Sabtu, September 28, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM MEWARNAI RAMBUT


🔄 Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bagaimana hukum mengecat rambut menurut pandangan islam apakah hal itu di bolehkan? Soalnya pernah dengar juga katanya tidak boleh dan mengecat rambut itu termasuk kebiasaannya anak-anak yang nakal.

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Kalau mewarnai rambut dengan selain warna hitam misalnya kuning, merah dan yang lainnya maka hukumnya diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Terlebih lagi jika sudah beruban. Adapun mewarnai rambut dengan warna hitam, maka para ulama berbeda pendapat. Madzhab Syafi'i khususnya, pendapat yang shohih dalam madzhab ini menyatakan bahwa mewarnai rambut dengan warna hitam hukumnya adalah haram. Lebih-lebih jika ada tujuan untuk menipu, maka sepakat para ulama mengharamkannya. Sedangkan pendapat yang lainnya (bukan pendapat yang shohih) menyatakan makruh, bahkan ada yang menyatakan boleh secara mutlak. Kemudian pendapat yang lainnya menyatakan boleh jika hal itu dilakukan saat sedang berperang melawan musuh yakni jihad, atau saat seorang istri ingin menyenangkan suaminya (tujuan berhias).

📚 Keterangan :

(المجموع شرح المهذب : ج ١ ص ٣٤٧)
(فرع) اتفقوا على ذم خضاب الرأس أو اللحية بالسواد. ثم قال الغزالي في الإحياء والبغوي في التهذيب وآخرون من الأصحاب: هو مكروه، وظاهر عباراتهم أنه كراهة تنزيه، والصحيح بل الصواب أنه حرام، وممن صرح بتحريمه صاحب الحاوي في باب الصلاة بالنجاسة قال: إلا أن يكون في الجهاد

“(Cabang), para ulama sepakat untuk mengecam (mencela) orang yang mewarnai rambut atau jenggotnya dengan warna hitam. Kemudian imam Ghozali didalam kitab Ihya Ulumuddin dan imam Al-Baghowi didalam kitab At-Tahdzib serta beberapa ulama lainnya dari kalangan ashab Syafi'i menyatakan bahwa yang demikian itu hukumnya adalah makruh. Dan dzohirnya dari pernyataan mereka bahwa hal itu hukumnya adalah makruh tanzih. Namun yang shohih bahkan yang lebih shohih bahwa hukumnya adalah haram. Dan diantara ulama yang secara shorih menyatakan terkait haramnya mewarnai rambut dengan warna hitam adalah pengarang kitab Al-Hawi Al-Kabir (yakni imam Al-Mawardi) rahimahullah didalam bab sholat yang berkaitan dengan masalah najis. Beliau menyatakan: Kecuali jika hal itu dilakukan saat sedang jihad (maka tidak haram)”

📚 Tambahan keterangan :

(المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ١٤ ص ٨٠)
استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم خضابه بالسواد على الأصح، وقيل: يكره كراهة تنـزيه والمختار التحريم لقوله صلى الله عليه وسلم: اجتنبوا السواد هذا مذهبنا

“Disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan untuk mewarnai ubannya dengan warna kuning atau merah, dan diharamkan mewarnainya dengan warna hitam menurut pendapat yang shohih. Namun dikatakan: Hukumnya makruh tanzih. Dan pendapat yang dipilih (oleh para ulama) adalah haram berdasarkan sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Dan hindarilah warna hitam, inilah pendapat madzhab kami”

📚 Tambahan keterangan :

(إعانة الطالبين : ج ٢ ص ٣٨٦)
(وقوله: بحمرة أو صفرة) أي لا بسواد، أما به فيحرم إن كان لغير إرهاب العدو في الجهاد، وذلك لخبر أبي دواد والنسائي وابن حبان في صحيحه والحاكم، عن ابن عباس رضي الله عنهما، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام، لا يريحون رائحة الجنة

“Pernyataan mushonnif: (Mewarnainya) dengan warna merah atau kuning, yaitu tidak dengan warna hitam. Adapun jika dengan warna hitam, maka hal itu diharamkan (jika tidak bertujuan) untuk menakut-nakuti musuh saat sedang jihad. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari imam Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Hibban didalam kitab shohihnya dan Al-Hakim, yakni hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dimana beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Akan ada sekelompok orang diakhir zaman nanti yang mewarnai rambut mereka dengan warna hitam seperti layaknya tembolok burung merpati, dan mereka tidak akan pernah mencium bau surga”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي : ج ٣ ص ٩٩)
يحرم صبغ شعر الرأس واللحية بالسواد للرجال والنساء، ويستحب صبغ الشعر بغير السواد للرجال والنساء بصفرة أو حمرة

“Diharamkan mewarnai rambut kepala dan jenggot dengan warna hitam bagi laki-laki dan perempuan, dan disunnahkan mewarnai rambut dengan selain warna hitam bagi laki-laki dan perempuan seperti warna kuning atau merah”

📚 Tambahan keterangan :

(فتح الباري بشرح البخاري : ج ١٠ ص ٣٥٤)
وقد تمسك به من أجاز الخضاب بالسواد وقد تقدمت في باب ذكر بني إسرائيل من أحاديث الأنبياء مسألة استثناء الخضب بالسواد لحديثي جابر وابن عباس، وأن من العلماء من رخص فيه في الجهاد ومنهم من رخص فيه مطلقا وأن الأولى كراهته وجنح النووي إلى أنه كراهة تحريم، وقد رخص فيه طائفة من السلف منهم سعد بن أبي وقاص وعقبة بن عامر والحسن والحسين وجرير وغير واحد واختاره ابن أبي عاصم في كتاب الخضاب

“Dan dengannya telah ditetapkan, (yakni) yang membolehkan mewarnai rambut dengan warna hitam. Dan telah disebutkan sebelumnya didalam bab yang menyebutkan tentang Bani Israil dari hadits-hadits nabi terkait masalah pengecualian mewarnai rambut dengan warna hitam berdasarkan hadits Jabir dan Ibnu Abbas. Dan diantara ulama ada yang memberikan keringanan (atau membolehkannya) saat sedang jihad, dan ada pula yang memberikan keringanan (atau membolehkannya) secara mutlak. Dan yang lebih utama hukumnya adalah makruh. Sedangkan imam Nawawi rahimahullah lebih condong pada pendapat yang menyatakan bahwa mewarnai rambut dengan warna hitam itu hukumnya adalah makruh tahrim. Dan sekelompok ulama dari kalangan salaf pun telah memberikan keringanan (atau membolehkan hal tersebut), diantaranya adalah Sa'ad bin Abi Waqqas, Uqbah bin Amir, Hasan, Husain, Jarir dan yang lainnya serta dipilih (pendapat tersebut) oleh Ibnu Abi Ashim didalam kitab Al-Khidhob”

📚 Tambahan keterangan :

(فتح الباري بشرح البخاري : ج ١٠ ص ٣٥٤)
فمن كان في مثل حال أبي قحافة استحب له الخضاب لأنه لا يحصل به الغرور لأحد ومن كان بخلافه فلا يستحب في حقه، ولكن الخضاب مطلقا أولى لأنه فيه امتثال الأمر في مخالفة أهل الكتاب، وفيه صيانة الشعر عن تعلق الغبار وغيره به إلا إن كان من عادة أهل البلد ترك الصبغ وأن الذي ينفرد بدونهم بذلك يصير في مقام الشهرة فالترك في حقه أولى

“Barang siapa yang berada dalam keadaan seperti Abu Quhafah (yakni telah beruban), maka disunnahkan baginya untuk mewarnai (rambut yang telah beruban tersebut), karena tidak akan menimbulkan kecongkakan bagi siapapun (sebab mewarnai rambut). Dan barang siapa yang keadaannya berbeda dengan Abu Quhafah (yakni tidak beruban), maka tidak disunnahkan baginya (untuk mewarnai rambut). Akan tetapi, (mewarnai rambut) secara mutlak (entah telah beruban atau belum) itu lebih utama karena didalamnya terdapat pelaksanaan perintah untuk menyelisihi ahli kitab serta untuk melindungi rambut dari debu dan kotoran lainnya. Kecuali jika sudah menjadi kebiasaan penduduk setempat untuk tidak mewarnai rambut dan orang yang melakukannya hanya sendirian lalu menjadi terkenal (karena sebab itu), maka tidak mewarnai rambut adalah lebih utama”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٤ ص ٢٦٧٩)
وأما خضاب الشعر بالأحمر والأصفر والأسود وغير ذلك من الألوان فهو جائز، إلا عند الشافعية فإنه يحرم الخضاب بالسواد، وقال غيرهم بالكراهة فقط لما رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي عن جابر بن عبد الله قال: جيء بأبي قحافة يوم الفتح إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكأن رأسه ثغامة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اذهبوا به إلى بعض نسائه، فلتغيره بشيء وجنبوه السواد

“Adapun mewarnai rambut dengan warna merah, kuning, hitam, dan warna selain daripada itu adalah diperbolehkan. Kecuali menurut ulama kalangan madzhab Syafi'i yang menyatakan haram mewarnai rambut dengan warna hitam. Adapun ulama yang lainnya hanya menghukumi makruh saja berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh para sejumlah (periwayat hadits) kecuali imam Bukhari dan imam Tirmidzi (berdasarkan hadits) yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah dimana beliau menyatakan: Abu Quhafah pernah datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Fathu Mekkah, dan rambut kepalanya seperti tsaghamah (yang serba putih). Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: Bawalah dia kepada sebagian istrinya lalu ubahlah (warna rambutnya) dengan sesuatu, namun hindarilah warna hitam”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٤ ص ٢٦٨٠)
واختلف السلف من الصحابة والتابعين في الخضاب وجنسه، فقال بعضهم: ترك الخضاب أفضل، لحديث في النهي عن تغيير الشيب، ولأنه صلى الله عليه وسلم لم يغير شيبه. وقال آخرون: الخضاب أفضل، فقد خضب جماعة من الصحابة والتابعين ومن بعدهم للأحاديث الواردة في ذلك. ثم اختلف هؤلاء، فكان أكثرهم يخضب بالصفرة أي الشقرة، منهم ابن عمرو وأبو هريرة وآخرون وروي ذلك عن علي

“Para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi'in berbeda pendapat mengenai hukum mewarnai rambut dan jenisnya. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa meninggalkan (atau tidak) mewarnai rambut adalah lebih utama berdasarkan hadits yang melarang untuk merubah warna rambut yang sudah beruban. Dan karena nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak merubah warna rambut beliau yang sudah beruban. Adapun ulama yang lainnya menyatakan bahwa mewarnai rambut adalah lebih utama, karena sekelompok sahabat dan tabi'in serta orang-orang setelahnya itu mewarnai rambut mereka berdasarkan hadits-hadits yang meriwayatkan tentang hal itu. Kemudian mereka berbeda pendapat, dan kebanyakan dari mereka mewarnai rambutnya dengan warna kuning, yaitu warna pirang. Yang diantaranya adalah Ibnu Amr, Abu Hurairah dan yang lainnya radhiyallahu 'anhum ajma'in. Riwayat dari Ali radhiyallahu 'anhu pun demikian”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه على المذاهب الأربعة : ج ٢ ص ٤٥)
الشافعية قالوا: يكره صباغة اللحية والشعر بالسواد، إلا الخضاب بالصفرة والحمرة فإنه جائز إذا كان لغرض شرعي كالظهور بمظهر الشجاع أمام الأعداء في الغزو ونحوه

“Para ulama madzhab Syafi'i menyatakan: Mewarnai jenggot dan rambut dengan warna hitam hukumnya adalah makruh, kecuali dengan warna kuning dan merah maka diperbolehkan jika ada tujuan syariat (yang hendak dicapai) seperti untuk menonjolkan (menampakkan) keberanian dihadapan musuh saat peperangan dan yang lainnya”

📚 Tambahan keterangan :

(تحفة الأحوذي : ج ٥ ص ٣٦٠)
أن المراد بالخضب بالسواد في هذا الحديث الخضب به لغرض التلبيس والخداع لا مطلقا جمعا بين الأحاديث المختلفة وهو حرام بالاتفاق

“Bahwasanya maksud (larangan) mewarnai (rambut) dengan warna hitam yang ada dalam hadits ini adalah mewarnainya dengan bertujuan untuk menipu dan mengelabui, bukan secara mutlak (dilarang) berdasarkan penggabungan antara hadits-hadits yang berbeda. Dan yang demikian itu (yakni bertujuan untuk menipu dan mengelabui) hukumnya adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama”

📚 Tambahan keterangan :

(الموسوعة الفقهية الكويتية : ج ١١ ص ٣٥١)
وقال النووي في روضة الطّالبين: خضاب المرأة بالسواد إن كانت خلية من الزوج وفعلته فهو حرام، وإن كانت زوجة وفعلته بإذنه فجائز على المذهب، وقيل: وجهان كوصل الشر. وقال الرملي: يحرم على المرأة الخضاب بالسواد، فإن أذن لها زوجها في ذلك جاز

“Al-Imam Nawawi rahimahullah didalam kitabnya Raudhatut Thalibin menyatakan: Seorang perempuan yang mewarnai rambutnya dengan warna hitam, jika dia melakukannya dalam keadaan tidak bersuami maka hukumnya adalah haram. Namun jika dia berstatus sebagai seorang istri dan melakukannya atas izin suami, maka hal itu diperbolehkan menurut qoul madzhab. Dan ada dua pendapat mengenai hal tersebut seperti halnya (dalam permasalahan) menyambung rambut. Kemudian imam Romli menyatakan: Seorang perempuan yang mewarnai rambutnya dengan warna hitam, maka hukumnya adalah haram. Namun jika suaminya mengizinkan, maka hal itu diperbolehkan”

📚 Tambahan keterangan :

(دار الافتاء المصرية، رقم الفتوى : ٩٨٢)
وقد ذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والحنابلة إلى القول بالكراهة وليس بالجزم بالتحريم، بل ذهب بعضهم إلى الجواز استنادا لبعض الآثار الواردة عن الحسن والحسين وغيرهما أنهم كانوا يخضبون بالسواد كما في المصنف لابن أبي شيبة، كما استثنى الإمام النووي رحمه الله في روضة الطالبين المرأة تتزين لزوجها فتخضب بالسواد، وقال: بجواز ذلك لتحقق المصلحة وانتفاء المفسدة، واعتمده الرملي وغيره من المحققين

“Jumhur fuqoha dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali menyatakan bahwa (mewarnai rambut dengan warna hitam) hukumnya adalah makruh, dan mereka tidak pernah menetapkan pendapat terkait keharamannya. Bahkan sebagian dari mereka menyatakan bahwa yang demikian itu diperbolehkan berdasarkan beberapa atsar yang datang dari sayyidina Hasan, Husain dan yang lainnya dimana mereka pernah mewarnai rambutnya dengan warna hitam sebagaimana yang tercantum didalam kitab Al-Mushonnaf karya Ibnu Abi Syaibah. Al-Imam Nawawi rahimahullah juga didalam kitabnya Raudhatut Thalibin mengecualikan bahwa seorang perempuan yang berhias untuk suaminya itu diperbolehkan mewarnai rambutnya dengan warna hitam. Beliau menyatakan: Hal itu diperbolehkan demi meraih maslahat serta menghindari mafsadat, dan pendapat ini juga dikukuhkan oleh imam Romli serta para ulama lainnya dari kalangan para ahli tahqiq”

والله اعلم بالصواب

Selasa, September 17, 2024

TANYA JAWAB - LEBIH UTAMA ILMU ATAU NASAB?


🔄 Pertanyaan :

Assalamualaikum wr wb...
Mau bertanya, apa bnr pernyataan "belajar kpd satu habib / keturunan nabi yg bodoh lebih utama drpr bljr kpd 70 org alim yg bkn habib / keturunan nabi" ?
Dan apa bnr keturunan nabi itu lbih utama drpd org berilmu ? Klo iyah apa alasannya ?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Pernyataan tersebut sangat tidak benar, bahkan termasuk pernyataan menyimpang dan pelecehan terhadap keutamaan serta kemuliaan ilmu. Karena dari orang bodoh, ilmu apa yang bisa kita ambil darinya? Sama sekali tidak ada, logikanya demikian. Oleh karenanya, belajar itu harus kepada orang alim entah dia seorang syarif (keturunan nabi) atau bukan.

Adapun masalah keutamaan, memang benar bahwa seorang syarif itu lebih utama daripada orang alim jika ditinjau dari segi nasabnya saja, karena seorang syarif jelas berbeda dengan orang biasa dari segi dzatnya. Namun, seorang alim jauh lebih utama jika ditinjau dari segi ilmunya. Bahkan satu orang alim jika dibandingkan dengan enam puluh orang syarif yang bodoh, itu masih lebih utama satu orang alim tersebut meskipun bukan seorang syarif. Karena pada intinya, kemuliaan ilmu jauh lebih tinggi daripada kemuliaan nasab. Dan diatas kemuliaan ilmu masih ada kemuliaan takwa, maka itulah kemuliaan tertinggi dihadapan sang kholiq.

Jadi kesimpulannya, jangan sampai ada orang awam yang tergiur dan tertipu dengan seseorang yang dianggap sebagai keturunan nabi (padahal masih belum jelas juga) lalu menimba ilmu darinya meskipun dia bodoh. Karena sekali lagi, tidak ada ilmu yang bisa kita ambil dari orang bodoh meskipun dari segi nasab umpamanya dia memang benar sebagai seorang syarif (keturunan nabi).

📚 Keterangan :

(مراقي العبودية : ص ٢٨٤)
أن من انتسب إلى رسول الله وهو من أولاد سيدنا الحسن أو الحسين وهو غير عالم يفوق على غيره ممن يساويه في الرتبة بستين درجة، وأن العالم الذي لم ينسب إليه يفوق على غير العالم ممن انتسب إليه بستين درجة

“Orang yang bernasab kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melalui jalur sayyidina Hasan atau sayyidina Husein dan dia tidak alim, itu enam puluh derajat lebih utama daripada orang biasa yang sama-sama tidak alim. Sedangkan orang biasa yang tidak punya garis nasab kepada beliau namun alim, maka dia enam puluh derajat lebih utama daripada orang yang mempunyai garis nasab kepada beliau namun tidak alim”

📚 Tambahan keterangan :

(قرة العين بفتاوى علماء الحرمين : ص ٤)
(ما قولكم) في الشريف هل هو أفضل من العالم أم العالم أفضل؟ (الجواب) الشريف أفضل من العالم من حيث النسب والعالم أفضل من حيث العلم، وفضيلة العلم تفوق فضيلة النسب

“Apa pendapatmu mengenai seorang syarif (keturunan nabi), apakah dia lebih utama daripada seorang alim ataukah seorang alim yang lebih utama daripada seorang syarif? Maka dijawab: Seorang syarif lebih utama dari segi nasabnya saja, namun seorang alim lebih utama dari segi ilmunya. Dan keutamaan ilmu tentu melebihi keutamaan nasab”

📚 Tambahan keterangan :

(مسبوك الذهب في فضل العرب وشرف العلم على شرف النسب : ص ٥١)
وشرف العلم أفضل من حيث التقدم في الصلاة ومنصب الإفتاء والقضاء وغير ذلك. وينظر في منصب الخلافة والإمامة العظمى، فهل يستحقها قرشي جاهل أو عجمي فاضل؟ وهذا كله مع الاتصاف بتقوى الله تعالى وإلا فالعالم الفاسق كإبليس والعربي الجاهل كفرعون وكلاهما مذموم

“Kemuliaan ilmu itu lebih utama dari segi didahulukan menjadi imam sholat, menjadi mufti, menjadi hakim dan lain sebagainya. Dan yang menjadi pertimbangan juga adalah dalam rangka pemilihan seorang kholifah serta imamul a'dzhom. Maka apakah seorang Quraisy (keturunan nabi) yang bodoh atau orang ajam (orang biasa tapi alim) yang lebih utama? Ini semua dengan (catatan) mereka memiliki sifat takwa kepada Allah. Sebab jika tidak, maka orang alim yang fasiq itu seperti iblis, dan 'arobi (keturunan nabi) yang bodoh itu seperti fir'aun yang mana kedua-duanya sangat tercela”

📚 Tambahan keterangan :

(مسبوك الذهب في فضل العرب وشرف العلم على شرف النسب : ص ٥٢)
فمن اغتر في الكفاءة بشرف النسب فيقال له: إن العجمي وإن كان ليس كفءا للعربية، فالعربي الفاسق أيضا ليس كفءأ للعجمية المرضية، فإن الشرع أيضا يعتبر في الكفاءة منصب الدين كما يعتبر منصب النسب. ولا يكافئ العربي الجاهل بنت العالم صرح بذلك الشافعية. إذا علمت هذا فاعلم أن الذي يرجع إليه ويعول في الفضل عليه هو الشرف الكسبي الذي منه العلم والتقوى وهو الفضل الحقيقي، لا مجرد الشرف الذاتي الذي هو شرف النسب

“Barang siapa yang tertipu (terperdaya) terkait permasalahan kafaah (kesetaraan) kemuliaan nasab, maka dikatakan kepadanya: Sesungguhnya orang ajam meskipun tidak sekufu (setara) dengan 'arobi, maka 'arobi yang fasiq juga tidak sekufu (setara) dengan orang ajam yang terpuji. Karena yang menjadi pertimbangan syariat adalah kedudukan agama sebagaimana syariat juga telah mempertimbangkan kedudukan nasab. Dan 'arobi yang bodoh tidak setara dengan putrinya seorang alim yang mana hal itu telah dijelaskan oleh para ulama madzhab Syafi'i. Oleh karenanya jika kamu telah mengetahui hal ini, maka ketahuilah bahwa yang menjadi rujukan dalam persoalan keutamaan adalah kemuliaan yang diperoleh melalui usaha yang dari sanalah ilmu dan ketakwaan muncul, yaitu keutamaan hakiki. Bukan sekedar kemuliaan dzat yang bersifat bawaan dari nasab”

📚 Tambahan keterangan :

(تفسير القران العظيم : ج ٧ ص ٣٨٦)
وقوله: (إن أكرمكم عند الله أتقاكم) أي إنما تتفاضلون عند الله بالتقوى لا بالأحساب

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, yakni sesungguhnya keutamaan kalian disisi Allah itu hanya dengan ketakwaan, bukan dengan faktor keturunan”

والله اعلم بالصواب 

Jumat, September 13, 2024

TANYA JAWAB - SEPUTAR INTERAKSI DENGAN ORANG KAFIR


🔄 Pertanyaan : 

Sekarang sedang viral di negara Indonesia yang mana rakyatnya didominasi oleh umat islam. Kemarin ada berita bahwa negara Indonesia kedatangan seorang Paus Franciscus Ketika datang banyak yang menyambutnya bahkan ada beberapa orang beragama islam sampe sungkem mencium tangan Paus tersebut. Dan Paus tersebut mengunjungi masjid istiqlal di jakarta. Kedatangan Paus masuk masjid berceramah dan menyampaikan pesan. Sebagian dari DKM masjid pun sampe mencium keningnya Paus. Dan ketika waktu maghrib tepatnya tanggal 3-6 itu menteri agama menyuruh kominfo agar televisi Indonesia tidak menyuarakan adzan dan hal tersebut cukup dengan teks. Juga ada seorang tokoh sebagai penyampaian sambutan mengatakan kalimat yang mulia Paus. Semua itu menjadi ramai diperbincangkan terkhusus di media sosial. Konon katanya Paus tersebut datang ke Indonesia sebagai kepala negara Vatikan bukan sebagai tokoh agama, pertanyaannya :

1. Bagaimana hukumnya mencium tangan Paus sebagai bentuk ta'dzim/memuliakan ?

2. Bagaimana hukumnya mengijinkan Paus masuk ke dalam masjid dan membahas sesuatu di dalamnya bersama tokoh muslim yang ada disana ?

➡️ Jawaban :

1. Haram bersikap ta'dzim kepada orang kafir dalam bentuk apapun, dan mencium tangan itu merupakan manifestasi atau perwujudan dari sikap ta'dzim seseorang kepada orang yang dicium tangannya.

2. Orang kafir diperbolehkan masuk ke dalam masjid (selain Masjidil Haram) jika ada izin dari pengurus masjid tersebut dan melakukan perbincangan didalamnya bersama orang-orang muslim yang sedang berada disana.

📚 Keterangan :

وسئل نفع الله بعلومه هل يجوز للمسلم ان يقبل يدي الحربي المشرك وان يقوم إليه وان يصافحه وأن يخضع إليه وكل ذلك لينا له منه مالية؟ فإذا قلتم بعدم الجواز فما يترتب عليه وماذا يلزمه؟ ( فأجاب) بقوله : لا يجوز للمسلم ان يعظم الكافر بنوع من أنواع التعظيم سواء المذكورات وغيرها، ومن فعل ذلك طمعا في مال الكافر فهو آثم جاهل، كيف وقد قال صلى الله عليه وسلم : من تواضع لغني لأجل غناه ذهب ثلثا دينه

“Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah pernah ditanya mengenai apakah seorang muslim boleh mencium tangan orang kafir harbi, atau berjabat tangan dengannya dan menundukkan diri dihadapannya yang semua itu karena mengharap akan mendapatkan harta dari orang kafir tersebut? Jika engkau mengatakan bahwa yang demikian itu tidak diperbolehkan, maka apa akibatnya dan apa yang harus diperbuat? Maka dijawab oleh imam Ibnu Hajar: Seorang muslim tidak boleh ta'dzim kepada orang kafir dengan bentuk ta'dzim apapun entah semisal yang disebutkan (didalam pertanyaan) ataupun yang lainnya. Oleh karena itu barang siapa yang ta'dzim kepada orang kafir dengan harapan bahwa dia akan mendapatkan harta dari orang kafir tersebut, maka dia adalah orang bodoh yang berdosa. Karena bagaimana pun juga nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: Barang siapa yang merendah dihadapan orang kaya karena kekayaannya, maka hilanglah sepertiga dari agamanya” [1]

📚 Tambahan keterangan :

فصل: ولا يجوز تصديرهم في المجالس ولا بداءتهم بالسلام لما روى أبو هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تبدءوا اليهود والنصارى بالسلام وإذا لقيتم أحدهم في الطريق، فاضطروهم إلى أضيقها. أخرجه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

“Pasal: Tidak boleh mengutamakan (memuliakan orang kafir) ketika berada disebuah majelis, dan tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada mereka berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan jika kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka dijalan, maka desaklah mereka ke jalan yang paling sempit. Hadits ini diriwayatkan oleh imam Tirmidzi, dan beliau mengatakan bahwa hadits ini derajatnya hasan shohih” [2]

📚 Tambahan keterangan :

واعلم أن كون المؤمن مواليا للكافر يحتمل ثلاثة أوجه أحدها : أن يكون راضيا بكفره ويتولاه لأجله، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوبا له في ذلك الدين، وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر ، فيستحيل أن يبقى مؤمناً مع كونه بهذه الصفة . وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر ، وذلك غير ممنوع منه . والقسم الثالث : وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة، والمظاهرة، والنصرة إما بسبب القرابة، أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه، وذلك يخرجه عن الإسلام

“Ketahuilah bahwa seorang mukmin menjalin sebuah ikatan dengan orang kafir itu berkisar pada tiga hal. Pertama, dia ridho atas kekufurannya dan menjalin ikatan karena faktor tersebut. Hal semacam ini dilarang, karena siapapun yang melakukan hal itu berarti sama saja dengan dia menganggap benar agama orang kafir tersebut. Dan menganggap benar terhadap sebuah kekufuran adalah bentuk kekufuran tersendiri. Dan ridho terhadap kekufuran pun adalah bentuk kekufuran itu sendiri, sehingga mustahil bagi seorang mukmin untuk tetap dianggap beriman dalam keadaan seperti itu. Kedua, interaksi sosial yang baik didalam kehidupan dunia sebatas dzohirnya saja, dan hal ini tidak dilarang. Ketiga, pertengahan antara dua hal diatas. Yaitu membantu mereka disebabkan jalinan kekerabatan atau karena kesenangan, lalu disertai sebuah keyakinan bahwa agama mereka adalah agama yang batil. Hal tersebut tidak sampai menjerumuskan seorang mukmin pada kekafiran, namun dia tidak diperbolehkan (menjalin ikatan diatas). Sebab jalinan yang semacam ini (nomer tiga) terkadang memberi pengaruh untuk memuluskan jalan kekafiran dan keridhoan terhadap agamanya, dan faktor inilah yang dapat mengeluarkannya dari islam” [3]

📚 Tambahan keterangan :

قالت الشافعية يجوز دخول الكافر ولو غير كتابي المسجد بإذن المسلم إلا مسجد مكة وحرمها. قال النووي في المجموع، قال أصحابنا لا يكن كافر من دخول حرم مكة، وأما غيره فيجوز أن يدخل كل مسجد ويبيت فيه بإذن المسلمين ويمنع منه بغير إذن، ولو كان الكافر جنبا فهل يمكن من اللبث في المسجد فيه وجهان أصحهما يمكن

“Para ulama madzhab Syafi'i menyatakan bahwa orang kafir meskipun bukan dari golongan Ahli Kitab itu diperbolehkan masuk ke dalam masjid jika ada izin dari orang muslim, kecuali Masjidil Haram dan kawasan sekitarnya (maka tidak diperbolehkan). Al-Imam Nawawi didalam kitabnya Majmu' Syarah Muhadzdzab menyatakan: Para ashab Syafi'i menyatakan bahwa tidak mungkin (diperbolehkan) bagi orang kafir untuk masuk ke kawasan Masjidil Haram. Adapun masjid yang lainnya maka diperbolehkan bagi mereka untuk masuk dan bermalam didalamnya jika ada izin dari orang muslim, namun jika tidak ada izin maka dilarang untuk memasukinya. Dan seandainya orang kafir tersebut dalam keadaan junub, maka ada dua pendapat mengenai apakah mereka diperbolehkan menetap dimasjid atau tidak? Dan pendapat yang shohih menyatakan diperbolehkan” [4]

📚 Tambahan keterangan :

وثبت أنه صلى الله عليه وسلم أدخل الكفار مسجده، وكان ذلك بعد نزول براءة، فإنها نزلت سنة تسع، وقدم الوفد عليه سنة عشر وفيهم وفد نصارى نجران، وهم أول من ضرب عليهم الجزية فأنزلهم مسجده وناظرهم في أمر المسيح وغيره

“Dan telah tsabit sebuah hadits bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memasukkan orang-orang kafir ke dalam masjidnya dimana hal itu terjadi setelah turunnya Surah At-Taubah (mengenai najisnya orang musyrik) yang diturunkan pada tahun ke sembilan. Dan para tamu datang kepada beliau pada tahun ke sepuluh, dimana diantaranya ada tamu dari kalangan orang-orang Nasrani dari bani Najran yang merupakan orang pertama yang diwajibkan membayar jizyah. Beliau menampung mereka dimasjidnya dan bermunadzoroh dengan mereka mengenai perkara Al-Masih (nabi isa) dan perkara-perkara lainnya” [5]

📚 Tambahan keterangan :

قوله تعالى يا أيها الذين آمنوا إنما المشركون نجس فلا يقربوا المسجد الحرام بعد عامهم هذا وإن خفتم عيلة فسوف يغنيكم الله من فضله إن شاء إن الله عليم حكيم. وقال الشافعي رحمه الله : الآية عامة في سائر المشركين، خاصة في المسجد الحرام، ولا يمنعون من دخول غيره، فأباح دخول اليهودي والنصراني في سائر المساجد

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, oleh karena itu janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunianya jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Al-Imam Syafi'i rahimahullah mengatakan: Ayat ini umum untuk semua orang musyrik, dan khusus untuk Masjidil Haram (yang tidak boleh dimasuki oleh mereka). Namun mereka tidak dilarang masuk ke masjid-masjid lainnya, maka dari itu diperbolehkan bagi orang Yahudi dan Nasrani masuk ke masjid-masjid lainnya selain Masjidil Haram” [6]

والله اعلم بالصواب 

📕 Sumber :

1. Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubro : 4/223
2. Al-Mughni : 9/363
3. Tafsir Al-Kabir : 8/12
4. Majmu' Syarah Muhadzdzab : 19/437
5. Mughni Al-Muhtaj : 6/68
6. Tafsir Al-Qurthubi Surah : 9/28

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...