Selasa, Agustus 22, 2023

APA YANG MANUSIA ALAMI ITU MERUPAKAN TAKDIR ALLAH


๐Ÿ–‹️ Al-Imam Ibnu Atho'illah Sakandari rahimahullah berkata :

ู…ุชู‰ ุงู„ู…ูƒ ุนุฏู… ุฅู‚ุจุงู„ ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ูŠูƒ ุฃูˆ ุชูˆุฌู‡ู‡ู… ุจุงู„ุฐู… ุฅู„ูŠูƒ ูุงุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ุนู„ู… ุงู„ู„ู‡ ููŠูƒ، ูุฅู† ูƒุงู† ู„ุง ูŠู‚ู†ุนูƒ ุนู„ู…ู‡ ูู…ุตูŠุจุชูƒ ุจุนุฏู… ู‚ู†ุงุนุชูƒ ุจุนู„ู…ู‡ ุฃุดุฏ ู…ู† ู…ุตูŠุจุชูƒ ุจูˆุฌูˆุฏ ุงู„ุฃุฐู‰ ู…ู†ู‡ู…

“Saat engkau merasa sedih karena tidak diperlakukan baik oleh manusia atau manusia mencelamu, maka kembalilah kepada pengetahuan (atau takdir) Allah tentang dirimu. Jika pengetahuan (atau takdir Allah) tidak membuatmu merasa nyaman, maka musibahmu karena tidak puas dengan pengetahuan (atau takdir Allah) itu lebih berbahaya daripada musibah karena dicela (dan tidak diperlakukan baik oleh) manusia” (Al-Hikam Ibnu Atho'illah : 130)

➡️ Penjelasan :

Pada hakikatnya, tidak akan ada manusia yang merasa nyaman saat dirinya didzolimi atau diperlakukan buruk oleh orang lain. Tapi jika manusia mau merenungkan, bisa jadi apa yang dialaminya itu merupakan sesuatu yang telah Allah takdirkan bagi dirinya. Yaitu dengan dia harus menerima celaan, hinaan dan cemoohan dari orang lain.

Saat seperti itu, hendaknya manusia kembali berpikir bahwa itu semuanya merupakan ketetapan Allah untuknya. Tapi kebanyakan dari manusia saat mengalami tekanan dan himpitan dari orang lain, mereka marah dan tak sedikit yang membalasnya dengan hal serupa atau bahkan lebih buruk lagi. Itu semua tidak ada gunanya sama sekali dan malah bisa jadi nantinya dia akan diberi musibah oleh Allah dengan yang lebih buruk dari apa yang pernah dia alami sebelumnya.

Jika manusia tidak merasa cukup dengan ketentuan Allah terhadap dirinya, niscaya dia akan mendapat musibah yang lebih besar dan lebih buruk daripada celaan, hinaan dan cemoohan manusia terhadapnya. Inilah seburuk-buruknya musibah, karena dia tidak mau menerima ketentuan Allah dan dia lebih mengharapkan perhatian orang lain serta mengharapkan orang lain untuk menyukainya.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

Senin, Agustus 21, 2023

MENJAWAB SYUBHAT SATU HABIB YANG BODOH LEBIH UTAMA DARIPADA 70 ORANG ALIM YANG BUKAN HABIB


Belakangan waktu lalu muncul doktrin atau statement orang yang mengatakan bahwa satu habib yang bodoh itu lebih utama daripada tujuh puluh orang alim yang bukan habib. Bagi saya pernyataan ini sangat lucu, tapi apakah benar statement orang yang mengatakan seperti itu?

Sebelumnya, tulisan ini saya buat sebagai bahan kritikan atau bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa satu habib yang bodoh itu lebih utama daripada tujuh puluh orang alim yang bukan habib. Didalam kitab Muroqil Ubudiyah, Syeikh Nawawi Al-Bantani mengatakan :

ุฃู† ู…ู† ุงู†ุชุณุจ ุฅู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆู‡ูˆ ู…ู† ุฃูˆู„ุงุฏ ุณูŠุฏู†ุง ุงู„ุญุณู† ุฃูˆ ุงู„ุญุณูŠู† ูˆู‡ูˆ ุบูŠุฑ ุนุงู„ู… ูŠููˆู‚ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑู‡ ู…ู…ู† ูŠุณุงูˆูŠู‡ ููŠ ุงู„ุฑุชุจุฉ ุจุณุชูŠู† ุฏุฑุฌุฉ، ูˆุฃู† ุงู„ุนุงู„ู… ุงู„ุฐูŠ ู„ู… ูŠู†ุณุจ ุฅู„ูŠู‡ ูŠููˆู‚ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ุงู„ุนุงู„ู… ู…ู…ู† ุงู†ุชุณุจ ุฅู„ูŠู‡ ุจุณุชูŠู† ุฏุฑุฌุฉ

“Orang yang bernasab kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melalui jalur sayyidina Hasan atau sayyidina Husein dan dia tidak alim (dalam masalah ilmu agama), itu enam puluh derajat lebih utama daripada orang biasa yang sama-sama tidak alim. Sedangkan orang biasa yang tidak punya garis nasab kepada beliau namun alim (dalam masalah ilmu agama), maka dia enam puluh derajat lebih utama daripada orang yang mempunyai garis nasab kepada beliau namun tidak alim” (Muroqil Ubudiyah : 284)

Jika kita simak pernyataan Syeikh Nawawi Al-Bantani diatas, maka jelas bahwa statement orang yang mengatakan kalau satu orang habib atau keturunan nabi yang bodoh itu lebih utama dari tujuh puluh orang alim namun bukan habib, adalah pernyataan yang amat keliru dan sangat menyelisihi akal sehat.

Bagaimana tidak menyelisihi akal sehat, sebab keutamaan ilmu itu sudah jelas dan banyak diterangkan didalam Al-Qur'an dan sunnah serta qoulnya para ulama. Mangkanya statement seperti itu sangat berbahaya, sebab nantinya bisa mendorong orang-orang awam untuk belajar kepada orang yang bukan ahli ilmu asalkan dia seorang habib atau keturunan nabi. Belajar ilmu kepada orang bodoh yang tidak punya ilmu, apa yang mau diambil? Begitulah logikanya.

Tapi jika yang dimaksud adalah utama dari segi nasab, maka no problem. Sebab orang biasa tentu beda dengan orang yang punya garis nasab kepada nabi. Hanya saja antara keturunan nabi dan orang biasa yang alim itu punya keistimewaan masing-masing, dan keistimewaan ilmu itu melebihi keistimewaan nasab. Contoh, Allah mengangkat derajat nabi adam yang diciptakan dari tanah, lalu para malaikat bersujud padahal dari segi karakter perciptaan kedua itu berbeda jauh. Nah itu semua dikarenakan nabi adam diberikan sesuatu yang tidak Allah berikan kepada para malaikat, yaitu ilmu.

Syeikh Ismail Utsman Al-Yamani mengatakan :

ุงู„ุดุฑูŠู ุฃูุถู„ ู…ู† ุญูŠุซ ุงู„ู†ุณุจ، ูˆุงู„ุนุงู„ู… ุฃูุถู„ ู…ู† ุญูŠุซ ุงู„ุนู„ู…، ูˆูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุนู„ู… ุชููˆู‚ ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุณุจ

“Seorang syarif (keturunan nabi) itu memiliki keutamaan dari segi nasab, sedangkan seorang alim itu mempunyai keutamaan dari segi ilmu. Dan keutamaan ilmu tentu melebihi keutamaan nasab” (Qurotul 'Ain Fatawa Ulama Haromain : 1/281)

Lalu muncul pertanyaan, adakah yang lebih utama daripada keutamaan ilmu? Maka jawabannya ada, yaitu keutamaan takwa.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu beliau berkata :

ุณุฆู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุฃูƒุฑู… ู‚ุงู„ ุฃูƒุฑู…ู‡ู… ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃุชู‚ุงู‡ู…

“Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : Siapakah manusia yang paling mulia wahai Rasulullah? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menjawab : Manusia yang paling mulia diantara mereka adalah yang paling bertakwa” (HR. Bukhari : 4689)

Dalam keterangan lain disebutkan :

ูˆุดุฑู ุงู„ุนู„ู… ุฃูุถู„ ู…ู† ุญูŠุซ ุงู„ุชู‚ุฏู… ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู…ู†ุตุจ ุงู„ุฅูุชุงุก ูˆุงู„ู‚ุถุงุก ูˆุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ. ูˆูŠู†ุธุฑ ููŠ ู…ู†ุตุจ ุงู„ุฎู„ุงูุฉ، ูˆุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ุงู„ุนุธู…ู‰ ูู‡ู„ ูŠุณุชุญู‚ู‡ุง ู‚ุฑุดูŠ ุฌุงู‡ู„ ุฃูˆ ุนุฌู…ูŠ ูุงุถู„؟ ูˆู‡ุฐุง ูƒู„ู‡ ู…ุน ุงู„ุงุชุตุงู ุจุชู‚ูˆู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆุฅู„ุง ูุงู„ุนุงู„ู… ุงู„ูุงุณู‚ ูƒุฅุจู„ูŠุณ ูˆุงู„ุนุฑุจูŠ ุงู„ุฌุงู‡ู„ ูƒูุฑุนูˆู† ูˆูƒู„ุงู‡ู…ุง ู…ุฐู…ูˆู…

“Kemuliaan ilmu itu lebih utama dari sisi untuk didahulukan menjadi imam sholat, jabatan sebagai mufti, jabatan sebagai hakim, dan sebagainya. Dan yang menjadi pertimbangan juga adalah dalam rangka pemilihan kholifah. Maka apakah 'arobi (keturunan nabi) yang bodoh atau orang ajam (orang biasa tapi alim) yang lebih utama? Ini semua dengan (catatan) mereka memiliki sifat takwa kepada Allah. Sebab jika tidak, maka orang alim yang fasiq itu seperti iblis, dan 'arobi (keturunan nabi) yang bodoh itu seperti fir'aun yang mana kedua-duanya sangat tercela” (Masbuq Adz-Dzahab fi Fadhlil Arob wa Syaroful Ilmi 'Ala Syarofin Nasab : 15)

Nah demikianlah, semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

Selasa, Agustus 01, 2023

TANYA JAWAB - MAKNA MENCINTAI KARENA ALLAH


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ramai org berkata dgn kalimat "aku mencintaimu karena Allah", itu maksudnya bagaimana ya ust๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Makna mencintai karena Allah adalah mencintai seseorang dengan disertai pengharapan segala bentuk kebaikan dari orang yang dicintai. Dan disaat seseorang mencintai sesuatu, hal itu bukan karena alasan apapun, tapi karena memang Allah menyukai atau mencintai sesuatu itu sendiri. Dan itu semua dilakukan dengan maksud untuk ta'abud ilallah (ibadah kepada Allah). 

Contoh seorang laki-laki yang mengajak seorang perempuan untuk menikah, itu bisa saja karena laki-laki tersebut sekedar suka dan bisa juga karena sekedar punya hajat supaya terhindar dari perbuatan haram, yaitu zina. Maka yang demikian itu bisa saja disebut cinta karena Allah, sebab pernikahan itu merupakan jalan untuk bisa menghalalkan sesuatu yang sebelumnya diharamkan. Dan tentu saja Allah sangat menyukai yang halal, nah itu semua dilakukan sebagai bentuk ibadah kepada Allah.

Oleh karena itu, mencintai karena Allah bukanlah sesuatu yang timbul atas dorongan syahwat atau hawa nafsu yang kemudian dimanipulasi menjadi atas nama cinta, sebab Allah sangat tidak menyukai hal itu. Jadi jika ada orang yang mengatakan cinta tapi mengajak kepada keburukan, maka sudah fix kalau itu bukanlah cinta, melainkan syahwat atau hawa nafsu.

๐Ÿ“š Keterangan :

ู…ู† ุฃุญุจ ุงู„ู„ู‡ ุฃูŠ ู„ุฃุฌู„ู‡ ูˆู„ูˆ ุฌู‡ู‡ ู…ุฎู„ุตุง ู„ุง ู„ู…ูŠู„ ู‚ู„ุจู‡ ูˆู‡ูˆู‰ ู†ูุณู‡

“Orang yang mencintai karena Allah, yakni cinta yang semata-mata (untuk mengharapkan keridhoan Allah). Bukan sesuatu yang timbul karena kecondongan hati dan juga dorongan hawa nafsu”

๐Ÿ“• (Faidhul Qodir juz 6, hlm. 38)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

๏ปฃ๏ปฆ ๏ปง๏ปœ๏บข ๏บ๏ปฃ๏บฎ๏บƒ๏บ“ ๏บป๏บŽ๏ปŸ๏บค๏บ” ๏ปŸ๏ปด๏บ˜๏บค๏บผ๏ปฆ ๏บ‘๏ปฌ๏บŽ ๏ป‹๏ปฆ ๏ปญ๏บณ๏ปฎ๏บ๏บฑ ๏บ๏ปŸ๏บธ๏ปด๏ป„๏บŽ๏ปฅ ๏ปณ๏บผ๏ปฎ๏ปฅ ๏บ‘๏ปฌ๏บŽ ๏บฉ๏ปณ๏ปจ๏ปช ๏บƒ๏ปญ ๏ปŸ๏ปด๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏ปฃ๏ปจ๏ปฌ๏บŽ ๏ปŸ๏ปช ๏ปญ๏ปŸ๏บช ๏บป๏บŽ๏ปŸ๏บข ๏ปณ๏บช๏ป‹๏ปฎ ๏ปŸ๏ปช ๏ปญ๏บƒ๏บฃ๏บ ๏บฏ๏ปญ๏บŸ๏บ˜๏ปช ๏ปท๏ปง๏ปฌ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บ” ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ ๏ปซ๏บฌ๏ปฉ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ป˜๏บŽ๏บป๏บช ๏บ๏ปŸ๏บช๏ปณ๏ปจ๏ปด๏บ” ๏ป“๏ปฌ๏ปฎ ๏ปฃ๏บค๏บ ๏ป“๏ปฒ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช

“Orang yang menikahi seorang perempuan sholehah dengan maksud agar terhindar dari godaan setan, kemudian agar terjaga agamanya (dari perkara-perkara yang nyeleweng), atau dengan maksud agar diberikan keturunan sholeh yang akan mendoakannya, dan dia mencintai istrinya karena istrinya (tersebut dianggap) bisa menjadi sarana (penyempurna) agamanya, maka itu semua masuk dalam kategori mencintai karena Allah”

๐Ÿ“• (Ihya Ulumuddin juz 2, hlm. 163)

๐Ÿ“š Dan juga :

ู…ู† ุฃุญุจ ููŠ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฃุจุบุถ ููŠ ุงู„ู„ู‡ ูˆูˆุงู„ู‰ ููŠ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนุงุฏู‰ ููŠ ุงู„ู„ู‡، ูุฅู†ู…ุง ุชู†ุงู„ ูˆู„ุงูŠุฉ ุงู„ู„ู‡ ุจุฐู„ูƒ، ูˆู„ู† ูŠุฌุฏ ุนุจุฏ ุทุนู… ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูˆุฅู† ูƒุซุฑุช ุตู„ุงุชู‡ ูˆุตูˆู…ู‡ ุญุชู‰ ูŠูƒูˆู† ูƒุฐู„ูƒ، ูˆู‚ุฏ ุตุงุฑุช ุนุงู…ุฉ ู…ุคุงุฎุงุฉ ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ู‰ ุฃู…ุฑ ุงู„ุฏู†ูŠุง، ูˆุฐู„ูƒ ู„ุง ูŠุฌุฏูŠ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ู‡ ุดูŠุฆุง

“Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berteman karena Allah dan memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya pertolongan Allah akan diperoleh dengan sebab itu. Seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman meskipun dia banyak melakukan sholat dan puasa sampai dirinya melakukan hal itu (mencintai, membenci, berteman dan memusuhi karena Allah). Sungguh kebanyakan pertemanan seseorang hanya dilandaskan karena kepentingan duniawi saja, maka pertemanan yang semacam itu tidak akan memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka”

๐Ÿ“• (Jami'ul Ulum wal Hikam, hlm. 34)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...