Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selama ini, khususnya dalam ruang diskusinya para santri mengenai talfiq mazhab adalah sering terdapat pernyataan-pernyataan yang melarang hal itu. Karena talfiq mazhab acap kali di identikan dengan mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap pendapatnya para ulama. Dan umumnya, yang dijadikan sandaran untuk pendapat yang melarangnya itu diambil dari kitab-kitab Syafi'iyyah seperti i'anah, tanwirul qulub dan yang lainnya.
🔄 Pertanyaan :
1. Adakah ulama salaf maupun kontemporer yang membolehkan talfiq mazhab?
2. Apakah ada perbedaan antara talfiq dan taklid, ataukah keduanya punya kesamaan dan kemiripan?
3. Bagaimana hukumnya mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap pendapatnya para ulama?
➡️ Jawaban :
Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.
1. Kalau dari kalangan para ulama salaf, tidak ada pendapat yang membolehkan ataupun melarang talfiq. Karena talfiq sendiri tidak pernah dibahas oleh para ulama salaf, akan tetapi pembahasan talfiq itu baru muncul di era belakangan. Adapun ulama belakangan khususnya ulama kontemporer, itu banyak yang membolehkan talfiq. Dan diantara ulama yang membolehkan talfiq adalah Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah, kemudian para ulama Al-Azhar mesir dan masih banyak lagi yang lainnya.
2. Talfiq itu pada hakikatnya adalah bagian daripada taklid, atau masih termasuk dalam ruang lingkup taklid. Yakni dengan cara mengikuti beberapa pendapatnya para ulama dari beberapa madzhab untuk satu qodhiyah atau satu permasalahan entah itu yang berkaitan dengan ibadah ataupun muamalah.
3. Para ulama berbeda pendapat antara yang membolehkan dan yang melarang. Adapun menurut mereka yang melarang, mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap pendapatnya para ulama itu termasuk perbuatan fasiq dan cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan pendapat yang membolehkan menyatakan bahwa didalam syariat tidak ada larangan untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap pendapatnya para ulama, bahkan mereka berhujjah bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri itu menyukai segala sesuatu yang meringankan bagi umatnya.
✒️ Catatan :
- Talfiq boleh dilakukan dengan syarat tidak untuk main-main dalam ibadah, kemudian tidak untuk menghalalkan perkara yang haram atau sebaliknya, tidak untuk melanggar ijma, dan juga talfiq hanya terbatas pada perkara-perkara furu (cabang) dalam masalah fiqih.
- Kebolehan talfiq ini berdasar pada ketetapan bahwa seorang muqollid tidak wajib untuk mengikuti pendapat dari satu madzhab saja dalam semua masalah.
- Talfiq diperbolehkan jika terdapat maslahat yang akan dicapai. Misalnya talfiq dalam permasalahan zakat fitrah dengan memakai uang dimana maslahat yang akan dicapai oleh si mustahiq zakat akan semakin jelas. Alasannya, mungkin pada saat itu si mustahiq zakat lebih membutuhkan uang daripada beras, maka zakat fitrah dengan uang akan lebih memberikan maslahat bagi dirinya pada saat itu.
- Seorang muqollid jika diberikan fatwa atau jawaban oleh seorang mufti (seorang alim), maka boleh baginya untuk langsung mengikuti pendapat tersebut entah jawaban yang diberikan berasal dari pendapatnya madzhab Syafi'i, Maliki, Hambali ataupun Hanafi. Karena pada dasarnya, seorang muqollid yang awam itu tidak punya madzhab. Akan tetapi madzhab dia adalah madzhab orang yang memberinya fatwa.
📚 Keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٦)
ومجال التلفيق كمجال التقليد محصور في المسائل الاجتهادية الظنية. أما كل ما علم من الدين بالضرورة ـ أي بالبداهة ـ من متعلقات الحكم الشرعي وهو ماأجمع عليه المسلمون ويكفر جاحده فلا يصح فيه التقليد والتلفيق، وعلى هذا فلا يجوز التلفيق المؤدي إلى إباحة المحرمات كالنبيذ والزنا مثلا
“Ruang lingkup talfiq itu sama seperti ruang lingkup taklid yang terbatas pada masalah-masalah ijtihadiyah (furu atau cabang) yang bersifat dzonniyah (dugaan). Adapun segala sesuatu yang telah diketahui dari agama secara pasti (ma'lum minaddin biddhoruroh) dari hal-hal yang berkaitan dengan hukum syariat dimana hukum tersebut telah disepakati oleh umat islam dan orang yang mengingkarinya akan dianggap kafir, maka tidak sah taklid dan talfiq. Atas dasar itu, maka tidak diperbolehkan talfiq yang mengarah pada penghalalan hal-hal yang diharamkan semisal anggur (khomr) dan zina”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٢٤)
ويجوز تقليد كل مذهب إسلامي معتمد عند الأغلبية وإن أدى إلى التلفيق عند الضرورة أو الحاجة أو العجز والعذر لأن الصحيح جوازه عند المالكية وجماعة من الحنفية، كما يجوز الأخذ بأيسر المذاهب أو تتبع الرخص عند الحاجة أو المصلحة لاعبثا وتلهيا وهوى لأن دين الله يسر لا عسر، فيكون القول بجواز التلفيق من باب التيسير على الناس، قال الله تعالى: يريد الله بكم اليسر ولايريد بكم العسر
“Diperbolehkan taklid pada setiap madzhab islam yang mu'tamad meskipun akan mengarah pada talfiq, (yakni) dalam keadaan darurat, saat ada hajat, lemah dan ada uzur. Karena pendapat yang shohih adalah diperbolehkannya talfiq menurut madzhab Maliki dan sekelompok ulama dari kalangan madzhab Hanafi. Sebagaimana diperbolehkan untuk mengambil pendapat yang ringan dari berbagai madzhab atau mengikuti pendapat yang ringan (dari berbagai madzhab) saat ada hajat atau saat ada maslahat, tidak untuk main-main dan mengikuti keinginan hawa nafsu. Karena agama Allah adalah mudah, tidak sulit. Oleh karenanya, pendapat yang menyatakan kebolehan talfiq itu dianggap sebagai bab (untuk memberikan) kemudahan bagi manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٧)
وجواز التلفيق مبني على ما قررناه من أنه لا يجب التزام مذهب معين في جميع المسائل، فمن لم يكن ملتزما مذهبا معينا جاز له التلفيق، وإلا أدى الأمر إلى بطلان عبادات العوام، لأن العامي لا مذهب له ولو تمذهب به، ومذهبه في كل قضية هو مذهب من أفتاه بها. كما أن القول بجواز التلفيق يعتبر من باب التيسير على الناس
“Kebolehan talfiq itu didasarkan pada apa yang telah kami tetapkan bahwasanya tidak wajib untuk mengikuti (satu) madzhab tertentu dalam semua masalah. Maka bagi orang yang tidak terikat dengan madzhab tertentu diperbolehkan untuk melakukan talfiq. Jika tidak, maka akan mengakibatkan batalnya ibadah orang awam. Karena orang awam itu tidak ada madzhab baginya meskipun (umpamanya) dia mengikuti (pendapat dari) satu madzhab (tertentu). Dan madzhabnya orang awam dalam setiap qodhiyah (masalah) adalah madzhab dari orang yang memberikannya fatwa. Sebagaimana pendapat yang menyatakan kebolehan talfiq itu dianggap sebagai bab (untuk memberikan) kemudahan bagi manusia”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٧٧)
في التلفيق في العبادة الواحدة من مذهبين طريقتان: المنع وهو طريقة المصريين، والجواز وهو طريق المغاربة ورجحت، وقال الدسوقي قائلا عن مشايخه: إن الصحيح جوازه وهو فسحة
“(Terkait permasalahan) talfiq didalam satu ibadah dari dua pendapat, maka terdapat dua cara. Yang pertama adalah melarang, dan itu merupakan (cara atau) pendapatnya para ulama Mesir. Kemudian yang kedua adalah membolehkan, dan itu merupakan (cara atau) pendapatnya para ulama Maghribi, dan inilah yang rojih menurutku (Syaikh Wahbah Zuhaili). Kemudian imam Ad-Dasuki yang mengutip pendapat dari guru-gurunya: Sesungguhnya pendapat yang shohih adalah diperbolehkan talfiq, dan hal itu merupakan sebuah kelonggaran”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٩٠)
فلا مانع شرعا من تقليد أئمة المذاهب والمجتهدين المشهورين والمغمورين، كما لا محذور في الشرع من التلفيق بين أقوال المذاهب عملا بمبدأ اليسر في الدين لقوله تعالى: (يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر)، ومن المعلوم أن أغلب الناس لا مذهب لهم وإنما مذهبهم مذهب مفتيهم وهم حريصون على أن يكون عملهم شرعيا
“Secara syariat, tidak ada larangan untuk bertaklid kepada para imam madzhab dan para mujtahid yang masyhur (terkenal) maupun yang maghmur (tidak terkenal). Sebagaimana tidak dilarang didalam syariat untuk melakukan talfiq, (yakni menggabungkan) pendapat-pendapatnya berbagai madzhab dengan (cara) menerapkan prinsip kemudahan didalam agama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: (Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu). Dan telah diketahui bahwa manusia pada umumnya itu tidaklah terikat madzhab tertentu, (namun) madzhab mereka (tiada lain) adalah madzhab muftinya. Dan mereka (selalu) menginginkan agar amalan mereka sesuai dengan syariat”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٩٥)
يتلخص من هذا أن القول الأصح الراجح عند علماء الأصول هو عدم ضرورة الالتزام بمذهب معين وجواز مخالفة إمام المذهب والأخذ بقول غيره لأن التزام المذهب غير ملزم كما بينا. وبناء عليه فلا مانع إطلاقا من حيث المبدأ في العصر الحاضر من اختيار بعض الأحكام الشرعية المقررة لدى علماء المذاهب دون تقيد بجملة المذهب أو بتفصيلاته
“Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendapat yang shohih dan rojih dikalangan para ulama ushul adalah tidak adanya ketentuan harus berpegang pada madzhab tertentu, bahkan diperbolehkan untuk menyelisihi pendapat imam madzhabnya kemudian mengambil pendapat (imam madzhab yang) lain. Karena berpegang pada madzhab tertentu tidaklah wajib sebagaimana yang telah kami jelaskan. Atas dasar itu, secara mutlak tidak ada larangan dizaman sekarang untuk memilih (dan mengambil) sebagian hukum syariat yang telah ditetapkan oleh para ulama madzhab tanpa harus terikat pada keseluruhan (pendapat satu) madzhab atau rincian-rinciannya”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٩)
الحنفية: قال الكمال بن الهمام وتلميذه ابن أمير الحاج في التحرير وشرحه: إن المقلد له أن يقلد من شاء، وإن أخذ العامي في كل مسألة بقول مجتهد أخف عليه لا أدري ما يمنعه من النقل أو العقل، وكون الإنسان يتتبع ما هو الأخف عليه من قول مجتهد مسوغ له الاجتهاد، ما علمت من الشرائع ذمه عليه، وكان صلى الله عليه وسلم يحب ما خفف عن أمته
“Madzhab Hanafi: Kamal bin Himam dan muridnya Ibnu Amir Al-Hajj didalam kitab At-Tahrir dan syarahnya menyatakan: Sesungguhnya seorang muqollid diperbolehkan untuk mengikuti pendapat mana saja sesuai yang dia kehendaki. Dan jika orang awam mengambil pendapat yang lebih ringan dari pendapatnya mujtahid dalam setiap masalah, maka aku tidak mendapati adanya dalil Naqli maupun dalil Aqli yang melarangnya. Kemudian orang yang mengikuti pendapat yang lebih ringan baginya dari pendapatnya mujtahid, maka yang demikian itu dibenarkan. Dan aku pun tidak mengetahui adanya syariat yang mencela hal itu, bahkan (sebaliknya) nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyukai sesuatu hal yang memudahkan bagi umatnya”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٩)
المالكية: الأصح والمرجح عند المتأخرين من فقهاء المالكية هو جواز التلفيق، فقد صحح الجواز ابن عرفة المالكي في حاشيته على الشرح الكبير للدردير، وأفتى العلامة العدوي بالجواز، ورجح الدسوقي الجواز، ونقل الأمير الكبير عن شيوخه أن الصحيح جواز التلفيق وهو فسحة. الشافعية: منع بعضهم كل صور التلفيق، واقتصر بعضهم الآخر على حظر حالات التلفيق الممنوع الآتي بيانها، وأجاز آخرون التلفيق إذا جمعت في المسألة شروط المذاهب المقلدة
“Madzhab Maliki: Pendapat yang shohih dan lebih kuat dikalangan para fuqoha madzhab Maliki mutaakhir adalah pendapat yang membolehkan talfiq. Dan Ibnu Arafah Al-Maliki telah menshohihkan pendapat yang membolehkan talfiq didalam Hasyiyahnya 'Ala Syarah Al-Kabir, kemudian Al-Allamah Al-Adawi pun telah memberikan fatwa mengenai kebolehan talfiq. Lalu imam Ad-Dusuki merojihkan (menguatkan) pendapat yang membolehkan talfiq, dan Amir Al-Kabir menukil dari guru-gurunya bahwa pendapat yang shohih (didalam madzhab Maliki) adalah pendapat yang membolehkan talfiq, dan hal itu merupakan sebuah kelonggaran. Adapun sebagian ulama madzhab Syafi'i melarang semua bentuk talfiq, sementara pendapat sebagian ulama madzhab Syafi'i yang lain itu terbatas pada larangan talfiq yang akan dijelaskan berikutnya. Dan ulama-ulama madzhab Syafi'i yang lain membolehkan talfiq jika dalam masalah tersebut terkumpul syarat-syarat dari madzhab yang ditaklidi (diikuti)”
📚 Tambahan keterangan :
(إعانة الطالبين : ج ١ ص ٢٥)
قال ابن حجر: ولا يجوز العمل بالضعيف بالمذهب ويمتنع التلفيق في مسألة كأن قلد مالكا في طهارة الكلب والشافعي في مسح بعض الرأس في صلاة واحدة، وأما في مسألة بتمامها بجميع معتبراتها فيجوز ولو بعد العمل كأن أدى عبادته صحيحة عند بعض الأئمة دون غيره فله تقليده فيها حتى لا يلزمه قضاؤها
“Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan: Tidak diperbolehkan beramal dengan pendapat yang dhoif didalam madzhab, dan tidak diperbolehkan melakukan talfiq dalam satu permasalahan seperti bertaklid kepada imam Malik perihal sucinya anjing dan bertaklid kepada imam Syafi'i perihal mengusap sebagian kepala dalam satu sholat. Adapun (bertaklid) dalam satu permasalahan secara keseluruhan dengan semua pertimbangannya (atau rincian-rinciannya), maka diperbolehkan, bahkan setelah beramal. Seperti seseorang yang melaksanakan ibadah dimana ibadahnya itu dinilai sah menurut sebagian imam, akan tetapi tidak dinilai sah menurut imam yang lainnya, maka diperbolehkan bagi dia untuk bertaklid pada pendapat (yang mengesahkannya itu) sehingga tidak diwajibkan bagi dia untuk mengulang ibadahnya tersebut”
📚 Tambahan keterangan :
(فتح المعين : ص ٦١٤)
(فائدة) في بيان التقليد: إذا تمسك العامي بمذهب لزمه موافقته وإلا لزمه التمذهب بمذهب معين من الأربعة لا غيرها ثم له وإن عمل بالأول الانتقال إلى غيره بالكلية أو في المسائل بشرط أن لا يتتبع الرخص بأن يأخذ من كل مذهب بالأسهل منه فيفسق به على الأوجه
“(Faedah didalam menjelaskan persoalan taklid). Jika orang awam berpegang pada satu madzhab tertentu, maka wajib bagi dia untuk mengikutinya. Jika tidak, maka wajib bagi dia untuk mengikuti madzhab lain dari salah satu madzhab yang empat, tidak kepada madzhab yang lainnya. Dan jika dia mengamalkan madzhab pertama (yang dipilihnya itu), maka boleh bagi dia untuk berpindah kepada madzhab lain entah secara keseluruhan maupun dalam masalah tertentu saja dengan syarat dia tidak bermaksud untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap madzhab. Sebab jika demikian, maka hal itu termasuk perbuatan fasiq menurut pendapat yang aujah”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١١٦)
والقول بجواز التلفيق في الجملة أقوى دليلا من القول بمنعه، فضلا عما فيه من تحقيق مصالح الأفراد والجماعات ولا يترتب عليه أي مفسدة من مفاسد التلفيق المحظور
“Secara umum, pendapat yang membolehkan talfiq itu lebih kuat dalilnya dibandingkan dengan pendapat yang melarangnya. Terutama untuk memperoleh maslahat individu maupun kelompok serta tidak ada kerusakan yang ditimbulkan dari talfiq yang dilarang”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٢)
قال القرافي المالكي وأكثر أصحاب الشافعي والراجح عند الحنفية منهم ابن الهمام وصاحب مسلم الثبوت: يجوز تتبع رخص المذاهب لأنه لم يوجد في الشرع مايمنع من ذلك، إذ للإنسان أن يسلك الأخف عليه إذا كان له إليه سبيل بأن لم يكن عمل بآخر، بدليل أن سنة الرسول صلى الله عليه وسلم الفعلية والقولية تقتضي جوازه، فإنه عليه الصلاة والسلام ماخير بين أمرين قط إلا اختار أيسرهما مالم يكن مأثما، وفي صحيح البخاري عن عائشة رضي الله عنها: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يحب ماخفف عن أمته
“Al-Qarafi Al-Maliki, mayoritas ashab Syafi'i dan pendapat yang rojih dikalangan madzhab Hanafi diantaranya adalah Ibnu Himam serta pengarang kitab Muslim Ats-Tsubut menyatakan: Diperbolehkan untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari berbagai madzhab, karena tidak didapati (adanya dalil) didalam syariat yang melarang hal itu. (Dan) seseorang (diperbolehkan) untuk mengikuti pendapat yang lebih ringan baginya jika dia memiliki jalan untuk itu, (yakni) dengan dia tidak mengamalkan pendapat lain (yang lebih berat baginya). Sebagai dalilnya bahwa sunnah rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam entah yang berupa perbuatan maupun ucapan itu telah menetapkan kebolehan hal tersebut. Karena tidaklah beliau shallallahu 'alaihi wasallam dihadapkan pada dua pilihan, kecuali beliau akan memilih yang paling mudah selama hal itu bukan perkara dosa. Dan didalam kitab shohih Bukhari, dari sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyukai apa yang memudahkan bagi umatnya”
📚 Tambahan keterangan :
(فتاوى العز بن عبد السلام : ص ٢٣٨)
يجوز تقليد كل واحد من الآئمة الآربعة رضي الله عنهم، ويجوز لكل واحد آن يقلد واحدا منهم فى مسالة ويقلد اماما آخر في مسالة آخرى، ولا يتعين تقليد واحد بعينه في كل المسائل
“Setiap orang diperbolehkan taklid kepada salah satu imam yang empat radhiyallahu 'anhum. Dan setiap orang boleh mengikuti salah satu dari pendapat mereka dalam satu masalah, dan mengikuti pendapat imam lainnya dalam masalah yang lain. Dan tidak ada ketentuan yang mengharuskan taklid kepada satu madzhab dalam semua masalah”
📚 Tambahan keterangan :
(فتوى الازهر، رقم : ٦٩٠١)
التقليد واجب على غير المجتهد المكلف لضرورة العمل ولا يجب على المقلد التزام مذهب معين، فيجوز له العمل بما يخالف ما عمله على مذهبه مقلدا غير إمامه، ومذهب العامي فتوى مفتيه المعروف بالعلم والعدالة، والتلفيق بمعنى العمل في كل حادثة بمذهب جائز، ويتخرج على جوازه جواز تتبع رخص المذاهب في المسائل المتعددة كالوضوء على مذهب الشافعي ثم الصلاة به بعد اللمس على مذهب أبي حنيفة
“Wajib taklid bagi seorang mukallaf yang bukan mujtahid untuk kebutuhan amal (dirinya), dan tidak wajib bagi seorang muqollid untuk berpegang pada (satu) madzhab tertentu saja. Atas dasar itu, maka diperbolehkan baginya untuk beramal dimana amal tersebut berbeda dengan apa yang dia lakukan menurut madzhabnya dengan cara taklid kepada selain imamnya. Karena madzhab orang awam adalah fatwa dari mufti yang dikenal dengan keilmuan dan keadilannya. Dan talfiq dalam arti beramal dalam setiap (kasus yang baru mucul) dengan madzhab (yang berbeda-beda) itu diperbolehkan, kemudian diperbolehkan juga untuk mengikuti pendapat yang ringan-ringan saja dari berbagai madzhab dalam beberapa masalah. Semisal seseorang yang berwudhu dengan (cara) madzhab Syafi'i kemudian sholat setelah menyentuh (perempuan ajnabi) dengan (cara) mengikuti madzhab imam Abu Hanifah”
📚 Tambahan keterangan :
(دار الافتاء المصرية : ج ٧ ص ١٧٢)
يجوز التلفيق بأن يؤخذ برأي في مذهب مجتهد وبآخر في مذهب مجتهد آخر متى لم يكن هذا التلفيق خارقا للإجماع
“Diperbolehkan talfiq dengan cara mengikuti pendapatnya ulama mujtahid dalam satu madzhab tertentu dan mengikuti pendapatnya ulama mujtahid yang lain selama talfiq ini tidak dilakukan untuk melanggar ijma”
📚 Tambahan keterangan :
(دار الافتاء المصرية، تاريخ النشر : ١٧-٠٢-٢٠١٤)
فإن غالب الفقه مبني على الظن وليس من المقطوع به أن رأي أحد المجتهدين هو الصواب الذي لا يحتمل الخطأ في جملته أو في تفصيله، بل يجوز في حق كل مجتهد أن يصيب في بعض أجزاء المسألة ويجوز أن يخطئ في بعضها الآخر، ولا فارق في تلك الاحتمالية بين المسألة الواحدة والمسائل المتعددة، فالأخذ ببعض قول المجتهد في مسألة ما وببعض قول مجتهد آخر في نفس المسألة ليس خروجا عن كلا المذهبين، وإنما هو كالجمع بين تقليدهما في أكثر من مسألة، وبناء على هذا فيجوز للمقلد التلفيق في المسألة الواحدة سواء كانت في العبادات أم في المعاملات
“Fiqih itu pada umumnya didasarkan pada sesuatu yang bersifat dzonniyah (dugaan), dan tidak ada kepastian bahwa pendapat salah satu mujtahid itu benar dan tidak mungkin salah entah secara keseluruhan ataupun dalam rincian-rinciannya. Bahkan, adalah boleh (mungkin) bagi setiap mujtahid untuk benar dalam beberapa bagian dari suatu masalah kemudian salah dalam bagian yang lainnya. Dan tidak ada perbedaan dalam kemungkinan ini antara satu masalah maupun beberapa masalah. Kemudian, mengambil sebagian pendapat mujtahid dalam suatu masalah dan sebagian pendapat mujtahid lainnya dalam masalah yang sama itu bukanlah keluar dari kedua madzhab, akan tetapi sesungguhnya hal itu seperti taklid (dengan cara) menggabungkan pendapat keduanya dalam lebih dari satu masalah. Atas dasar itu, maka diperbolehkan bagi orang yang taklid untuk melakukan talfiq dalam satu masalah entah itu dalam perkara ibadah ataupun muamalah”
والله اعلم بالصواب