya. Kira-kira ada tdk hukum pidana yg berlaku utk org yg melakukan santet? Dan jg bagaimana syariah islam menghukumi pelaku santet tersebut? ๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Terkait hukum pidana mengenai persoalan santet atau yang biasa kita kenal dalam istilah fiqih dengan sihir, saya tidak mengetahui hukuman yang berlaku bagi orang yang melakukannya. Namun jika ditinjau dari hukum syariat islam, pelaku santet atau sihir itu harus dibunuh secara mutlak entah santet atau sihirnya sampai mengakibatkan kematian atau tidak, sebab santet atau sihir adalah termasuk perbuatan kufur, dan ini merupakan pendapat sebagian ulama diluar madzhab Syafi'i. Sedangkan didalam madzhab Syafi'i, pelaku santet atau sihir baru diberlakukan hukuman untuk dibunuh jika pelakunya mengakui kalau dirinya sudah membunuh orang dengan cara menyantet atau menyihir. Juga baru diberlakukan hukuman untuk dibunuh jika pelakunya meyakini bahwa santet atau sihir itu bukanlah perbuatan yang dilarang oleh syariat. Sedangkan jika tidak sampai membunuh dan berkeyakinan bahwa sihir itu dibolehkan, maka pelakunya hanya sebatas dihukum qishosh (dihukum dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya), bukan dibunuh.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูˆุงุฎุชู„ู ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ุญูƒู… ุงู„ุณุงุญุฑ ุงู„ู…ุณู„ู… ูˆุงู„ุฐู…ูŠ، ูุฐู‡ุจ ู…ุงู„ูƒ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ู…ุณู„ู… ุฅุฐุง ุณุญุฑ ุจู†ูุณู‡ ุจูƒู„ุงู… ูŠูƒูˆู† ูƒูุฑุง ูŠู‚ุชู„ ูˆู„ุง ูŠุณุชุชุงุจ ูˆู„ุง ุชู‚ุจู„ ุชูˆุจุชู‡، ู„ุฃู†ู‡ ุฃู…ุฑ ูŠุณุชุณุฑ ุจู‡ ูƒุงู„ุฒู†ุฏูŠู‚ ูˆุงู„ุฒุงู†ูŠ، ูˆู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุณู…ู‰ ุงู„ุณุญุฑ ูƒูุฑุง ุจู‚ูˆู„ู‡: ูˆู…ุง ูŠุนู„ู…ุงู† ู…ู† ุฃุญุฏ ุญุชู‰ ูŠู‚ูˆู„ุง ุฅู†ู…ุง ู†ุญู† ูุชู†ุฉ ูู„ุง ุชูƒูุฑ، ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ ูˆุฃุจูŠ ุซูˆุฑ ูˆุฅุณุญุงู‚ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ. ูˆุฑูˆูŠ ู‚ุชู„ ุงู„ุณุงุญุฑ ุนู† ุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ูˆุงุจู† ุนู…ุฑ ูˆุญูุตุฉ ูˆุฃุจูŠ ู…ูˆุณู‰ ูˆู‚ูŠุณ ุจู† ุณุนุฏ ูˆุนู† ุณุจุนุฉ ู…ู† ุงู„ุชุงุจุนูŠู†، ูˆุฑูˆูŠ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุญุฏ ุงู„ุณุงุญุฑ ุถุฑุจู‡ ุจุงู„ุณูŠู

“Para fuqoha berbeda pendapat mengenai hukuman bagi tukang sihir muslim dan kafir dzimmi. Al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa seorang muslim jika melakukan sihir dengan suatu ucapan yang dapat menjadikannya kufur, maka dia harus dibunuh tanpa harus diminta untuk bertaubat, dan lagi pula taubatnya tidak akan diterima karena hal itu merupakan perbuatan yang dilakukan dengan keinginannya (yaitu dengan senang hati) seperti orang zindiq atau tukang zina. Allah Ta'ala telah menyebut sihir itu sebagai bentuk kekufuran berdasarkan firmannya: Sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), maka dari itu janganlah kamu kafir’. Yang demikian itu merupakan pendapatnya imam Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Ishaq, imam Syafi'i dan imam Abu Hanifah radhiyallahu 'anhum ajma'in. Dan riwayat mengenai (harus dibunuhnya) tukang sihir adalah merupakan pendapat yang bersumber dari sayyidina Umar, Utsman, Ibnu Umar, Hafshoh, Abu Musa, Qois bin Sa'ad, dan juga tujuh tokoh (ulama) dari kalangan tabi'in. Dan juga riwayat hadits dari nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal (kepalanya) dengan pedang” 

๐Ÿ“• (Jami' Li Ahkamil Qur'an jilid 2, hlm. 48)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ: ูˆุฅุฐุง ุฃู‚ุฑ ุงู„ุฑุฌู„ ุฃู†ู‡ ุณุญุฑ ุจูƒู„ุงู… ูŠูƒูˆู† ูƒูุฑุง ูˆุฌุจ ู‚ุชู„ู‡ ุฅู† ู„ู… ูŠุชุจ، ูˆูƒุฐู„ูƒ ู„ูˆ ุซุจุชุช ุจู‡ ุนู„ูŠู‡ ุจูŠู†ุฉ ูˆูˆุตูุช ุงู„ุจูŠู†ุฉ ูƒู„ุงู…ุง ูŠูƒูˆู† ูƒูุฑุง. ูˆุฅู† ูƒุงู† ุงู„ูƒู„ุงู… ุงู„ุฐูŠ ุฐูƒุฑ ุฃู†ู‡ ุณุญุฑ ุจู‡ ู„ูŠุณ ุจูƒูุฑ ู„ู… ูŠุฌุฒ ู‚ุชู„ู‡، ูุฅู† ูƒุงู† ุฃุญุฏุซ ููŠ ุงู„ู…ุณุญูˆุฑ ุฌู†ุงูŠุฉ ุชูˆุฌุจ ุงู„ู‚ุตุงุต ุงู‚ุชุต ู…ู†ู‡ ุฅู† ูƒุงู† ุนู…ุฏ ุฐู„ูƒ

“Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullah menyatakan: Jika ada orang yang mengaku bahwa dia telah melakukan sihir dengan ucapan yang mengakibatkan kekufuran, maka wajib dibunuh jika dia tidak mau bertaubat. Demikian halnya jika dia terbukti melakukannya dan ada bukti yang menyatakan (bahwa) ucapan tersebut sebagai bentuk kekufuran. Namun jika ucapan yang dia ucapkan tidak termasuk bentuk kekufuran, maka dia tidak boleh dibunuh. Dan jika hal itu merupakan bentuk kejahatan kepada orang yang disihir (yang sampai menimbulkan madhorot), maka dia wajib diqishosh jika dia melakukannya secara sengaja”

๐Ÿ“• (Jami' Li Ahkamil Qur'an jilid 2, hlm. 48)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุนู†ุฏ ู…ุงู„ูƒ ุฃู† ุญูƒู… ุงู„ุณุงุญุฑ ุญูƒู… ุงู„ุฒู†ุฏูŠู‚ ูู„ุง ุชู‚ุจู„ ุชูˆุจุชู‡ ูˆูŠู‚ุชู„ ุญุฏุง ุฅุฐุง ุซุจุช ุนู„ูŠู‡ ุฐู„ูƒ، ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ. ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ: ู„ุง ูŠู‚ุชู„ ุฅู„ุง ุฅู† ุงุนุชุฑู ุจุณุญุฑู‡ ููŠู‚ุชู„ ุจู‡

“Menurut imam Malik, hukuman untuk tukang sihir itu sama seperti halnya hukuman yang berlaku untuk orang zindiq dimana taubatnya tidak akan diterima. Dan dia harus dibunuh sebagai bentuk hukuman baginya jika hal itu terbukti, pendapat ini juga dinyatakan oleh imam Ahmad. Al-Imam Syafi'i menyatakan: Tukang sihir tidak boleh dibunuh kecuali jika dia memberikan pengakuan bahwa dirinya telah membunuh orang lain dengan sihirnya sehingga dia pun harus dibunuh disebabkan perbuatannya itu” 

๐Ÿ“• (Fathul Bari jilid 10, hlm. 247)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูุฃู…ุง ุงู„ู‚ุณู… ุงู„ุฃูˆู„ ููŠ ุญูƒู… ุงู„ุณุงุญุฑ ูู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ููŠู‡ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก، ูุฐู‡ุจ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ูˆู…ุงู„ูƒ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ูƒุงูุฑ ูŠุฌุจ ู‚ุชู„ู‡. ูˆู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠูƒูุฑ ุจุงู„ุณุญุฑ ูˆู„ุง ูŠุฌุจ ุจู‡ ู‚ุชู„ู‡ ูˆูŠุณุฃู„ ุนู†ู‡ ูุฅู† ุงุนุชุฑู ู…ุนู‡ ุจู…ุง ูŠูˆุฌุจ ูƒูุฑู‡ ูˆุฅุจุงุญุฉ ุฏู…ู‡ ูƒุงู† ูƒุงูุฑุง ุจู…ุนุชู‚ุฏู‡ ู„ุง ุจุณุญุฑู‡ ูˆูƒุฐู„ูƒ ู„ูˆ ุงุนุชู‚ุฏ ุฅุจุงุญุฉ ุงู„ุณุญุฑ ุตุงุฑ ูƒุงูุฑุง ุจุงุนุชู‚ุงุฏ ุฅุจุงุญุชู‡ ู„ุง ุจูุนู„ู‡

“Adapun bagian yang pertama mengenai hukuman bagi tukang sihir, maka para fuqoha berbeda pendapat. Pendapat imam Abu Hanifah dan imam Malik bahwa tukang sihir itu dihukumi kafir serta wajib dibunuh. Sedangkan imam Syafi'i berpendapat bahwa tukang sihir tidak dihukumi kafir dan tidak wajib dibunuh. Dan tukang sihir harus ditanya, jika dia memberi pengakuan dengan sesuatu yang mengindikasikan kekafirannya dan kebolehannya untuk dibunuh, maka dia kafir karena keyakinannya, bukan karena sihirnya. Sebagaimana jika dia berkeyakinan bahwa melakukan sihir itu boleh, maka dia jelas kafir karena meyakini bolehnya sihir, bukan karena perbuatan sihirnya” 

๐Ÿ“• (Al-Hawi Al-Kabir jilid 13, hlm. 97)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุตู„) ูˆุญุฏ ุงู„ุณุงุญุฑ ุงู„ู‚ุชู„ ุฑูˆูŠ ุฐู„ูƒ ุนู† ุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ุจู† ุนูุงู† ูˆุงุจู† ุนู…ุฑ ูˆุญูุตุฉ ูˆุฌู†ุฏุจ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฌู†ุฏุจ ุจู† ูƒุนุจ ูˆู‚ูŠุณ ุจู† ุณุนุฏ ูˆุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆู…ุงู„ูƒ، ูˆู„ู… ูŠุฑ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ุชู„ ุจู…ุฌุฑุฏ ุงู„ุณุญุฑ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ

“(Pasal). Hukuman yang berlaku untuk tukang sihir adalah dibunuh, hal itu berdasarkan riwayat yang bersumber dari sayyidina Umar, Utsman bin Affan, Ibnu Umar, Hafshoh, Jundub bin Abdillah, Jundub bin Ka'ab, Qais bin Sa'ad dan Umar bin Abdul Aziz. Dan itu juga merupakan pendapatnya imam Abu Hanifah serta imam Malik, berbeda dengan imam Syafi'i dimana beliau berpendapat bahwa tukang sihir tidak dibunuh hanya karena sihirnya, dan ini juga merupakan pendapatnya imam Ibnul Mundzir” 

๐Ÿ“• (Al-Mughni jilid 9, hlm. 36)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

TANYA JAWAB - HUKUM PUASA PATI GENI ATAU WISHOL


๐Ÿ”„ Pertanyaan 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Izin tanya, bagaimana hukumnya puasa pati geni seperti yg dilakukan oleh sebagian org dmna dia berpuasa selama beberapa hari tanpa berbuka sama sekali siang dan malamnya, bahkan tanpa tidur sama sekali baik siang dan malamnya? Dan baru berbuka ketika puasa pati geninya dianggap selesai dgn kadar waktu yg telah di tentukan, misal 3 hari dan seterusnya?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh. 

Yang dimaksud didalam pertanyaan adalah puasa wishol sebagaimana yang banyak disebutkan didalam kitab-kitab hadits dan juga kitab-kitab fiqih. Yaitu mulai berpuasa sejak terbit fajar, lalu ketika maghrib tiba tidak berbuka alias meneruskan puasa hingga esok hari selama berturut-turut, itupun tergantung jangka waktu yang telah ditentukan oleh si pengamal puasanya. 

Dan biasanya, pengamal puasa yang semacam ini adalah orang-orang pengamal tirakat, kejawen dan sejenisnya. Jika bentuk puasanya adalah memang seperti itu yakni puasa wishol, maka pendapat yang shohih menyatakan makruh tahrim atau haram. Sebab ada larangan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan para ulama memahami kalau pelarangan tersebut sebagai bentuk pelarangan yang bersifat haram. Dan adapun menurut pendapat yang lain, hukum melakukan puasa wishol adalah sebatas makruh tanzih. Namun meski begitu, puasa dengan bentuk yang semacam ini sebaiknya tidak dilakukan supaya tidak membahayakan tubuh, apalagi sampai berhari-hari berpuasa siang dan malamnya tanpa tidur dan tanpa berbuka sama sekali.

๐Ÿ“š Keterangan :

ุญุฏุซู†ูŠ ุฃุจูˆ ุณู„ู…ุฉ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุฃู† ุฃุจุง ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: ู†ู‡ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ุงู„ูˆุตุงู„ ููŠ ุงู„ุตูˆู…

“Telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bahwasanya Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang wishol didalam berpuasa” 

๐Ÿ“• (HR. Muslim, no. 1103)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ุนูŠุงุถ: ุงู„ูˆุตุงู„ ู‡ูˆ ู…ุชุงุจุนุฉ ุงู„ุตูˆู… ุฏูˆู† ุงู„ุฅูุทุงุฑ ุจุงู„ู„ูŠู„

“Al-Imam Qodhi Iyadh rahimahullah berkata: Wishol adalah meneruskan untuk berpuasa tanpa berbuka saat malam (maghrib) tiba” 

๐Ÿ“• (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 4/35)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ุงู„ ุงู„ู…ุตู†ู ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆูŠูƒุฑู‡ ุงู„ูˆุตุงู„ ููŠ ุงู„ุตูˆู… ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃุจูˆ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: {ุฅูŠุงูƒู… ูˆุงู„ูˆุตุงู„ ู‚ุงู„ูˆุง: ุฅู†ูƒ ุชูˆุงุตู„ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„: ุฅู†ูŠ ู„ุณุช ูƒู‡ูŠุฆุชูƒู… ุฅู†ูŠ ุฃุจูŠุช ุนู†ุฏ ุฑุจูŠ ูŠุทุนู…ู†ูŠ ูˆูŠุณู‚ูŠู†ูŠ} ูˆู‡ู„ ู‡ูˆ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชุญุฑูŠู… ุฃูˆ ู‡ูˆ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชู†ุฒูŠู‡؟ ููŠู‡ ูˆุฌู‡ุงู†: (ุฃุญุฏู‡ู…ุง) ุฃู†ู‡ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชุญุฑูŠู… ู„ุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ูŠู‚ุชุถูŠ ุงู„ุชุญุฑูŠู…. (ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ) ุฃู†ู‡ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชู†ุฒูŠู‡ ู„ุฃู†ู‡ ุฅู†ู…ุง ู†ู‡ู‰ ุนู†ู‡ ุญุชู‰ ู„ุง ูŠุถุนู ุนู† ุงู„ุตูˆู… ูˆุฐู„ูƒ ุฃู…ุฑ ุบูŠุฑ ู…ุญู‚ู‚ ูู„ู… ูŠุชุนู„ู‚ ุจู‡ ุฅุซู…، ูุฅู† ูˆุงุตู„ ู„ู… ูŠุจุทู„ ุตูˆู…ู‡ ู„ุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ู„ุง ูŠุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ุงู„ุตูˆู… ูู„ุง ูŠูˆุฌุจ ุจุทู„ุงู†ู‡

“Mushonnif (pengarang kitab) rahimahullah mengatakan: Dan dimakruhkan wishol didalam berpuasa berdasarkan riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Jauhilah (atau janganlah berpuasa) wishol. Para sahabat lalu bertanya: Apakah engkau berpuasa wishol wahai Rasulullah? Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Aku bermalam disisi robbku dalam keadaan dia memberiku makan dan minum. Apakah kemakruhannya itu bersifat makruh tahrim atau makruh tanzih? Disini ada dua pendapat ulama. Pendapat pertama menyatakan bahwa puasa wishol hukumnya makruh tahrim, karena larangan nabi yang ada dalam hadits menunjukan larangan keharaman. Dan pendapat kedua menyatakan bahwa puasa wishol hukumnya makruh tanzih, karena larangan nabi yang ada dalam hadits itu supaya badan tidak merasa lemah, maka larangannya tidak berkaitan dengan dosa. Oleh karena itu jika seseorang melakukan puasa wishol, maka tidak batal puasanya. Karena larangannya dikembalikan kepada masalah puasanya” 

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab : 6/400)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุฑุน) ุงุชูู‚ุช ู†ุตูˆุต ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุงู„ุฃุตุญุงุจ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ูˆุตุงู„ ู…ู† ุฎุตุงุฆุต ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‡ูˆ ู…ูƒุฑูˆู‡ ููŠ ุญู‚ู†ุง ุฅู…ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชุญุฑูŠู… ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญูŠุญ ูˆุฅู…ุง ุชู†ุฒูŠู‡ ูˆู…ุจุงุญ ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุฐุง ู‚ุงู„ู‡ ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ

“(Cabang), Telah ditetapkan dalam nashnya imam Syafi'i dan para Ashab Syafi'i bahwasanya puasa wishol itu merupakan kekhususan yang diperuntukkan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja. Maka dari itu puasa wishol hukumnya makruh bagi kita, dan makruhnya adalah makruh tahrim berdasarkan pendapat yang shohih. Dan wishol didalam berpuasa adalah mubah bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang dikatakan oleh imam Syafi'i rahimahullah dan juga jumhur ulama” 

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab : 6/400)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ุงู„ ุฃุตุญุงุจู†ุง: ูˆุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ูˆุตุงู„ ุงู„ู…ู†ู‡ูŠ ุนู†ู‡ ุฃู†ู‡ ูŠุตูˆู… ูŠูˆู…ูŠู† ูุตุงุนุฏุง ูˆู„ุง ูŠุชู†ุงูˆู„ ููŠ ุงู„ู„ูŠู„ ุดูŠุฆุง ู„ุง ู…ุงุก ูˆู„ุง ู…ุฃูƒูˆู„ุง

“Para Ashab Syafi'i menyatakan bahwa hakikat puasa wishol yang dilarang adalah ketika seseorang berpuasa selama dua hari atau lebih dan pada malam harinya dia tidak makan sedikit pun baik minuman ataupun makanan”

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab : 6/400)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู…ู†ู‡ุง ุงูŠ ู…ุนุงุตู‰ ุงู„ุจุฏู† ุงู„ูˆุตุงู„ ููŠ ุงู„ุตูˆู… ูˆู„ูˆ ู†ูู„ุง ู„ู„ู†ู‡ู‰ ุนู†ู‡ ูˆูุณุฑู‡ ููŠ ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน ู†ู‚ู„ุง ุนู† ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุจุงู† ูŠุตูˆู… ูŠูˆู…ูŠู† ูุงูƒุซุฑ ู…ู† ุบูŠุฑ ุชู†ุงูˆู„ ู…ุทุนูˆู… ุนู…ุฏุง ุจู„ุงุนุฐุฑ

"Dan diantaranya, yakni yang tergolong ke dalam maksiat tubuh adalah wishol didalam berpuasa meskipun untuk puasa sunnah, karena terdapat larangan pada bentuk puasa yang semacam ini. Dan (imam Nawawi) menjelaskan didalam kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab yang bersumber dari keterangannya jumhur ulama bahwa puasa wishol adalah puasa selama dua hari bahkan lebih banyak dari itu tanpa makan sama sekali secara disengaja dan tanpa uzur” 

๐Ÿ“• (Is'adur Rafiq Syarah Sullam Taufiq : 2/140)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฃู…ุง ุญูƒู… ุงู„ูˆุตุงู„ ูู‡ูˆ ู…ูƒุฑูˆู‡ ุจู„ุง ุฎู„ุงู ุนู†ุฏู†ุง، ูˆู‡ู„ ู‡ูŠ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชุญุฑูŠู… ุฃู… ุชู†ุฒูŠู‡؟ ููŠู‡ ุงู„ูˆุฌู‡ุงู† ุงู„ู„ุฐุงู† ุฐูƒุฑู‡ู…ุง ุงู„ู…ุตู†ู ูˆู‡ู…ุง ู…ุดู‡ูˆุฑุงู† ูˆุฏู„ูŠู„ู‡ู…ุง ููŠ ุงู„ูƒุชุงุจ، ุฃุตุญู‡ู…ุง ุนู†ุฏ ุฃุตุญุงุจู†ุง ูˆู‡ูˆ ุธุงู‡ุฑ ู†ุต ุงู„ุดุงูุนูŠ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชุญุฑูŠู…، ู„ุฃู† ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ู…ุฎุชุตุฑ: ูุฑู‚ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจูŠู† ุฑุณูˆู„ู‡ ูˆุจูŠู† ุฎู„ู‚ู‡ ููŠ ุฃู…ูˆุฑ ุฃุจุงุญู‡ุง ู„ู‡ ูˆุญุธุฑู‡ุง ุนู„ูŠู‡ู… ูˆุฐูƒุฑ ู…ู†ู‡ุง ุงู„ูˆุตุงู„

“Adapun hukum wishol didalam berpuasa adalah makruh tanpa ada perbedaan pendapat dikalangan kami (madzhab Syafi'i). Namun apakah kemakruhannya itu bersifat makruh tahrim ataukah makruh tanzih? Maka disini ada dua pendapat yang masyhur sebagaimana yang disebutkan oleh mushonnif (pengarang kitab), dan dalil keduanya terdapat didalam kitab. Pendapat yang shohih dikalangan para ulama madzhab kami adalah makruh tahrim, dan itu merupakan dzohir nashnya imam Syafi'i. Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu didalam kitab Al-Mukhtashor menyatakan: Allah Ta'ala telah membedakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan umatnya dalam beberapa perkara yang dibolehkan untuk beliau tapi dilarang untuk umatnya, dan imam Syafi'i menyebutkan salah satunya adalah wishol didalam berpuasa” 

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab : 6/400)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุฑุน) ู‚ุงู„ ุฃุตุญุงุจู†ุง: ุงู„ุญูƒู…ุฉ ููŠ ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุงู„ูˆุตุงู„ ู„ุฆู„ุง ูŠุถุนู ุนู† ุงู„ุตูŠุงู… ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุณุงุฆุฑ ุงู„ุทุงุนุงุช، ุฃูˆ ูŠู…ู„ู‡ุง ูˆูŠุณุฃู… ู…ู†ู‡ุง ู„ุถุนูู‡ ุจุงู„ูˆุตุงู„، ุฃูˆ ูŠุชุถุฑุฑ ุจุฏู†ู‡ ุฃูˆ ุจุนุถ ุญูˆุงุณู‡ ูˆุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุฃู†ูˆุงุน ุงู„ุถุฑุฑ

“(Cabang), Para ulama madzhab Syafi'i menyatakan bahwa hikmah dilarangnya wishol didalam berpuasa adalah untuk menghindari lemahnya tubuh saat melakukan puasa, sholat dan berbagai jenis ketaatan lainnya. Atau untuk menghindari letihnya tubuh disebabkan wishol berpuasa, atau untuk menghindari madhorot pada tubuh maupun sebagian tubuhnya, dan juga untuk menghindari dari berbagai jenis madhorot lainnya” 

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab : 6/400)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Minggu, Mei 19, 2024

TANYA JAWAB - SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL BAIT?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.

Sebelum adanya polemik nasab yg terjadi di negeri Indonesia ini, dlu bnyk sekali kalangan yg mengaku sebagai keturunan nabi bahkan mengaku sebagai ahli bait, terutama di media sosial kita akan bnyk menemukan narasi-narasi seperti itu. Sehingga dri pengakuan itu muncul asumsi bahwa ahli bait sudah di jamin surga yg mana hal ini menimbulkan bnyk kontroversi di kalangan masyarakat. Diantara mereka ada yg membela habis-habisan, tapi tak sedikit jg yg menolak. 

Yg mau ditanyakan, sebenarnya yg tergolong ahli bait itu siapa? Apakah kalangan yg mengaku sebagai ahli bait itu bsa dipercaya, yg mengaku-ngaku ‘kami ahli bait’ di jamin surga. Mohon penjelasannya๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Berbicara konteks mengenai Ahlul Bait yang ada didalam Al-Qur'an, maka ada perbedaan pendapat didalamnya. Kalau menurut para sahabat seperti Ikrimah dan Ibnu Abbas, Ahlul Bait itu hanya dikhususkan untuk istri-istri nabi. Sedangkan menurut pandangan jumhur ulama, Ahlul Bait yang dimaksud didalam Al-Qur'an adalah khusus untuk Ahlul Kisa yakni lima orang yang diantaranya adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen.

Jadi tidak ada lagi yang namanya Ahlul Bait pada hari ini, yakni Ahlul Bait yang dimaksud didalam Al-Qur'an yang sudah dijamin surga. Sehingga tidak benar jika hari ini ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Ahlul Bait dan sudah dijamin surga, itu namanya mendeportasi ayat Al-Qur'an sehingga keluar dari makna yang sebenarnya. Maka saya katakan, yang ada pada hari ini hanyalah dzuriyah, bukan Ahlul Bait. Dan dzuriyah itu tidak dijamin surga. Adapun kalau misalnya ada orang yang menyatakan bahwa dzuriyah nabi pada hari ini pun tetap dianggap sebagai Ahlul Bait, maka kemungkinan itu adalah Ahlul Bait dalam bab ketidak bolehan menerima zakat, bukan Ahlul Bait yang dimaksud didalam Al-Qur'an. Yakni yang sudah dijamin surga (disucikan dosanya sesuci-sucinya).

๐Ÿ“š Keterangan :

ูˆุงุฎุชู„ู ุงู„ู†ุงุณ ููŠ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช، ู…ู† ู‡ู…؟ ูู‚ุงู„ ุนูƒุฑู…ุฉ ูˆู…ู‚ุงุชู„ ูˆุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง: ู‡ู… ุฒูˆุฌุงุชู‡ ุฎุงุตุฉ ู„ุง ุฑุฌู„ ู…ุนู‡ู† ุฑุฌู„، ูˆุฐู‡ุจูˆุง ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุจูŠุช ุฃุฑูŠุฏ ุจู‡ ู…ุณุงูƒู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…، ูˆู‚ุงู„ุช ูุฑู‚ุฉ (ู‡ูŠ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ): ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ุนู„ูŠ ูˆูุงุทู…ุฉ ูˆุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู…، ูˆููŠ ู‡ุฐุง ุฃุญุงุฏูŠุซ ู†ุจูˆูŠุฉ، ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุณุนูŠุฏ ุงู„ุฎุฏุฑูŠ: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ู†ุฒู„ุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ ููŠ ุฎู…ุณุฉ: ููŠ ูˆููŠ ุนู„ูŠ ูˆูุงุทู…ุฉ ูˆุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู†

“Manusia berbeda pendapat mengenai Ahlul Bait, siapakah mereka? Kalau menurut pendapat Ikrimah, Muqotil dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Ahlul Bait adalah khusus istri-istri nabi, dan tidak ada seorang pun laki-laki bersama mereka. Dan mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan bait (atau rumah) adalah rumah-rumah nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Namun sekelompok orang berkata, yakni jumhur ulama: Ahlul Bait adalah Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen radhiyallahu 'anhum. Dan ada hadits mengenai hal ini yang bersumber dari Abu Sa'id Al-Khudri dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Ayat mengenai ahlul bait ini turun untuk lima orang yang diantaranya adalah aku (Rasulullah), Ali, Fatimah, Hasan dan Husen” 

๐Ÿ“• (Tafsir Ibnu Athiyyah jilid 7, hlm. 117)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฃุฎุฑุฌ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุญุงุชู… ูˆุงุจู† ุนุณุงูƒุฑ ู…ู† ุทุฑูŠู‚ ุนูƒุฑู…ุฉ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ููŠ ู‚ูˆู„ู‡: ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ู‚ุงู„: ู†ุฒู„ุช ููŠ ู†ุณุงุก ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฎุงุตุฉ

“Al-Imam Ibnu Abi Hatim dan Al-Imam Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas terkait firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian dari Ar-Rijs (dosa) wahai Ahlul Bait. Ayat ini turun khusus untuk istri-istri nabi shallallahu 'alaihi wasallam” 

๐Ÿ“• (Ad-Durul Mantsur jilid 12, hlm. 37)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุฃุฎุฑุฌ ุงุจู† ุฌุฑูŠุฑ ูˆุงุจู† ู…ุฑุฏูˆูŠู‡ ุนู† ุนูƒุฑู…ุฉ ููŠ ู‚ูˆู„ู‡: ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ู‚ุงู„: ู„ูŠุณ ุจุงู„ุฐูŠ ุชุฐู‡ุจูˆู† ุฅู„ูŠู‡، ุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ู†ุณุงุก ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

“Al-Imam Ibnu Jarir dan Al-Imam Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ikrimah terkait firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian dari Ar-Rijs (dosa) wahai Ahlul Bait. (Ahlu Bait) itu adalah mereka istri-istri nabi shallallahu 'alaihi wasallam”

๐Ÿ“• (Ad-Durul Mantsur jilid 12, hlm. 37)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: (ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ูˆูŠุทู‡ุฑูƒู… ุชุทู‡ูŠุฑุง) ูˆู‡ุฐุง ู†ุต ููŠ ุฏุฎูˆู„ ุฃุฒูˆุงุฌ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ู‡ู‡ู†ุง ู„ุฃู†ู‡ู† ุณุจุจ ู†ุฒูˆู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ، ูˆุณุจุจ ุงู„ู†ุฒูˆู„ ุฏุงุฎู„ ููŠู‡ ู‚ูˆู„ุง ูˆุงุญุฏุง ุฅู…ุง ูˆุญุฏู‡ ุนู„ู‰ ู‚ูˆู„ ุฃูˆ ู…ุน ุบูŠุฑู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญูŠุญ

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian dari Ar-Rijs (dosa) wahai Ahlul Bait dan mensucikannya dengan sesuci-sucinya. Ayat ini merupakan dalil bahwa istri-istri nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu masuk dalam kategori Ahlul Bait, karena merekalah yang melatarbelakangi penyebab turunnya ayat ini. Dan sebab turunnya ayat merupakan bagian dari (makna ayatnya itu sendiri) dengan kesepakatan para ulama (qoulan wahidan) entah sebab turunnya hanya satu (makna) atau bersamaan dengan yang lainnya berdasarkan pendapat yang shohih” 

๐Ÿ“• (Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, hlm. 491)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู‡ูƒุฐุง ุฑูˆู‰ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุญุงุชู… ู‚ุงู„ ุญุฏุซู†ุง ุนู„ูŠ ุจู† ุญุฑุจ ุงู„ู…ูˆุตู„ูŠ ุญุฏุซู†ุง ุฒูŠุฏ ุจู† ุงู„ุญุจุงุจ ุญุฏุซู†ุง ุญุณูŠู† ุจู† ูˆุงู‚ุฏ ุนู† ูŠุฒูŠุฏ ุงู„ู†ุญูˆูŠ ุนู† ุนูƒุฑู…ุฉ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: (ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช) ู‚ุงู„ ู†ุฒู„ุช ููŠ ู†ุณุงุก ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฎุงุตุฉ، ูˆู‚ุงู„ ุนูƒุฑู…ุฉ ู…ู† ุดุงุก ุจุงู‡ู„ุชู‡ ุฅู†ู‡ุง ู†ุฒู„ุช ููŠ ุดุฃู† ู†ุณุงุก ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฅู† ูƒุงู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุฃู†ู‡ู† ูƒู† ุณุจุจ ุงู„ู†ุฒูˆู„ ุฏูˆู† ุบูŠุฑู‡ู† ูุตุญูŠุญ ูˆุฅู† ุฃุฑูŠุฏ ุฃู†ู‡ู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ูู‚ุท ุฏูˆู† ุบูŠุฑู‡ู† ูููŠ ู‡ุฐุง ู†ุธุฑ ูุฅู†ู‡ ู‚ุฏ ูˆุฑุฏุช ุฃุญุงุฏูŠุซ ุชุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุฃุนู… ู…ู† ุฐู„ูƒ

“Demikian halnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, beliau mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Harb Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Habbab, telah menceritakan kepada kami Husen bin Waqid, dari Yazid An-Nahwi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkenan dengan ayat: Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian dari Ar-Rijs (dosa) wahai Ahlul Bait dan mensucikannya dengan sesuci-sucinya. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan: Ayat ini turun khusus untuk istri-istri nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ikrimah berkata: Sesungguhnya ayat ini diturunkan untuk istri-istri nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka jika makna yang dimaksud bahwa istri-istri nabilah yang melatarbelakangi penyebab turunnya ayat ini dan bukan yang lainnya, maka itu benar. Tapi jika makna yang dimaksud itu hanya berkenaan dengan diri mereka dan bukan yang lainnya, maka pendapat ini masih perlu diteliti terlebih dahulu. Sebab banyak hadits yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dari ayat ini lebih umum daripada itu” 

๐Ÿ“• (Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, hlm. 492)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุนู† ุฃู… ุณู„ู…ุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช: ููŠ ุจูŠุชูŠ ู†ุฒู„ุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช، ู‚ุงู„ุช: ูุฃุฑุณู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฅู„ู‰ ุนู„ูŠ ูˆ ูุงุทู…ุฉ ูˆ ุงู„ุญุณู† ูˆ ุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ุฃุฌู…ุนูŠู† ูู‚ุงู„ : ุงู„ู„ู‡ู… ู‡ุคู„ุงุก ุฃู‡ู„ ุจูŠุชูŠ ู‚ุงู„ุช ุฃู… ุณู„ู…ุฉ: ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุฃู†ุง ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช؟ ู‚ุงู„: ุฅู†ูƒ ุฃู‡ู„ูŠ ุฎูŠุฑ ูˆ ู‡ุคู„ุงุก ุฃู‡ู„ ุจูŠุชูŠ ุงู„ู„ู‡ู… ุฃู‡ู„ูŠ ุฃุญู‚

“Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha beliau berkata: Dirumahku turun ayat ‘sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian dari Ar-Rijs (dosa) wahai Ahlul Bait’. Maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husen radhiyallahu 'anhum ajma'in seraya berkata: Yaa Allah, mereka adalah Ahlul Baitku. Ummu Salamah bertanya: Wahai rasulullah, apakah aku termasuk Ahlul Bait? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menjawab: Engkau adalah keluargaku yang baik dan mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husen) adalah Ahlul Baitku. Yaa Allah keluargaku yang haq” 

๐Ÿ“• (HR. Al-Hakim, no. 3558)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฅู† ูุงุทู…ุฉ ุจู†ุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃุญุตู†ุช ููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ุญุตู†ุช ุจุบูŠุฑ ุฃู„ู ูุฑุฌู‡ุง ุตุงู†ุชู‡ ุนู† ูƒู„ ู…ุญุฑู… ู…ู† ุฒู†ุง ูˆุณุญุงู‚ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ูุญุฑู…ู‡ุง ุฃูŠ ุจุณุจุจ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฅุญุตุงู† ุญุฑู…ู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฐุฑูŠุชู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฑ ุฃูŠ ุญุฑู… ุฏุฎูˆู„ ุงู„ู†ุงุฑ ุนู„ูŠู‡ู… ูุฃู…ุง ู‡ูŠ ูˆุงุจู†ุงู‡ุง ูุงู„ู…ุฑุงุฏ ููŠ ุญู‚ู‡ู… ุงู„ุชุญุฑูŠู… ุงู„ู…ุทู„ู‚ ูˆุฃู…ุง ู…ู† ุนุฏุงู‡ู… ูุงู„ู…ุญุฑู… ุนู„ูŠู‡ู… ู†ุงุฑ ุงู„ุฎู„ูˆุฏ ูˆุฃู…ุง ุงู„ุฏุฎูˆู„ ูู„ุง ู…ุงู†ุน ู…ู† ูˆู‚ูˆุนู‡ ู„ู„ุจุนุถ ู„ู„ุชุทู‡ูŠุฑ ู‡ูƒุฐุง ูุงูู‡ู…

“Sesungguhnya Fatimah binti nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menjaga kehormatannya. Dan kalimat telah menjaga kehormatannya yang dalam riwayat lain memakai kalimat hasonat tanpa huruf alif, itu menunjukan bahwa Fatimah telah menjaga dirinya dari perbuatan yang diharamkan seperti zina, masturbasi dan yang semisalnya. Oleh karena itulah Allah mengharamkan Fatimah dan keturunannya masuk ke dalam neraka. Jadi, bagi Fatimah dan kedua putranya (yakni Hasan dan Husen) maka mereka tidak akan masuk neraka sama sekali. Adapun bagi keturunan Rasulullah selain daripada mereka bertiga (generasi setelah Hasan dan Husen) itu masih ada kemungkinan untuk masuk neraka tapi tidak selama-lamanya, sedangkan mereka yang masuk neraka hal itu semata-mata hanya untuk mensucikan dosa-dosa mereka. Maka fahamilah hal ini” 

๐Ÿ“• (Faidhul Qodir jilid 2, hlm. 462)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูู‚ู„ุช: ุฃู†ุง ุทุงูˆูˆุณ ูŠุง ุจู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ู‡ุฐุง ุงู„ุฌุฒุน ูˆุงู„ูุฒุน؟.. ุฃุจูˆูƒ ุงู„ุญุณูŠู† ุจู† ุนู„ูŠ، ูˆุฃู…ูƒ ูุงุทู…ุฉ ุงู„ุฒู‡ุฑุงุก، ูˆุฌุฏูƒ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡. ู‚ุงู„: ูุงู„ุชูุช ุฅู„ูŠ ูˆู‚ุงู„: ู‡ูŠู‡ุงุช ู‡ูŠู‡ุงุช ูŠุง ุทุงูˆูˆุณ، ุฏุน ุนู†ูŠ ุญุฏูŠุซ ุฃุจูŠ ูˆุฃู…ูŠ ูˆุฌุฏูŠ، ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ุฎู„ู‚ ุงู„ุฌู†ุฉ ู„ู…ู† ุฃุทุงุนู‡ ูˆู„ูˆูƒุงู† ุนุจุฏุง ุญุจุดูŠุง، ูˆุฎู„ู‚ ุงู„ู†ุงุฑ ู„ู…ู† ุนุตุงู‡ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ูˆู„ุฏุง ู‚ุฑุดูŠุง، ุฃู…ุง ุณู…ุนุช ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: (ูุฅุฐุง ู†ูุฎ ููŠ ุงู„ุตูˆุฑ ูู„ุง ุฃู†ุณุงุจ ุจูŠู†ู‡ู… ูŠูˆู…ุฆุฐ ูˆู„ุง ูŠุชุณุงุกู„ูˆู†)، ูˆุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠู†ูุนูƒ ุบุฏุง ุฅู„ุง ุชู‚ุฏู…ุฉ ุชู‚ุฏู…ู‡ุง ู…ู† ุนู…ู„ ุตุงู„ุญ

“(Thowus berkata kepada imam Ali Zainal Abidin): Wahai anak keturunan Rasulullah, aku Thowus. Apakah gerangan yang membuatmu gelisah dan cemas? Padahal ayahmu adalah Husen bin Ali, ibumu adalah Fathimah Az-Zahro dan kakekmu adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian beliau (imam Ali Zainal Abidin) menoleh kepadaku seraya berkata: Wahai thowus, janganlah bawa-bawa ayahku, ibuku dan juga kakekku. Sesungguhnya Allah menciptakan surga bagi orang yang mentaatinya meskipun dia adalah seorang budak dari habasyah, dan sesungguhnya Allah menciptakan neraka bagi orang yang memaksiatinya meskipun dia adalah anak keturunan Quraisy (yang mulia). Tidakkah engkau mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Apabila sangkakala ditiup (hari kiamat telah tiba), maka tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu (maksudnya nasab tidak bisa menolong), dan tidak pula mereka saling bertanya. Demi Allah, tidak akan memberimu manfaat pada (hari kemudian wahai thowus), kecuali apa yang engkau perbuat (pada hari ini) berupa amal sholeh”

๐Ÿ“• (Mizanul Hikmah jilid 4, no. 3257)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Sabtu, Mei 18, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM SHARE HADITS TAPI TIDAK TAU KUALITASNYA


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin bertanya.

Apakah boleh kita share hadis yg ada di grup2 WA, tapi kita tdk tahu apakah hadis tersebut benar2 hadis atau bkn? Dan kita jg tdk tahu apakah hadis nya shahih atau tdk๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Menshare hadits yang tidak diketahui derajatnya (shohih atau tidaknya) adalah tidak boleh. Karena jangankan hadits, informasi apa saja jika tidak diketahui kebenarannya maka terlarang bagi siapapun untuk menyebarkannya sebelum diketahui terlebih dahulu kebenaran informasi tersebut agar dia tidak terjebak kepada yang namanya kadzabun khofiyun (kedustaan yang samar) sebagaimana yang pernah dikatakan oleh imam Syafi'i rahimahullah. Bahkan jangankan tidak tau sama sekali, dalam keadaan ragu saja maka tetap terlarang bagi siapapun untuk menyebarkannya. Jadi kuncinya adalah memang harus diketahui terlebih dahulu secara yakin kalau yang akan dishare kembali itu merupakan sebuah kebenaran.

Oleh karena itu solusinya, jika seseorang sedang bersemangat dalam menyebarkan kebaikan yang salah satunya adalah hobi menyebarkan hadits-hadits yang berisikan motivasi misalnya, maka hendaknya dia menanyakan terlebih dahulu kebenaran hadits tersebut kepada orang yang memang dikenal punya kredibilitas dalam bidang hadits. Dan setelah menanyakan kepada orang yang punya kredibilitas dalam bidang tersebut kemudian dia merekomendasikan untuk disebarkan, maka saat itu diperbolehkan bagi dia untuk menyebarkan haditsnya. Dan kalau tidak ada orang yang bisa ditanya apakah hadits ini shohih atau tidak misalnya, maka sebaiknya seseorang menahan diri untuk tidak menyebarkannya demi kemaslahatan diri sendiri supaya tidak terjerumus pada menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ุงู„ุถุนูุงุก ูˆุงู„ู…ุชุฑูˆูƒูŠู† : ุฌ ูก ุต ูจ)
ู‚ูˆู„ู‡: (ู…ู† ุญุฏุซ ุนู†ูŠ ุจุญุฏูŠุซ ูŠุฑู‰ ุฃู†ู‡ ูƒุฐุจ ูู‡ูˆ ุฃุญุฏ ุงู„ูƒุงุฐุจูŠู†). ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุฎุจุฑ ุฒุฌุฑ ู„ู„ู…ุฑุก ุฃู† ูŠุญุฏุซ ุจูƒู„ ู…ุง ุณู…ุน ุญุชู‰ ูŠุนู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ูŠู‚ูŠู† ุตุญุชู‡، ููƒู„ ุดุงูƒ ููŠู…ุง ูŠุฑูˆูŠ ุฃู†ู‡ ุตุญูŠุญ ุฃูˆ ุบูŠุฑ ุตุญูŠุญ ุฏุงุฎู„ ููŠ ุงู„ุฎุจุฑ

“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Barang siapa yang menyampaikan hadits dariku, yang mana (nampaknya) hadits tersebut terlihat seperti hadits dusta (atau dia ragu), maka dia (si penyampai) akan tergolong sebagai salah satu dari dua golongan pendusta. Didalam hadits ini terdapat larangan bagi siapapun untuk menyampaikan (menyebarkan) setiap apa yang dia dengar sampai dia mengetahui secara yakin tentang kebenarannya. Oleh karena itu setiap orang yang ragu terhadap hadits yang dia sampaikan (sebarkan) apakah hadits tersebut shohih atau tidak, maka dia tercakup ke dalam (ancaman) hadits ini” 

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุฑุณุงู„ุฉ : ุต ูคู ู )
ุฃู† ุงู„ูƒุฐุจ ุงู„ุฐูŠ ู†ู‡ุงู‡ู… ุนู†ู‡ ู‡ูˆ ุงู„ูƒุฐุจ ุงู„ุฎููŠ ูˆุฐู„ูƒ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุนู…ู† ู„ุง ูŠุนุฑู ุตุฏู‚ู‡، ู„ุฃู† ุงู„ูƒุฐุจ ุฅุฐุง ูƒุงู† ู…ู†ู‡ูŠุง ุนู†ู‡ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุญุงู„، ูู„ุง ูƒุฐุจ ุฃุนุธู… ู…ู† ูƒุฐุจ ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

“Bahwasanya (termasuk jenis) kedustaan terlarang adalah kedustaan yang samar, yakni ketika seseorang menyebarkan informasi (yang dia terima dari orang lain) namun tidak diketahui kebenaran (informasi tersebut). Sebab jika kedustaan itu terlarang pada setiap keadaan, maka tidak ada kedustaan yang lebih besar (keburukannya) dibandingkan kedustaan atas nama rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุฅุฑุดุงุฏ ุงู„ุนุจุงุฏ : ุฌ ูก ุต ูขูกูฃ)
ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ : ูˆู…ู† ุงู„ูƒุฐุจ ุงู„ุฎููŠ ุฃู† ูŠุฑูˆูŠ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฎุจุฑุง ุนู…ู† ู„ุง ูŠุนุฑู ุตุฏู‚ู‡ ู…ู† ูƒุฐุจู‡

“Al-Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu berkata: Dan termasuk kedustaan yang samar adalah ketika seseorang menyebarkan informasi dari orang lain, yang mana tidak diketahui apakah dia (si penyebar) sedang jujur ataukah sedang berdusta”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… : ุฌ ูก ุต ูฆู )
ุงุนู„ู… ูˆูู‚ูƒ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃู† ุงู„ูˆุงุฌุจ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุฃุญุฏ ุนุฑู ุงู„ุชู…ูŠูŠุฒ ุจูŠู† ุตุญูŠุญ ุงู„ุฑูˆุงูŠุงุช ูˆุณู‚ูŠู…ู‡ุง ูˆุซู‚ุงุช ุงู„ู†ุงู‚ู„ูŠู† ู„ู‡ุง ู…ู† ุงู„ู…ุชู‡ู…ูŠู† ุฃู† ู„ุง ูŠุฑูˆู‰ ู…ู†ู‡ุง ุงู„ุง ู…ุง ุนุฑู ุตุญุฉ ู…ุฎุงุฑุฌู‡ ูˆุงู„ุณุชุงุฑุฉ ููŠ ู†ุงู‚ู„ูŠู‡ ูˆุฃู† ูŠุชู‚ู‰ ู…ู†ู‡ุง ู…ุง ูƒุงู† ุนู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุชู‡ู… ูˆุงู„ู…ุนุงู†ุฏูŠู† ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุจุฏุน

“Ketahuilah, semoga Allah memberikanmu taufik. Wajib bagi setiap orang untuk mengetahui perbedaan antara riwayat (atau hadits) yang benar dan yang tidak benar, kemudian mengetahui perbedaan antara perawi yang terpercaya dan perawi yang tertuduh sebagai pendusta. Dan hendaknya seseorang tidak meriwayatkan (menyebarkan) hadits kecuali yang sudah dia ketahui kebenarannya terlebih dahulu dan jujur para perawinya. Lalu mewaspadai apa-apa yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tertuduh (sebagai pendusta) dan juga penentang dari kalangan ahli bid'ah”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… : ุฌ ูก ุณ ูงูฅ)
ู‚ูˆู„ู‡: (ูƒูู‰ ุจุงู„ู…ุฑุก ูƒุฐุจุง ุฃู† ูŠุญุฏุซ ุจูƒู„ ู…ุง ุณู…ุน). ูˆุฃู…ุง ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆุงู„ุขุซุงุฑ ุงู„ุชูŠ ููŠ ุงู„ุจุงุจ ูููŠู‡ุง ุงู„ุฒุฌุฑ ุนู† ุงู„ุชุญุฏูŠุซ ุจูƒู„ ู…ุง ุณู…ุน ุงู„ุฅู†ุณุงู† ูุฅู†ู‡ ูŠุณู…ุน ููŠ ุงู„ุนุงุฏุฉ ุงู„ุตุฏู‚ ูˆุงู„ูƒุฐุจ، ูุฅุฐุง ุญุฏุซ ุจูƒู„ ู…ุง ุณู…ุน ูู‚ุฏ ูƒุฐุจ ู„ุฅุฎุจุงุฑู‡ ุจู…ุง ู„ู… ูŠูƒู†

“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika menyampaikan setiap apa yang dia dengar. Adapun makna hadits ini dan atsar-atsar (semisalnya) yang ada dalam bab ini adalah sebagai bentuk peringatan dari menyampaikan setiap informasi yang didengar oleh seseorang, karena biasanya dia mendengar informasi yang benar dan informasi yang bohong. Maka jika dia menyampaikan setiap apa yang didengar, niscaya dia akan terjerumus kepada kedustaan karena menyampaikan sesuatu yang tidak terjadi” 

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Selasa, Mei 07, 2024

TANYA JAWAB - SIAPA ORANG YANG TERHALANGI DARI KEBAIKAN ITU?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mau bertanya tentang pepatah ‘orang bodoh itu orang yang di jauhkan dari kebaikan’, itu maksud nya gimana nggeh? Matur Nuwun ๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Sebelumnya saya tidak pernah mendengar bunyi pepatah yang seperti itu. Namun didalam sebuah hadits ada disebutkan bahwa barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, niscaya Allah akan memberikannya kefahaman dalam urusan agama. Hanya saja, yang dimaksud dalam hadits itu bukan setiap orang yang tidak faham terhadap ilmu agama. Akan tetapi yang dimaksud adalah setiap orang yang tidak mau atau tidak ada minat belajar ilmu agama, maka itulah yang dimaksud terhalangi atau dijauhkan dari kebaikan. Adapun bagi orang yang punya semangat untuk belajar ilmu agama meskipun belum diberi kefahaman, maka dia tidak masuk dalam kategori terhalangi atau dijauhkan dari kebaikan. Cuman yang terpenting dari masalah ilmu pun itu bukan hanya sekedar kefahaman, karena ada martabat yang lebih tinggi daripada sebatas berilmu, yaitu beramal. Bahkan dikatakan bahwa ilmu tanpa amal adalah sia-sia, dan amal tanpa ikhlas pun adalah sia-sia.

๐Ÿ“š Keterangan :

ู…ู† ูŠุฑุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ุฎูŠุฑุง ูŠูู‚ู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู†

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, niscaya Allah akan memberikannya kefahaman dalam urusan agama”

๐Ÿ“• (HR. Bukhari, no. 69)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู…ูู‡ูˆู… ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃู† ู…ู† ู„ู… ูŠุชูู‚ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ุฃูŠ ูŠุชุนู„ู… ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆู…ุง ูŠุชุตู„ ุจู‡ุง ู…ู† ุงู„ูุฑูˆุน ูู‚ุฏ ุญุฑู… ุงู„ุฎูŠุฑ‏ ูˆู‚ุฏ ุฃุฎุฑุฌ ุฃุจูˆ ูŠุนู„ู‰ ุญุฏูŠุซ ู…ุนุงูˆูŠุฉ ู…ู† ูˆุฌู‡ ุขุฎุฑ ุถุนูŠู ูˆุฒุงุฏ ููŠ ุขุฎุฑู‡‏:‏ (ูˆู…ู† ู„ู… ูŠุชูู‚ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ู„ู… ูŠุจุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡) ูˆุงู„ู…ุนู†ู‰ ุตุญูŠุญ ู„ุฃู† ู…ู† ู„ู… ูŠุนุฑู ุฃู…ูˆุฑ ุฏูŠู†ู‡ ู„ุง ูŠูƒูˆู† ูู‚ูŠู‡ุง ูˆู„ุง ุทุงู„ุจ ูู‚ู‡، ููŠุตุญ ุฃู† ูŠูˆุตู ุจุฃู†ู‡ ู…ุง ุฃุฑูŠุฏ ุจู‡ ุงู„ุฎูŠุฑ، ูˆููŠ ุฐู„ูƒ ุจูŠุงู† ุธุงู‡ุฑ ู„ูุถู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุณุงุฆุฑ ุงู„ู†ุงุณ، ูˆู„ูุถู„ ุงู„ุชูู‚ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ุนู„ู‰ ุณุงุฆุฑ ุงู„ุนู„ูˆู…‏

“Mafhum (maksud daripada) hadits ini adalah, bahwa orang yang tidak mau memahami agama, yakni tidak mau mempelajari kaidah-kaidah agama islam dan apapun yang berhubungan dengannya berupa cabang-cabang (ilmu agama), maka orang seperti itulah yang terhalangi dari kebaikan. Dan imam Abu Ya'la telah meriwayatkan hadits dhoif yang bersumber dari Mu'awiyyah dengan lafadz yang berbeda diakhirnya, yaitu: (Barang siapa yang tidak mau memahami agama, maka Allah tidak akan peduli kepadanya). Makna hadits ini benar, karena orang yang tidak mengetahui urusan agamanya itu tidak layak disebut sebagai orang yang faqih (faham ilmu agama) dan tidak layak disebut sebagai orang yang mencari kefahaman (agama). Maka dari itu dia layak disebut sebagai orang terhalangi dari kebaikan. Dan didalam hadits itu juga terdapat penjelasan yang jelas bahwasanya orang-orang berilmu itu lebih utama dibandingkan seluruh manusia, dan orang yang belajar ilmu agama itu lebih utama daripada orang yang belajar ilmu lainnya” 

๐Ÿ“• (Fathul Bari jilid 2, hlm. 150)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูƒู„ ู…ู† ุฃุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ุฎูŠุฑุง ูู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠูู‚ู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ูู…ู† ู„ู… ูŠูู‚ู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ู„ู… ูŠุฑุฏ ุจู‡ ุฎูŠุฑุง، ูˆู„ูŠุณ ูƒู„ ู…ู† ูู‚ู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ู‚ุฏ ุฃุฑุงุฏ ุจู‡ ุฎูŠุฑุง ุจู„ ู„ุง ุจุฏ ู…ุน ุงู„ูู‚ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ู…ู† ุงู„ุนู…ู„ ุจู‡ ูุงู„ูู‚ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ุดุฑุท ููŠ ุญุตูˆู„ ุงู„ูู„ุงุญ

“Setiap orang yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, niscaya Allah akan memberikan kefahaman dalam urusan agamanya. Maka dari itu, orang yang tidak diberi kefahaman dalam urusan agamanya itu adalah orang yang tidak dikehendaki kebaikan. Hanya saja tidak setiap orang yang diberi kefahaman dalam urusan agama itu berarti dia adalah orang yang dikehendaki kebaikan, karena tidak cukup (hanya sebatas) kefahaman. Akan tetapi harus disertai dengan pengamalan kefahaman tersebut. Maka, kefahaman terhadap urusan agama itu adalah syarat untuk mendapatkan kemenangan (keberhasilan didunia maupun akhirat)” 

๐Ÿ“• (Ash-Shafadiyah jilid 2, hlm. 266)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: (ู…ู† ูŠุฑุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ุฎูŠุฑุง ูŠูู‚ู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู†) ููŠู‡ ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุชูู‚ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุญุซ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณุจุจู‡ ุฃู†ู‡ ู‚ุงุฆุฏ ุฅู„ู‰ ุชู‚ูˆู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: (Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, niscaya Allah akan memberikannya kefahaman dalam urusan agama). Didalam hadits ini terkandung keutamaan ilmu dan keutamaan memahami agama serta anjuran untuk mempelajarinya. Hal itu disebabkan karena ilmu merupakan penuntun menuju ketakwaan kepada Allah” 

๐Ÿ“• (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim jilid 7, hlm. 128)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุงู„ุฏู†ูŠุง ูƒู„ู‡ุง ุฌู‡ู„ ุฅِู„ุง ุงู„ุนู„ู… ููŠู‡ุง، ูˆุงู„ุนู„ู… ูƒู„ู‡ ูˆุจุงู„ ุฅِู„ุง ุงู„ุนู…ู„ ุจู‡، ูˆุงู„ุนู…ู„ ูƒู„ู‡ ู‡ุจุงุก ู…ู†ุซูˆุฑ ุฅู„ุง ุงู„ุฅุฎู„ุงุต ููŠู‡، ูˆุงู„ุฅุฎู„ุงุต ููŠู‡ ุฃู†ุช ู…ู†ู‡ ุนู„ู‰ ูˆุฌู„ ุญุชู‰ ุชุนู„ู… ู‡ู„ ู‚ุจู„ ุฃู… ู„ุง

“Dunia seluruhnya adalah kebodohan kecuali berilmu padanya, dan ilmu seluruhnya adalah kebinasaan kecuali mengamalkannya. Amalan pun seluruhnya adalah debu beterbangan kecuali yang dilandasi keikhlasan. Dan keikhlasan pada amalan, engkau pun berharap-harap cemas hingga engkau mengetahui apakah amalanmu diterima atau tidak”

๐Ÿ“• (Hilyatul Auliya jilid 10, hlm. 194)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...