Rabu, Oktober 30, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM MENGAMBIL BUAH-BUAHAN YANG ADA DI MASJID & AREA MASJID


🔁 Pertanyaan :

Assalamualaikum.

Klo kita lg mampir ke salah satu masjid yg ada di perjalanan dan kebetulan di area masjid itu ada pohon delima yang berbuah, bolehkah kita sebagai pengunjung memetik buah delima tersebut lalu kita makan buah nya?🙏

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Status pohon yang ada di area masjid, itu diperinci sebagai berikut :

- Jika pohon tersebut ditanam yang mana tujuan penanamannya adalah untuk kepentingan masjid, maka siapapun tidak boleh mengambil dan memakannya. Akan tetapi hasil dari pohon tersebut adalah dipakai untuk kepentingan masjid.

- Tapi jika tujuan penanamannya adalah untuk dimakan (diperuntukkan bagi orang-orang muslim yang secara umum), atau tidak diketahui tujuan penanamannya apakah untuk kepentingan masjid ataukah untuk dimakan, maka siapapun boleh memanfaatkannya dengan cara mengambil kemudian memakannya.

📚 Keterangan :

(إعانة الطالبين : ج ٣ ص ٢١٦)

وثمر المغروس في المسجد ملكه إن غرس له فيصرف لمصالحه، وإن غرس ليوءكل أو جهل الحال فمباح

“Dan buah (dari pohon yang) ditanam dimasjid adalah milik masjid (jika tujuan menanamnya adalah untuk kemaslahatan masjid), maka (hasilnya) ditashorufkan untuk kemaslahatan masjid. Namun jika (tujuan) menanamnya adalah untuk dimakan atau tidak diketahui keadaannya (tujuannya), maka diperbolehkan (untuk dimakan oleh orang-orang muslim)”

📚 Tambahan keterangan :

(إعانة الطالبين : ج ٣ ص ٢١٦)

(قوله: أو جهل الحال) أي لم يدر هل هو غرس للمسجد أو ليؤكل؟ (قوله: فمباح) أي فثمره مباح

“Pernyataan mushonnif: Atau tidak diketahui keadaannya (tujuannya). Yakni tidak diketahui apakah (pohon tersebut) ditanam untuk (kemaslahatan) masjid ataukah untuk dimakan. Dan pertanyaan mushonnif: Maka diperbolehkan, yakni buahnya diperbolehkan (untuk dimakan oleh orang-orang muslim)”

📚 Tambahan keterangan :

(روضة الطالبين : ج ٥ ص ٣٦٢) 

وسئل عن شجرة غرسها رجل في المسجد، فقال: إن غرسها للمسجد لم يجز أكل ثمرها بلا عوض، ويجب صرف عوضها في مصالح المسجد وينبغي أن لا تغرس الأشجار في المسجد، قلت: وإن غرسها مسبلة للأكل جاز أكلها بلا عوض، وكذا إن جهلت نيته حيث جرت العادة به

“(Al-Imam Abu Abdillah Al-Hannathi) ditanya terkait seseorang yang menanam pohon dimasjid, maka beliau menjawab: Jika pohon tersebut ditanam untuk (kemaslahatan) masjid, maka tidak diperbolehkan memakan buahnya tanpa iwadh (imbalan), dan iwadhnya (imbalannya) wajib ditashorufkan untuk kemaslahatan masjid. Dan hendaknya tidak menanam pepohonan dimasjid. Aku (imam Nawawi) katakan: Jika pohon tersebut ditanam untuk (tujuan) dimakan, maka diperbolehkan memakan buahnya tanpa iwadh (imbalan), demikian halnya jika niat (menanamnya) tidak diketahui yang mana hal itu sudah menjadi kebiasaan (masyarakat sekitar maka diperbolehkan pula untuk memakan buahnya)”

📚 Tambahan keterangan :

(كفاية النبيه في شرح التنبيه : ج ١٢ ص ٨٤)

وقد سئل الأستاذ أبو عبد الله الحناطي عن رجل غرس شجرة في المسجد كيف يصنع بثمارها؟ قال: إن جعلها للمسجد لم يجز أكل ثمارها من غير عوض ويجب صرف عوضها إلى مصالح المسجد

“Al-Ustadz Abu Abdillah Al-Hannathi ditanya terkait seseorang yang menanam pohon dimasjid, bagaimana memperlakukan buahnya? Maka beliau menjawab: Jika seseorang menjadikannya (yakni tujuan menanamnya adalah) untuk (kemaslahatan) masjid, maka tidak diperbolehkan untuk memakan buahnya tanpa iwadh (imbalan), dan iwadhnya (imbalannya) wajib ditashorufkan untuk kemaslahatan masjid”

📚 Tambahan keterangan :

(حاشية البجيرمي على الخطيب : ج ٣ ص ١٠٣) 

ويكره غرس الشجر في المسجد كما في الروضة، قلت: وهو محمول على ما إذا لم يضر بالمسجد أو بالمصلين ولم يقصد بها نفسه وإلا حرم 

“Makruh hukumnya menanam pohon dimasjid sebagaimana yang disebutkan didalam kitab Ar-Raudhah. Aku (Syeikh Bujairomi) katakan: Yang demikian itu mungkin diarahkan jika tidak merugikan (mengganggu) masjid atau merugikan (mengganggu) orang-orang yang sholat, serta tidak bertujuan (atau berniat menanamnya) untuk kepentingan pribadi. Jika tidak, maka hukumnya haram”

📚 Tambahan keterangan :

(حاشية البجيرمي على الخطيب : ج ٣ ص ١٠٣)

وإن كان مسبلا للأكل أو جهل قصد الغارس جاز من غير عوض، ومثلها ثمرة ما في المقبرة المسبلة وكجهل قصده ما إذا لم يكن له قصد ومثله ما إذا نبتت فيه بنفسها

“Dan jika (tujuan menanam pohon) tersebut untuk dimakan, atau tidak diketahui tujuan (atau niat) penanamannya, maka diperbolehkan (untuk memakan buahnya) tanpa iwadh (imbalan). Dan yang semisal itu adalah buah yang ada pekuburan, dan seperti (pohon) yang tidak diketahui tujuan (menanamnya). Dan yang semisal itu juga adalah pohon yang tumbuh dengan sendirinya”

والله أعلم بالصواب

Kamis, Oktober 10, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM BERMAKMUM KEPADA ORANG FASIQ & AHLI BID'AH


🔄 Pertanyaan :

Assalamualaikum.
Bagaimana hukum nya klo kita jadi makmum tpi yg jd imam nya itu org ahli maksiat dan pelaku bid'ah, apakah salatnya sah?🙏🙏

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Hukum sholat dibelakang ahli bid'ah itu diperinci sebagai berikut :

1. Jika bid'ahnya tidak sampai pada taraf kufur, maka sholat dibelakangnya tetap dinilai sah meskipun disertai hukum makruh.

2. Jika bid'ahnya sudah sampai pada taraf kufur, maka sholatnya dinilai tidak sah.

Demikian halnya sholat dibelakang orang yang ahli maksiat atau orang yang fasiq, maka hukumnya makruh, namun sholatnya tetap dinilai sah. Jadi kesimpulannya, lebih baik sholat sendiri daripada sholat dibelakang ahli bid'ah dan orang fasiq. Terlebih jika terdapat imam lain selain mereka, maka yang lebih utama adalah bermakmum kepada imam yang lain tersebut (yakni yang bukan orang fasiq dan ahli bid'ah)

📚 Keterangan :

(المجموع شرح المهذب : ج ٤ ص ١٥١)
وأما صلاة ابن عمر خلف الحجاج بن يوسف فثابتة في صحيح البخاري وغيره في الصحيح أحاديث كثيرة تدل على صحة الصلاة وراء الفساق والأئمة الجائرين، قال أصحابنا: الصلاة وراء الفاسق صحيحة ليست محرمة لكنها مكروهة، وكذا تكره وراء المبتدع الذي لا يكفر ببدعته وتصح، فإن كفر ببدعته فقد قدمنا أنه لا تصح الصلاة وراءه كسائر الكفار، ونص الشافعي في المختصر على كراهة الصلاة خلف الفاسق والمبتدع فإن فعلها صحت

“Adapun sholat Ibnu Umar dimana imamnya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf (yang fasiq), maka telah tsabit riwayat tersebut didalam kitab shohih Bukhari dan kitab lainnya serta ada banyak hadits shohih lainnya yang menunjukkan sahnya sholat dibelakang orang-orang fasiq dan imam-imam yang fajir. Para ulama madzhab Syafi'i menyatakan: Sholat dibelakang orang fasiq itu sah dan tidak haram, akan tetapi hukumnya makruh. Demikian halnya sholat dibelakang ahli bid'ah yang tidak sampai pada taraf kufur karena kebid'ahannya juga dihukumi makruh dan sholatnya dianggap sah. Namun jika ahli bid'ah menjadi kufur karena kebid'ahannya, maka telah kami jelaskan sebelumnya bahwa sholat dibelakangnya adalah tidak sah seperti halnya sholat dibelakang orang kafir lainnya. Nash imam Syafi'i juga didalam kitab Al-Mukhtashar menyatakan bahwa sholat dibelakang orang fasiq dan ahli bid'ah hukumnya adalah makruh. Namun jika hal itu dilakukan, maka sholatnya tetap sah”

📚 Tambahan keterangan :

(بشرى الكريم : ص ٣٦٣)
وتكره إمامة الفاسق والأقلاف وهو الذي لم يختن، وإمامة المبتدع الذي لم يكفر ببدعته والإقتداء به وإن لم يوجد غيره على ما مر، والمبتدع المخالف لأهل السنة في العقائد

“Makruh (sholat dibelakang) imam yang fasiq dan imam yang belum dikhitan, kemudian makruh (sholat dibelakang) imam yang ahli bid'ah dimana kebid'ahannya tidak sampai pada taraf kufur. Dan kemakruhan bermakmum kepada imam yang ahli bid'ah ini meskipun tidak dijumpai imam lain selain dia. Kemudian makruh bermakmum kepada imam ahli bid'ah yang menyelisihi (atau menyimpang) dari ajaran ahlussunnah dalam perkara akidah”

📚 Tambahan keterangan :

(فتح المعين : ص ١٩٢)
وكره اقتداء بفاسق ومبتدع كرافضي وإن لم يوجد أحد سواهما ما لم يخش فتنة. وقيل: لا يصح الاقتداء بهما، وكره أيضا اقتداء بموسوس وأقلف لا بولد الزنا لكنه خلاف الأولى، واختار السبكي ومن تبعه انتقاء الكراهة إذا تعذرت الجماعة إلا خلف من تكره خلفه بل هي أفضل من الانفراد، وجزم شيخنا بأنها لا تزول حينئذ بل الانفراد أفضل منها. وقال بعض أصحابنا: والأوجه عندي ما قاله السبكي رحمه الله تعالى

“Makruh hukumnya bermakmum kepada orang fasiq dan ahli bid'ah semisal bermakmum kepada Syi'ah Rofidhoh meskipun tidak dijumpai imam lain selain mereka selama tidak dikhawatirkan terjadi fitnah. Dan dikatakan: Tidak sah bermakmum kepada mereka. Dan makruh hukumnya bermakmum kepada orang yang punya penyakit was-was serta orang yang belum dikhitan, dan tidak makruh bermakmum kepada anak zina, akan tetapi hal itu menyelisihi yang utama. Kemudian imam Subki rahimahullah dan para muridnya (atau pengikutnya) memilih untuk menghilangkan (atau tidak) menghukumi makruh, (terlebih) jika sholat berjamaah tidak dapat dilakukan kecuali (dengan bermakmum dibelakang) mereka, bahkan hal itu lebih utama daripada sholat sendirian. Namun guru kami menegaskan bahwa hukum makruh tersebut tidak hilang pada saat itu, bahkan sholat sendirian adalah lebih utama daripada tetap bermakmum kepada mereka. Dan sebagian ashab Syafi'i menyatakan: Pendapat yang aujah menurutku adalah yang dikatakan oleh imam Subki rahimahullah”

والله اعلم بالصواب 

Rabu, Oktober 09, 2024

TANYA JAWAB - ADAKAH ULAMA YANG MEMBOLEHKAN TALFIQ MADZHAB?


📝 Deskripsi :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selama ini, khususnya dalam ruang diskusinya para santri mengenai talfiq mazhab adalah sering terdapat pernyataan-pernyataan yang melarang hal itu. Karena talfiq mazhab acap kali di identikan dengan mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap pendapatnya para ulama. Dan umumnya, yang dijadikan sandaran untuk pendapat yang melarangnya itu diambil dari kitab-kitab Syafi'iyyah seperti i'anah, tanwirul qulub dan yang lainnya.

🔄 Pertanyaan :

1. Adakah ulama salaf maupun kontemporer yang membolehkan talfiq mazhab?

2. Apakah ada perbedaan antara talfiq dan taklid, ataukah keduanya punya kesamaan dan kemiripan?

3. Bagaimana hukumnya mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap pendapatnya para ulama?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

1. Kalau dari kalangan para ulama salaf, tidak ada pendapat yang membolehkan ataupun melarang talfiq. Karena talfiq sendiri tidak pernah dibahas oleh para ulama salaf, akan tetapi pembahasan talfiq itu baru muncul di era belakangan. Adapun ulama belakangan khususnya ulama kontemporer, itu banyak yang membolehkan talfiq. Dan diantara ulama yang membolehkan talfiq adalah Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah, kemudian para ulama Al-Azhar mesir dan masih banyak lagi yang lainnya.

2. Talfiq itu pada hakikatnya adalah bagian daripada taklid, atau masih termasuk dalam ruang lingkup taklid. Yakni dengan cara mengikuti beberapa pendapatnya para ulama dari beberapa madzhab untuk satu qodhiyah atau satu permasalahan entah itu yang berkaitan dengan ibadah ataupun muamalah.

3. Para ulama berbeda pendapat antara yang membolehkan dan yang melarang. Adapun menurut mereka yang melarang, mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap pendapatnya para ulama itu termasuk perbuatan fasiq dan cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan pendapat yang membolehkan menyatakan bahwa didalam syariat tidak ada larangan untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap pendapatnya para ulama, bahkan mereka berhujjah bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri itu menyukai segala sesuatu yang meringankan bagi umatnya.

✒️ Catatan :

- Talfiq boleh dilakukan dengan syarat tidak untuk main-main dalam ibadah, kemudian tidak untuk menghalalkan perkara yang haram atau sebaliknya, tidak untuk melanggar ijma, dan juga talfiq hanya terbatas pada perkara-perkara furu (cabang) dalam masalah fiqih.

- Kebolehan talfiq ini berdasar pada ketetapan bahwa seorang muqollid tidak wajib untuk mengikuti pendapat dari satu madzhab saja dalam semua masalah.

- Talfiq diperbolehkan jika terdapat maslahat yang akan dicapai. Misalnya talfiq dalam permasalahan zakat fitrah dengan memakai uang dimana maslahat yang akan dicapai oleh si mustahiq zakat akan semakin jelas. Alasannya, mungkin pada saat itu si mustahiq zakat lebih membutuhkan uang daripada beras, maka zakat fitrah dengan uang akan lebih memberikan maslahat bagi dirinya pada saat itu.

- Seorang muqollid jika diberikan fatwa atau jawaban oleh seorang mufti (seorang alim), maka boleh baginya untuk langsung mengikuti pendapat tersebut entah jawaban yang diberikan berasal dari pendapatnya madzhab Syafi'i, Maliki, Hambali ataupun Hanafi. Karena pada dasarnya, seorang muqollid yang awam itu tidak punya madzhab. Akan tetapi madzhab dia adalah madzhab orang yang memberinya fatwa.

📚 Keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٦)
ومجال التلفيق كمجال التقليد محصور في المسائل الاجتهادية الظنية. أما كل ما علم من الدين بالضرورة ـ أي بالبداهة ـ من متعلقات الحكم الشرعي وهو ماأجمع عليه المسلمون ويكفر جاحده فلا يصح فيه التقليد والتلفيق، وعلى هذا فلا يجوز التلفيق المؤدي إلى إباحة المحرمات كالنبيذ والزنا مثلا

“Ruang lingkup talfiq itu sama seperti ruang lingkup taklid yang terbatas pada masalah-masalah ijtihadiyah (furu atau cabang) yang bersifat dzonniyah (dugaan). Adapun segala sesuatu yang telah diketahui dari agama secara pasti (ma'lum minaddin biddhoruroh) dari hal-hal yang berkaitan dengan hukum syariat dimana hukum tersebut telah disepakati oleh umat islam dan orang yang mengingkarinya akan dianggap kafir, maka tidak sah taklid dan talfiq. Atas dasar itu, maka tidak diperbolehkan talfiq yang mengarah pada penghalalan hal-hal yang diharamkan semisal anggur (khomr) dan zina”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٢٤)
ويجوز تقليد كل مذهب إسلامي معتمد عند الأغلبية وإن أدى إلى التلفيق عند الضرورة أو الحاجة أو العجز والعذر لأن الصحيح جوازه عند المالكية وجماعة من الحنفية، كما يجوز الأخذ بأيسر المذاهب أو تتبع الرخص عند الحاجة أو المصلحة لاعبثا وتلهيا وهوى لأن دين الله يسر لا عسر، فيكون القول بجواز التلفيق من باب التيسير على الناس، قال الله تعالى: يريد الله بكم اليسر ولايريد بكم العسر

“Diperbolehkan taklid pada setiap madzhab islam yang mu'tamad meskipun akan mengarah pada talfiq, (yakni) dalam keadaan darurat, saat ada hajat, lemah dan ada uzur. Karena pendapat yang shohih adalah diperbolehkannya talfiq menurut madzhab Maliki dan sekelompok ulama dari kalangan madzhab Hanafi. Sebagaimana diperbolehkan untuk mengambil pendapat yang ringan dari berbagai madzhab atau mengikuti pendapat yang ringan (dari berbagai madzhab) saat ada hajat atau saat ada maslahat, tidak untuk main-main dan mengikuti keinginan hawa nafsu. Karena agama Allah adalah mudah, tidak sulit. Oleh karenanya, pendapat yang menyatakan kebolehan talfiq itu dianggap sebagai bab (untuk memberikan) kemudahan bagi manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٧)
وجواز التلفيق مبني على ما قررناه من أنه لا يجب التزام مذهب معين في جميع المسائل، فمن لم يكن ملتزما مذهبا معينا جاز له التلفيق، وإلا أدى الأمر إلى بطلان عبادات العوام، لأن العامي لا مذهب له ولو تمذهب به، ومذهبه في كل قضية هو مذهب من أفتاه بها. كما أن القول بجواز التلفيق يعتبر من باب التيسير على الناس

“Kebolehan talfiq itu didasarkan pada apa yang telah kami tetapkan bahwasanya tidak wajib untuk mengikuti (satu) madzhab tertentu dalam semua masalah. Maka bagi orang yang tidak terikat dengan madzhab tertentu diperbolehkan untuk melakukan talfiq. Jika tidak, maka akan mengakibatkan batalnya ibadah orang awam. Karena orang awam itu tidak ada madzhab baginya meskipun (umpamanya) dia mengikuti (pendapat dari) satu madzhab (tertentu). Dan madzhabnya orang awam dalam setiap qodhiyah (masalah) adalah madzhab dari orang yang memberikannya fatwa. Sebagaimana pendapat yang menyatakan kebolehan talfiq itu dianggap sebagai bab (untuk memberikan) kemudahan bagi manusia”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٧٧)
في التلفيق في العبادة الواحدة من مذهبين طريقتان: المنع وهو طريقة المصريين، والجواز وهو طريق المغاربة ورجحت، وقال الدسوقي قائلا عن مشايخه: إن الصحيح جوازه وهو فسحة

“(Terkait permasalahan) talfiq didalam satu ibadah dari dua pendapat, maka terdapat dua cara. Yang pertama adalah melarang, dan itu merupakan (cara atau) pendapatnya para ulama Mesir. Kemudian yang kedua adalah membolehkan, dan itu merupakan (cara atau) pendapatnya para ulama Maghribi, dan inilah yang rojih menurutku (Syaikh Wahbah Zuhaili). Kemudian imam Ad-Dasuki yang mengutip pendapat dari guru-gurunya: Sesungguhnya pendapat yang shohih adalah diperbolehkan talfiq, dan hal itu merupakan sebuah kelonggaran”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٩٠)
فلا مانع شرعا من تقليد أئمة المذاهب والمجتهدين المشهورين والمغمورين، كما لا محذور في الشرع من التلفيق بين أقوال المذاهب عملا بمبدأ اليسر في الدين لقوله تعالى: (يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر)، ومن المعلوم أن أغلب الناس لا مذهب لهم وإنما مذهبهم مذهب مفتيهم وهم حريصون على أن يكون عملهم شرعيا

“Secara syariat, tidak ada larangan untuk bertaklid kepada para imam madzhab dan para mujtahid yang masyhur (terkenal) maupun yang maghmur (tidak terkenal). Sebagaimana tidak dilarang didalam syariat untuk melakukan talfiq, (yakni menggabungkan) pendapat-pendapatnya berbagai madzhab dengan (cara) menerapkan prinsip kemudahan didalam agama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: (Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu). Dan telah diketahui bahwa manusia pada umumnya itu tidaklah terikat madzhab tertentu, (namun) madzhab mereka (tiada lain) adalah madzhab muftinya. Dan mereka (selalu) menginginkan agar amalan mereka sesuai dengan syariat”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٩٥)
يتلخص من هذا أن القول الأصح الراجح عند علماء الأصول هو عدم ضرورة الالتزام بمذهب معين وجواز مخالفة إمام المذهب والأخذ بقول غيره لأن التزام المذهب غير ملزم كما بينا. وبناء عليه فلا مانع إطلاقا من حيث المبدأ في العصر الحاضر من اختيار بعض الأحكام الشرعية المقررة لدى علماء المذاهب دون تقيد بجملة المذهب أو بتفصيلاته

“Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendapat yang shohih dan rojih dikalangan para ulama ushul adalah tidak adanya ketentuan harus berpegang pada madzhab tertentu, bahkan diperbolehkan untuk menyelisihi pendapat imam madzhabnya kemudian mengambil pendapat (imam madzhab yang) lain. Karena berpegang pada madzhab tertentu tidaklah wajib sebagaimana yang telah kami jelaskan. Atas dasar itu, secara mutlak tidak ada larangan dizaman sekarang untuk memilih (dan mengambil) sebagian hukum syariat yang telah ditetapkan oleh para ulama madzhab tanpa harus terikat pada keseluruhan (pendapat satu) madzhab atau rincian-rinciannya”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٩)
الحنفية: قال الكمال بن الهمام وتلميذه ابن أمير الحاج في التحرير وشرحه: إن المقلد له أن يقلد من شاء، وإن أخذ العامي في كل مسألة بقول مجتهد أخف عليه لا أدري ما يمنعه من النقل أو العقل، وكون الإنسان يتتبع ما هو الأخف عليه من قول مجتهد مسوغ له الاجتهاد، ما علمت من الشرائع ذمه عليه، وكان صلى الله عليه وسلم يحب ما خفف عن أمته

“Madzhab Hanafi: Kamal bin Himam dan muridnya Ibnu Amir Al-Hajj didalam kitab At-Tahrir dan syarahnya menyatakan: Sesungguhnya seorang muqollid diperbolehkan untuk mengikuti pendapat mana saja sesuai yang dia kehendaki. Dan jika orang awam mengambil pendapat yang lebih ringan dari pendapatnya mujtahid dalam setiap masalah, maka aku tidak mendapati adanya dalil Naqli maupun dalil Aqli yang melarangnya. Kemudian orang yang mengikuti pendapat yang lebih ringan baginya dari pendapatnya mujtahid, maka yang demikian itu dibenarkan. Dan aku pun tidak mengetahui adanya syariat yang mencela hal itu, bahkan (sebaliknya) nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyukai sesuatu hal yang memudahkan bagi umatnya”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٩)
المالكية: الأصح والمرجح عند المتأخرين من فقهاء المالكية هو جواز التلفيق، فقد صحح الجواز ابن عرفة المالكي في حاشيته على الشرح الكبير للدردير، وأفتى العلامة العدوي بالجواز، ورجح الدسوقي الجواز، ونقل الأمير الكبير عن شيوخه أن الصحيح جواز التلفيق وهو فسحة. الشافعية: منع بعضهم كل صور التلفيق، واقتصر بعضهم الآخر على حظر حالات التلفيق الممنوع الآتي بيانها، وأجاز آخرون التلفيق إذا جمعت في المسألة شروط المذاهب المقلدة

“Madzhab Maliki: Pendapat yang shohih dan lebih kuat dikalangan para fuqoha madzhab Maliki mutaakhir adalah pendapat yang membolehkan talfiq. Dan Ibnu Arafah Al-Maliki telah menshohihkan pendapat yang membolehkan talfiq didalam Hasyiyahnya 'Ala Syarah Al-Kabir, kemudian Al-Allamah Al-Adawi pun telah memberikan fatwa mengenai kebolehan talfiq. Lalu imam Ad-Dusuki merojihkan (menguatkan) pendapat yang membolehkan talfiq, dan Amir Al-Kabir menukil dari guru-gurunya bahwa pendapat yang shohih (didalam madzhab Maliki) adalah pendapat yang membolehkan talfiq, dan hal itu merupakan sebuah kelonggaran. Adapun sebagian ulama madzhab Syafi'i melarang semua bentuk talfiq, sementara pendapat sebagian ulama madzhab Syafi'i yang lain itu terbatas pada larangan talfiq yang akan dijelaskan berikutnya. Dan ulama-ulama madzhab Syafi'i yang lain membolehkan talfiq jika dalam masalah tersebut terkumpul syarat-syarat dari madzhab yang ditaklidi (diikuti)”

📚 Tambahan keterangan :

(إعانة الطالبين : ج ١ ص ٢٥)
قال ابن حجر: ولا يجوز العمل بالضعيف بالمذهب ويمتنع التلفيق في مسألة كأن قلد مالكا في طهارة الكلب والشافعي في مسح بعض الرأس في صلاة واحدة، وأما في مسألة بتمامها بجميع معتبراتها فيجوز ولو بعد العمل كأن أدى عبادته صحيحة عند بعض الأئمة دون غيره فله تقليده فيها حتى لا يلزمه قضاؤها

“Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan: Tidak diperbolehkan beramal dengan pendapat yang dhoif didalam madzhab, dan tidak diperbolehkan melakukan talfiq dalam satu permasalahan seperti bertaklid kepada imam Malik perihal sucinya anjing dan bertaklid kepada imam Syafi'i perihal mengusap sebagian kepala dalam satu sholat. Adapun (bertaklid) dalam satu permasalahan secara keseluruhan dengan semua pertimbangannya (atau rincian-rinciannya), maka diperbolehkan, bahkan setelah beramal. Seperti seseorang yang melaksanakan ibadah dimana ibadahnya itu dinilai sah menurut sebagian imam, akan tetapi tidak dinilai sah menurut imam yang lainnya, maka diperbolehkan bagi dia untuk bertaklid pada pendapat (yang mengesahkannya itu) sehingga tidak diwajibkan bagi dia untuk mengulang ibadahnya tersebut”

📚 Tambahan keterangan :

(فتح المعين : ص ٦١٤)  
(فائدة) في بيان التقليد: إذا تمسك العامي بمذهب لزمه موافقته وإلا لزمه التمذهب بمذهب معين من الأربعة لا غيرها ثم له وإن عمل بالأول الانتقال إلى غيره بالكلية أو في المسائل بشرط أن لا يتتبع الرخص بأن يأخذ من كل مذهب بالأسهل منه فيفسق به على الأوجه

“(Faedah didalam menjelaskan persoalan taklid). Jika orang awam berpegang pada satu madzhab tertentu, maka wajib bagi dia untuk mengikutinya. Jika tidak, maka wajib bagi dia untuk mengikuti madzhab lain dari salah satu madzhab yang empat, tidak kepada madzhab yang lainnya. Dan jika dia mengamalkan madzhab pertama (yang dipilihnya itu), maka boleh bagi dia untuk berpindah kepada madzhab lain entah secara keseluruhan maupun dalam masalah tertentu saja dengan syarat dia tidak bermaksud untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap madzhab. Sebab jika demikian, maka hal itu termasuk perbuatan fasiq menurut pendapat yang aujah”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١١٦)
والقول بجواز التلفيق في الجملة أقوى دليلا من القول بمنعه، فضلا عما فيه من تحقيق مصالح الأفراد والجماعات ولا يترتب عليه أي مفسدة من مفاسد التلفيق المحظور

“Secara umum, pendapat yang membolehkan talfiq itu lebih kuat dalilnya dibandingkan dengan pendapat yang melarangnya. Terutama untuk memperoleh maslahat individu maupun kelompok serta tidak ada kerusakan yang ditimbulkan dari talfiq yang dilarang”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ١٠٢)
قال القرافي المالكي وأكثر أصحاب الشافعي والراجح عند الحنفية منهم ابن الهمام وصاحب مسلم الثبوت: يجوز تتبع رخص المذاهب لأنه لم يوجد في الشرع مايمنع من ذلك، إذ للإنسان أن يسلك الأخف عليه إذا كان له إليه سبيل بأن لم يكن عمل بآخر، بدليل أن سنة الرسول صلى الله عليه وسلم الفعلية والقولية تقتضي جوازه، فإنه عليه الصلاة والسلام ماخير بين أمرين قط إلا اختار أيسرهما مالم يكن مأثما، وفي صحيح البخاري عن عائشة رضي الله عنها: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يحب ماخفف عن أمته

“Al-Qarafi Al-Maliki, mayoritas ashab Syafi'i dan pendapat yang rojih dikalangan madzhab Hanafi diantaranya adalah Ibnu Himam serta pengarang kitab Muslim Ats-Tsubut menyatakan: Diperbolehkan untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari berbagai madzhab, karena tidak didapati (adanya dalil) didalam syariat yang melarang hal itu. (Dan) seseorang (diperbolehkan) untuk mengikuti pendapat yang lebih ringan baginya jika dia memiliki jalan untuk itu, (yakni) dengan dia tidak mengamalkan pendapat lain (yang lebih berat baginya). Sebagai dalilnya bahwa sunnah rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam entah yang berupa perbuatan maupun ucapan itu telah menetapkan kebolehan hal tersebut. Karena tidaklah beliau shallallahu 'alaihi wasallam dihadapkan pada dua pilihan, kecuali beliau akan memilih yang paling mudah selama hal itu bukan perkara dosa. Dan didalam kitab shohih Bukhari, dari sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyukai apa yang memudahkan bagi umatnya”

📚 Tambahan keterangan :

(فتاوى العز بن عبد السلام : ص ٢٣٨)
يجوز تقليد كل واحد من الآئمة الآربعة رضي الله عنهم، ويجوز لكل واحد آن يقلد واحدا منهم فى مسالة ويقلد اماما آخر في مسالة آخرى، ولا يتعين تقليد واحد بعينه في كل المسائل

“Setiap orang diperbolehkan taklid kepada salah satu imam yang empat radhiyallahu 'anhum. Dan setiap orang boleh mengikuti salah satu dari pendapat mereka dalam satu masalah, dan mengikuti pendapat imam lainnya dalam masalah yang lain. Dan tidak ada ketentuan yang mengharuskan taklid kepada satu madzhab dalam semua masalah”

📚 Tambahan keterangan :

(فتوى الازهر، رقم : ٦٩٠١)
التقليد واجب على غير المجتهد المكلف لضرورة العمل ولا يجب على المقلد التزام مذهب معين، فيجوز له العمل بما يخالف ما عمله على مذهبه مقلدا غير إمامه، ومذهب العامي فتوى مفتيه المعروف بالعلم والعدالة، والتلفيق بمعنى العمل في كل حادثة بمذهب جائز، ويتخرج على جوازه جواز تتبع رخص المذاهب في المسائل المتعددة كالوضوء على مذهب الشافعي ثم الصلاة به بعد اللمس على مذهب أبي حنيفة

“Wajib taklid bagi seorang mukallaf yang bukan mujtahid untuk kebutuhan amal (dirinya), dan tidak wajib bagi seorang muqollid untuk berpegang pada (satu) madzhab tertentu saja. Atas dasar itu, maka diperbolehkan baginya untuk beramal dimana amal tersebut berbeda dengan apa yang dia lakukan menurut madzhabnya dengan cara taklid kepada selain imamnya. Karena madzhab orang awam adalah fatwa dari mufti yang dikenal dengan keilmuan dan keadilannya. Dan talfiq dalam arti beramal dalam setiap (kasus yang baru mucul) dengan madzhab (yang berbeda-beda) itu diperbolehkan, kemudian diperbolehkan juga untuk mengikuti pendapat yang ringan-ringan saja dari berbagai madzhab dalam beberapa masalah. Semisal seseorang yang berwudhu dengan (cara) madzhab Syafi'i kemudian sholat setelah menyentuh (perempuan ajnabi) dengan (cara) mengikuti madzhab imam Abu Hanifah”

📚 Tambahan keterangan :

(دار الافتاء المصرية : ج ٧ ص ١٧٢)
يجوز التلفيق بأن يؤخذ برأي في مذهب مجتهد وبآخر في مذهب مجتهد آخر متى لم يكن هذا التلفيق خارقا للإجماع

“Diperbolehkan talfiq dengan cara mengikuti pendapatnya ulama mujtahid dalam satu madzhab tertentu dan mengikuti pendapatnya ulama mujtahid yang lain selama talfiq ini tidak dilakukan untuk melanggar ijma”

📚 Tambahan keterangan :

(دار الافتاء المصرية، تاريخ النشر : ١٧-٠٢-٢٠١٤)
فإن غالب الفقه مبني على الظن وليس من المقطوع به أن رأي أحد المجتهدين هو الصواب الذي لا يحتمل الخطأ في جملته أو في تفصيله، بل يجوز في حق كل مجتهد أن يصيب في بعض أجزاء المسألة ويجوز أن يخطئ في بعضها الآخر، ولا فارق في تلك الاحتمالية بين المسألة الواحدة والمسائل المتعددة، فالأخذ ببعض قول المجتهد في مسألة ما وببعض قول مجتهد آخر في نفس المسألة ليس خروجا عن كلا المذهبين، وإنما هو كالجمع بين تقليدهما في أكثر من مسألة، وبناء على هذا فيجوز للمقلد التلفيق في المسألة الواحدة سواء كانت في العبادات أم في المعاملات

“Fiqih itu pada umumnya didasarkan pada sesuatu yang bersifat dzonniyah (dugaan), dan tidak ada kepastian bahwa pendapat salah satu mujtahid itu benar dan tidak mungkin salah entah secara keseluruhan ataupun dalam rincian-rinciannya. Bahkan, adalah boleh (mungkin) bagi setiap mujtahid untuk benar dalam beberapa bagian dari suatu masalah kemudian salah dalam bagian yang lainnya. Dan tidak ada perbedaan dalam kemungkinan ini antara satu masalah maupun beberapa masalah. Kemudian, mengambil sebagian pendapat mujtahid dalam suatu masalah dan sebagian pendapat mujtahid lainnya dalam masalah yang sama itu bukanlah keluar dari kedua madzhab, akan tetapi sesungguhnya hal itu seperti taklid (dengan cara) menggabungkan pendapat keduanya dalam lebih dari satu masalah. Atas dasar itu, maka diperbolehkan bagi orang yang taklid untuk melakukan talfiq dalam satu masalah entah itu dalam perkara ibadah ataupun muamalah”

والله اعلم بالصواب

Rabu, Oktober 02, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM MENUNDA SHOLAT KARENA TIDAK ADA AIR


🔄 Pertanyaan :

Assalamualaikum wr wb, klo di rmh tdk ada air dan kebetulan sdh masuk awal waktu shalat , bolehkah menunda shalat sampai ada air/sambil nunggu air atau lbih baik shalat dgn tayammum?🙏

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Kalau merasa yakin akan adanya air sampai waktu yang telah ditentukan, sebelum waktu sholat berakhir atau sampai akhir waktu sholat, maka menurut pendapat yang shohih diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk menunda sholat. Dan sholat pada akhir waktu dengan berwudhu itu lebih utama dibandingkan sholat pada awal waktu dengan tayamum, karena wudhu lebih sempurna dibandingkan tayamum, demikianlah para ulama menyatakan. Terkecuali jika seseorang merasa ragu atau punya dugaan kuat bahwa air tersebut tidak akan dijumpai pada waktu yang telah ditentukan atau pada akhir waktu sholat, maka menyegerakan sholat dengan cara tayamum itu lebih utama. Jadi semuanya kembali kepada keyakinan akan ada atau tidaknya air pada waktu yang telah ditentukan tersebut.

📚 Keterangan :

(المجموع شرح المهذب : ج ٢ ص ٣٠٠)
وحكى صاحبا التتمة والتهذيب قولا للشافعي نص عليه في الإملاء أنه لا يجوز التيمم إذا علم وصوله إلى الماء قبل خروج الوقت وهو شاذ ضعيف لا تفريع عليه وإنما التفريع على المذهب وهو الجواز ثم إن الجمهور أطلقوا الجواز، وقال الماوردي رحمه الله تعالى: هذا إذا تيقن وجود الماء في غير منزله، أما إذا تيقن أنه يجده في آخر الوقت في منزله الذي هو فيه أول الوقت فيجب التأخير

“Pengarang kitab At-Tamimah dan Al-Tahdzib menghikayatkan nash imam Syafi'i didalam kitab Al-Imla bahwasanya tidak diperbolehkan bertayamum jika seseorang mengetahui akan ketersediaan air sebelum keluar waktu (sholat atau waktu sholatnya habis), namun itu merupakan pendapat yang syadz dan lemah serta tidak ada cabang (atau perincian) atas pendapat tersebut. Bahkan sesungguhnya cabang (atau perincian yang dijadikan pendapat oleh) madzhab (Syafi'i) justru (adalah pendapat) yang membolehkan bertayamum, kemudian jumhur ulama pun memutlakkan kebolehannya. Imam Al-Mawardi rahimahullah menyatakan bahwa hal ini berlaku jika seseorang meyakini akan adanya air ditempat lain. Adapun jika seseorang meyakini akan adanya air pada akhir waktu ditempat yang dia tempati pada awal waktu tersebut, maka wajib menunda (sholat supaya bisa bersuci dengan berwudhu)”

📚 Tambahan keterangan :

(المجموع شرح المهذب : ج ٢ ص ٣٠٠)
فإذا قلنا بالمذهب فللعادم ثلاثة أحوال، (أحدها): أن يتيقن وجود الماء في آخر الوقت بحيث يمكنه الطهارة والصلاة في الوقت فالأفضل أن يؤخر الصلاة ليأتي بها بالوضوء لأنه الأصل والأكمل، هذا هو المذهب الصحيح المقطوع به في جميع الطرق. وانفرد صاحب التتمة بحكاية وجه أن تقديم الصلاة في أول الوقت بالتيمم أفضل وحكاه الشيخ أبو محمد، والصواب الأول. واحتج له الشيخ أبو حامد الإسفراييني والمحاملي وغيرهما بأن الوضوء أكمل من التيمم فكان راجحا على فضيلة أول الوقت، ويؤيد هذا أن التيمم لا يجوز مع القدرة على الماء ويجوز تأخير الصلاة إلى آخر الوقت مع القدرة على الصلاة في أوله

“Jika kita berbicara tentang madzhab (atau pendapat), maka bagi orang yang tidak menjumpai (air untuk bersuci) itu terdapat tiga keadaan. Keadaan pertama: Bahwasanya seseorang yang meyakini akan adanya air pada akhir waktu sehingga memungkinkan baginya untuk bersuci dan sholat pada akhir waktu tersebut, maka menunda sholat agar dapat melakukannya dengan berwudhu (pada akhir waktu) itu lebih utama, karena wudhu lebih sempurna (dibandingkan tayamum). Inilah madzhab (atau pendapat) yang shohih dan qoth'i pada semua jalur (pendapatnya para ulama). Dan hanya pengarang kitab At-Tamimah (yang menyendiri) dimana beliau menghikayatkan (satu pendapat) bahwa mendahulukan sholat pada awal waktu dengan tayamum itu lebih utama, dan pendapat ini juga dihikayatkan oleh Syeikh Abu Muhammad. Namun pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama. Syeikh Abu Hamid Al-Isfaraini, imam Al-Muhamili dan ulama lainnya berhujjah bahwa wudhu itu lebih sempurna daripada tayamum, sehingga (yang rojih bahwa wudhu lebih diutamakan) dibandingkan keutamaan (sholat pada) awal waktu (dengan tayamum). Hal ini juga dikuatkan dengan pendapat bahwa tayamum tidak diperbolehkan jika ada kemampuan (untuk bersuci menggunakan) air, serta diperbolehkan untuk menunda sholat sampai akhir waktu bersamaan dengan adanya kemampuan untuk sholat pada awal waktu”

📚 Tambahan keterangan :

(المجموع شرح المهذب : ج ٢ ص ٣٠٠)
(الحال الثاني): أن يكون على يأس من وجود الماء في آخر الوقت فالأفضل تقديم التيمم والصلاة في أول الوقت بلا خلاف لحيازة فضيلة أول الوقت وليس هنا ما يعارضها

“Keadaan kedua: Bahwasanya seseorang yang dalam keadaan putus asa (ragu) terkait keberadaan air (atau untuk menemukan air) pada akhir waktu, maka yang lebih utama adalah dia mendahulukan tayamum dan sholat pada awal waktu. (Dalam hal ini) tidak ada perbedaan pendapat (dikalangan ulama), (yakni) supaya dia mendapatkan keutamaan (sholat) pada awal waktu sehingga tidak terjadi ta'arudh (atau pertentangan dengan pendapat yang disebutkan sebelumnya)”

📚 Tambahan keterangan :

(المجموع شرح المهذب : ج ٢ ص ٣٠٠)
(الحال الثالث): أن لا يتيقن وجود الماء ولا عدمه وله صورتان، إحداهما: أن يكون راجيا ظانا الوجود ففيه قولان مشهوران في كتب الأصحاب ونص عليهما في مختصر المزني أصحها باتفاق الأصحاب أن تقديم الصلاة بالتيمم في أول الوقت أفضل وهو نصه في الأم، والثاني: التأخير أفضل وهو نصه في الإملاء وهو مذهب مالك وأبي حنيفة وأحمد وأكثر العلماء ودليلهما يعرف مما سبق

“Keadaan ketiga: Bahwasanya seseorang yang tidak meyakini akan adanya air atau ketiadaan air, maka dalam hal ini ada dua gambaran (pendapat). Yang pertama bahwa seseorang yang berharap dan menduga akan adanya air (pada akhir waktu), maka dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur didalam kitab para ashab Syafi'i. Dan didalam kitab Mukhtashar Al-Muzani dinyatakan bahwa pendapat yang shohih berdasarkan kesepakatan para ashab Syafi'i adalah bahwa mendahulukan sholat dengan tayamum pada awal waktu itu lebih utama, dan hal itu merupakan nashnya (imam Syafi'i rahimahullah) didalam kitab Al-Umm. Sedangkan yang kedua menyatakan bahwa menunda (sholat) lebih utama, dan hal itu merupakan nashnya (imam Syafi'i rahimahullah) didalam kitab Al-Imla dimana pendapat tersebut juga merupakan pendapatnya imam Malik, imam Abu Hanifah, imam Ahmad serta pendapatnya kebanyakan ulama. Dan dalil keduanya telah diketahui (berdasarkan pendapat yang disebutkan) sebelumnya”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٥٦٩)
وقيد الشافعية أفضلية الانتظار بحالة تيقن وجود الماء آخر الوقت، فإن شك في وجوده أو ظن بأن ترجح عنده وجود الماء آخر الوقت، فتعجيل التيمم أفضل في الأظهر لأن فضيلة التقديم محققة بخلاف فضيلة الوضوء

“Para ulama madzhab Syafi'i memberikan batasan bahwa lebih utama menunggu dalam keadaan yakin akan adanya air pada akhir waktu. Namun jika seseorang merasa ragu akan adanya air atau seseorang mempunyai dugaan kuat akan adanya air pada akhir waktu, maka menyegerakan untuk melakukan tayamum itu lebih utama menurut qoul adzhar. Karena keutamaan mendahulukan tayamum sudah terjamin (untuk menggapai keutamaan sholat pada awal waktu), berbeda halnya dengan dengan keutamaan berwudhu”

📚 Tambahan keterangan :

(الموسوعة الفقهية : ج ١٠ ص ٨)
اتفق الفقهاء على سنية تأخير الصلاة إلى آخر الوقت المختار إذا تيقن وجود الماء في آخره، وقيد الحنفية ذلك بألا يدخل وقت الكراهة. أما إذا ظن وجود الماء أو رجاه في آخر الوقت فالجمهور على أن تأخير الصلاة أفضل بشرطه عند الحنفية، وذهب المالكية إلى أن المتردد يتيمم في وسط الوقت ندبا، وذهب الشافعية إلى أن التعجيل في هذه الحالة أفضل

“Para fuqoha telah sepakat bahwa disunnahkan untuk menunda waktu sholat sampai akhir waktu yang dipilih jika diyakini akan adanya air pada akhir waktu tersebut. Namun madzhab Hanafi membatasi supaya hal itu jangan sampai memasuki waktu yang dimakruhkan (secara tahrim). Adapun jika seseorang menduga akan adanya air atau berharap akan adanya air pada akhir waktu, maka jumhur ulama menyatakan bahwa menunda sholat itu lebih utama dengan syaratnya menurut madzhab Hanafi. Sedangkan madzhab Maliki menyatakan bahwa orang yang ragu (akan adanya air pada akhir waktu) itu dianjurkan untuk bertayamum pada pertengahan waktu. Sementara madzhab Syafi'i menyatakan bahwa menyegerakan untuk (bertayamum kemudian melaksanakan sholat) pada saat itu adalah lebih utama”

والله اعلم بالصواب 

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...