Rabu, Agustus 28, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM MENTASHORUFKAN ZAKAT KEPADA USTADZ ATAU KIYAI


๐Ÿ“ Deskripsi :

Assalamu'alaikum...

Zakat merupakan persoalan yang sering kali dibahas dikalangan para santri. Dan tak sedikit perbedaan yang muncul dari pembahasan tersebut, terkhusus pada masalah pemberian zakat yang mana pada umumnya masyarakat di berbagai daerah sudah terbiasa memberikan zakatnya kepada ustad, kiyai atau guru ngaji dengan berargumen pada lafaz sabilillah seperti yang dinukil dari salah satu ulama bernama imam Al-Qaffal. Tapi disisi lain juga tak sedikit orang yang menentang pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa ustad, kiyai atau guru ngaji itu tidak termasuk ke dalam 8 asnaf yang ada didalam Al-Qur'an, yakni sabilillah.

๐Ÿ”„ Pertanyaan :

1. Sebenarnya bolehkah memberikan zakat kepada ustad, kiyai atau guru ngaji atas nama sabilillah?

2. Bagaimana kedudukan pendapat imam Al-Qaffal tersebut apakah bisa diikuti? Mengingat pemberian zakat kepada ustad atau kiyai adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Mentashorufkan zakat kepada ustadz, kiyai atau guru ngaji itu sebenarnya boleh-boleh saja jika memang mereka termasuk ke dalam salah satu ashnaf yang berhak menerima zakat. Misal ustadz, kiyai atau guru ngajinya adalah orang fakir atau miskin. Nah jadi pentashorufannya itu atas nama fakir atau miskin, bukan atas nama Sabilillah. Karena para ulama empat madzhab telah sepakat bahwa makna Sabilillah adalah jihad dalam peperangan untuk membela agama Allah, dan orang yang hendak berhaji namun dalam keadaan fakir menurut salah satu riwayat dari imam Ahmad. Dengan demikian, entah ustadz, kiyai atau guru ngaji tidak termasuk didalamnya.

✒️ Catatan :

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa makna Sabilillah itu umum untuk semua bentuk taqorrub atau perbuatan baik dimana pendapatnya dinukil dari imam Qoffal, maka pendapat tersebut merupakan pendapat syadz yang tidak bisa diterima dan tidak bisa diikuti. Sebab didalam ayat tentang pentashorufan zakatnya itu sendiri sudah dibatasi menggunakan lafadz innama (sesungguhnya), yang mana lafadz innama berfungsi sebagai sighot hashr untuk membatasi dan menafikan hal lainnya selain daripada yang sudah Allah sebutkan didalam Al-Qur'an. Atas dasar itu, jika Sabilillah dimaknai umum untuk semua bentuk taqorrub atau perbuatan baik, maka akan terjadi distorsi serta fragmentasi terhadap makna yang dikehendaki oleh para mujtahid dari Sabilillah itu sendiri. Sehingga akan menimbulkan kesan bahwa ternyata masih banyak lagi mustahiq zakat selain daripada delapan ashnaf yang sudah Allah sebutkan didalam Al-Qur'an. Dengan demikian, maka pendapat yang dinukil dari imam Qoffal tersebut tertolak dan tidak dianggap sebagai khilaf atau perbedaan pendapat yang mu'tabaroh serta boleh diikuti.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ูู‚ู‡ ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ : ุฌ ูข ุต ูกูคูฉ)
ูŠุฌุจ ุตุฑู ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ูˆุฌูˆุฏูŠู† ู…ู† ุงู„ุฃุตู†ุงู ุงู„ุซู…ุงู†ูŠุฉ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑุฉ ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: (ุฅู†ู…ุง ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ู„ู„ูู‚ุฑุงุก ูˆุงู„ู…ุณุงูƒูŠู† ูˆุงู„ุนุงู…ู„ูŠู† ุนู„ูŠู‡ุง ูˆุงู„ู…ุคู„ูุฉ ู‚ู„ูˆุจู‡ู… ูˆููŠ ุงู„ุฑู‚ุงุจ ูˆุงู„ุบุงุฑู…ูŠู† ูˆููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุงุจู† ุงู„ุณุจูŠู„) ูˆุฅู†ู…ุง ู„ู„ุญุตุฑ ูู„ุง ุชุตุฑู ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ู…ุง ุฐูƒุฑ ูˆู‡ุฐุง ู…ุฌู…ุน ุนู„ูŠู‡، ูˆู„ูƒู† ุงุฎุชู„ู ููŠ ุงุณุชูŠุนุงุจู‡ู… ูุนู†ุฏ ุงู„ุณุงุฏุฉ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูŠุฌุจ ุฏูุนู‡ุง ู„ู„ุฃุตู†ุงู ุงู„ุซู…ุงู†ูŠุฉ ุฅู„ุง ุงู„ุนุงู…ู„ ููŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ูˆุงุญุฏุง ุฅู† ุญุตู„ุช ุงู„ูƒูุงูŠุฉ ุจู‡، ู„ูƒู† ููŠ ู‡ุฐุง ุนุณุฑ ู„ุฐุง ุงุฎุชุงุฑ ุจุนุถ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ุฌูˆุงุฒ ุตุฑูู‡ุง ู„ูˆุงุญุฏ ูˆู„ุง ุจุฃุณ ุจุชู‚ู„ูŠุฏู‡ ููŠ ุฒู…ุงู†ู†ุง ู‡ุฐุง، ูˆู‚ุงู„ ุจุนุถู‡ู…: ู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ุดุงูุนูŠ ุญูŠุง ู„ุฃูุชู‰ ุจู‡

“Wajib untuk mentashorufkan zakat kepada delapan ashnaf yang sudah disebutkan oleh Allah didalam firmannya: (Sesungguhnya zakat itu hanya untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya untuk masuk islam yakni muallaf, lalu untuk memerdekakan budak, untuk membebaskan orang-orang yang berhutang, untuk orang-orang yang berjihad dijalan Allah dan untuk ibnu sabil). Sesungguhnya (didalam ayat ini terdapat sighot hashr, yakni untuk membatasi) bahwa zakat tidak boleh ditashorufkan kepada selain delapan ashnaf yang sudah Allah sebutkan didalam Al-Qur'an, dan yang demikian itu sudah disepakati oleh para ulama. Akan tetapi ada perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai cakupannya. Menurut para ulama madzhab Syafi'i, zakat wajib ditashorufkan kepada delapan golongan tersebut, kecuali untuk amil yang boleh ditashorufkan kepada satu orang jika sudah mencukupi. Namun hal ini cukup sulit, sehingga sebagian ulama madzhab Syafi'i memilih untuk memperbolehkan pentashorufan zakat kepada satu orang, dan tidak apa-apa bertaklid pada pendapat tersebut dizaman kita sekarang. Sebagian ulama madzhab Syafi'i kembali menyatakan: Seandainya imam Syafi'i masih hidup, niscaya beliau akan memberikan fatwa seperti itu”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุจู„ุบุฉ ุงู„ุทู„ุงุจ : ุต ูขูกูก)
(ู…ุณุฃู„ุฉ ุน): ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑู ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุงู„ู‰ ูˆุฌูˆู‡ ุงู„ุฎูŠุฑ ู…ู† ุชูƒููŠู† ุงู„ู…ูˆุชู‰ ูˆุจู†ุงุก ุงู„ุญุตูˆู† ูˆุนู…ุงุฑุฉ ุงู„ู…ุณุฌุฏ، ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠุณุชุฏู„ ู„ุฐู„ูƒ ุจุนู…ูˆู… ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ุจุฃู†ู‡ ุนุงู… ููŠ ุงู„ูƒู„ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ุงู„ู‚ูุงู„ ู„ุงู† ู„ู„ุฒูƒุงุฉ ู…ุตุฑูุง ุฎุงุตุง، ุฃู…ุง ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ูู‚ุฏ ุงู†ุนู‚ุฏ ุงุฌู…ุงุน ู…ู† ูŠุนุชุฏ ุจู‡ ุณูˆุงุก ุงู„ุงุฆู…ุฉ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ู… ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุฎุงุต ู‡ู†ุง ุจุงู„ุบุฒุงุฉ ูƒู…ุง ู‡ูˆ ู…ู‚ุชุถู‰ ูƒู„ุงู… ุงุจู† ุงู„ุนุฑุจูŠ ููŠ ุฃุญูƒุงู… ุงู„ู‚ุฑุฃู†، ูˆุฃู…ุง ู…ุง ู†ู‚ู„ ุนู† ุงู„ู‚ูุงู„ ูู…ุฑุฏูˆุฏ ุจู…ุง ู‚ุงู„ ุงุจูˆ ูŠูˆุณู ุฃู† ุงู„ุทุงุนุงุช ูƒู„ู‡ุง ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡، ูˆู„ูƒู† ุนู†ุฏ ู‡ุฐุง ุงู„ู„ูุธ ู„ุง ูŠู‚ุตุฏ ู…ู†ู‡ ุงู„ุง ุงู„ุบุฒุงุฉ. ูุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ุนุงู… ุจุฎุณุจ ู…ุนู†ุงู‡ ู„ุบุฉ ุฎุงุต ููŠ ุนุฑู ุงู„ุดุฑุน ูุตุงุฑ ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุฎุงุต ู‡ูˆ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ู‚ุฏู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ู„ุบูˆูŠุฉ ูƒู…ุง ุชู‚ุฑุฑ

“(Masalah): Tidak boleh mentashorufkan zakat untuk berbagai jenis kebaikan semisal untuk mengurus jenazah, membangun benteng dan membangun (memakmurkan) masjid. Dan tidak boleh juga beristidlal dengan mengacu pada firman Allah yang bersifat umum mengenai Sabilillah bahwa ayat tersebut bersifat umum untuk semua (jenis kebaikan) seperti yang dikatakan oleh imam Qoffal. Karena zakat itu mesti ditashorufkan (untuk mustahiq) yang khusus. Adapun Sabilillah, maka telah ijma para ulama entah itu ulama empat madzhab maupun ulama yang lainnya bahwa yang demikian itu khusus untuk orang-orang yang berperang (dijalan Allah) sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ibnul Arobi didalam kitabnya Ahkamul Qur'an. Sedangkan apa yang dinukil dari imam Qoffal itu tertolak berdasarkan apa yang dikatakan oleh imam Abu Yusuf bahwa semua bentuk ketaatan adalah Sabilillah. Akan tetapi dalam lafadz ini bahwa yang dimaksudkan adalah untuk orang-orang yang berperang (dijalan Allah). Atas dasar itu, maka Sabilillah hanya bersifat umum jika ditinjau maknanya dari segi bahasa. Akan tetapi jika ditinjau secara syariat, maka maknanya bersifat khusus. Dengan demikian, makna yang khusus adalah kebenaran secara syariat yang lebih hakiki, dan kebenaran hakiki lebih didahulukan daripada kebenaran secara bahasa sebagaimana yang telah ditetapkan (oleh para ulama)”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุจู„ุบุฉ ุงู„ุทู„ุงุจ : ุต ูฃูจูฆ)
ูุฏู„ู†ุง ุญุฏูŠุซ ุงู„ู†ุจูŠ ูˆู‡ูˆ ุงู„ู…ุจูŠู† ู„ู…ุง ุฃู†ุฒู„ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุฃู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ (ูˆ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡) ููŠ ุขูŠุฉ ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ุจุนุถ ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุจุฑ ู„ุง ูƒู„ู‡ุง ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฌู‡ุงุฏ، ูˆ ูŠุฏุฎู„ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ุฏ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ ู…ู† ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ุญุฌ ูˆู‡ูˆ ูู‚ูŠุฑ. ูˆู„ู… ูŠู‚ู„ ุฅู† ูƒู„ู…ุฉ (ูˆ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡) ุชุนู… ูƒู„ ู…ุดุฑูˆุน ุฎูŠุฑูŠ ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ู…ุฌุชู‡ุฏูŠู† ุฅู†ู…ุง ุฐู„ูƒ ุฐูƒุฑู‡ ุจุนุถ ุงู„ุญู†ููŠุฉ ู…ู† ุงู„ู…ุชุฃุฎุฑูŠู† ู„ูŠุณ ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ุงู„ุฐูŠู† ู‡ู… ู…ุฌุชู‡ุฏูˆู† ูุญุฑุงู… ุฃู† ูŠุคุฎุฐ ุจู‚ูˆู„ ู‡ุฐุง ุงู„ุนุงู„ู…

“Dalil yang kami pakai adalah hadits nabi, yakni yang menjelaskan terkait apa yang diturunkan oleh Allah didalam kitabnya bahwa yang dimaksud Sabilillah didalam ayat tentang zakat adalah sebagian dari amal kebaikan, bukan semuanya, yakni jihad. Adapun menurut imam Ahmad, yang termasuk Sabilillah itu adalah orang yang hendak berhaji namun dalam keadaan fakir. Dan tidak ada satupun imam mujtahid yang menyatakan bahwa lafadz Sabilillah itu mencakup semua bentuk amal kebaikan, melainkan hal itu hanya disebutkan oleh sebagian ulama mutaakhir madzhab Hanafi, bukan dari ashabnya imam Abu Hanifah sendiri yang termasuk mujtahid. Atas dasar itu, maka haram untuk mengambil (dan mengikuti) pendapat tersebut”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู†ู‚ุถ ุงู„ูƒุงูˆูŠ ู„ุฏุนูˆู‰ ูŠูˆุณู ุงู„ู‚ุฑุถุงูˆูŠ : ุต ูกูจ)
ูˆุฃู…ุง ู…ุง ุญูƒุงู‡ ุงู„ุฑุงุฒูŠ ู…ู† ุฃู† ุงู„ู‚ูุงู„ ุงู„ุดุงุดูŠ ุนุฒุง ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุดู…ูˆู„ (ูˆููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡) ู„ูˆุฌูˆู‡ ุงู„ุจุฑ ุงู„ู‰ ู…ุฌู‡ูˆู„ ู…ู† ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุนู„ู‰ ุฎู„ุงู ุฑุฃูŠ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ูู„ุง ุนุจุฑุฉ ุจู‡. ูˆุฃูŠ ุงุนุชุจุงุฑ ูŠู‚ุงู… ู„ุฑูˆุงูŠุฉ ู…ุฌู‡ูˆู„ ุนู„ู‰ ุฎู„ุงู ุงู„ุฅุฌู…ุงุน؟ ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ูƒูˆุซุฑูŠ: ุฅู† ุงู„ุดุงุดูŠ ุญูŠู†ู…ุง ุฃู„ู ุชูุณูŠุฑู‡ ูƒุงู† ุจุนุฏ ู…ุนุชุฒู„ูŠุง ู„ุง ูŠุชุญุงุดู‰ ู†ู‚ู„ ุกุงุฑุงุก ุงู„ู…ุจุชุฏุนุฉ ู…ู…ู† ู„ุง ูŠู‚ุงู… ู„ูƒู„ู…ู‡ู… ูˆุฒู†، ูุฒุงุฏ ู‡ุฐุง ุงู„ุฃู…ุฑ ุชู„ูƒ ุงู„ุฑูˆุงูŠุฉ ุณู‚ูˆุทุง ูˆุดุฐูˆุฐุง، ูˆู„ุณู†ุง ุจุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ู…ู…ู† ูŠุชุฑูƒ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุฃู…ุฉ ู„ูŠุชุจุน ู…ุฌุงู‡ูŠู„ ุงู„ุดุฐุงุฐ. ุซู… ุฅู† ุงู„ุดุงุดูŠ ุงู„ู‚ูุงู„ ู„ู… ูŠุนุชู…ุฏ ู‡ุฐุง ุงู„ู‚ูˆู„ ูˆุฅู„ุง ู„ูƒุงู† ุฃูˆุฑุฏู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุญู„ูŠุฉ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูุฅู†ู‡ ุฐูƒุฑ ููŠู‡ ุฃู† ุณู‡ู… ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ู‡ู… ุงู„ุบุฒุงุฉ ุงู„ุฐูŠู† ุฅุฐุง ู†ุดุทูˆุง ุบุฒูˆุง

“Adapun apa yang dihikayatkan oleh imam Ar-Razi bahwa imam Qoffal Asy-Syasyi menisbatkan pendapat yang memperluas makna sabilillah hingga mencakup berbagai jenis kebaikan kepada orang-orang yang majhul dikalangan fuqoha, yang mana pendapat tersebut bertentangan dengan pendapatnya mayoritas ulama, maka pendapatnya tidak dianggap (tidak bisa diterima). Jadi apakah pantas riwayat yang berasal dari seorang yang majhul itu dianggap (diterima), padahal pendapatnya menyelisihi ijma? Bahkan imam Al-Kautsari menyatakan bahwa As-Syasyi (imam Qoffal) ketika menyusun kitab tafsirnya itu setelah beliau menjadi seorang mu'tazilah yang tidak ragu untuk menukil pendapatnya orang-orang ahli bid'ah yang tidak memiliki bobot. Maka hal ini semakin menambah jatuh dan syadznya (menyimpangnya) riwayat tersebut. Adapun kita, alhamdulillah bukanlah orang-orang yang meninggalkan pendapat mayoritas ulama demi mengikuti pendapatnya orang-orang bodoh yang syadz (menyimpang). Kemudian, imam As-Syasyi Al-Qoffal juga tidak pernah mengukuhkan pendapat tersebut. Sebab jika beliau mengukuhkannya, maka sudah barang tentu beliau akan menyebutkan pendapat itu didalam kitabnya Hilyatul Ulama. Akan tetapi beliau malah menyebutkan bahwa Sabilillah maknanya adalah orang-orang yang berperang (dijalan Allah), yaitu yang jika mereka bersemangat maka mereka akan berperang”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูˆุฃุฏู„ุชู‡ : ุฌ ูฃ ุต ูกูฉูฅูจ)
ุฃุชูู‚ ุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ูู‚ู‡ุงุก ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑู ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ู…ู† ุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู† ุจู†ุงุก ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูˆุงู„ุฌุณูˆุฑ ูˆุงู„ู‚ู†ุงุทุฑ ูˆุงู„ุณู‚ุงูŠุงุช ูˆูƒุฑูŠ ุงู„ุฃู†ู‡ุงุฑ ูˆุฅุตู„ุงุญ ุงู„ุทุฑู‚ุงุช ูˆุชูƒููŠู† ุงู„ู…ูˆุชู‰ ูˆู‚ุถุงุก ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุชูˆุณุนุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุถูŠุงู ูˆุจู†ุงุก ุงู„ุฃุณูˆุงุฑ ูˆุฅุนุฏุงุฏ ูˆุณุงุฆู„ ุงู„ุฌู‡ุงุฏ ูƒุตู†ุงุนุฉ ุงู„ุณูู† ุงู„ุญุฑุจูŠุฉ ูˆุดุฑุงุก ุงู„ุณู„ุงุญ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุจ ุงู„ุชู‰ ู„ู… ูŠุฐูƒุฑู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู…ุง ู„ุง ุชู…ู„ูŠูƒ ููŠู‡ ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ู‚ุงู„: ุฅู†ู…ุง ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ู„ู„ูู‚ุฑุก ูˆูƒู„ู…ุฉ ุฅู†ู…ุง ู„ู„ุญุตุฑ ูˆุงู„ุฅุซุจุงุช، ุซุจุช ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ูˆุชู†ู‚ุถู‰ ู…ุง ุนุฏุงู‡ ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑู ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุฅู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ูˆุฌู‡ ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠูˆุฌุฏ ุงู„ุชู…ู„ูŠูƒ ุงุตู„ุง

“Jumhur fuqoha dari semua madzhab sepakat bahwa zakat tidak boleh ditashorufkan kepada selain yang telah disebutkan oleh Allah semisal untuk pembangunan masjid, jembatan, saluran air, memperbaiki jalan, mengurus jenazah, melunasi hutang, memberikan fasilitas untuk tamu, membangun tembok, mempersiapkan sarana jihad semisal pembuatan kapal perang, membeli senjata dan bentuk perbuatan baik lainnya yang tidak disebutkan oleh Allah dimana pentashorufannya tidak ada bentuk kepemilikan (untuk mustahiq zakat). Karena Allah berfirman: Innama shodaqot lilfuqoro, dan kalimat innama didalam ayat tersebut menunjukkan hashr (pembatasan) dan penetapan. Oleh karena itu, yang disebutkan telah tetap sedangkan yang lainnya ternafikan. Sehingga zakat tidak boleh ditashorufkan untuk hal-hal seperti diatas, karena pada dasarnya pentashorufan zakat untuk hal-hal seperti diatas itu tidak ada bentuk kepemilikan (untuk mustahiq zakat)”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุงู„ูƒูˆูŠุชูŠุฉ : ุฌ ูขูฃ ุต ูฃูขูฉ)
ุฐู‡ุจ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑู ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠ ุฌู‡ุงุช ุงู„ุฎูŠุฑ ุบูŠุฑ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ุจูŠุงู†ู‡، ูู„ุง ุชู†ุดุฃ ุจู‡ุง ุทุฑูŠู‚ ูˆู„ุง ูŠุจู†ู‰ ุจู‡ุง ู…ุณุฌุฏ ูˆู„ุง ู‚ู†ุทุฑุฉ ูˆู„ุง ุชุดู‚ ุจู‡ุง ุชุฑุนุฉ ูˆู„ุง ูŠุนู…ู„ ุจู‡ุง ุณู‚ุงูŠุฉ، ูˆู„ุง ูŠูˆุณุน ุจู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุตู†ุงู، ูˆู„ู… ูŠุตุญ ููŠู‡ ู†ู‚ู„ ุฎู„ุงู ุนู† ู…ุนูŠู† ูŠุนุชุฏ ุจู‡ ูˆุธุงู‡ุฑ ูƒู„ุงู… ุงู„ุฑู…ู„ูŠ ุฃู†ู‡ ุฅุฌู…ุงุน، ูˆุงุญุชุฌูˆุง ู„ุฐู„ูƒ ุจุฃู…ุฑูŠู†. ุงู„ุฃูˆู„: ุฃู†ู‡ ู„ุง ุชู…ู„ูŠูƒ ููŠู‡ุง ู„ุฃู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆู†ุญูˆู‡ ู„ุง ูŠู…ู„ูƒ، ูˆู‡ุฐุง ุนู†ุฏ ู…ู† ูŠุดุชุฑุท ููŠ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุงู„ุชّู…ู„ูŠูƒ. ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ: ุงู„ุญุตุฑ ุงู„ุฐูŠ ููŠ ุงู„ุขูŠุฉ، ูุฅู† ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูˆู†ุญูˆู‡ุง ู„ูŠุณุช ู…ู† ุงู„ุฃุตู†ุงู ุงู„ุซู…ุงู†ูŠุฉ، ูˆููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ู…ุชู‚ุฏู… ุงู„ุฐูŠ ููŠู‡: ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุฌุนู„ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุซู…ุงู†ูŠุฉ ุฃุฌุฒุงุก

“Para fuqoha menyatakan bahwa tidak boleh mentashorufkan zakat untuk jenis kebaikan (apapun) selain apa yang telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu zakat tidak boleh ditashorufkan untuk pembangunan jalan, masjid, jembatan, membuat saluran air serta tempat minum. Dan tidak ada pendapat yang bisa membenarkan adanya khilaf mengenai hal ini dimana pendapat tersebut diakui sebagai khilaf, bahkan dzohirnya pernyataan imam Romli pun menunjukkan bahwa yang demikian itu sudah menjadi ijma. Alasannya ada dua: Pertama, tidak ada kepemilikan terkait pentashorufan zakat untuk pembangunan masjid, karena masjid dan sejenisnya itu tidak dapat dimiliki. Dan ini berlaku bagi orang yang mensyaratkan kepemilikan dalam permasalahan zakat. Kedua, batasan yang terdapat didalam ayat. Karena sesungguhnya masjid dan yang lainnya itu bukan termasuk delapan ashnaf (yang sudah disebutkan didalam Al-Qur'an). Dan didalam hadits yang sebelumnya disebutkan bahwa Allah hanya memberlakukan zakat untuk delapan ashnaf”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(๏ป“๏บ˜๏บŽ๏ปญ๏ปฏ ๏บ๏ปท๏บฏ๏ปซ๏บฎ : ุฌ ูก ุต ูกูงูฃ)
(๏ปญ๏ป“๏ปฐ ๏บณ๏บ’๏ปด๏ปž ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช) ๏ปญ๏ปŸ๏ป˜๏บช ๏บ๏บ—๏ป”๏ป– ๏ป“๏ป˜๏ปฌ๏บŽ๏บ€ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บฌ๏บ๏ปซ๏บ ๏บ๏ปท๏บญ๏บ‘๏ปŒ๏บ” ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บƒ๏ปฅ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ป˜๏บผ๏ปฎ๏บฉ ๏บ‘๏ปฌ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปฌ๏บŽ๏บฉ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏บ˜๏บŽ๏ป ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บ๏บง๏บ˜๏ปผ๏ป‘ ๏บ‘๏ปด๏ปจ๏ปฌ๏ปข ๏ป“๏ปฐ ๏ปฃ๏บŽ๏ปซ๏ปด๏บ” ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปฌ๏บŽ๏บฉ ๏ปญ๏บƒ๏ป“๏บฎ๏บ๏บฉ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บ ๏บŽ๏ปซ๏บช๏ปณ๏ปฆ ๏ปญ๏บท๏บฎ๏ปญ๏ป ๏บ๏ปป๏บณ๏บ˜๏บค๏ป˜๏บŽ๏ป• ๏ป“๏ปฐ ๏ปซ๏บฌ๏บ ๏บ๏ปŸ๏บ’๏บŽ๏บ

“(Sabilillah), para fuqoha empat madzhab telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan Sabilillah adalah jihad dan perang meskipun terdapat perbedaan diantara mereka mengenai substansi jihad, individu-individu yang terlibat dalam jihad dan syarat-syarat kelayakan dalam bab tersebut”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุชูุณูŠุฑ ุฑู…ูˆุฒ ุงู„ูƒู†ูˆุฒ ููŠ ุชูุณูŠุฑ ุงู„ูƒุชุงุจ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุชูˆุจุฉ : ูฆู )
ุงุชูู‚ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑู ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุตู†ุงู ุงู„ุซู…ุงู†ูŠุฉ ู…ู† ุจู†ุงุก ู…ุณุฌุฏ ุฃูˆ ุฅุตู„ุงุญ ุทุฑูŠู‚ ุฃูˆ ูƒูู† ู…ูŠุช ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฎุตู‡ู… ุจู‡ุง ุจู‚ูˆู„ู‡: {ุฅู†ู…ุง ูฑู„ุตุฏู‚ุงุช}، ูˆู„ูุธุฉ ุฅู†ู…ุง ุชุซุจุช ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ูˆุชู†ููŠ ู…ุง ุนุฏุงู‡

“Para ulama telah sepakat bahwa zakat tidak boleh ditashorufkan kepada selain delapan ashnaf ini semisal zakat untuk pembangunan masjid, untuk memperbaiki jalan atau untuk mengurus jenazah. Karena Allah telah mengkhususkan mereka (yang berhak menerima zakat) dengan menyebutnya didalam Al-Qur'an: (Innama shodaqot), dan lafadz innama adalah untuk menetapkan yang telah disebutkan itu serta untuk menafikan yang lainnya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ุบู†ูŠ : ุฌ ูข ุต ูฅูขูฅ)
ูุตู„: ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑู ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ู…ู† ุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู† ุจู†ุงุก ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูˆุงู„ู‚ู†ุงุทุฑ ูˆุงู„ุณู‚ุงูŠุงุช ูˆุงุตู„ุงุญ ุงู„ุทุฑู‚ุงุช ูˆุณุฏ ุงู„ุจุซูˆู‚ ูˆุชูƒููŠู† ุงู„ู…ูˆุชู‰ ูˆุงู„ุชูˆุณุนุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุถูŠุงู ูˆุฃุดุจุงู‡ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุจ ุงู„ุชูŠ ู„ู… ูŠุฐูƒุฑู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

“(Pasal), dan tidak diperbolehkan mentashorufkan zakat kepada selain ashnaf yang sudah Allah disebutkan didalam Al-Qur'an semisal zakat untuk pembangunan masjid, jembatan, tempat penampungan air, memperbaiki jalan, menutup lubang, mengurus jenazah dan semisalnya dari amal-amal kebaikan yang tidak disebutkan oleh Allah”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุณุฑุญ ู…ุฎุชุตุฑ ุฎู„ูŠู„ : ุฌ ูข ุต ูขูกูฉ)
ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑู ุดูŠุก ู…ู† ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ููŠ ุบูŠุฑ ุงู„ูˆุฌูˆู‡ ุงู„ู…ุจูŠู†ุฉ ู…ู† ุนู…ุงุฑุฉ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ุฃูˆ ุจู†ุงุก ุงู„ู‚ู†ุงุทุฑ ุฃูˆ ุชูƒููŠู† ุงู„ู…ูˆุชู‰ ุฃูˆ ููƒ ุงู„ุฃุณุงุฑู‰ ุฃูˆ ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุงู„ู…ุตุงู„ุญ

“Dan tidak diperbolehkan mentashorufkan zakat untuk selain yang telah ditentukan (dan telah disebutkan didalam Al-Qur'an) semisal zakat untuk pembangunan masjid, jembatan, mengurus jenazah, membebaskan tawanan atau amal-amal kebaikan lainnya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ูุชุงูˆู‰ ุงู„ู‡ู†ุฏูŠุฉ : ุฌ ูฆ ุต ูฃูฉูข)
ูˆูƒุฐู„ูƒ ููŠ ุฌู…ูŠุน ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุจุฑ ุงู„ุชูŠ ู„ุง ูŠู‚ุน ุจู‡ุง ุงู„ุชู…ู„ูŠูƒ ูƒุนู…ุงุฑุฉ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูˆุจู†ุงุก ุงู„ู‚ู†ุงุทุฑ ูˆุงู„ุฑุจุงุทุงุช، ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑู ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุฅู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ูˆุฌูˆู‡، ูˆุงู„ุญูŠู„ุฉ: ุฃู† ูŠุชุตุฏู‚ ุจู…ู‚ุฏุงุฑ ุฒูƒุงุชู‡ ุนู„ู‰ ูู‚ูŠุฑ ุซู… ูŠุฃู…ุฑู‡ ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ุจุงู„ุตุฑู ุฅู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ูˆุฌูˆู‡، ููŠูƒูˆู† ู„ู„ู…ุชุตุฏู‚ ุซูˆุงุจ ุงู„ุตุฏู‚ุฉ ูˆู„ุฐุงู„ูƒ ุงู„ูู‚ูŠุฑ ุซูˆุงุจ ุจู†ุงุก ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆุงู„ู‚ู†ุทุฑุฉ

“Demikian halnya dalam semua bentuk amal kebaikan yang tidak melibatkan kepemilikan (individu) semisal pembangunan masjid, jembatan dan ribath, maka tidak diperbolehkan untuk mentashorufkan zakat kepada hal-hal tersebut. Jadi solusinya adalah bersedekah dengan kadar atau jumlah zakat kepada orang fakir, kemudian memerintahkan orang fakir itu untuk memberikan sedekahnya kepada hal-hal tersebut. Sehingga yang memberi sedekah akan mendapatkan pahala atas sedekahnya, dan orang fakir pun akan mendapatkan pahala dari pembangunan masjid dan pembangunan jembatan”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

TANYA JAWAB - SEPUTAR GERAKAN YANG BISA MEMBATALKAN SHOLAT


๐Ÿ“ Deskripsi :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ada sepasang suami istri sedang melaksanakan shalat berjamaah. Mereka berdua melaksanakannya dirumah tepatnya didalam kamar dekat kasur. Pada saat hendak bersujud anaknya yang masih balita bergerak ke pinggir lalu ibunya melemparkan bantalnya lurus depan balitanya itu agar tidak terjatuh. Kemudian si suaminya melangkah bergeser ke samping dan berhenti pas didepan anaknya juga.

๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Apakah shalat mereka batal?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Gerakan berat yang dilakukan saat sholat, maka akan membatalkan sholatnya jika dilakukan sampai tiga kali atau lebih dimana gerakannya itu berkelanjutan atau berturut-turut tanpa adanya jeda, dan dilakukan untuk tujuan main-main. Sedangkan jika gerakan tersebut dilakukan hanya dua kali, maka tidak sampai membatalkan sholat. Dan nampaknya yang bisa difahami dari deskripsi pertanyaan adalah gerakannya dilakukan tidak sampai tiga kali sehingga tidak membatalkan sholat.

๐Ÿ–‹️ Catatan :

Didalam kitab At-Tahdzib, jeda gerakan berat berkelanjutan yang tidak sampai membatalkan sholat itu adalah seukuran atau kadar dalam satu rakaat sholat, misal setelah melakukan dua gerakan berat lalu ada jeda. Adapun gerakan berat yang bisa membatalkan sholat meskipun hanya dilakukan satu kali adalah jika gerakan tersebut sangat nampak berlebihan, semisal meloncat tinggi. Sedangkan ketentuan terkait sedikit atau banyaknya gerakan tersebut itu dikembalikan kepada penilaian urf atau kebiasaan setempat.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ุฑูˆุถุฉ ุงู„ุทุงู„ุจูŠู† : ุฌ ูก ุต ูฃูฉูง)
ูˆุงู„ุฑุงุจุน ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฃุตุญ ูˆู‚ูˆู„ ุงู„ุฃูƒุซุฑูŠู† ุฃู† ุงู„ุฑุฌูˆุน ููŠู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนุงุฏุฉ. ูู„ุง ูŠุถุฑ ู…ุง ูŠุนุฏู‡ ุงู„ู†ุงุณ ู‚ู„ูŠู„ุง ูƒุงู„ุฅุดุงุฑุฉ ุจุฑุฏ ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฎู„ุน ุงู„ู†ุนู„ ูˆู„ุจุณ ุงู„ุซูˆุจ ุงู„ุฎููŠู ูˆู†ุฒุนู‡ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ. ุซู… ู‚ุงู„ูˆุง: ุงู„ูุนู„ุฉ ุงู„ูˆุงุญุฏุฉ ูƒุงู„ุฎุทูˆุฉ ูˆุงู„ุถุฑุจุฉ ู‚ู„ูŠู„ ู‚ุทุนุง. ูˆุงู„ุซู„ุงุซ: ูƒุซูŠุฑ ู‚ุทุนุง. ูˆุงู„ุงุซู†ุชุงู†: ู…ู† ุงู„ู‚ู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุตุญ. ุซู… ุฃุฌู…ุนูˆุง ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ูƒุซูŠุฑ ุฅู†ู…ุง ูŠุจุทู„ ุฅุฐุง ุชูˆุงู„ู‰ ูุฅู† ุชูุฑู‚ ุจุฃู† ุฎุทุง ุฎุทูˆุฉ ุซู… ุจุนุฏ ุฒู…ู† ุฎุทุง ุฃุฎุฑู‰ ุฃูˆ ุฎุทูˆุชูŠู† ุซู… ุฎุทูˆุชูŠู† ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุฒู…ู† ูˆู‚ู„ู†ุง ุฅู†ู‡ู…ุง ู‚ู„ูŠู„ ูˆุชูƒุฑุฑ ุฐู„ูƒ ู…ุฑุงุช ูู‡ูŠ ูƒุซูŠุฑุฉ ู„ู… ูŠุถุฑ ู‚ุทุนุง. ูˆุญุฏ ุงู„ุชูุฑูŠู‚ ุฃู† ูŠุนุฏ ุงู„ุซุงู†ูŠ ู…ู†ู‚ุทุนุง ุนู† ุงู„ุฃูˆู„. ูˆู‚ุงู„ ููŠ (ุงู„ุชู‡ุฐูŠุจ): ุนู†ุฏูŠ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจูŠู†ู‡ู…ุง ู‚ุฏุฑ ุฑูƒุนุฉ. ุซู… ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุงู„ูุนู„ุฉ ุงู„ูˆุงุญุฏุฉ ุงู„ุชูŠ ู„ุง ุชุจุทู„ ู…ุง ู„ู… ูŠุชูุงุญุด، ูุฅู† ุฃูุฑุทุช ูƒุงู„ูˆุซุจุฉ ุงู„ูุงุญุดุฉ ุฃุจุทู„ุช ู‚ุทุนุง. ูˆูƒุฐุง ู‚ูˆู„ู‡ู…: ุงู„ุซู„ุงุซ ุงู„ู…ุชูˆุงู„ูŠุฉ ุชุจุทู„، ุฃุฑุงุฏ ูˆุงู„ุฎุทูˆุงุช ูˆู†ุญูˆู‡ุง. ูุฃู…ุง ุงู„ุญุฑูƒุงุช ุงู„ุฎููŠูุฉ ูƒุชุญุฑูŠูƒ ุงู„ุฃุตุงุจุน ููŠ ุณุจุญุฉ ุฃูˆ ุญูƒุฉ ุฃูˆ ุญู„ ูˆุนู‚ุฏ، ูุงู„ุฃุตุญ ุฃู†ู‡ุง ู„ุง ุชุถุฑ ูˆุฅู† ูƒุซุฑุช ู…ุชูˆุงู„ูŠุฉ

“Yang ke empat, dan ini merupakan pendapat shohih kebanyakan ulama bahwa (standar gerakan yang dapat membatalkan sholat itu) dikembalikan pada kebiasaan setempat. Maka (tidak membatalkan sholat) berdasarkan pada apa yang dianggap orang lain sebagai gerakan yang sedikit semisal gerakan saat memberi isyarat untuk membalas salam, gerakan saat melepas sandal, gerakan saat mengenakan pakaian ringan dan melepasnya, serta hal-hal yang serupa dengan itu. Kemudian para ulama mengatakan: Satu gerakan (berat) semisal melangkah dan memukul itu dianggap sebagai gerakan yang sedikit, namun tiga gerakan (berat) dianggap sebagai gerakan yang banyak (yang akan membatalkan sholat). Sedangkan dua gerakan (berat), maka masuk dalam kategori gerakan yang sedikit menurut pendapat yang shohih. 

Dan secara ijma (didalam madzhab syafi'i) disebutkan bahwa gerakan yang banyak dapat membatalkan sholat jika dilakukan secara berturut-turut. Namun jika gerakan tersebut terpisah (atau berjarak) semisal saat sedang melangkah kemudian dalam durasi tertentu melangkah lagi, atau setiap dua langkah ada jeda, maka kami katakan bahwa yang demikian itu termasuk gerakan sedikit (yang tidak membatalkan sholat). Namun jika gerakannya berulang beberapa kali (tanpa adanya jeda), maka dianggap gerakan yang banyak (yang akan membatalkan sholat). Hanya saja (tidak akan membatalkan sholat jika ada jarak). Dan batas pemisahan (atau jarak tersebut) adalah bahwa gerakan yang kedua itu harus terputus (atau terpisah) dari gerakan yang pertama. 

Didalam kitab At-Tahdzib disebutkan: Menurut pendapatku, jeda gerakan (berkelanjutan yang tidak membatalkan sholat) adalah seperti (kadar atau jumlahnya) satu rakaat dalam sholat. Kemudian yang dimaksud dengan satu gerakan yang tidak membatalkan sholat adalah gerakan yang tidak berlebihan, namun jika semisal meloncat (yang berlebihan meskipun dilakukan hanya satu kali) maka sudah pasti akan membatalkan sholat. Demikian juga dikatakan: Tiga gerakan (berat) yang berturut-turut itu akan membatalkan sholat, dan yang dimaksud gerakan (berat) tersebut adalah semisal melangkah dan sejenisnya. Adapun gerakan yang ringan semisal menggerakan jari jemari dalam tasbih, menggaruk, membuka dan mengikat (semisal kancing), maka pendapat yang shohih bahwa yang demikian itu (tidak membatalkan sholat) meskipun gerakannya banyak dan dilakukan secara berturut-turut.”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ู†ู‡ุงูŠุฉ ุงู„ู…ุทู„ุจ ููŠ ุฏุฑุงูŠุฉ ุงู„ู…ุฐู‡ุจ : ุฌ ูข ุต ูขู ูฅ)
ูˆุงู„ุนู…ู„ ุงู„ูƒุซูŠุฑ ุนู„ู‰ ูˆุฌู‡ ุงู„ุชูˆุงู„ูŠ ูˆุงู„ุงุชุตุงู„ ุนู…ุฏุง ู…ุจุทู„ ู„ู„ุตู„ุงุฉ، ูˆุงู„ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ู‚ู„ูŠู„ ุบูŠุฑ ู…ุจุทู„ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃุฎุฐ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฃุฐู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ูˆุฃุฏุงุฑู‡ ู…ู† ูŠุณุงุฑู‡ ุฅู„ู‰ ูŠู…ูŠู†ู‡...ูุฅู† ู‚ูŠู„: ู‡ู„ ู…ู† ุถุจุทٍ ููŠ ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุนู…ู„ ุงู„ู‚ู„ูŠู„ ูˆุงู„ูƒุซูŠุฑ؟ ู‚ู„ู†ุง: ู„ุง ุดูƒ ุฃู† ุงู„ุฑุฌูˆุน ููŠ ุฐู„ูƒ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนุฑู ูˆุฃู‡ู„ู‡، ูˆู„ุง ู…ุทู…ุน ููŠ ุถุจุท ุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุชู‚ุฏูŠุฑ ูˆุงู„ุชุญุฏูŠุฏ ูุฅู†ู‡ ุชู‚ุฑูŠุจ ูˆุทู„ุจ ุงู„ุชุญุฏูŠุฏ ููŠ ู…ู†ุฒู„ุฉ ุงู„ุชู‚ุฑูŠุจ ู…ุญุงู„

“Gerakan banyak yang dilakukan secara berturut-turut dan dilakukan secara sengaja, maka yang demikian itu akan membatalkan sholat. Dan dalil bahwa gerakan yang sedikit tidak membatalkan sholat bahwasanya nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memegang telinganya Ibnu Abbas (saat sedang sholat) kemudian beliau memindahkan dari sebelah kirinya menuju ke sebelah kanannya. Maka jika ditanya: Apakah ada batasan untuk membedakan antara gerakan yang gerakan sedikit dan gerakan yang banyak? Maka kami katakan: Tidak diragukan lagi bahwa ketentuan tersebut dikembalikan kepada urf (kebiasaan) dan orang-orang sekitarnya. Dan tidak ada kepastian untuk menentukan hal tersebut dengan jumlah dan batasan, karena yang demikian itu sifatnya hanya sebatas pendekatan (atau perkiraan), sedangkan menentukan batasan pada perkara yang sifatnya hanya sekedar pendekatan (atau perkiraan) itu mustahil”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูƒุงุดูุฉ ุงู„ุณุฌุง : ุต ูฃูฃูก)
ุงู…ุง ุงู„ุญุฑูƒุฉ ุงู„ู‚ู„ูŠู„ุฉ، ูƒุญุฑุชูŠู† ูู„ุง ุชุจุทู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจู‡ุง، ุณูˆุงุก ูƒุงู† ุนู…ุฏุง ุงูˆ ุณู‡ูˆุง، ู…ุงู„ู… ูŠู‚ุตุฏ ุจู‡ุง ุงู„ู„ุนุจ، ูุฅู† ู‚ุตุฏ ุจู‡ุง ุฐุงู„ูƒ، ูƒุฃู† ู‚ุงู… ุฃُุตุจุนู‡ ุงู„ูˆุณุทู‰ ููŠ ุตู„ุงุชู‡ ู„ุดุฎุต ู„ุงุนุจุง ู…ุนู‡ ุจุทู„ุช ุตู„ุงุชู‡

“Adapun gerakan yang sedikit seperti dua gerakan (yang berat), maka hal itu tidak membatalkan sholat entah dilakukan secara sengaja ataupun karena lupa, dengan catatan hal itu dilakukan tidak bertujuan untuk main-main. Oleh karena itu jika seseorang sengaja menggerakkan anggota badannya dengan tujuan main-main, misalnya dengan cara mengacungkan jari tengahnya didalam sholat kepada orang lain, maka sholatnya menjadi batal”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Jumat, Agustus 16, 2024

TANYA JAWAB - APAKAH RASULULLAH PERNAH BERIJTIHAD?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum, mau tanya apakah rasulullah Saw prnh melakukan ijtihad misal nya sblm wahyu turun?? Sedangkan yg namanya ijtihad itukan ada kalanya bnr dan ada kalanya salah๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Para ulama berbeda pendapat apakah nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berijtihad atau tidak. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau tidak pernah berijtihad, namun beliau hanya menyampaikan hukum-hukum syara disaat wahyu Al-Qur'an turun saja. Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa beliau pernah berijtihad, dan pendapat mayoritas ulama inilah pendapat yang lebih shohih.

๐Ÿ“ Catatan :

Ijtihadnya nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur'an yang berbunyi bahwa beliau tidak pernah berucap berdasarkan keinginan hawa nafsunya. Karena disaat beliau berijtihad, itu merupakan hasil daripada pengkajian dan perenungan yang panjang, bukan ijtihad yang bersumber dari hawa nafsunya meskipun memang muncul dari pendapat pribadinya. Dan yang terpenting, ijtihad beliau tidak pernah salah. Jadi disaat ijtihad beliau itu benar lalu wahyu turun, maka wahyu tersebut kemudian menjadi penyempurna kebenaran dari ijtihad yang sebelumnya beliau lakukan.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… : ุฌ ูฃ ุต ูกูคูค)
ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ู„ู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠู…ุง ู„ู… ูŠุฑุฏ ููŠู‡ ู†ุต ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰، ูˆู‡ุฐุง ู…ุฐู‡ุจ ุฃูƒุซุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูˆุฃุตุญุงุจ ุงู„ุฃุตูˆู„ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ู…ุฎุชุงุฑ، ูˆููŠู‡ ุจูŠุงู† ู…ุง ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ّู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุงู„ุฑูู‚ ุจุฃู…ุชู‡

“Didalam hadits ini terdapat dalil mengenai bolehnya nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan ijtihad pada perkara-perkara yang belum ada nashnya dari Allah. Yang demikian ini merupakan pendapatnya mayoritas fuqoha dan para ulama ushul, dan ini adalah pendapat shohih yang dipilih (oleh para ulama). Dan didalam hadits ini juga terdapat penjelasan mengenai bagaimana nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersikap lemah lembut terhadap umatnya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูฆ ุต ูกูขูข)
ูุฃู…ุง ุงุฌุชู‡ุงุฏ ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ูู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ููŠู‡ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู…، ูุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ุฃู†ุจูŠุงุก ุฃู† ูŠุฌุชู‡ุฏูˆุง ูˆู„ุง ู„ู†ุจูŠู†ุง ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ูŠุฌุชู‡ุฏ ู„ู‚ุฏุฑุชู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุต ุจู†ุฒูˆู„ ุงู„ูˆุญูŠ ุนู„ูŠู‡ู…، ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูˆู…ุง ูŠู†ุทู‚ ุนู† ุงู„ู‡ูˆู‰ ุฅู† ู‡ูˆ ุฅู„ุง ูˆุญูŠ ูŠูˆุญู‰. ูˆู„ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุชูˆู‚ู ููŠ ุฅุญุฑุงู…ู‡ ูˆู„ู… ูŠุฌุชู‡ุฏ ุญุชู‰ ู†ุฒู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ุถุงุก، ูˆุชูˆู‚ู ููŠ ุงู„ู„ุนุงู† ุญุชู‰ ู†ุฒู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ุฑุขู†، ูˆุชูˆู‚ู ููŠ ู…ูŠุฑุงุซ ุงู„ุฎุงู„ุฉ ูˆุงู„ุนู…ุฉ ุญุชู‰ ู†ุฒู„ ุนู„ูŠู‡ ุฌุจุฑูŠู„ ุจุฃู† ู„ุง ู…ูŠุฑุงุซ ู„ู‡ู…ุง، ูˆู„ูˆ ุณุงุบ ู„ู‡ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ู„ุณุงุฑุน ุฅู„ูŠู‡ ูˆู„ู… ูŠุชูˆู‚ู

“Adapun ijtihadnya para nabi, maka ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menyatakan bahwa para nabi tidaklah berijtihad (dalam perkara hukum syara). Begitu juga dengan nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam, beliau tidaklah berijtihad. Karena para nabi memiliki kemampuan untuk menerima wahyu yang diturunkan kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya ucapannya tidak lain adalah wahyu yang diturunkan (kepadanya). Dan karena nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu bertawaquf (tidak pernah berpendapat) terkait permasalahan ihram serta beliau tidak berijtihad sampai wahyu Al-Qur'an diturunkan kepadanya. Beliau juga tidak pernah berpendapat terkait permasalahan li'an sampai wahyu Al-Qur'an diturunkan kepadanya. Dan beliau tidak pernah berpendapat terkait permasalahan waris bibinya sampai malaikat jibril menurunkan wahyu bahwa dia tidak mendapatkan hak waris. Oleh karena itu seandainya nabi shallallahu 'alaihi wasallam hendak berijtihad, maka sudah barang tentu kalau beliau akan melakukannya saat itu juga dan beliau tidak bertawaquf”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูฆ ุต ูกูขูข)
ูˆุฐู‡ุจ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูˆู‡ูˆ ุงู„ุธุงู‡ุฑ ู…ู† ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฃู† ู„ู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ุฃู† ูŠุฌุชู‡ุฏูˆุง ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูˆุฏุงูˆุฏ ูˆุณู„ูŠู…ุงู† ุฅุฐ ูŠุญูƒู…ุงู† ููŠ ุงู„ุญุฑุซ ุฅุฐ ู†ูุดุช ููŠู‡ ุบู†ู… ุงู„ู‚ูˆู… ูˆูƒู†ุง ู„ุญูƒู…ู‡ู… ุดุงู‡ุฏูŠู† ููู‡ู…ู†ุงู‡ุง ุณู„ูŠู…ุงู†. ูˆู„ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุฏ ุงุฌุชู‡ุฏ ููŠ ุฃุณุฑู‰ ุจุฏุฑ ูˆููŠู…ู† ุงุดุชุฑุท ุฑุฏู‡ ููŠ ุตู„ุญ ุงู„ุญุฏูŠุจูŠุฉ

“Mayoritas ulama berpendapat, yang mana pendapat ini juga merupakan dzohirnya pendapat dari kalangan ulama madzhab Syafi'i bahwasanya nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan nabi-nabi yang lainnya pernah berijtihad berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dan (ingatlah kisah) Daud serta (kisah) Sulaiman ketika keduanya memutuskan tentang permasalahan ladang yang dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya, dan kami menyaksikan keputusan (yang diberikan oleh) mereka itu. Lalu kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat). Dan karena nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berijtihad dalam permasalahan tawanan perang badar dan dalam hal orang-orang yang mengajukan syarat untuk dikembalikan pada saat ada perjanjian hudaibiyah”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู„ู…ุน ููŠ ุฃุตูˆู„ ุงู„ูู‚ู‡ : ุต ูฃูฆูง)
ูุตู„: ูˆู‚ุฏ ูƒุงู† ูŠุฌูˆุฒ ู„ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ูŠุญูƒู… ููŠ ุงู„ุญูˆุงุฏุซ ุจุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ، ูˆู…ู† ุฃุตุญุงุจู†ุง ู…ู† ู‚ุงู„ ู…ุง ูƒุงู† ู„ู‡ ุฐู„ูƒ. ู„ู†ุง ู‡ูˆ ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ุฌุงุฒ ู„ุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุญูƒู… ุจุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ูˆู„ุฃู† ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู‡ูˆ ุฃูƒู…ู„ ุงุฌุชู‡ุงุฏุง ุฃูˆู„ู‰

“Pasal: Sesungguhnya diperbolehkan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk memutuskan terkait berbagai peristiwa dengan cara melakukan ijtihad. Dan diantara ulama kami (madzhab Syafi'i) ada yang berpendapat tidaklah demikian. Namun pendapatku bahwasanya jika seseorang dari kalangan ulama saja diperbolehkan untuk memutuskan suatu perkara dengan cara melakukan ijtihad, maka sesungguhnya berijtihad bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentu lebih diperbolehkan lagi. Karena ijtihad beliau lebih sempurna dan lebih utama”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูฆ ุต ูกูขูข)
ูˆุนู†ุฏูŠ ุฃู† ุงู„ุฃุตุญ ู…ู† ุฅุทู„ุงู‚ ู‡ุฐูŠู† ุงู„ูˆุฌู‡ูŠู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงุฌุชู‡ุงุฏู‡ ูˆุงุฌุจุง ุนู„ูŠู‡ ููŠ ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ุขุฏู…ูŠูŠู† ูˆุฌุงุฆุฒุง ู„ู‡ ููŠ ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰، ู„ุฃู†ู‡ู… ู„ุง ูŠุตู„ูˆู† ุฅู„ู‰ ุญู‚ูˆู‚ู‡ู… ุฅู„ุง ุจุงุฌุชู‡ุงุฏู‡ ูู„ุฒู…ู‡، ูˆุฅู† ุฃุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู†ู‡ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ููŠ ุญู‚ูˆู‚ู‡ ุฃู…ุฑู‡

“Menurutku yang lebih shohih dari kedua pendapat ini adalah bahwa berijtihad itu wajib bagi seorang nabi untuk perkara yang berkaitan dengan hak-hak manusia, dan diperbolehkan untuk perkara yang berkaitan dengan hak-hak Allah. Karena manusia tidak akan mendapatkan hak-haknya kecuali dengan ijtihadnya, maka hal itu menjadi kewajibannya. Dan jika Allah berkehendak bagi seorang nabi untuk berijtihad pada perkara yang berkaitan dengan hak-hak Allah, maka Allah akan memerintahkannya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูฆ ุต ูกูขูข)
ุซู… ุฅุฐุง ุงุฌุชู‡ุฏ ูู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ุฃุตุญุงุจู†ุง ู‡ู„ ูŠุณุชุจูŠุญ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ุจุฑุฃูŠู‡ ุฃูˆ ูŠุฑุฌุน ููŠู‡ ุฅู„ู‰ ุฏู„ุงุฆู„ ุงู„ูƒุชุงุจ، ุนู„ู‰ ูˆุฌู‡ูŠู†: ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุฃู†ู‡ ูŠุฑุฌุน ููŠ ุงุฌุชู‡ุงุฏู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ูƒุชุงุจ، ู„ุฃู†ู‡ ุฃุนู„ู… ุจู…ุนุงู†ูŠ ู…ุง ุฎููŠ ู…ู†ู‡ ู…ู† ุฌู…ูŠุน ุฃู…ุชู‡ ููƒุงู† ุงุฌุชู‡ุงุฏู‡ ุจูŠุงู†ุง ูˆุฅูŠุถุงุญุง. ูˆุงู„ูˆุฌู‡ ุงู„ุซุงู†ูŠ ูˆู‡ูˆ ุฃุธู‡ุฑ ุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠุฌุชู‡ุฏ ุจุฑุฃูŠู‡ ูˆู„ุง ูŠุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ุฃุตู„ ู…ู† ุงู„ูƒุชุงุจ، ู„ุฃู† ุณู†ุชู‡ ุฃุตู„ ููŠ ุงู„ุดุฑุน ู…ุซู„ ุงู„ูƒุชุงุจ ู‚ุฏ ู†ุฏุจ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฅู„ูŠู‡ุง، ูู‚ุงู„: ูˆู…ุง ุขุชุงูƒู… ุงู„ุฑุณูˆู„ ูุฎุฐูˆู‡ ูˆู…ุง ู†ู‡ุงูƒู… ุนู†ู‡ ูุงู†ุชู‡ูˆุง

“Kemudian jika seorang nabi berijtihad, maka para ulama kami (madzhab Syafi'i) berbeda pendapat apakah seorang nabi boleh berijtihad berdasarkan pendapatnya sendiri ataukah hanya boleh berijtihad dengan cara merujuk kepada dalil-dalil dari Al-Qur'an. Maka disini ada dua pendapat: Pendapat pertama menyatakan bahwa jika seorang nabi berijtihad, maka ijtihadnya harus dengan cara merujuk kepada dalil-dalil Al-Qur'an. Karena seorang nabi lebih mengetahui makna yang tersembunyi diantara seluruh umatnya sehingga ijtihadnya menjadi penjelasan (terkait makna yang tersembunyi tersebut). Pendapat kedua: Dan ini merupakan qoul adzhar (pendapat yang lebih kuat), bahwa seorang nabi boleh berijtihad berdasarkan pendapatnya sendiri tanpa harus merujuk kepada dalil-dalil dari Al-Qur'an, karena sunnah itu merupakan dasar yang ada didalam syariat seperti halnya Al-Qur'an, yang mana Allah sendiri telah menganjurkan (memerintahkan) untuk mengikutinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Apa yang diberikan oleh seorang Rasul, maka ambillah. Dan apa yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ 

Kamis, Agustus 15, 2024

TANYA JAWAB - MUNGKINKAH MANUSIA MELIHAT JIN?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...

Mau tanya mengenai tayangan pemburu hantu yg prnh ada di televisi yg katanya bisa melihat makhluk halus seperti tuyul, kuntilanak atau yg lainnya. Apakah makhluk-makhluk seperti itu tergolong jin atau bagaimana? Dan sikap kita sebagai penonton seharusnya seperti apa, apakah harus percaya atau tdk?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Sebagai seorang muslim, kita memang patut beriman terkait adanya hal-hal yang bersifat ghoibiyat, termasuk didalamnya yaitu keberadaan jin karena kesemuanya telah disebutkan didalam Al-Qur'an dan sunnah. Hanya saja, kita tidak boleh terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Termasuk mengenai pengakuan seseorang yang katanya melihat jin entah itu dalam wujud tuyul, kuntilanak dan sebagainya. Karena syariat islam memandang bahwa makhluk yang bernama jin itu adalah makhluk yang tidak kasat mata, yaitu dalam artian tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. 

Hanya saja jika jin tersebut sudah berubah dari bentuk aslinya, semisal berubah menjadi wujud hewan, maka memang akan bisa terlihat oleh semua mata yang bisa melihat. Namun, siapa yang bisa memastikan kalau yang dilihatnya itu adalah jin, misal melihat hewan padahal nyatanya adalah jin, ini tidak bisa dipastikan. Oleh karena itu kesimpulannya, menyikapi fenomena orang yang katanya mengaku melihat jin apalagi itu jin dalam bentuk aslinya, maka tidak perlu dipercaya. Dan sudah jelas kalau pernyataannya itu adalah dusta, karena bisa jadi apa yang dia lihat adalah manifestasi dari imajinasi yang ada dalam pikirannya saja sehingga menimbulkan sugesti, atau perwujudan dari halusinasi yang mempengaruhi pikiran serta akal sehatnya.

๐Ÿ“ Catatan :

Menurut satu pendapat dhoif (yakni qiila) yang ada didalam sebuah kitab tafsir, dikatakan bahwasanya jin bisa saja dilihat. Namun pendapat tersebut bukanlah pendapat yang bisa dijadikan acuan, terkhusus untuk perkara yang sifatnya ghoibiyat. Karena perkara yang sifatnya ghoibiyat itu harus dibangun diatas dalil-dalil yang shohih bahkan mutawatir. Oleh sebab itu, pendapat yang menyatakan jin bisa dilihat tidak bisa diterima. Mangkanya imam Syafi'i rahimahullah dengan tegas menyatakan bahwa orang yang mengaku-ngaku kalau dirinya melihat jin maka kesaksiannya ditolak alias pernyataannya dianggap dusta, dan hal ini berlaku bagi orang yang mengaku bahwa dirinya melihat jin dalam bentuk aslinya saat dia diciptakan (yakni dalam wujud yang halus).

๐Ÿ“š Keterangan :

(ูุชุญ ุงู„ุจุงุฑูŠ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ : ุฌ ูฆ ุต ูฃูฉูฆ)
ูˆุฑูˆู‰ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ููŠ ู…ู†ุงู‚ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุจุฅุณู†ุงุฏู‡ ุนู† ุงู„ุฑุจูŠุน ุณู…ุนุช ุงู„ุดุงูุนูŠ ูŠู‚ูˆู„: ู…ู† ุฒุนู… ุฃู†ู‡ ูŠุฑู‰ ุงู„ุฌู† ุฃุจุทู„ู†ุง ุดู‡ุงุฏุชู‡ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู†ุจูŠุง، ุงู†ุชู‡ู‰. ูˆู‡ุฐุง ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠุฏุนูŠ ุฑุคูŠุชู‡ู… ุนู„ู‰ ุตูˆุฑู‡ู… ุงู„ุชูŠ ุฎู„ู‚ูˆุง ุนู„ูŠู‡ุง، ูˆุฃู…ุง ู…ู† ุงุฏุนู‰ ุฃู†ู‡ ูŠุฑู‰ ุดูŠุฆุง ู…ู†ู‡ู… ุจุนุฏ ุฃู† ูŠุชุทูˆุฑ ุนู„ู‰ ุตูˆุฑ ุดุชู‰ ู…ู† ุงู„ุญูŠูˆุงู† ูู„ุง ูŠู‚ุฏุญ ููŠู‡ ูˆู‚ุฏ ุชูˆุงุฑุฏุช ุงู„ุฃุฎุจุงุฑ ุจุชุทูˆุฑู‡ู… ููŠ ุงู„ุตูˆุฑ

“Al-Imam Baihaqi rahimahullah meriwayatkan didalam kitab Manaqib Asy-Syafi'i dengan sanadnya yang bersumber dari Ar-Rabi' dimana beliau pernah mendengar imam Syafi'i rahimahullah berkata: Barang siapa yang mengaku bahwa dirinya melihat jin, maka kami tolak kesaksiannya, kecuali kalau dia adalah seorang nabi (maka pernyataannya bisa dipercaya). Yang dikatakan oleh imam Syafi'i ini mungkin ditujukan kepada orang yang mengaku telah melihat jin dalam bentuk aslinya saat jin tersebut diciptakan. Adapun orang yang mengaku bahwa dirinya melihat jin setelah berubah bentuk semisal menjadi wujud hewan, maka dalam keadaan demikian orang tersebut tidak dicela. Karena ada riwayat mengenai jin yang telah berubah bentuk tersebut”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ู…ุบู†ูŠ ุงู„ู…ุญุชุงุฌ : ุฌ ูก ุต ูขูจูฃ)
ู…ู† ุงุฏุนู‰ ุฃู†ู‡ ูŠุฑู‰ ุงู„ุฌู† ูŠูƒูุฑ ู„ู…ุฎุงู„ูุชู‡ ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: (ุฅู†ู‡ ูŠุฑุงูƒู… ู‡ูˆ ูˆู‚ุจูŠู„ู‡ ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู…). ูˆู‚ุงู„ ุจุนุถู‡ู…: ูŠู…ูƒู† ุญู…ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู…ู† ุงุฏุนู‰ ุฑุคูŠุชู‡ู… ุนู„ู‰ ู…ุง ุฎู„ู‚ูˆุง ุนู„ูŠู‡

“Barang siapa yang mengaku bahwa dirinya melihat jin, maka dia telah kufur karena menyelisihi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya dia dan kelompoknya melihat kalian dari tempat dimana kalian tidak bisa melihat mereka. Sebagian ulama mengatakan: Kemungkinan kalimat kufur itu ditujukan kepada orang yang mengaku melihat jin dalam bentuk aslinya saat jin tersebut diciptakan”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุชูุณูŠุฑ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูค ุต ูฅูค)
ุงู„ุจุญุซ ุงู„ุซุงู„ุซ، ู‚ุงู„ ุฃุตุญุงุจู†ุง: ุฅู†ู‡ู… ูŠุฑูˆู† ุงู„ุฃู†ุณ ู„ุฃู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฎู„ู‚ ููŠ ุนูŠูˆู†ู‡ู… ุฅุฏุฑุงูƒุง ูˆุงู„ุฅู†ุณ ู„ุง ูŠุฑูˆู†ู‡ู… ู„ุฃู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ู… ูŠุฎู„ู‚ ู‡ุฐุง ุงู„ุฅุฏุฑุงูƒ ููŠ ุนูŠูˆู† ุงู„ุฅู†ุณ

“Pembahasan ketiga, para ulama madzhab kami (madzhab Syafi'i) menyatakan: Sesungguhnya mereka (jin) bisa melihat manusia karena Allah telah memberikan kemampuan penglihatan pada mata mereka, sedangkan manusia tidak bisa melihat jin karena Allah tidak memberikan kemampuan penglihatan pada mata manusia”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ู„ุจุงุจ ุงู„ุชุฃูˆูŠู„ ููŠ ู…ุนุงู†ูŠ ุงู„ุชู†ุฒูŠู„ ุชูุณูŠุฑ ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุฃุนุฑุงู : ูขูง)
(ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู…) ูŠุนู†ูŠ ุฃู†ุชู… ูŠุง ุจู†ูŠ ุขุฏู…، ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฑุญู…ู‡ู… ุงู„ู„ู‡: ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฎู„ู‚ ููŠ ุนูŠูˆู† ุงู„ุฌู† ุฅุฏุฑุงูƒุง ูŠุฑูˆู† ุจุฐู„ูƒ ุงู„ุฅุฏุฑุงูƒ ุงู„ุฅู†ุณ ูˆู„ู… ูŠุฎู„ู‚ ููŠ ุนูŠูˆู† ุงู„ุฅู†ุณ ู‡ุฐุง ุงู„ุฅุฏุฑุงูƒ ูู„ู… ูŠุฑูˆุง ุงู„ุฌู†. ูˆู‚ุงู„ุช ุงู„ู…ุนุชุฒู„ุฉ: ุงู„ูˆุฌู‡ ููŠ ุฃู† ุงู„ุฅู†ุณ ู„ุง ูŠุฑูˆู† ุงู„ุฌู† ุฑู‚ุฉ ุฃุฌุณุงู… ุงู„ุฌู† ูˆู„ุทุงูุชู‡ุง ูˆุงู„ูˆุฌู‡ ููŠ ุฑุคูŠุฉ ุงู„ุฌู† ู„ู„ุฅู†ุณ ูƒุซุงูุฉ ุฃุฌุณุงู… ุงู„ุฅู†ุณ ูˆุงู„ูˆุฌู‡ ููŠ ุฑุคูŠุฉ ุงู„ุฌู† ุจุนุถู‡ู… ุจุนุถุง ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู‚ูˆู‰ ุดุนุงุน ุฃุจุตุงุฑ ุงู„ุฌู† ูˆุฒุงุฏ ููŠู‡ุง ุญุชู‰ ูŠุฑู‰ ุจุนุถู‡ู… ุจุนุถุง ูˆู„ูˆ ุฌุนู„ ููŠ ุฃุจุตุงุฑู†ุง ู‡ุฐู‡ ุงู„ู‚ูˆุฉ ู„ุฑุฃูŠู†ุงู‡ู… ูˆู„ูƒู† ู„ู… ูŠุฌุนู„ู‡ุง

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dari tempat dimana kalian tidak bisa melihat mereka, yakni kamu sekalian wahai manusia. Para ulama rahimahumullah mengatakan: Sesungguhnya Allah menciptakan pada mata jin yaitu suatu indera penglihatan, yang mana dengan indera penglihatan tersebut maka jin mampu melihat manusia, sedangkan Allah tidak menciptakan indera penglihatan tersebut pada mata manusia sehingga manusia tidak mampu melihat jin. Mu'tazilah mengatakan bahwa alasan kenapa manusia tidak mampu melihat jin adalah karena jin memiliki jisim yang lembut dan halus, sedangkan alasan bahwa jin mampu melihat manusia adalah karena manusia memiliki jisim yang padat. Adapun alasan bahwa jin mampu saling melihat antara satu dengan yang lainnya adalah karena Allah telah memberikan kekuatan pada indera penglihatan mereka sehingga menjadikan mereka mampu saling melihat. Dan seandainya Allah memberikan kekuatan tersebut pada indera penglihatan kita, niscaya kita akan mampu melihat mereka (jin). Akan tetapi Allah tidak memberikan kekuatan tersebut kepada kita”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุชูุณูŠุฑ ุงู„ุฃู„ูˆุณูŠ ุฑูˆุญ ุงู„ู…ุนุงู†ูŠ : ุฌ ูค ุต ูฃูคูฅ)
ูˆูƒุฐุง ุชุนู„ูŠู„ ุงู„ุฃุดุงุนุฑุฉ ุนุฏู… ุงู„ุฑุคูŠุฉ ุจุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ู… ูŠุฎู„ู‚ ููŠ ุนูŠูˆู† ุงู„ุฅู†ุณ ู‚ูˆุฉ ุงู„ุฅุฏุฑุงูƒ ู„ุง ูŠู‚ุชุถูŠ ุงู„ุงุณุชุญุงู„ุฉ ุฃูŠุถุง ู„ุฌูˆุงุฒ ุฃู† ูŠุฎู„ู‚ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ููŠ ุนูŠู† ุฑุณูˆู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุงู„ุฑุงุฆูŠ ู„ู‡ ุฌู„ ุดุฃู†ู‡ ุจุนูŠู†ูŠ ุฑุฃุณู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุตุญ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู…ุนุฑุงุฌ ุชู„ูƒ ุงู„ู‚ูˆุฉ ููŠุฑุงู‡ู…. ุจู„ ู„ุง ูŠุจุนุฏ ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุฑุคูŠุฉ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู†ู‡ู… ู„ู‡ู… ูƒุฐู„ูƒ ู„ูƒู† ู„ู… ุฃุฌุฏ ุตุฑูŠุญุง ู…ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ูˆู‚ูˆุน ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฑุคูŠุฉ

“Demikian halnya dengan penjelasan yang dikatakan oleh para ulama Asy'ariyah mengenai ketidak mampuan melihat jin adalah karena Allah tidak menciptakan pada mata manusia, yaitu kemampuan untuk melihatnya. Namun hal itu juga tidak menutup kemungkinan karena bisa jadi Allah telah menciptakan pada mata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu suatu kemampuan untuk melihatnya dengan mata kepala beliau sendiri pada malam isra mi'raj sehingga beliau mampu melihatnya, dan ini adalah pendapat yang shohih. Bahkan tidak menutup kemungkinan terkait pernyataan (sebagian orang) bahwa para wali radhiyallahu 'anhum (yang berkaitan dengan karomah) juga mampu melihat jin, hanya saja aku tidak menjumpai adanya keterangan shorih yang menunjukkan terjadinya hal tersebut”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุชุญุฑูŠุฑ ูˆุงู„ุชู†ูˆูŠุฑ : ุฌ ูฉ ุต ูงูง)
ูˆ (ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู…) ุงุจุชุฏุงุก ู…ูƒุงู† ู…ุจู‡ู… ุชู†ุชููŠ ููŠู‡ ุฑุคูŠุฉ ุงู„ุจุดุฑ، ุฃูŠ ู…ู† ูƒู„ ู…ูƒุงู† ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู… ููŠู‡، ููŠููŠุฏ ุฅู†ู‡ ูŠุฑุงูƒู… ูˆู‚ุจูŠู„ู‡ُ ูˆุฃู†ุชู… ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ ู‚ุฑูŠุจุง ูƒุงู†ูˆุง ุฃูˆ ุจุนูŠุฏุง، ููƒุงู†ุช ุงู„ุดูŠุงุทูŠู† ู…ุญุฌูˆุจูŠู† ุนู† ุฃุจุตุงุฑ ุงู„ุจุดุฑ، ููƒุงู† ุฐู„ูƒ ู‡ูˆ ุงู„ู…ุนุชุงุฏ ู…ู† ุงู„ุฌู†ุณูŠู†، ูุฑุคูŠุฉ ุฐูˆุงุช ุงู„ุดูŠุงุทูŠู† ู…ู†ุชููŠุฉ ู„ุง ู…ุญุงู„ุฉ، ูˆู‚ุฏ ูŠุฎูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฑุคูŠุฉ ุงู„ุดูŠุงุทูŠู† ุฃูˆ ุงู„ุฌู† ู…ุชุดูƒู„ุฉ ููŠ ุฃุดูƒุงู„ ุงู„ุฌุณู…ุงู†ูŠุงุช، ู…ุนุฌุฒุฉً ู„ู„ุฃู†ุจูŠุงุก ูƒู…ุง ูˆุฑุฏ ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญ: (ุฅู† ุนูุฑูŠุชุง ู…ู† ุงู„ุฌู† ุชูู„ุช ุนู„ูŠ ุงู„ู„ูŠู„ุฉ ููŠ ุตู„ุงุชูŠ ูู‡ู…ู…ุช ุฃู† ุฃูˆุซู‚ู‡ ููŠ ุณุงุฑูŠุฉ ู…ู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ) ุงู„ุญุฏูŠุซ، ุฃูˆ ูƒุฑุงู…ุฉ ู„ู„ุตุงู„ุญูŠู† ู…ู† ุงู„ุฃู…ู… ูƒู…ุง ููŠ ุญุฏูŠุซ ุงู„ุฐูŠ ุฌุงุก ูŠุณุฑู‚ ู…ู† ุฒูƒุงุฉ ุงู„ูุทุฑ ุนู†ุฏ ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ، ูˆู‚ูˆู„ ุงู„ู†ุจูŠุก ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ: ุฐู„ูƒ ุดูŠุทุงู† ูƒู…ุง ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญูŠู†، ูˆู„ุง ูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ุฅู„ุง ุนู„ู‰ ุชุดูƒู„ ุงู„ุดูŠุทุงู† ุฃูˆ ุงู„ุฌู† ููŠ ุตูˆุฑุฉ ุบูŠุฑ ุตูˆุฑุชู‡ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ูŠّุฉ، ุจุชุณุฎูŠุฑ ุงู„ู„ู‡ ู„ุชุชู…ูƒู† ู…ู†ู‡ ุงู„ุฑุคูŠุฉ ุงู„ุจุดุฑูŠุฉ، ูุงู„ู…ุฑุฆูŠ ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ุดูƒู„ ุงู„ุฐูŠ ู…ุงู‡ูŠุฉ ุงู„ุดูŠุทุงู† ู…ู† ูˆุฑุงุฆู‡، ูˆุฐู„ูƒ ุจู…ู†ุฒู„ุฉ ุฑุคูŠุฉ ู…ูƒุงู†ู† ูŠุนู„ู… ุฃู† ููŠู‡ ุดูŠุทุงู†ุง، ูˆุทุฑูŠู‚ ุงู„ุนู„ู… ุจุฐู„ูƒ ู‡ูˆ ุงู„ุฎุจุฑ ุงู„ุตุงุฏู‚، ูู„ูˆู„ุง ุงู„ุฎุจุฑ ู„ู…ุง ุนู„ู… ุฐู„ูƒ

“Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dari tempat dimana kalian tidak melihat mereka, adalah permulaan untuk menunjukkan tempat yang mana penglihatan manusia tidak mampu menjangkaunya, yaitu dari setiap tempat dimana kalian tidak melihat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dan kaumnya melihat kalian sedangkan kalian tidak melihatnya entah mereka dekat maupun jauh. Maka, setan-setan akan terhalang dari pandangan manusia, dan yang demikian itu adalah hal yang biasa terjadi dari kedua jenis tersebut. Oleh karenanya, melihat wujud setan yang asli adalah tidak mungkin terjadi. Namun Allah dapat memberikan kekuatan penglihatan kepada manusia untuk melihat setan atau jin yang muncul dalam bentuk fisik (yang padat seperti manusia) sebagai bentuk mukjizat bagi para nabi seperti yang disebutkan didalam hadits shohih: (Sesungguhnya ifrit dari kalangan jin telah menggangguku saat aku sedang sholat pada malam ini, dan aku bermaksud untuk mengikatnya pada tiang masjid). Atau melihatnya sebagai bentuk karomah orang-orang sholeh seperti yang tercantum didalam hadits tentang seseorang yang datang mencuri kumpulan makanan zakat fitrah dari Abu Hurairah, dan nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Abu Hurairah: Dia adalah setan, hadits ini terdapat dalam kitab shohih Bukhari dan Muslim. Maka, (setan atau jin) tidak mungkin terlihat kecuali kalau setan atau jin tersebut muncul dalam bentuk yang berbeda dari bentuk aslinya (misal bentuk hewan), yang mana dengan izin Allah penglihatan manusia akan mampu menjangkaunya. Oleh karena itu, yang terlihat sebenarnya adalah bentuk yang merupakan esensi dari setan (setelah berubah wujud), dan hal tersebut seperti melihat tempat yang diketahui ada setan didalamnya. Dan cara untuk mengetahuinya adalah melalui khobar yang benar. Maka jika tidak ada khobar, berarti hal itu tidak akan diketahui”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุชูุณูŠุฑ ุงู„ุตุงูˆูŠ ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุฃุนุฑุงู : ูขูง)
ู‚ูˆู„ู‡: (ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู…) (ู…ู†) ุงุจุชุฏุงุฆูŠุฉ، ูˆ (ุญูŠุซ) ุธุฑู ู…ูƒุงู†، ุงู„ุชู‚ุฏูŠุฑ ุฅู†ู‡ ูŠุฑุงูƒู… ุฑุคูŠุฉ ู…ุจุชุฏุฃุฉ ู…ู† ู…ูƒุงู† ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู… ููŠู‡. ู‚ูˆู„ู‡: (ู„ู„ุทุงูุฉ ุฃุฌุณุงุฏู‡ู…) ูุฃุฌุณุงู…ู‡ู… ูƒุงู„ู‡ูˆุงุก، ู†ุนู„ู…ู‡ ูˆู†ุชุญู‚ู‚ู‡ ูˆู„ุง ู†ุฑุงู‡ ู„ู„ุทุงูุชู‡ ูˆุนุฏู… ุชู„ูˆู†ู‡، ู‡ุฐุง ูˆุฌู‡ ุนุฏู… ุฑุคูŠุชู†ุง ู„ู‡ู…. ูˆุฃู…ุง ูˆุฌู‡ ุฑุคูŠุชู‡ู… ู„ู†ุง ููƒุซุงูุฉ ุฃุฌุณุงุฏู†ุง ูˆุชู„ูˆู†ู†ุง، ูˆุฃู…ุง ุฑุคูŠุฉ ุจุนุถู‡ู… ู„ุจุนุถ ูุญุงุตู„ุฉ ู„ู‚ูˆุฉ ููŠ ุฃุจุตุงุฑู‡ู…. ูˆู‡ุฐุง ุญูŠุซ ูƒุงู†ูˆุง ุจุตูˆุฑุชู‡ู… ุงู„ุฃุตู„ูŠุฉ، ูˆุฃู…ุง ุฅุฐุง ุชุตูˆุฑูˆุง ุจุบูŠุฑู‡ุง ูุชุฑุงู‡ู…، ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุฌุนู„ ู„ู‡ู… ู‚ุฏุฑุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุดูƒูŠู„ ุจุงู„ุตูˆุฑุฉ ุงู„ุฌู…ูŠู„ุฉ ุฃูˆ ุงู„ุฎุณูŠุณุฉ، ูˆุชุญูƒู… ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุตูˆุฑุฉ ูƒู…ุง ููŠ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ. ูุงู„ุขูŠุฉ ู„ูŠุณุช ุนู„ู‰ ุนู…ูˆู…ู‡ุง ูˆุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู†ู‡ู… ูˆุจูŠู† ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉ، ุฃู† ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉ ู„ุง ูŠุชุดูƒู„ูˆู† ุฅู„ุง ููŠ ุงู„ุตูˆุฑุฉ ุงู„ุฌู…ูŠู„ุฉ ูˆู„ุง ุชุญูƒู… ุนู„ูŠู‡ู… ุจุฎู„ุงู ุงู„ุฌู†، ูˆู‚ุฏ ูˆุฑุฏ ุฃู† ุงู„ุดูŠุทุงู† ูŠุฌุฑูŠ ู…ู† ุงุจู† ุขุฏู… ู…ุฌุฑู‰ ุงู„ุฏู…، ูˆุฌุนู„ุช ุตุฏุฑ ุจู†ูŠ ุขุฏู… ู…ุณุงูƒู† ู„ู‡ู…، ุฅู„ุง ู…ู† ุนุตู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: (ูฑู„ุฐู‰ ูŠูˆุณูˆุณ ููŠ ุตุฏูˆุฑ ูฑู„ู†ุงุณ) ูู‡ู… ูŠุฑูˆู† ุจู†ูŠ ุขุฏู…، ูˆุจู†ูˆ ุขุฏู… ู„ุง ูŠุฑูˆู†ู‡ู…

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dari tempat dimana kalian tidak bisa melihat mereka. Kalimat min disini adalah untuk menunjukkan permulaan, sedangkan kalimat haitsu maknanya adalah tempat. Artinya bahwa jin mampu melihat kalian dari sebuah tempat yang mana kalian tidak mampu melihat mereka. Lalu pernyataan mufassir: Karena jisim mereka yang lembut. Yakni jisim mereka seperti udara dimana kita mengetahuinya dan memastikannya, akan tetapi kita tidak bisa melihatnya karena lembut dan tidak berwarnanya jisim mereka. Dan hal ini merupakan sebuah alasan kenapa kita tidak bisa melihat mereka. Adapun alasan kenapa mereka bisa melihat kita adalah karena jisim kita itu padat dan berwarna, sedangkan penglihatan sebagian dari mereka terhadap sebagian yang lainnya terjadi karena kekuatan yang ada pada indera penglihatan mereka. Dan hal ini terjadi ketika mereka berada dalam bentuk aslinya, sedangkan jika mereka sudah berubah bentuk kepada bentuk yang lainnya (misal bentuk hewan), maka kalian akan bisa melihat mereka. Karena Allah memberikan kemampuan kepada mereka untuk merubah bentuk entah itu bentuk yang indah maupun bentuk yang buruk, dan bentuk tersebut mengatur mereka sebagaimana yang terdapat didalam hadits-hadits yang shohih. Maka ayat ini tidak bersifat umum, dan perbedaan antara mereka dengan para malaikat adalah bahwasanya para malaikat tidaklah merubah bentuk jisimnya kecuali ke dalam bentuk yang indah dan mereka tidak mengaturnya, berbeda halnya dengan jin. Dan diriwayatkan didalam sebuah hadits bahwasanya setan menyusup ke dalam diri manusia melalui aliran darahnya, dan dada (jiwa) manusia dijadikan sebagai tempat tinggal bagi mereka kecuali bagi siapa saja yang Allah lindungi sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Alladzi yuwaswisufi shuduurinnas, yaitu mereka (jin) melihat manusia sedangkan manusia tidak melihatnya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุฌุงู…ุน ู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ู‚ุฑุขู† : ุฌ ูง ุต ูกูฆูง)
ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ุฅู†ู‡ ูŠุฑุงูƒู… ู‡ูˆ ูˆู‚ุจูŠู„ู‡ ู‚ุจูŠู„ู‡ ุฌู†ูˆุฏู‡، ู‚ุงู„ ู…ุฌุงู‡ุฏ: ูŠุนู†ูŠ ุงู„ุฌู† ูˆุงู„ุดูŠุงุทูŠู†، ุงุจู† ุฒูŠุฏ: ู‚ุจูŠู„ู‡ ู†ุณู„ู‡، ูˆู‚ูŠู„: ุฌูŠู„ู‡. ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู…، ู‚ุงู„ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก: ููŠ ู‡ุฐุง ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฌู† ู„ุง ูŠุฑูˆู† ู„ู‚ูˆู„ู‡: ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู…، ู‚ูŠู„: ุฌุงุฆุฒ ุฃู† ูŠุฑูˆุง ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠุฑูŠู‡ู… ูƒุดู ุฃุฌุณุงู…ู‡ู… ุญุชู‰ ุชุฑู‰. ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุญุงุณ: ู…ู† ุญูŠุซ ู„ุง ุชุฑูˆู†ู‡ู…، ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฌู† ู„ุง ูŠุฑูˆู† ุฅู„ุง ููŠ ูˆู‚ุช ู†ุจูŠ ู„ูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ุฏู„ุงู„ุฉ ุนู„ู‰ ู†ุจูˆุชู‡، ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุฌู„ ูˆุนุฒ ุฎู„ู‚ู‡ู… ุฎู„ู‚ุง ู„ุง ูŠุฑูˆู† ููŠู‡، ูˆุฅู†ู…ุง ูŠุฑูˆู† ุฅุฐุง ู†ู‚ู„ูˆุง ุนู† ุตูˆุฑู‡ู…، ูˆุฐู„ูƒ ู…ู† ุงู„ู…ุนุฌุฒุงุช ุงู„ุชูŠ ู„ุง ุชูƒูˆู† ุฅู„ุง ููŠ ูˆู‚ุช ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ุตู„ูˆุงุช ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู„ุงู…ู‡ ุนู„ูŠู‡ู…. ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุดูŠุฑูŠ: ุฃุฌุฑู‰ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุงุฏุฉ ุจุฃู† ุจู†ูŠ ุขุฏู… ู„ุง ูŠุฑูˆู† ุงู„ุดูŠุงุทูŠู† ุงู„ูŠูˆู…، ูˆููŠ ุงู„ุฎุจุฑ ุฅู† ุงู„ุดูŠุทุงู† ูŠุฌุฑูŠ ู…ู† ุงุจู† ุขุฏู… ู…ุฌุฑู‰ ุงู„ุฏู…

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya dia dan kelompoknya melihat kalian. Mujahid rahimahullah berkata: Yaitu jin dan setan. Kemudian Ibnu Zaid rahimahullah berkata: Pengikutnya, dan dikatakan: Keturunannya. Lalu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dari tempat dimana kalian tidak bisa melihat mereka. Sebagian ulama mengatakan: Ayat ini menjadi dalil bahwasanya jin itu tidak bisa dilihat (oleh kasat mata), sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dari tempat dimana kalian tidak bisa melihat mereka. Namun dikatakan: (Manusia) bisa saja melihat jin. Karena jika Allah menghendaki, maka Allah akan memperlihatkan bentuk fisik mereka sehingga manusia bisa melihatnya. An-Nahas rahimahullah berkata: (Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala): Dari tempat dimana kalian tidak bisa melihat mereka, menjadi dalil bahwasanya jin itu tidak bisa dilihat (oleh kasat mata) kecuali pada zaman nabi yang mana hal itu menjadi bukti kenabian beliau. Karena Allah menciptakan mereka (jin) sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat (oleh kasat mata), akan tetapi manusia bisa saja melihat jin (setelah jin tersebut berubah) dari betuk aslinya. Dan yang demikian itu merupakan bagian dari mukjizat yang hanya terjadi pada zaman para nabi. Al-Qusyairi rahimahullah berkata: Allah telah menetapkan adat bahwasanya pada hari ini manusia tidak bisa melihat setan (atau jin), dan didalam sebuah hadits disebutkan bahwa setan menyusup ke dalam diri manusia melalui aliran darahnya”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

TANYA JAWAB - HUKUM MEMPOSTING FOTO KE SOSIAL MEDIA


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hukum meng-upload foto ke sosmed itu kyk gmn? Apa ada batasan-batasan nya kah?๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Memposting foto ke sosial media itu boleh, dengan catatan bahwa foto yang diposting bukanlah foto yang membuka aurat sehingga akan menimbulkan fitnah, dorongan syahwat dan yang lainnya. Atau bukan foto dengan gaya-gaya tertentu (semisal menjulurkan lidah) yang mana dengan foto tersebut maka lawan jenis yang melihatnya akan timbul syahwat meskipun foto yang ditampilkan tetap menutup aurat. Oleh karena itu jika unsur diatas tidak terpenuhi, maka hukum memposting foto ke sosial media menjadi haram.

๐Ÿ“ Catatan :

Fitnah adalah dorongan dan keinginan yang muncul dari dalam diri, yaitu dorongan dan keinginan untuk melakukan zina atau muqqodimah zina.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูˆุฃุฏู„ุชู‡ : ุฌ ูค ุต ูขูฆูงูฆ)
ุฃู…ุง ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ุดู…ุณูŠ ุฃูˆ ุงู„ุฎูŠุงู„ูŠ ูู‡ุฐุง ุฌุงุฆุฒ، ูˆู„ุง ู…ุงู†ุน ู…ู† ุชุนู„ูŠู‚ ุงู„ุตูˆุฑ ุงู„ุฎูŠุงู„ูŠุฉ ููŠ ุงู„ู…ู†ุงุฒู„ ูˆุบูŠุฑู‡ุง ุฅุฐุง ู„ู… ุชูƒู† ุฏุงุนูŠุฉ ู„ู„ูุชู†ุฉ ูƒุตูˆุฑ ุงู„ู†ุณุงุก ุงู„ุชูŠ ูŠุธู‡ุฑ ููŠู‡ุง ุดูŠุก ู…ู† ุฌุณุฏู‡ุง ุบูŠุฑ ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒููŠู† ูƒุงู„ุณูˆุงุนุฏ ูˆุงู„ุณูŠู‚ุงู† ูˆุงู„ุดุนูˆุฑ، ูˆู‡ุฐุง ูŠู†ุทุจู‚ ุฃูŠุถุง ุนู„ู‰ ุตูˆุฑ ุงู„ุชู„ูุงุฒ ูˆู…ุง ูŠุนุฑุถ ููŠู‡ ู…ู† ุฑู‚ุต ูˆุชู…ุซูŠู„ ูˆุบู†ุงุก ู…ุบู†ูŠุงุช ูƒู„ ุฐู„ูƒ ุญุฑุงู… ููŠ ุฑุฃูŠูŠ

“Adapun gambar (yang dihasilkan oleh kamera) atau gambar ilustrasi, maka yang demikian itu diperbolehkan. Dan tidak ada larangan untuk menggantungkan gambar ilustrasi (entah itu) dirumah ataupun ditempat yang lainnya selama gambar tersebut tidak (ada indikasi akan) menimbulkan fitnah semisal gambar perempuan yang menampakkan sesuatu dari bagian tubuhnya selain wajah dan telapak tangan misal bagian lengannya, betisnya dan rambutnya. Dan hal ini juga berlaku untuk gambar-gambar yang (ditampilkan) di TV serta apa yang ditampilkan didalamnya semisal pada saat (menampilkan) tarian, akting dan nyanyian perempuan. Maka kesemuanya ini adalah haram menurut pendapatku (Syaikh Wahbah Zuhaili)”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูˆุฃุฏู„ุชู‡ : ุฌ ูค ุต ูขูขูค)
ูˆุงู„ุณุจุจ ููŠ ุฅุจุงุญุฉ ุงู„ุตูˆุฑ ุงู„ุฎูŠุงู„ูŠุฉ ุฃู† ุชุตูˆูŠุฑู‡ุง ู„ุง ูŠุณู…ู‰ ุชุตูˆูŠุฑุง ู„ุบุฉ ูˆู„ุงุดุฑุนุง ู„ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุจูŠุงู† ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ููŠ ุนู‡ุฏ ุงู„ู†ุจูˆุฉ، ูˆู„ุฃู† ู‡ุฐุง ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ูŠุนุฏ ุญุจุณุง ู„ู„ุธู„ ุฃูˆ ุงู„ุตูˆุฑุฉ ู…ุซู„ ุงู„ุตูˆุฑุฉ ููŠ ุงู„ู…ุฑุขุฉ ูˆุงู„ุตูˆุฑุฉ ููŠ ุงู„ู…ุงุก

“Sebab kebolehan gambar (yang dihasilkan oleh kamera) adalah karena pada saat menghasilkannya itu tidak bisa disebut sebagai tashwir entah secara bahasa maupun secara syariat sebagaimana keterangan yang telah lalu mengenai makna tashwir yang ada pada zaman nabi. Dan karena gambar (yang dihasilkan oleh kamera) hanyalah sekedar memotret bayangan seperti halnya gambar yang terdapat dalam cermin atau air”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุชุงูˆู‰ ุฏุงุฑ ุงู„ุฅูุชุงุก ุงู„ู…ุตุฑูŠุฉ : ุฌ ูง ุต ูขูขู )
ุงุฎุชู„ู ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ูˆุงู„ุฑุงุฌุญ ุฃู† ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ุดู…ุณูŠ (ุงู„ุถูˆุฆูŠ) ู„ุง ุดูŠุก ููŠู‡، ูˆุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ูˆุงุฑุฏ ููŠ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ูƒุงู† ูŠู‚ุตุฏ ุจู‡ ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ู…ุฌุณู…، ูˆู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ู…ุฌุณู…ุง، ุฅู„ุง ุฅุฐุง ุงู‚ุชุฑู† ุจู…ุนุตูŠุฉ، ูƒุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ู…ุชุจุฑุฌุงุช ูˆุนุฑุถ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตูˆุฑ ููŠ ุงู„ู…ุฌู„ุงุช ูˆุงู„ุฌุฑุงุฆุฏ ูˆู†ุญูˆ ู‡ุฐุง

“Para fuqoha berbeda pendapat mengenai hukum gambar, namun pendapat yang rojih dikalangan mereka bahwasanya gambar (yang dihasilkan oleh bantuan cahaya kamera) tidaklah apa-apa. Adapun larangan terkait permasalahan gambar yang ada dalam beberapa hadits, maka dimaksudkan untuk gambar yang berjisim (tiga dimensi). Sedangkan gambar (yang dihasilkan oleh bantuan cahaya kamera) bukanlah gambar yang berjisim (tiga dimensi), kecuali jika gambarnya mengandung unsur maksiat semisal gambar perempuan yang berpakaian tidak senonoh (yang bisa menimbulkan fitnah) kemudian menampilkan gambar tersebut di majalah, surat kabar dan sejenisnya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุชุงูˆู‰ ุฏุงุฑ ุงู„ุฅูุชุงุก ุงู„ู…ุตุฑูŠุฉ : ุฌ ูง ุต ูขูขู )
ุงุฎุชู„ู ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูู‰ ุญูƒู… ุงู„ุฑุณู… ุงู„ุถูˆุฆู‰ ุจูŠู† ุงู„ุชุญุฑูŠู… ูˆุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉ، ูˆุงู„ุฐู‰ ุชุฏู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ู†ุจูˆูŠุฉ ุงู„ุดุฑูŠูุฉ ุงู„ุชู‰ ุฑูˆุงู‡ุง ุงู„ุจุฎุงุฑู‰ ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุงู„ุณู†ู† ูˆุชุฑุฏุฏุช ูู‰ ูƒุชุจ ุงู„ูู‚ู‡، ุฃู† ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ุถูˆุฆู‰ ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ูˆุงู„ุญูŠูˆุงู† ุงู„ู…ุนุฑูˆู ุงู„ุขู† ูˆุงู„ุฑุณู… ูƒุฐู„ูƒ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ ุฅุฐุง ุฎู„ุช ุงู„ุตูˆุฑ ูˆุงู„ุฑุณูˆู… ู…ู† ู…ุธุงู‡ุฑ ุงู„ุชุนุธูŠู… ูˆู…ุธู†ุฉ ุงู„ุชูƒุฑูŠู… ูˆุงู„ุนุจุงุฏุฉ ูˆุฎู„ุช ูƒู„ุฐู„ูƒ ุนู† ุฏูˆุงูุน ุชุญุฑูŠูƒ ุบุฑูŠุฒุฉ ุงู„ุฌู†ุณ ูˆุฅุดุงุนุฉ ุงู„ูุญุดุงุก ูˆุงู„ุชุญุฑูŠุถ ุนู„ู‰ ุงุฑุชูƒุงุจ ุงู„ู…ุญุฑู…ุงุช، ูˆู…ู† ู‡ุฐุง ูŠุนู„ู… ุฃู† ุชุนู„ูŠู‚ ุงู„ุตูˆุฑ ูู‰ ุงู„ู…ู†ุงุฒู„ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ ู…ุชู‰ ุฎู„ุช ุนู† ู…ุธู†ุฉ ุงู„ุชุนุธูŠู… ูˆุงู„ุนุจุงุฏุฉ، ูˆู„ู… ุชูƒู† ู…ู† ุงู„ุตูˆุฑ ุฃูˆ ุงู„ุฑุณูˆู… ุงู„ุชู‰ ุชุญุฑุถ ุนู„ู‰ ุงู„ูุณู‚ ูˆุงู„ูุฌูˆุฑ ูˆุงุฑุชูƒุงุจ ุงู„ู…ุญุฑู…ุงุช

“Para fuqoha berbeda pendapat mengenai hukum gambar (yang dihasilkan oleh kamera) antara yang mengharamkan dan yang memakruhkan. Dan dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits-hadits nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan yang lainnya dari para pemilik kitab As-Sunan, yang mana hal itu juga dibahas didalam kitab-kitab fiqih. (Namun yang jelas) bahwasanya pemotretan gambar manusia dan hewan yang kita dikenal saat ini, adalah tidak apa-apa selama gambarnya terbebas dari unsur pengagungan, kemudian dimuliakan dan diibadahi. Juga gambarnya tidak mengandung dorongan untuk menggerakkan syahwat, menyebarkan perbuatan keji dan mendorong untuk melakukan hal-hal yang diharamkan. Atas dasar itu, maka bisa kita ketahui bahwasanya menampilkan gambar (entah dalam keadaan nyata maupun di sosial media) itu tidaklah apa-apa selama gambarnya terbebas dari unsur pengagungan, kemudian diibadahi dan bukan termasuk gambar yang mengundang kefasikan, dosa dan hal-hal yang diharamkan lainnya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุชูˆุดูŠุญ ุนู„ู‰ ุงุจู† ู‚ุงุณู… : ุต ูกูฉูง)
ุงู„ูุชู†ุฉ ู‡ูŠ ู…ูŠู„ ุงู„ู†ูุณ ูˆุฏุนุงุคู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู…ุงุน ุฃูˆ ู…ู‚ุฏู…ุงุชู‡ ูˆุงู„ุดู‡ูˆุฉ ู‡ูˆ ุฃู† ูŠู„ุชุฐ ุจุงู„ู†ุธุฑ 

“Fitnah adalah dorongan dan keinginan jiwa untuk melakukan zina atau muqqodimah zina, sedangkan syahwat adalah ketika seseorang merasa nikmat (atau senang) dengan apa yang dia lihat”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ 

Rabu, Agustus 14, 2024

TANYA JAWAB - BATASAN AURAT PEREMPUAN MENURUT MADZHAB SYAFI'I


๐Ÿ”„ Pertanyaan 

Assalamualaikum wr wb.

Mau tanya, sebenarnya hukum wanita yg pke cadar menurut Mazhab Syafi’i itu seperti apa, apakah wajib atau sekedar sunah?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Hukum memakai cadar berkisar pada batasan-batasan aurat perempuan itu sendiri (maksudnya perempuan merdeka yang sudah baligh). Jika wajah dianggap aurat, maka hukum menutupinya adalah wajib entah itu dengan memakai cadar, niqob dan sejenisnya. Nah para ulama madzhab Syafi'i memang berbeda pendapat mengenai status wajah perempuan apakah termasuk aurat atau bukan, dan pendapat yang mu'tamad (pendapat yang dikukuhkan) didalam madzhab Syafi'i itu sendiri adalah pendapat yang menyatakan bahwa wajah perempuan termasuk aurat sehingga wajib untuk menutupnya. Sedangkan pendapat sebagian ulama madzhab Syafi'i yang lain menyatakan bahwa wajah bukan termasuk aurat, namun pendapat tersebut bukanlah pendapat yang mu'tamad.

๐Ÿ“ Catatan :

Yang dimaksud wajah termasuk aurat adalah ketika berada diluar sholat, adapun ketika berada didalam sholat maka wajah bukan termasuk aurat. Kecuali jika pada saat sholat terdapat laki-laki bukan mahram yang tidak bisa menjaga pandangannya, maka pada saat itu perempuan tidak boleh membuka wajahnya karena khawatir akan menimbulkan fitnah.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ุญูˆุงุดูŠ ุงู„ุดุฑูˆุงู†ูŠ ุนู„ู‰ ุชุญูุฉ ุงู„ู…ุญุชุงุฌ : ุฌ ูข ุต ูกูกูข)
ู‚ูˆู„ู‡: (ูˆุฅู†ู…ุง ุญุฑู… ู†ุธุฑู‡ู…ุง ุงู„ุฎ) ุฃูŠ ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒููŠู† ู…ู† ุงู„ุญุฑุฉ ูˆู„ูˆ ุจู„ุง ุดู‡ูˆุฉ، ู‚ุงู„ ุงู„ุฒูŠุงุฏูŠ ููŠ ุดุฑุญ ุงู„ู…ุญุฑุฑ ุจุนุฏ ูƒู„ุงู…: ูˆุนุฑู ุจู‡ุฐุง ุงู„ุชู‚ุฑูŠุฑ ุฃู† ู„ู‡ุง ุซู„ุงุซ ุนูˆุฑุงุช، ุนูˆุฑุฉ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ุง ุชู‚ุฏู…، ูˆุนูˆุฑุฉ ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู†ุธุฑ ุงู„ุงุฌุงู†ุจ ุฅู„ูŠู‡ุง ุฌู…ูŠุน ุจุฏู†ู‡ุง ุญุชู‰ ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒููŠู† ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนุชู…ุฏ، ูˆุนูˆุฑุฉ ููŠ ุงู„ุฎู„ูˆุฉ ูˆุนู†ุฏ ุงู„ู…ุญุงุฑู… ูƒุนูˆุฑุฉ ุงู„ุฑุฌู„

“Pernyataan mushonnif (pengarang kitab): Sesungguhnya diharamkan melihatnya, yakni wajah dan kedua telapak tangannya perempuan merdeka meskipun tanpa adanya syahwat. Al-Imam Az-Ziyadi didalam kitab Syarah Al-Muharror mengatakan: Atas dasar hal ini, maka dapat diketahui bahwa aurat perempuan merdeka itu dibagi menjadi tiga. Yaitu saat melakukan sholat, maka auratnya seperti keterangan yang telah lalu (yaitu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya). Lalu saat dinisbatkan pada pandangan laki-laki yang bukan mahram, maka auratnya adalah seluruh tubuh sampai wajah dan kedua telapak tangannya berdasarkan pendapat yang mu'tamad. Dan saat sendiri serta saat bersama mahram, maka auratnya seperti halnya aurat kaum laki-laki (yaitu antara pusar dan lutut)”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุชุญ ุงู„ู‚ุฑูŠุจ : ุต ูจูฅ)
(ูˆุฌู…ูŠุน ุจุฏู† ุงู„ุญุฑุฉ ุนูˆุฑุฉ ุฅู„ุง ูˆุฌู‡ู‡ุง ูˆูƒููŠู‡ุง) ูˆู‡ุฐู‡ ุนูˆุฑุชู‡ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ، ุฃู…ุง ุฎุงุฑุฌ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุนูˆุฑุชู‡ุง ุฌู…ูŠุน ุงู„ุจุฏู†

“Seluruh tubuh perempuan merdeka adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, dan ini adalah auratnya didalam sholat. Adapun auratnya diluar sholat adalah seluruh tubuhnya (termasuk wajah dan kedua telapak tangannya)”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ู†ู‡ุงูŠุฉ ุงู„ุฒูŠู† : ุต ูคูง)
ูˆุงู„ุญุฑุฉ ู„ู‡ุง ุฃุฑุจุน ุนูˆุฑุงุช، ุฅุญุฏุงู‡ุง: ุฌู…ูŠุน ุจุฏู†ู‡ุง ุฅู„ุง ูˆุฌู‡ู‡ุง ูˆูƒููŠู‡ุง ุธู‡ุฑุง ูˆุจุทู†ุง ูˆู‡ูˆ ุนูˆุฑุชู‡ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ، ููŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุณุชุฑ ุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุญุชูŠ ุงู„ุฐุฑุงุนูŠู† ูˆุงู„ุดุนุฑ ูˆุจุงุทู† ุงู„ู‚ุฏู…ูŠู†، ุซุงู†ูŠุชู‡ุง: ู…ุง ุจูŠู† ุณุฑุชู‡ุง ูˆุฑูƒุจุชู‡ุง ูˆู‡ูŠ ุนูˆุฑุชู‡ุง ููŠ ุงู„ุฎู„ูˆุฉ ูˆุนู†ุฏ ุงู„ุฑุฌุงู„ ุงู„ู…ุญุงุฑู… ูˆุนู†ุฏ ุงู„ู†ุณุงุก ุงู„ู…ุคู…ู†ุงุช، ุซุงู„ุซุชู‡ุง :ุฌู…ูŠุน ุงู„ุจุฏู† ุฅู„ุง ู…ุง ูŠุธู‡ุฑ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ู‡ู†ุฉ ูˆู‡ูŠ ุนูˆุฑุชู‡ุง ุนู†ุฏ ุงู„ู†ุณุงุก ุงู„ูƒุงูุฑุงุช، ุฑุงุจุนุชู‡ุง: ุฌู…ูŠุน ุจุฏู†ู‡ุง ุญุชูŠ ู‚ู„ุงู…ุฉ ุธูุฑู‡ุง ูˆู‡ูŠ ุนูˆุฑุชู‡ุง ุนู†ุฏ ุงู„ุฑุฌุงู„ ุงู„ุงุฌุงู†ุจ ููŠุญุฑู… ุนู„ูŠ ุงู„ุฑุฌู„ ุงู„ุงุฌู†ุจูŠ ุงู„ู†ุธุฑ ุงู„ูŠ ุดูŠุก ู…ู† ุฐู„ูƒ ูˆูŠุฌุจ ุนู„ูŠ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุณุชุฑ ุฐู„ูƒ ุนู†ู‡

“Aurat perempuan merdeka itu dibagi menjadi empat. Yang pertama adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya entah itu bagian luarnya maupun bagian dalamnya, dan ini adalah auratnya didalam sholat. Oleh karena itu wajib bagi perempuan untuk menutupnya ketika sedang sholat termasuk hingga kedua lengannya, rambutnya dan kedua telapak kakinya. Yang kedua adalah bagian antara pusar dan lutut. Dan ini adalah auratnya saat sendiri, saat bersama laki-laki mahramnya dan saat bersama perempuan mukminah lainnya. Yang ketiga adalah seluruh tubuhnya kecuali yang nampak saat sedang bekerja, dan ini adalah auratnya saat bersama perempuan kafir. Yang keempat adalah seluruh tubuhnya meskipun potongan kukunya yang telah terpisah, dan ini adalah auratnya dihadapan laki-laki yang bukan mahram. Maka dari itu diharamkan bagi laki-laki yang bukan mahram untuk memandang sesuatu pun dari tubuhnya, dan perempuan pun wajib untuk menutup (auratnya dari pandangannya)”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุจุฌูŠุฑู…ูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุทูŠุจ : ุฌ ูก ุต ูคูฅูก)
ู‚ูˆู„ู‡: (ูˆุนูˆุฑุฉ ุงู„ุญุฑุฉ) ุฃูŠ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ، ุฃู…ุง ุนูˆุฑุชู‡ุง ุฎุงุฑุฌ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู†ุธุฑ ุงู„ุฃุฌู†ุจูŠ ุฅู„ูŠู‡ุง ูู‡ูŠ ุฌู…ูŠุน ุจุฏู†ู‡ุง ุญุชู‰ ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒููŠู† ูˆู„ูˆ ุนู†ุฏ ุฃู…ู† ุงู„ูุชู†ุฉ ูˆู„ูˆ ุฑู‚ูŠู‚ุฉ، ููŠุญุฑู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุฌู†ุจูŠ ุฃู† ูŠู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ุดูŠุก ู…ู† ุจุฏู†ู‡ุง ูˆู„ูˆ ู‚ู„ุงู…ุฉ ุธูุฑ ู…ู†ูุตู„ุง ู…ู†ู‡ุง

“Pernyataan mushonnif (pengarang kitab): Dan aurat perempuan merdeka, yakni didalam sholat. Adapun auratnya diluar sholat dengan dinisbatkan pada pandangan laki-laki yang bukan mahram, maka auratnya adalah seluruh tubuhnya termasuk wajah dan kedua telapak tangannya meskipun saat aman dari fitnah dan meskipun dia adalah seorang hamba sahaya. Maka dari itu haram bagi laki-laki yang bukan mahram untuk memandang sesuatu pun dari tubuhnya meskipun potongan kuku yang sudah terpisah”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุจุฌูŠุฑู…ูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู†ู‡ุฌ : ุฌ ูก ุต ูขูฃูฅ)
ูˆู„ู„ุญุฑุฉ ุฃุฑุจุน ุนูˆุฑุงุช: ูุนู†ุฏ ุงู„ุฃุฌุงู†ุจ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุจุฏู†، ูˆุนู†ุฏ ุงู„ู…ุญุงุฑู… ูˆุงู„ุฎู„ูˆุฉ ู…ุง ุจูŠู† ุงู„ุณุฑุฉ ูˆุงู„ุฑูƒุจุฉ، ูˆุนู†ุฏ ุงู„ู†ุณุงุก ุงู„ูƒุงูุฑุงุช ู…ุง ู„ุง ูŠุจุฏูˆ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ู‡ู†ุฉ، ูˆููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู…ุง ุฐูƒุฑู‡ ุงู„ุดุงุฑุญ ูˆู‡ูˆ ุฃู† ุนูˆุฑุชู‡ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุบูŠุฑ ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒููŠู†

“Aurat perempuan merdeka itu dibagi menjadi empat. Pertama, auratnya dihadapan laki-laki yang bukan mahram adalah seluruh tubuhnya. Kemudian auratnya saat bersama mahram dan saat sendiri adalah antara pusar dan lutut. Lalu auratnya dihadapan perempuan kafir adalah apa-apa yang biasa tampak saat sedang bekerja. Dan auratnya didalam sholat adalah sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุฅุชุญุงู ุงู„ุณุงุฏุฉ ุงู„ู…ุชู‚ูŠู† ุจุดุฑุญ ุฅุญูŠุงุก ุนู„ูˆู… ุงู„ุฏูŠู† : ุต ูฃูฆู )
ูุฅุฐุง ุฎุฑุฌุช ููŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ุชุบุถ ุจุตุฑู‡ุง ุนู† ุงู„ุฑุฌุงู„، ูˆู„ุณู†ุง ู†ู‚ูˆู„ ุฅู† ูˆุฌู‡ ุงู„ุฑุฌู„ ููŠ ุญู‚ู‡ุง ุนูˆุฑุฉ ูƒูˆุฌู‡ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ููŠ ุญู‚ู‡، ุจู„ ู‡ูˆ ูƒูˆุฌู‡ ุงู„ุตุจูŠ ุงู„ุฃู…ุฑุฏ ููŠ ุญู‚ ุงู„ุฑุฌู„، ููŠุญุฑู… ุงู„ู†ุธุฑ ุนู†ุฏ ุฎูˆู ุงู„ูุชู†ุฉ ูู‚ุท ูุฅู† ู„ู… ุชูƒู† ูุชู†ุฉ ูู„ุง، ุฅุฐ ู„ู… ูŠุฒู„ ุงู„ุฑุฌุงู„ ุนู„ู‰ ู…ู…ุฑ ุงู„ุฒู…ุงู† ู…ูƒุดูˆููŠ ุงู„ูˆุฌูˆู‡، ูˆุงู„ู†ุณุงุก ูŠุฎุฑุฌู† ู…ู†ุชู‚ุจุงุช، ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ูˆุฌูˆู‡ ุงู„ุฑุฌุงู„ ุนูˆุฑุฉ ููŠ ุญู‚ ุงู„ู†ุณุงุก ู„ุฃู…ุฑูˆุง ุจุงู„ุชู†ู‚ุจ ุฃูˆ ู…ู†ุนู† ู…ู† ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุฅู„ุง ู„ุถุฑูˆุฑุฉ

“Jika seorang perempuan keluar rumah, maka hendaklah dia menundukkan pandangannya dari memandang kaum laki-laki. Kami tidak berkata bahwa wajah laki-laki itu adalah aurat bagi perempuan sebagaimana wajah perempuan adalah aurat bagi laki-laki, akan tetapi dia sebagaimana wajah pemuda amrod bagi kaum laki-laki. Maka dari itu diharamkan bagi perempuan untuk memandangnya jika dikhawatirkan timbul fitnah, namun jika tidak dikhawatirkan timbul fitnah maka tidak diharamkan. Karena wajah kaum laki-laki senantiasa terbuka sejak zaman dahulu, dan kaum perempuan pun senantiasa keluar rumah dengan memakai niqob. Jadi seandainya wajah kaum laki-laki itu merupakan aurot bagi kaum perempuan, maka sudah barang tentu mereka akan diperintahkan untuk memakai niqob atau dilarang untuk keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ : ุฌ ูคูก ุต ูกูฃูค-ูกูฃูฅ)
ูˆู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ูƒูˆู† ุงู„ูˆุฌู‡ ุนูˆุฑุฉ، ูุฐู‡ุจ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุงู„ุญู†ููŠุฉ ูˆุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ูˆุฌู‡ ู„ูŠุณ ุจุนูˆุฑุฉ، ูˆุฅุฐุง ู„ู… ูŠูƒู† ุนูˆุฑุฉ ูุฅู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ุฃู† ุชุณุชุฑู‡ ูุชู†ุชู‚ุจ ูˆู„ู‡ุง ุฃู† ุชูƒุดูู‡ ูู„ุง ุชู†ุชู‚ุจ. ู‚ุงู„ ุงู„ุญู†ููŠุฉ: ุชู…ู†ุน ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุงู„ุดุงุจุฉ ู…ู† ูƒุดู ูˆุฌู‡ู‡ุง ุจูŠู† ุงู„ุฑุฌุงู„ ููŠ ุฒู…ุงู†ู†ุง ู„ุง ู„ุฃู†ู‡ ุนูˆุฑุฉ ุจู„ ู„ุฎูˆู ุงู„ูุชู†ุฉ، ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุดุงุจุฉ ู…ุฎุดูŠุฉ ุงู„ูุชู†ุฉ ุณุชุฑ ุญุชู‰ ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒููŠู† ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุฌู…ูŠู„ุฉ ุฃูˆ ูŠูƒุซุฑ ุงู„ูุณุงุฏ. ูˆุงุฎุชู„ู ุงู„ุดุงูุนูŠّุฉ ููŠ ุชู†ู‚ุจ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ูุฑุฃูŠ ูŠูˆุฌุจ ุงู„ู†ู‚ุงุจ ุนู„ูŠู‡ุง، ูˆู‚ูŠู„ ู‡ูˆ ุณู†ุฉ، ูˆู‚ูŠู„: ู‡ูˆ ุฎู„ุงู ุงู„ุฃَูˆู„ู‰

“Para fuqoha berbeda pendapat apakah wajah (perempuan) itu termasuk aurat atau bukan. Jumhur fuqoha dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki, Hambali dan Syafi'i menyatakan bahwa wajah bukan termasuk aurat. Atas dasar itu maka diperbolehkan untuk menutupnya dengan memakai niqob, dan diperbolehkan juga untuk membukanya. Madzhab Hanafi menyatakan: Pada zaman sekarang, perempuan yang masih muda dilarang untuk menampakkan wajahnya dihadapan kaum laki-laki. Hal itu bukan karena wajah termasuk aurat, akan tetapi karena khawatir menimbulkan fitnah (jika wajah perempuan yang masih muda tersebut ditampakkan). (Madzhab Maliki menyatakan): Perempuan yang masih muda jika dia cantik dan khawatir menimbulkan fitnah, maka wajib untuk menutup wajah dan kedua telapak tangannya. Atau karena sudah banyak terjadi kerusakan (maka wajib juga). Dan para ulama madzhab Syafi'i berbeda pendapat mengenai hukum memakai niqob bagi perempuan. Pendapat pertama menyatakan wajib, namun dikatakan: Hukumnya sunnah. Dan dikatakan juga: Hukumnya menyelisihi yang lebih utama”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน ุดุฑุญ ุงู„ู…ู‡ุฐุจ : ุฌ ูฃ ุต ูกูงูค)
(ูุฑุน) ููŠ ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ุงู„ุนูˆุฑุฉ، ู‚ุฏ ุฐูƒุฑู†ุง ุฃู† ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ู…ู† ู…ุฐู‡ุจู†ุง ุฃู† ุนูˆุฑุฉ ุงู„ุฑุฌู„ ู…ุง ุจูŠู† ุณุฑุชู‡ ูˆุฑูƒุจุชู‡ ูˆูƒุฐู„ูƒ ุงู„ุฃู…ุฉ، ูˆุนูˆุฑุฉ ุงู„ุญุฑุฉ ุฌู…ูŠุน ุจุฏู†ู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒููŠู†

“(Cabang) terkait beberapa pendapat ulama mengenai (batasan) aurat, pendapat yang masyhur dikalangan madzhab kami menyatakan bahwa auratnya laki-laki adalah antara pusar dan lutut, demikian juga dengan auratnya budak sahaya. Sedangkan auratnya perempuan merdeka adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ู‡ุฐุจ ููŠ ูู‚ู‡ ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุดุงูุนูŠ : ุฌ ูก ุต ูกูขูค)
ุฃู…ุง ุงู„ุญุฑุฉ ูุฌู…ูŠุน ุจุฏู†ู‡ุง ุนูˆุฑุฉ ุฅู„ุง ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒููŠู† ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูˆู„ุง ูŠุจุฏูŠู† ุฒูŠู†ุชู‡ู† ุฅู„ุง ู…ุง ุธู‡ุฑ ู…ู†ู‡ุง، ู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง: ูˆุฌู‡ู‡ุง ูˆูƒููŠู‡ุง ูˆู„ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู†ู‡ู‰ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ููŠ ุงู„ุญุฑุงู… ุนู† ู„ุจุณ ุงู„ู‚ูุงุฒูŠู† ูˆุงู„ู†ู‚ุงุจ، ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ูƒู ุนูˆุฑุฉ ู„ู…ุง ุญุฑู… ุณุชุฑู‡ู…ุง ูˆู„ุฃู† ุงู„ุญุงุฌุฉ ุชุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ุฅุจุฑุงุฒ ุงู„ูˆุฌู‡ ููŠ ุงู„ุจูŠุน ูˆุงู„ุดุฑุงุก ูˆุฅู„ู‰ ุฅุจุฑุงุฒ ุงู„ูƒู ู„ู„ุฃุฎุฐ ูˆุงู„ุฅุนุทุงุก ูู„ู… ูŠุฌุนู„ ุฐู„ูƒ ุนูˆุฑุฉ

“Adapun perempuan merdeka, maka seluruh tubuh mereka adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Yaitu wajah dan kedua telapak tangannya karena nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang kaum perempuan ketika sedang ihram untuk memakai sarung tangan dan niqob. Dan seandainya wajah serta telapak tangan itu adalah aurat, maka beliau tidak akan mengharamkan untuk menutupnya. (Kemudian alasan lainnya adalah) karena adanya hajat yang menuntut seorang perempuan untuk menampakkan wajahnya ketika jual beli, dan menampakkan telapak tangannya ketika memberi dan menerima sesuatu. Maka dari itu wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูƒูุงูŠุฉ ุงู„ุฃุฎูŠุงุฑ : ุต ูกูฆูข)
ูˆูŠูƒุฑู‡ ุฃู† ูŠุตู„ูŠ ููŠ ุซูˆุจ ููŠู‡ ุตูˆุฑุฉ ูˆุชู„ุซู…ุง ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ุชู†ู‚ุจุฉ ุฅู„ุง ุฃู† ุชูƒูˆู† ููŠ ู…ุณุฌุฏ ูˆู‡ู†ุงูƒ ุฃุฌุงู†ุจ ู„ุง ูŠุญุชุฑุฒูˆู† ุนู† ุงู„ู†ุธุฑ، ูุฅู† ุฎูŠู ู…ู† ุงู„ู†ุธุฑ ุฅู„ูŠู‡ุง ู…ุง ูŠุฌุฑ ุฅู„ู‰ ุงู„ูุณุงุฏ

“Dimakruhkan sholat dengan memakai pakaian bergambar, penutup wajah dan perempuan yang sholat dengan memakai niqob, kecuali jika keadaan dimasjid tersebut tidak mampu terjaga dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Yang mana jika perempuan tersebut diapandang oleh laki-laki yang bukan mahram itu akan menimbulkan mafsadah atau kerusakan (maka tidak dimakruhkan saat itu sholat dengan memakai niqob)”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุฅู‚ู†ุงุน ููŠ ุญู„ ุฃู„ูุงุธ ุฃุจูŠ ุดุฌุงุน : ุฌ ูก ุต ูคูฅูฃ)
ูˆูŠูƒุฑู‡ ุฃู† ูŠุตู„ูŠ ููŠ ุซูˆุจ ููŠู‡ ุตูˆุฑุฉ ูˆุฃู† ูŠุตู„ูŠ ููŠ ุงู„ุฑุฌู„ ู…ุชู„ุซู…ุง ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ู†ุชู‚ุจุฉ ุฅู„ุง ุฃู† ุชูƒูˆู† ููŠ ู…ูƒุงู† ูˆู‡ู†ุงูƒ ุฃุฌุงู†ุจ ู„ุง ูŠุญุชุฑุฒูˆู† ุนู† ุงู„ู†ุธุฑ ุฅู„ูŠู‡ุง ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ุฑูุน ุงู„ู†ู‚ุงุจ

“Dimakruhkan sholat dengan memakai pakaian bergambar, lalu sholatnya seorang laki-laki dengan memakai penutup wajah, dan sholatnya seorang perempuan dengan memakai niqob. Kecuali jika ditempat tersebut ada laki-laki yang bukan mahram sehingga tidak terjaga dari pandangannya (maka tidak dimakruhkan). Atas dasar itu, maka perempuan tidak diperbolehkan untuk membuka niqobnya”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Jumat, Agustus 09, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM SUJUD DIATAS SORBAN


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb...
Mau tanya klo pas lagi shalat, nanti pas sujud itu dilakukan di atas surban yg kita pakai. Ada yg bulang kata nya ga sah apa bnr? ๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Hukum sujud diatas sorban yang sedang dipakai saat sholat itu diperinci sebagai berikut :

• Jika sorban tersebut masih menempel dibahu lalu dipakai untuk sujud diatasnya, maka tidak sah dan sholatnya dianggap batal jika hal itu dilakukan dengan sengaja. Adapun jika tidak sengaja maka tidak batal, namun harus mengulangi sujudnya.

• Jika sorban tersebut dijatuhkan atau sudah tidak menempel dibahu lalu dipakai untuk sujud diatasnya, maka sah sholatnya.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ูุชุญ ุงู„ู…ุนูŠู† : ุฌ ูก ุต ูกูฉู )
ุฅุฐุง ุณุฌุฏ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ูˆู„ ูŠุชุญุฑูƒ ุจุญุฑูƒุชู‡ ูƒุทุฑู ู…ู† ุฑุฏุงุฆู‡ ุงู„ุทูˆูŠู„ ูˆุฎุฑุฌ ุจู‚ูˆู„ูŠ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ู…ุญู…ูˆู„ ู„ู‡ ู…ุง ู„ูˆ ุณุฌุฏ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ูˆู„ ูŠุชุญุฑูƒ ุจุญุฑูƒุชู‡ ูƒุทุฑู ู…ู† ุนู…ุงู…ุชู‡ ูู„ุง ูŠุตุญ ูุฅู† ุณุฌุฏ ุนู„ูŠู‡ ุจุทู„ุช ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฅู† ุชุนู…ุฏ ูˆุนู„ู… ุชุญุฑูŠู…ู‡ ูˆุฅู„ุง ุฃุนุงุฏ ุงู„ุณุฌูˆุฏ ูˆูŠุตุญ ุนู„ู‰ ูŠุฏ ุบูŠุฑู‡ ูˆุนู„ู‰ ู†ุญูˆ ู…ู†ุฏูŠู„ ุจูŠุฏู‡ ู„ุฃู†ู‡ ูู‰ ุญูƒู… ุงู„ู…ู†ูุตู„ ูˆู„ูˆ ุณุฌุฏ ุนู„ู‰ ุดูŠุก ูุงู„ุชุตู‚ ุจุฌุจู‡ุชู‡ ุตุญ ูˆูˆุฌุจ ุฅุฒุงู„ุชู‡ ู„ู„ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุซุงู†ูŠ

“Jika seseorang sujud diatas sesuatu yang dibawanya yang mana sesuatu itu bergerak dengan gerakannya semisal ujung rida yang panjang. Dan dikecualikan dari ucapanku: (Sujud) selain diatas sesuatu yang dibawanya. Yaitu sesuatu yang jika dia sujud pada sesuatu yang dibawanya kemudian bergerak sebab gerakannya semisal ujung ridanya, maka sujudnya tidak sah. Dan jika dia melakukan sujud diatasnya, maka sholatnya dianggap batal jika dia melakukannya dengan sengaja dan mengetahui keharamannya. Namun jika tidak sengaja dan tidak mengetahui keharamannya, maka wajib mengulangi sujudnya. Dan sah melakukan sujud diatas tangan orang lain dan diatas sapu tangan yang berada ditangannya, sebab yang demikian itu dihukumi sebagai benda yang tidak menempel. Kemudian seandainya dia sujud diatas sesuatu lalu sesuatu itu menempel didahinya, maka sujudnya dianggap sah, namun wajib menyingkirkan sesuatu yang menempel tersebut pada sujudnya yang kedua”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ูู‚ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ : ุฌ ูก ุต ูขูกูก)
ูˆู„ุง ูŠุถุฑ ุฃู† ูŠุถุน ุฌุจู‡ุชู‡ ุนู„ู‰ ุดูŠุฆ ู…ู„ุจูˆุณ ุฃูˆ ู…ุญู…ูˆู„ ู„ู‡ ูŠุชุญุฑูƒ ุจุญุฑูƒุชู‡، ูˆุฅู† ูƒุงู† ู…ูƒุฑูˆู‡ุง ุจุงุชูุงู‚ ุซู„ุงุซุฉ ู…ู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ، ูˆุฎุงู„ู ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ู‚ุงู„ูˆุง ูŠุดุชุฑุท ูู‰ ุงู„ุณุฌูˆุฏ ุนุฏู… ูˆุถุน ุงู„ุฌุจู‡ุฉ ุนู„ู‰ ู…ุง ุฐูƒุฑ، ูˆุฅู„ุง ุจุทู„ุช ุตู„ุงุชู‡ ุฅู„ุง ุฅุฐุง ุทุงู„ ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠุชุญุฑูƒ ุจุญุฑูƒุชู‡، ูƒู…ุง ู„ุง ูŠุถุฑ ุงู„ุณุฌูˆุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู†ุฏูŠู„ ูู‰ ูŠุฏู‡ ู„ุฃู†ู‡ ูู‰ ุญูƒู… ุงู„ู…ู†ูุตู„

“Dan tidak rusak (tidak batal sholatnya ketika) meletakkan dahi diatas sesuatu yang dipakai atau dibawa, yang mana sesuatu itu bergerak mengikuti gerakan orang yang sedang sholat meskipun yang demikian itu dihukumi makruh menurut tiga imam (imam Abu Hanifah, imam Malik dan imam Ahmad). Berbeda halnya dengan para ulama madzhab Syafi'i dimana mereka berpendapat bahwa disyaratkan ketika sujud itu untuk tidak meletakkan dahi diatas hal-hal yang sudah disebutkan. Oleh karenanya jika hal itu dilakukan, maka sholatnya dianggap batal. Kecuali jika sesuatu itu panjang yang mana tidak bergerak mengikuti gerakannya orang yang sedang sholat (maka tidak batal), sebagaimana tidak rusak (tidak batal) melakukan sujud diatas sapu tangan yang berada ditangannya, karena yang demikian itu dihukumi sebagai benda yang tidak menempel”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูƒุงุดูุฉ ุงู„ุณุฌุง : ุต ูกูฉ)
(ูˆ) ุฎุงู…ุณู‡ุง: (ุฃู† ู„ุง ูŠุณุฌุฏ ุนู„ู‰ ุดูŠุก) ุฃูŠ ู…ุชุตู„ ุจู‡ (ูŠุชุญุฑูƒ ุจุญุฑูƒุชู‡) ุฃูŠ ููŠ ู‚ูŠุงู…ู‡ ูˆู„ูˆ ุจุงู„ู‚ูˆุฉ ุฅู† ุตู„ู‰ ู‚ุงุนุฏ ุฃูˆ ุณุฌุฏ ุนู„ู‰ ู…ุชุตู„ ุจู‡ ู„ุง ูŠุชุญุฑูƒ ุจุญุฑูƒุชู‡ ููŠ ุงู„ู‚ุนูˆุฏ، ูˆูƒุงู† ุจุญูŠุซ ู„ูˆ ุตู„ู‰ ู…ู† ู‚ูŠุงู… ู„ุชุญุฑูƒ ุจุญุฑูƒุชู‡ ููŠุถุฑ ุฐู„ูƒ، ูˆู…ู† ุงู„ู…ุชุตู„ ุฌุฒุคู‡ ูู„ุง ูŠุตุญ ุงู„ุณุฌูˆุฏ ุนู„ู‰ ู†ุญูˆ ูŠุฏู‡، ุฃู…ุง ุงู„ู…ู†ูุตู„ ูˆู„ูˆ ุญูƒู…ุง ูƒุนูˆุฏ ุฃูˆ ู…ู†ุฏูŠู„ ุจูŠุฏู‡ ููŠุตุญ ุงู„ุณุฌูˆุฏ ุนู„ูŠู‡ ู„ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุนุฏ ู…ุชุตู„ุง ููŠ ุงู„ุนุฑู، ูˆูƒุฐุง ุทุฑู ุนู…ุงู…ุชู‡ ุงู„ุทูˆูŠู„ ุฌุฏุง ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠุชุญุฑูƒ ุจุญุฑูƒุชู‡ ู„ุฃู†ู‡ ููŠ ุญูƒู… ุงู„ู…ู†ูุตู„

“Yang ke lima adalah tidak melakukan sujud diatas sesuatu yang menempel yang mana sesuatu itu bergerak mengikuti gerakan orang yang sedang sholat saat berdiri. Oleh karena itu jika seseorang sholat dengan cara duduk kemudian dia melakukan sujud diatas sesuatu yang menempel dengan gerakannya saat duduk, dan sesuatu tersebut akan ikut bergerak jika dia sholat dengan berdiri, maka sujudnya dianggap tidak sah. Dan termasuk sesuatu yang menempel dimana sesuatu itu bergerak mengikuti gerakan orang yang sedang sholat adalah bagian tubuhnya sendiri, maka dari itu tidak sah melakukan sujud diatas tangannya (sendiri). Adapun sesuatu yang tidak menempel semisal kayu atau sapu tangan yang berada ditangannya, maka sah sujud diatasnya. Karena benda-benda tersebut tidak dianggap sebagai benda yang menempel menurut urf. Demikian halnya dengan ujung imamah (sorban) yang panjang sekali itu dihukumi sebagai benda yang tidak menempel selama benda tersebut tidak bergerak mengikuti gerakan orang yang sedang sholat”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ 

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...