Jumat, Agustus 16, 2024

TANYA JAWAB - APAKAH RASULULLAH PERNAH BERIJTIHAD?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum, mau tanya apakah rasulullah Saw prnh melakukan ijtihad misal nya sblm wahyu turun?? Sedangkan yg namanya ijtihad itukan ada kalanya bnr dan ada kalanya salah๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Para ulama berbeda pendapat apakah nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berijtihad atau tidak. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau tidak pernah berijtihad, namun beliau hanya menyampaikan hukum-hukum syara disaat wahyu Al-Qur'an turun saja. Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa beliau pernah berijtihad, dan pendapat mayoritas ulama inilah pendapat yang lebih shohih.

๐Ÿ“ Catatan :

Ijtihadnya nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur'an yang berbunyi bahwa beliau tidak pernah berucap berdasarkan keinginan hawa nafsunya. Karena disaat beliau berijtihad, itu merupakan hasil daripada pengkajian dan perenungan yang panjang, bukan ijtihad yang bersumber dari hawa nafsunya meskipun memang muncul dari pendapat pribadinya. Dan yang terpenting, ijtihad beliau tidak pernah salah. Jadi disaat ijtihad beliau itu benar lalu wahyu turun, maka wahyu tersebut kemudian menjadi penyempurna kebenaran dari ijtihad yang sebelumnya beliau lakukan.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… : ุฌ ูฃ ุต ูกูคูค)
ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ู„ู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠู…ุง ู„ู… ูŠุฑุฏ ููŠู‡ ู†ุต ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰، ูˆู‡ุฐุง ู…ุฐู‡ุจ ุฃูƒุซุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูˆุฃุตุญุงุจ ุงู„ุฃุตูˆู„ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ู…ุฎุชุงุฑ، ูˆููŠู‡ ุจูŠุงู† ู…ุง ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ّู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุงู„ุฑูู‚ ุจุฃู…ุชู‡

“Didalam hadits ini terdapat dalil mengenai bolehnya nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan ijtihad pada perkara-perkara yang belum ada nashnya dari Allah. Yang demikian ini merupakan pendapatnya mayoritas fuqoha dan para ulama ushul, dan ini adalah pendapat shohih yang dipilih (oleh para ulama). Dan didalam hadits ini juga terdapat penjelasan mengenai bagaimana nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersikap lemah lembut terhadap umatnya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูฆ ุต ูกูขูข)
ูุฃู…ุง ุงุฌุชู‡ุงุฏ ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ูู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ููŠู‡ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู…، ูุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ุฃู†ุจูŠุงุก ุฃู† ูŠุฌุชู‡ุฏูˆุง ูˆู„ุง ู„ู†ุจูŠู†ุง ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ูŠุฌุชู‡ุฏ ู„ู‚ุฏุฑุชู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุต ุจู†ุฒูˆู„ ุงู„ูˆุญูŠ ุนู„ูŠู‡ู…، ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูˆู…ุง ูŠู†ุทู‚ ุนู† ุงู„ู‡ูˆู‰ ุฅู† ู‡ูˆ ุฅู„ุง ูˆุญูŠ ูŠูˆุญู‰. ูˆู„ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุชูˆู‚ู ููŠ ุฅุญุฑุงู…ู‡ ูˆู„ู… ูŠุฌุชู‡ุฏ ุญุชู‰ ู†ุฒู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ุถุงุก، ูˆุชูˆู‚ู ููŠ ุงู„ู„ุนุงู† ุญุชู‰ ู†ุฒู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ุฑุขู†، ูˆุชูˆู‚ู ููŠ ู…ูŠุฑุงุซ ุงู„ุฎุงู„ุฉ ูˆุงู„ุนู…ุฉ ุญุชู‰ ู†ุฒู„ ุนู„ูŠู‡ ุฌุจุฑูŠู„ ุจุฃู† ู„ุง ู…ูŠุฑุงุซ ู„ู‡ู…ุง، ูˆู„ูˆ ุณุงุบ ู„ู‡ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ู„ุณุงุฑุน ุฅู„ูŠู‡ ูˆู„ู… ูŠุชูˆู‚ู

“Adapun ijtihadnya para nabi, maka ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menyatakan bahwa para nabi tidaklah berijtihad (dalam perkara hukum syara). Begitu juga dengan nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam, beliau tidaklah berijtihad. Karena para nabi memiliki kemampuan untuk menerima wahyu yang diturunkan kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya ucapannya tidak lain adalah wahyu yang diturunkan (kepadanya). Dan karena nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu bertawaquf (tidak pernah berpendapat) terkait permasalahan ihram serta beliau tidak berijtihad sampai wahyu Al-Qur'an diturunkan kepadanya. Beliau juga tidak pernah berpendapat terkait permasalahan li'an sampai wahyu Al-Qur'an diturunkan kepadanya. Dan beliau tidak pernah berpendapat terkait permasalahan waris bibinya sampai malaikat jibril menurunkan wahyu bahwa dia tidak mendapatkan hak waris. Oleh karena itu seandainya nabi shallallahu 'alaihi wasallam hendak berijtihad, maka sudah barang tentu kalau beliau akan melakukannya saat itu juga dan beliau tidak bertawaquf”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูฆ ุต ูกูขูข)
ูˆุฐู‡ุจ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูˆู‡ูˆ ุงู„ุธุงู‡ุฑ ู…ู† ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฃู† ู„ู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ุฃู† ูŠุฌุชู‡ุฏูˆุง ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูˆุฏุงูˆุฏ ูˆุณู„ูŠู…ุงู† ุฅุฐ ูŠุญูƒู…ุงู† ููŠ ุงู„ุญุฑุซ ุฅุฐ ู†ูุดุช ููŠู‡ ุบู†ู… ุงู„ู‚ูˆู… ูˆูƒู†ุง ู„ุญูƒู…ู‡ู… ุดุงู‡ุฏูŠู† ููู‡ู…ู†ุงู‡ุง ุณู„ูŠู…ุงู†. ูˆู„ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุฏ ุงุฌุชู‡ุฏ ููŠ ุฃุณุฑู‰ ุจุฏุฑ ูˆููŠู…ู† ุงุดุชุฑุท ุฑุฏู‡ ููŠ ุตู„ุญ ุงู„ุญุฏูŠุจูŠุฉ

“Mayoritas ulama berpendapat, yang mana pendapat ini juga merupakan dzohirnya pendapat dari kalangan ulama madzhab Syafi'i bahwasanya nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan nabi-nabi yang lainnya pernah berijtihad berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dan (ingatlah kisah) Daud serta (kisah) Sulaiman ketika keduanya memutuskan tentang permasalahan ladang yang dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya, dan kami menyaksikan keputusan (yang diberikan oleh) mereka itu. Lalu kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat). Dan karena nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berijtihad dalam permasalahan tawanan perang badar dan dalam hal orang-orang yang mengajukan syarat untuk dikembalikan pada saat ada perjanjian hudaibiyah”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู„ู…ุน ููŠ ุฃุตูˆู„ ุงู„ูู‚ู‡ : ุต ูฃูฆูง)
ูุตู„: ูˆู‚ุฏ ูƒุงู† ูŠุฌูˆุฒ ู„ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ูŠุญูƒู… ููŠ ุงู„ุญูˆุงุฏุซ ุจุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ، ูˆู…ู† ุฃุตุญุงุจู†ุง ู…ู† ู‚ุงู„ ู…ุง ูƒุงู† ู„ู‡ ุฐู„ูƒ. ู„ู†ุง ู‡ูˆ ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ุฌุงุฒ ู„ุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุญูƒู… ุจุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ูˆู„ุฃู† ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู‡ูˆ ุฃูƒู…ู„ ุงุฌุชู‡ุงุฏุง ุฃูˆู„ู‰

“Pasal: Sesungguhnya diperbolehkan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk memutuskan terkait berbagai peristiwa dengan cara melakukan ijtihad. Dan diantara ulama kami (madzhab Syafi'i) ada yang berpendapat tidaklah demikian. Namun pendapatku bahwasanya jika seseorang dari kalangan ulama saja diperbolehkan untuk memutuskan suatu perkara dengan cara melakukan ijtihad, maka sesungguhnya berijtihad bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentu lebih diperbolehkan lagi. Karena ijtihad beliau lebih sempurna dan lebih utama”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูฆ ุต ูกูขูข)
ูˆุนู†ุฏูŠ ุฃู† ุงู„ุฃุตุญ ู…ู† ุฅุทู„ุงู‚ ู‡ุฐูŠู† ุงู„ูˆุฌู‡ูŠู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงุฌุชู‡ุงุฏู‡ ูˆุงุฌุจุง ุนู„ูŠู‡ ููŠ ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ุขุฏู…ูŠูŠู† ูˆุฌุงุฆุฒุง ู„ู‡ ููŠ ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰، ู„ุฃู†ู‡ู… ู„ุง ูŠุตู„ูˆู† ุฅู„ู‰ ุญู‚ูˆู‚ู‡ู… ุฅู„ุง ุจุงุฌุชู‡ุงุฏู‡ ูู„ุฒู…ู‡، ูˆุฅู† ุฃุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู†ู‡ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ููŠ ุญู‚ูˆู‚ู‡ ุฃู…ุฑู‡

“Menurutku yang lebih shohih dari kedua pendapat ini adalah bahwa berijtihad itu wajib bagi seorang nabi untuk perkara yang berkaitan dengan hak-hak manusia, dan diperbolehkan untuk perkara yang berkaitan dengan hak-hak Allah. Karena manusia tidak akan mendapatkan hak-haknya kecuali dengan ijtihadnya, maka hal itu menjadi kewajibannya. Dan jika Allah berkehendak bagi seorang nabi untuk berijtihad pada perkara yang berkaitan dengan hak-hak Allah, maka Allah akan memerintahkannya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ : ุฌ ูกูฆ ุต ูกูขูข)
ุซู… ุฅุฐุง ุงุฌุชู‡ุฏ ูู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ุฃุตุญุงุจู†ุง ู‡ู„ ูŠุณุชุจูŠุญ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ุจุฑุฃูŠู‡ ุฃูˆ ูŠุฑุฌุน ููŠู‡ ุฅู„ู‰ ุฏู„ุงุฆู„ ุงู„ูƒุชุงุจ، ุนู„ู‰ ูˆุฌู‡ูŠู†: ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุฃู†ู‡ ูŠุฑุฌุน ููŠ ุงุฌุชู‡ุงุฏู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ูƒุชุงุจ، ู„ุฃู†ู‡ ุฃุนู„ู… ุจู…ุนุงู†ูŠ ู…ุง ุฎููŠ ู…ู†ู‡ ู…ู† ุฌู…ูŠุน ุฃู…ุชู‡ ููƒุงู† ุงุฌุชู‡ุงุฏู‡ ุจูŠุงู†ุง ูˆุฅูŠุถุงุญุง. ูˆุงู„ูˆุฌู‡ ุงู„ุซุงู†ูŠ ูˆู‡ูˆ ุฃุธู‡ุฑ ุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠุฌุชู‡ุฏ ุจุฑุฃูŠู‡ ูˆู„ุง ูŠุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ุฃุตู„ ู…ู† ุงู„ูƒุชุงุจ، ู„ุฃู† ุณู†ุชู‡ ุฃุตู„ ููŠ ุงู„ุดุฑุน ู…ุซู„ ุงู„ูƒุชุงุจ ู‚ุฏ ู†ุฏุจ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฅู„ูŠู‡ุง، ูู‚ุงู„: ูˆู…ุง ุขุชุงูƒู… ุงู„ุฑุณูˆู„ ูุฎุฐูˆู‡ ูˆู…ุง ู†ู‡ุงูƒู… ุนู†ู‡ ูุงู†ุชู‡ูˆุง

“Kemudian jika seorang nabi berijtihad, maka para ulama kami (madzhab Syafi'i) berbeda pendapat apakah seorang nabi boleh berijtihad berdasarkan pendapatnya sendiri ataukah hanya boleh berijtihad dengan cara merujuk kepada dalil-dalil dari Al-Qur'an. Maka disini ada dua pendapat: Pendapat pertama menyatakan bahwa jika seorang nabi berijtihad, maka ijtihadnya harus dengan cara merujuk kepada dalil-dalil Al-Qur'an. Karena seorang nabi lebih mengetahui makna yang tersembunyi diantara seluruh umatnya sehingga ijtihadnya menjadi penjelasan (terkait makna yang tersembunyi tersebut). Pendapat kedua: Dan ini merupakan qoul adzhar (pendapat yang lebih kuat), bahwa seorang nabi boleh berijtihad berdasarkan pendapatnya sendiri tanpa harus merujuk kepada dalil-dalil dari Al-Qur'an, karena sunnah itu merupakan dasar yang ada didalam syariat seperti halnya Al-Qur'an, yang mana Allah sendiri telah menganjurkan (memerintahkan) untuk mengikutinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Apa yang diberikan oleh seorang Rasul, maka ambillah. Dan apa yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...