🔁 Pertanyaan :
Assalamualaikum.
Klo kita lg mampir ke salah satu masjid yg ada di perjalanan dan kebetulan di area masjid itu ada pohon delima yang berbuah, bolehkah kita sebagai pengunjung memetik buah delima tersebut lalu kita makan buah nya?🙏
➡️ Jawaban :
Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.
Status pohon yang ada di area masjid, itu diperinci sebagai berikut :
- Jika pohon tersebut ditanam yang mana tujuan penanamannya adalah untuk kepentingan masjid, maka siapapun tidak boleh mengambil dan memakannya. Akan tetapi hasil dari pohon tersebut adalah dipakai untuk kepentingan masjid.
- Tapi jika tujuan penanamannya adalah untuk dimakan (diperuntukkan bagi orang-orang muslim yang secara umum), atau tidak diketahui tujuan penanamannya apakah untuk kepentingan masjid ataukah untuk dimakan, maka siapapun boleh memanfaatkannya dengan cara mengambil kemudian memakannya.
📚 Keterangan :
(إعانة الطالبين : ج ٣ ص ٢١٦)
وثمر المغروس في المسجد ملكه إن غرس له فيصرف لمصالحه، وإن غرس ليوءكل أو جهل الحال فمباح
“Dan buah (dari pohon yang) ditanam dimasjid adalah milik masjid (jika tujuan menanamnya adalah untuk kemaslahatan masjid), maka (hasilnya) ditashorufkan untuk kemaslahatan masjid. Namun jika (tujuan) menanamnya adalah untuk dimakan atau tidak diketahui keadaannya (tujuannya), maka diperbolehkan (untuk dimakan oleh orang-orang muslim)”
📚 Tambahan keterangan :
(إعانة الطالبين : ج ٣ ص ٢١٦)
(قوله: أو جهل الحال) أي لم يدر هل هو غرس للمسجد أو ليؤكل؟ (قوله: فمباح) أي فثمره مباح
“Pernyataan mushonnif: Atau tidak diketahui keadaannya (tujuannya). Yakni tidak diketahui apakah (pohon tersebut) ditanam untuk (kemaslahatan) masjid ataukah untuk dimakan. Dan pertanyaan mushonnif: Maka diperbolehkan, yakni buahnya diperbolehkan (untuk dimakan oleh orang-orang muslim)”
📚 Tambahan keterangan :
(روضة الطالبين : ج ٥ ص ٣٦٢)
وسئل عن شجرة غرسها رجل في المسجد، فقال: إن غرسها للمسجد لم يجز أكل ثمرها بلا عوض، ويجب صرف عوضها في مصالح المسجد وينبغي أن لا تغرس الأشجار في المسجد، قلت: وإن غرسها مسبلة للأكل جاز أكلها بلا عوض، وكذا إن جهلت نيته حيث جرت العادة به
“(Al-Imam Abu Abdillah Al-Hannathi) ditanya terkait seseorang yang menanam pohon dimasjid, maka beliau menjawab: Jika pohon tersebut ditanam untuk (kemaslahatan) masjid, maka tidak diperbolehkan memakan buahnya tanpa iwadh (imbalan), dan iwadhnya (imbalannya) wajib ditashorufkan untuk kemaslahatan masjid. Dan hendaknya tidak menanam pepohonan dimasjid. Aku (imam Nawawi) katakan: Jika pohon tersebut ditanam untuk (tujuan) dimakan, maka diperbolehkan memakan buahnya tanpa iwadh (imbalan), demikian halnya jika niat (menanamnya) tidak diketahui yang mana hal itu sudah menjadi kebiasaan (masyarakat sekitar maka diperbolehkan pula untuk memakan buahnya)”
📚 Tambahan keterangan :
(كفاية النبيه في شرح التنبيه : ج ١٢ ص ٨٤)
وقد سئل الأستاذ أبو عبد الله الحناطي عن رجل غرس شجرة في المسجد كيف يصنع بثمارها؟ قال: إن جعلها للمسجد لم يجز أكل ثمارها من غير عوض ويجب صرف عوضها إلى مصالح المسجد
“Al-Ustadz Abu Abdillah Al-Hannathi ditanya terkait seseorang yang menanam pohon dimasjid, bagaimana memperlakukan buahnya? Maka beliau menjawab: Jika seseorang menjadikannya (yakni tujuan menanamnya adalah) untuk (kemaslahatan) masjid, maka tidak diperbolehkan untuk memakan buahnya tanpa iwadh (imbalan), dan iwadhnya (imbalannya) wajib ditashorufkan untuk kemaslahatan masjid”
📚 Tambahan keterangan :
(حاشية البجيرمي على الخطيب : ج ٣ ص ١٠٣)
ويكره غرس الشجر في المسجد كما في الروضة، قلت: وهو محمول على ما إذا لم يضر بالمسجد أو بالمصلين ولم يقصد بها نفسه وإلا حرم
“Makruh hukumnya menanam pohon dimasjid sebagaimana yang disebutkan didalam kitab Ar-Raudhah. Aku (Syeikh Bujairomi) katakan: Yang demikian itu mungkin diarahkan jika tidak merugikan (mengganggu) masjid atau merugikan (mengganggu) orang-orang yang sholat, serta tidak bertujuan (atau berniat menanamnya) untuk kepentingan pribadi. Jika tidak, maka hukumnya haram”
📚 Tambahan keterangan :
(حاشية البجيرمي على الخطيب : ج ٣ ص ١٠٣)
وإن كان مسبلا للأكل أو جهل قصد الغارس جاز من غير عوض، ومثلها ثمرة ما في المقبرة المسبلة وكجهل قصده ما إذا لم يكن له قصد ومثله ما إذا نبتت فيه بنفسها
“Dan jika (tujuan menanam pohon) tersebut untuk dimakan, atau tidak diketahui tujuan (atau niat) penanamannya, maka diperbolehkan (untuk memakan buahnya) tanpa iwadh (imbalan). Dan yang semisal itu adalah buah yang ada pekuburan, dan seperti (pohon) yang tidak diketahui tujuan (menanamnya). Dan yang semisal itu juga adalah pohon yang tumbuh dengan sendirinya”
والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar