Selasa, September 17, 2024

TANYA JAWAB - LEBIH UTAMA ILMU ATAU NASAB?


🔄 Pertanyaan :

Assalamualaikum wr wb...
Mau bertanya, apa bnr pernyataan "belajar kpd satu habib / keturunan nabi yg bodoh lebih utama drpr bljr kpd 70 org alim yg bkn habib / keturunan nabi" ?
Dan apa bnr keturunan nabi itu lbih utama drpd org berilmu ? Klo iyah apa alasannya ?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Pernyataan tersebut sangat tidak benar, bahkan termasuk pernyataan menyimpang dan pelecehan terhadap keutamaan serta kemuliaan ilmu. Karena dari orang bodoh, ilmu apa yang bisa kita ambil darinya? Sama sekali tidak ada, logikanya demikian. Oleh karenanya, belajar itu harus kepada orang alim entah dia seorang syarif (keturunan nabi) atau bukan.

Adapun masalah keutamaan, memang benar bahwa seorang syarif itu lebih utama daripada orang alim jika ditinjau dari segi nasabnya saja, karena seorang syarif jelas berbeda dengan orang biasa dari segi dzatnya. Namun, seorang alim jauh lebih utama jika ditinjau dari segi ilmunya. Bahkan satu orang alim jika dibandingkan dengan enam puluh orang syarif yang bodoh, itu masih lebih utama satu orang alim tersebut meskipun bukan seorang syarif. Karena pada intinya, kemuliaan ilmu jauh lebih tinggi daripada kemuliaan nasab. Dan diatas kemuliaan ilmu masih ada kemuliaan takwa, maka itulah kemuliaan tertinggi dihadapan sang kholiq.

Jadi kesimpulannya, jangan sampai ada orang awam yang tergiur dan tertipu dengan seseorang yang dianggap sebagai keturunan nabi (padahal masih belum jelas juga) lalu menimba ilmu darinya meskipun dia bodoh. Karena sekali lagi, tidak ada ilmu yang bisa kita ambil dari orang bodoh meskipun dari segi nasab umpamanya dia memang benar sebagai seorang syarif (keturunan nabi).

📚 Keterangan :

(مراقي العبودية : ص ٢٨٤)
أن من انتسب إلى رسول الله وهو من أولاد سيدنا الحسن أو الحسين وهو غير عالم يفوق على غيره ممن يساويه في الرتبة بستين درجة، وأن العالم الذي لم ينسب إليه يفوق على غير العالم ممن انتسب إليه بستين درجة

“Orang yang bernasab kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melalui jalur sayyidina Hasan atau sayyidina Husein dan dia tidak alim, itu enam puluh derajat lebih utama daripada orang biasa yang sama-sama tidak alim. Sedangkan orang biasa yang tidak punya garis nasab kepada beliau namun alim, maka dia enam puluh derajat lebih utama daripada orang yang mempunyai garis nasab kepada beliau namun tidak alim”

📚 Tambahan keterangan :

(قرة العين بفتاوى علماء الحرمين : ص ٤)
(ما قولكم) في الشريف هل هو أفضل من العالم أم العالم أفضل؟ (الجواب) الشريف أفضل من العالم من حيث النسب والعالم أفضل من حيث العلم، وفضيلة العلم تفوق فضيلة النسب

“Apa pendapatmu mengenai seorang syarif (keturunan nabi), apakah dia lebih utama daripada seorang alim ataukah seorang alim yang lebih utama daripada seorang syarif? Maka dijawab: Seorang syarif lebih utama dari segi nasabnya saja, namun seorang alim lebih utama dari segi ilmunya. Dan keutamaan ilmu tentu melebihi keutamaan nasab”

📚 Tambahan keterangan :

(مسبوك الذهب في فضل العرب وشرف العلم على شرف النسب : ص ٥١)
وشرف العلم أفضل من حيث التقدم في الصلاة ومنصب الإفتاء والقضاء وغير ذلك. وينظر في منصب الخلافة والإمامة العظمى، فهل يستحقها قرشي جاهل أو عجمي فاضل؟ وهذا كله مع الاتصاف بتقوى الله تعالى وإلا فالعالم الفاسق كإبليس والعربي الجاهل كفرعون وكلاهما مذموم

“Kemuliaan ilmu itu lebih utama dari segi didahulukan menjadi imam sholat, menjadi mufti, menjadi hakim dan lain sebagainya. Dan yang menjadi pertimbangan juga adalah dalam rangka pemilihan seorang kholifah serta imamul a'dzhom. Maka apakah seorang Quraisy (keturunan nabi) yang bodoh atau orang ajam (orang biasa tapi alim) yang lebih utama? Ini semua dengan (catatan) mereka memiliki sifat takwa kepada Allah. Sebab jika tidak, maka orang alim yang fasiq itu seperti iblis, dan 'arobi (keturunan nabi) yang bodoh itu seperti fir'aun yang mana kedua-duanya sangat tercela”

📚 Tambahan keterangan :

(مسبوك الذهب في فضل العرب وشرف العلم على شرف النسب : ص ٥٢)
فمن اغتر في الكفاءة بشرف النسب فيقال له: إن العجمي وإن كان ليس كفءا للعربية، فالعربي الفاسق أيضا ليس كفءأ للعجمية المرضية، فإن الشرع أيضا يعتبر في الكفاءة منصب الدين كما يعتبر منصب النسب. ولا يكافئ العربي الجاهل بنت العالم صرح بذلك الشافعية. إذا علمت هذا فاعلم أن الذي يرجع إليه ويعول في الفضل عليه هو الشرف الكسبي الذي منه العلم والتقوى وهو الفضل الحقيقي، لا مجرد الشرف الذاتي الذي هو شرف النسب

“Barang siapa yang tertipu (terperdaya) terkait permasalahan kafaah (kesetaraan) kemuliaan nasab, maka dikatakan kepadanya: Sesungguhnya orang ajam meskipun tidak sekufu (setara) dengan 'arobi, maka 'arobi yang fasiq juga tidak sekufu (setara) dengan orang ajam yang terpuji. Karena yang menjadi pertimbangan syariat adalah kedudukan agama sebagaimana syariat juga telah mempertimbangkan kedudukan nasab. Dan 'arobi yang bodoh tidak setara dengan putrinya seorang alim yang mana hal itu telah dijelaskan oleh para ulama madzhab Syafi'i. Oleh karenanya jika kamu telah mengetahui hal ini, maka ketahuilah bahwa yang menjadi rujukan dalam persoalan keutamaan adalah kemuliaan yang diperoleh melalui usaha yang dari sanalah ilmu dan ketakwaan muncul, yaitu keutamaan hakiki. Bukan sekedar kemuliaan dzat yang bersifat bawaan dari nasab”

📚 Tambahan keterangan :

(تفسير القران العظيم : ج ٧ ص ٣٨٦)
وقوله: (إن أكرمكم عند الله أتقاكم) أي إنما تتفاضلون عند الله بالتقوى لا بالأحساب

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, yakni sesungguhnya keutamaan kalian disisi Allah itu hanya dengan ketakwaan, bukan dengan faktor keturunan”

والله اعلم بالصواب 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...