Kamis, Februari 29, 2024

TANYA JAWAB - SEPUTAR TAKLID


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.

Izin bertanya, bagaimana cara menyikapi org yang suka pindah² mazhab atau ikut sebagian pendapat² mazhab yg kita ikuti? Contohnya kita di Nusantara yg notabenenya bermazhab syafi'i tapi melihat ada org di kiri-kanan kita yang mengamalkan pendapat² mazhab lain diluar syafi'i.

Syukran jazakumullahu khairan ๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Pada dasarnya, mengikuti dan mengamalkan madzhab yang mana saja adalah sah selama masih dalam ruang lingkup empat madzhab, dan sudah semestinya harus seperti itu. Karena kewajiban orang awam atau muqollid seperti kita adalah mengikuti ulama, dan ulama tentu saja sangat banyak sehingga bebas bagi siapapun untuk mengikuti pendapat mana saja. Yang jelas kalau seseorang mengetahui ilmunya semisal ini merupakan pendapat madzhab fulan dan itu merupakan pendapat madzhab fulan, maka sah untuk dia ikuti dan dia amalkan. 

Hanya saja terkadang kita pun perlu bijak juga, jangan sampai karena kita mengetahui pendapat madzhab lain lalu seenaknya mengamalkan pendapat tersebut dilingkungan orang-orang yang berbeda madzhab. Sebab hal itu biasanya akan menimbulkan fitnah dan kegaduhan sehingga orang lain akan menyangka yang bukan-bukan, nah hal seperti itulah yang mesti kita hindari. Tapi untuk pengamalan pribadi yang sifatnya privasi tentu sah-sah saja dan tidak ada larangan.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูˆู„ุง ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุงู…ู‰ ุฅู„ุชุฒุงู… ู…ุฐู‡ุจ ููŠ ูƒู„ ุญุงุฏุซุฉ، ูˆู„ูˆ ุงู„ุชุฒู… ู…ุฐู‡ุจุง ู…ุนูŠู†ุง ูƒู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ุง ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฅุณุชู…ุฑุงุฑ، ุจู„ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ ุงู„ุฅู†ุชู‚ุงู„ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ู…ุฐู‡ุจู‡

“Orang awam itu tidak wajib untuk menetapi satu madzhab tertentu saja dalam menyikapi setiap masalah yang baru muncul. Oleh karena itu meskipun dia telah bertekad untuk menetapi satu madzhab tertentu saja seperti madzhabnya imam Syafi'i rahimahullah, maka tidaklah selamanya dia harus mengikuti madzhab tersebut. Bahkan diperbolehkan baginya untuk pindah kepada madzhab lain selain madzhabnya imam Syafi'i rahimahullah”

๐Ÿ“• (Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, hlm. 53)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูŠุฌูˆุฒ ุชู‚ู„ูŠุฏ ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู† ุงู„ุขุฆู…ุฉ ุงู„ุขุฑุจุนุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ูˆูŠุฌูˆุฒ ู„ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ุขู† ูŠู‚ู„ุฏ ูˆุงุญุฏุง ู…ู†ู‡ู… ูู‰ ู…ุณุงู„ุฉ ูˆูŠู‚ู„ุฏ ุงู…ุงู…ุง ุขุฎุฑ ููŠ ู…ุณุงู„ุฉ ุขุฎุฑู‰ ูˆู„ุง ูŠุชุนูŠู† ุชู‚ู„ูŠุฏ ูˆุงุญุฏ ุจุนูŠู†ู‡ ููŠ ูƒู„ ุงู„ู…ุณุงุฆู„

“Diperbolehkan taklid kepada salah satu imam yang empat radhiyallahu 'anhum. Dan setiap orang boleh mengikuti salah satu dari pendapat mereka dalam satu masalah, dan mengikuti imam lainnya dalam masalah yang lain. Dan tidak ada ketentuan yang mengharuskan taklid kepada satu madzhab dalam semua masalah” 

๐Ÿ“• (Fatawa Izz bin Abdissalam, hlm. 238)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ูุงุฆุฏุฉ) ููŠ ุจูŠุงู† ุงู„ุชู‚ู„ูŠุฏ: ุฅุฐุง ุชู…ุณูƒ ุงู„ุนุงู…ูŠ ุจู…ุฐู‡ุจ ู„ุฒู…ู‡ ู…ูˆุงูู‚ุชู‡ ูˆุฅู„ุง ู„ุฒู…ู‡ ุงู„ุชู…ุฐู‡ุจ ุจู…ุฐู‡ุจ ู…ุนูŠู† ู…ู† ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ู„ุง ุบูŠุฑู‡ุง ุซู… ู„ู‡ ูˆุฅู† ุนู…ู„ ุจุงู„ุฃูˆู„ ุงู„ุงู†ุชู‚ุงู„ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑู‡ ุจุงู„ูƒู„ูŠุฉ ุฃูˆ ููŠ ุงู„ู…ุณุงุฆู„ ุจุดุฑุท ุฃู† ู„ุง ูŠุชุชุจุน ุงู„ุฑุฎุต ุจุฃู† ูŠุฃุฎุฐ ู…ู† ูƒู„ ู…ุฐู‡ุจ ุจุงู„ุฃุณู‡ู„ ู…ู†ู‡ ููŠูุณู‚ ุจู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃูˆุฌู‡

“(Faedah didalam menjelaskan persoalan taklid). Jika orang awam berpegang teguh pada satu madzhab tertentu, maka wajib baginya untuk mengikutinya. Jika tidak, maka wajib baginya untuk mengikuti madzhab lain dari salah satu madzhab yang empat, tidak kepada madzhab yang lainnya. Kemudian jika dia mengamalkan madzhab pertama yang dipilih, maka boleh baginya untuk mengamalkan madzhab yang lainnya entah secara keseluruhan maupun dalam masalah tertentu saja dengan syarat dia tidak bermaksud untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap madzhab yang akan dia ikuti. Sebab jika demikian, maka hal itu termasuk perbuatan fasiq menurut pendapat yang aujah (kuat)” 

๐Ÿ“• (Fathul Mu'in, hlm. 614)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู‚ุงู„ ุฃูƒุซุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก: ู„ุงูŠุฌุจ ุชู‚ู„ูŠุฏ ุฅู…ุงู… ู…ุนูŠู† ููŠ ูƒู„ ุงู„ู…ุณุงุฆู„ ูˆุงู„ุญูˆุงุฏุซ ุงู„ุชูŠ ุชุนุฑุถ، ุจู„ ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠู‚ู„ุฏ ุฃูŠ ู…ุฌุชู‡ุฏ ุดุงุก، ูู„ูˆ ุงู„ุชุฒู… ู…ุฐู‡ุจุง ู…ุนูŠู†ุง ูƒู…ุฐู‡ุจ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ุฃูˆ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ู…ุง ู„ุงูŠู„ุฒู…ู‡ ุงู„ุงุณุชู…ุฑุงุฑ ุนู„ูŠู‡، ุจู„ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ ุงู„ุงู†ุชู‚ุงู„ ู…ู†ู‡ ุฅู„ู‰ ู…ุฐู‡ุจ ุขุฎุฑ، ุฅุฐ ู„ุง ูˆุงุฌุจ ุฅู„ุง ู…ุง ุฃูˆุฌุจู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡، ูˆู„ู… ูŠูˆุฌุจ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆู„ุง ุฑุณูˆู„ู‡ ุนู„ู‰ ุฃุญุฏ ุฃู† ูŠุชู…ุฐู‡ุจ ุจู…ุฐู‡ุจ ุฑุฌู„ ู…ู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ، ูˆุฅู†ู…ุง ุฃูˆุฌุจ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุงุชุจุงุน ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ู† ุบูŠุฑ ุชุฎุตูŠุต ุจูˆุงุญุฏ ุฏูˆู† ุขุฎุฑ

“Mayoritas ulama menyatakan: Seseorang tidak wajib untuk bertaklid kepada imam tertentu dalam semua masalah yang baru muncul padanya, bahkan (sebaliknya) diperbolehkan baginya untuk bertaklid kepada mujtahid mana saja sesuai yang dia kehendaki. Oleh karena itu seandainya seseorang memilih untuk bertaklid kepada madzhab tertentu semisal madzhabnya imam Abu Hanifah, imam Syafi'i atau yang lainnya, maka tidak wajib baginya untuk konsisten mengikuti madzhab tersebut. Akan tetapi diperbolehkan baginya untuk berpindah kepada madzhab lain, karena tidak ada kewajiban kecuali apa yang telah diwajibkan oleh Allah dan rasulnya. Dan Allah maupun rasulnya tidak mewajibkan kepada siapapun untuk bertaklid kepada madzhabnya imam tertentu, akan tetapi sesungguhnya Allah hanya mewajibkan untuk mengikuti ulama tanpa mengkhususkan ulama yang satu dengan ulama yang lainnya”

๐Ÿ“• (Al-Fiqhul Islam jilid 1, hlm. 94)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู„ูŠุณุช ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ู…ุชุจูˆุนุฉ ู…ู†ุญุตุฑุฉ ููŠ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ، ุจู„ ู„ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ุฐุงู‡ุจ ู…ุชุจูˆุนุฉ ุฃูŠุถุง ูƒุงู„ุณููŠุงู†ูŠู† ูˆุฅุณุญุงู‚ ุจู† ุฑุงู‡ูˆูŠู‡ ูˆุฏุงูˆุฏ ุงู„ุธุงู‡ุฑูŠ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ، ูˆู…ุน ุฐู„ูƒ ูู‚ุฏ ุตุฑุญ ุฌู…ุน ู…ู† ุฃุตุญุงุจู†ุง ุจุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชู‚ู„ูŠุฏ ุบูŠุฑ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ، ูˆุนู„ู„ูˆุง ุฐู„ูƒ ุจุนุฏู… ุงู„ุซู‚ุฉ ุจู†ุณุจุชู‡ุง ุฅู„ู‰ ุฃุฑุจุงุจู‡ุง ู„ุนุฏู… ุงู„ุฃุณุงู†ูŠุฏ ุงู„ู…ุงู†ุนุฉ ู…ู† ุงู„ุชุญุฑูŠู ูˆุงู„ุชุจุฏูŠู„، ุจุฎู„ุงู ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ูุฅู† ุฃุฆู…ุชู‡ุง ุจุฐู„ูˆุง ุฃู†ูุณู‡ู… ููŠ ุชุญุฑูŠุฑ ุงู„ุฃู‚ูˆุงู„ ูˆุจูŠุงู† ู…ุง ุซุจุช ุนู† ู‚ุงุฆู„ู‡ ูˆู…ุง ู„ู… ูŠุซุจุช ูุฃู…ู† ุฃู‡ู„ู‡ุง ู…ู† ูƒู„ ุชุบูŠูŠุฑ ูˆุชุญุฑูŠู

“Madzhab-madzhab yang bisa diikuti itu sebenarnya tidak terbatas pada imam yang empat saja, akan tetapi banyak imam yang bisa diikuti semisal dua Sufyan (maksudnya imam Sufyan bin Uyainah dan imam Sufyan Ats-Tsauri), kemudian imam Ishaq bin Rahawaih, imam Daud Adz-Dzohiri dan imam Al-Auza'i. Hanya saja sekelompok ashab kami (ulama-ulama madzhab Syafi'i) menjelaskan bahwa (pada hari ini) tidak boleh bagi seseorang untuk bertaqlid kepada selain imam-imam yang empat. Alasannya karena tidak bisa dipercaya pendapat yang dinisbatkan kepada mereka (yaitu selain imam yang empat), sebab tidak ada sanad (penyambung) yang dapat mencegah adanya tahrif dan tabdil (perubahan dan penyelewengan pendapat-pendapatnya). Beda halnya dengan madzhab yang empat, karena sesungguhnya mereka telah mencurahkan dirinya dalam memeriksa pendapat-pendapatnya, lalu menjelaskan apa yang berasal dari pendapatnya. Sehingga orang-orang yang mengikuti pendapatnya akan aman dari segala bentuk tahrif” 

๐Ÿ“• (Majmu'ah Sab'ah Kutub Mufidah, hlm. 59)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู„ู… ูŠุจู„ุบู†ุง ุนู† ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุฃู†ู‡ ุฃู…ุฑ ุฃุตุญุงุจู‡ ุจุงู„ุชุฒุงู… ู…ุฐู‡ุจ ู…ุนูŠู† ู„ุง ูŠุฑู‰ ุตุญุฉ ุฎู„ุงูู‡، ุจู„ ุงู„ู…ู†ู‚ูˆู„ ุนู†ู‡ู… ุชู‚ุฑูŠุฑู‡ู… ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ู‰ ุงู„ุนู…ู„ ุจูุชูˆู‰ ุจุนุถู‡ู… ุจุนุถุง، ู„ุฃู†ู‡ู… ูƒุงู†ูˆุง ุนู„ู‰ ู‡ุฏู‰ ู…ู† ุฑุจู‡ู…، ูˆู„ู… ูŠุจู„ุบู†ุง ููŠ ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ูˆู„ุง ุถุนูŠู ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู…ุฑ ุฃุญุฏุง ู…ู† ุงู„ุฃู…ุฉ ุจุงู„ุชุฒุงู… ู…ุฐู‡ุจ ู…ุนูŠู† ู„ุง ูŠุฑู‰ ุฎู„ุงูู‡

“Para imam madzhab tidak pernah memerintahkan para pengikutnya untuk berpegang pada madzhab tertentu saja dan menganggap tidak sah bersikap sebaliknya. Bahkan pendapat yang dinukil dari mereka bahwasanya mereka telah menjelaskan kepada manusia untuk saling mengamalkan fatwa-fatwa sebagian ulama (yang lain), karena mereka semua (para ulama) telah mendapatkan petunjuk dari tuhan. Dan aku tidak mendapati adanya hadits shohih maupun hadits dhoif yang menyatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan seseorang untuk berpegang teguh pada satu madzhab tertentu saja, tidak kepada yang lainnya” 

๐Ÿ“• (Mizanul Kubro jilid 1, hlm. 33)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Selasa, Februari 27, 2024

APAKAH IMAMAH ADALAH TUJUAN?


Salah satu ajaran dan keyakinan orang-orang Hizbut Tahrir adalah seperti pernyataan berikut ini :

ู…ุณุฃู„ุฉ ุงู„ู…ุณุงุฆู„ ููŠ ุงู„ุญูŠุงุฉ ุงู„ุฅู†ุณุงู†ูŠุฉ ูˆุฃุตู„ ุฃุตูˆู„ู‡ุง ูˆุฃุดุฑู ู…ุณุงุฆู„ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†

“(Imamah adalah) pokok dari seluruh masalah dalam kehidupan manusia dan prinsip dasar yang paling mendasar, dan itu adalah permasalahan kaum muslimin yang paling mulia”

Satu diantara sekian banyak syubhat dan penyimpangan besar yang menyelisihi manhaj dakwahnya para nabi adalah ketika Hizbut Tahrir berlebih-lebihan (ghuluw) dalam menyikapi persoalan imamah. Penyimpangan dan kesalahan Hizbut Tahrir tersebut akan saya uraikan dalam artikel ini, sekaligus saya akan memberikan bantahannya. Oleh karena itu dikarenakan banyaknya pemahaman yang salah dari Hizbut Tahrir dalam menyikapi persoalan imamah ini, maka sudah menjadi kewajiban bagi para ahli ilmu untuk meluruskan penyimpangan tersebut dalam rangka watawa shoubil haq.

Berikut ini beberapa bantahan dalam rangka meluruskan penyimpangan dan kesalahan Hizbut Tahrir :

1. Imamah memang wajib, namun bukan yang paling wajib dan bukan yang paling penting.

Para ulama telah sepakat bahwasanya imamah (kepemimpinan) adalah wajib adanya, maka dari itu tidak boleh orang-orang muslim tidak mempunyai pemimpin. Dan ulama yang menukil kesepakatan ini diantaranya adalah Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri rahimahullah sebagai berikut :

ุงุชูู‚ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุฑุญู…ู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ูุฑุถ

“Para ulama rahimahumullah telah sepakat bahwasanya imamah (kepemimpinan) itu adalah wajib” (Fiqih Madzahibul Arba'ah : 5/366)

Namun yang perlu diketahui, mayoritas ulama dari seluruh madzhab telah menyatakan terkait sahnya setiap negara kaum muslimin yang dipimpin oleh satu kepala negara muslim yang masing-masing jika mereka belum mendapatkan kondisi memungkinkan untuk bersatunya negara-negara kaum muslimin tersebut dibawah satu pemimpin. Maka dari itu, imamah dalam konteks yang umum yaitu kepemimpinan sudah terpenuhi dinegara kita ini. Bahkan hampir tidak ada negara muslim diseluruh dunia yang tidak mempunyai pemimpin.

Hal ini dikarenakan, setelah tersebarnya islam ke seluruh dunia, maka masing-masing wilayah negara itu memiliki kepala negara masing-masing pula. Yang mana kekuasaannya hanya terbatas pada wilayah negara yang dipimpinnya saja. Maka dari itu, wajiblah atas semua warga negara tersebut untuk taat kepada kepala negaranya masing-masing. 

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan :

ูˆุฃู…ุง ุจุนุฏ ุงู†ุชุดุงุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุงุชุณุงุน ุฑู‚ุนุชู‡ ูˆุชุจุงุนุฏ ุฃุทุฑุงูู‡ ูู…ุนู„ูˆู… ุฃู†ู‡ ู‚ุฏ ุตุงุฑ ููŠ ูƒู„ ู‚ุทุฑ ุฃูˆ ุฃู‚ุทุงุฑ ุงู„ูˆู„ุงูŠุฉ ุฅู„ู‰ ุฅู…ุงู… ุฃูˆ ุณู„ุทุงู† ูˆููŠ ุงู„ู‚ุทุฑ ุงู„ุขุฎุฑ ุฃูˆ ุงู„ุฃู‚ุทุงุฑ ูƒุฐู„ูƒ، ูˆู„ุง ูŠู†ูุฐ ู„ุจุนุถู‡ู… ุฃู…ุฑ ูˆู„ุง ู†ู‡ูŠ ููŠ ู‚ุทุฑ ุงู„ุขุฎุฑ ูˆุฃู‚ุทุงุฑู‡ ุงู„ุชูŠ ุฑุฌุนุช ุฅู„ู‰ ูˆู„ุงูŠุชู‡ ูู„ุง ุจุฃุณ ุจุชุนุฏุฏ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงุทูŠู†، ูˆูŠุฌุจ ุงู„ุทุงุนุฉ ู„ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู†ู‡ู… ุจุนุฏ ุงู„ุจูŠุนุฉ ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ู‚ุทุฑ ุงู„ุฐูŠ ูŠู†ูุฐ ููŠู‡ ุฃูˆุงู…ุฑู‡ ูˆ ู†ูˆุงู‡ูŠู‡ ูˆูƒุฐู„ูƒ ุตุงุญุจ ุงู„ู‚ุทุฑ ุงู„ุขุฎุฑ، ูุฅุฐุง ู‚ุงู… ู…ู† ูŠู†ุงุฒุนู‡ ููŠ ุงู„ู‚ุทุฑ ุงู„ุฐูŠ ู‚ุฏ ุซุจุชุช ููŠู‡ ูˆู„ุง ูŠุชู‡ ูˆุจุงูŠุนู‡ ุฃู‡ู„ู‡ ูƒุงู† ุงู„ุญูƒู… ููŠู‡ ุฃู† ูŠู‚ุชู„ ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุชุจ ูˆู„ุง ุชุฌุจ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ู‚ุทุฑ ุงู„ุขุฎุฑ ุทุงุนุชู‡ ูˆู„ุง ุงู„ุฏุฎูˆู„ ุชุญุช ูˆู„ุงูŠุชู‡ ู„ุชุจุงุนุฏ ุงู„ุฃู‚ุทุงุฑ، ูุงุนุฑู ู‡ุฐุง ูุฅู†ู‡ ุงู„ู…ู†ุงุณุจ ู„ู„ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูˆุงู„ู…ุทุงุจู‚ ู„ู…ุง ุชุฏู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฃุฏู„ุฉ ูˆุฏุน ุนู†ูƒ ู…ุง ูŠู‚ุงู„ ููŠ ู…ุฎุงู„ูุชู‡، ูุฅู† ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ู…ุง ูƒุงู†ุช ุนู„ูŠู‡ ุงู„ูˆู„ุงูŠุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ููŠ ุฃูˆู„ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆู…ุง ู‡ูŠ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุขู† ุฃูˆุถุญ ู…ู† ุดู…ุณ ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ูˆู…ู† ุฃู†ูƒุฑ ู‡ุฐุง ูู‡ูˆ ู…ุจุงู‡ุช ู„ุง ูŠุณุชุญู‚ ุฃู† ูŠุฎุงุทุจ ุจุงู„ุญุฌุฉ ู„ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุนู„ู‚ู‡ุง

“Adapun setelah tersebarnya islam dan meluasnya wilayah serta tempat-tempat menjadi saling berjauhan, maka telah diketahui bahwa setiap daerah (atau negara itu membutuhkan) seorang pemimpin atau seorang penguasa. Demikian juga didaerah dan wilayah yang lain, dan mereka (rakyatnya) tidak perlu melaksanakan perintah serta larangan yang berlaku didaerah (atau dinegara) yang lain. 

Maka dengan berbilangnya pemimpin dan penguasa (yang berlainan daerah kekuasaannya) adalah tidak apa-apa. Dan setelah dibaiatnya seorang pemimpin, maka wajib bagi setiap orang yang berada dibawah daerah kekuasaannya untuk mentaatinya, yaitu dengan melaksanakan perintah dan larangannya. Seperti itu pula daerah-daerah (atau negara-negara) yang lainnya. Dan jika ada orang yang menyelisihi (pemimpin atau penguasa) didalam satu daerah (atau satu negara) yang mana kekuasaan telah dipegangnya dan orang-orang telah membaiatnya, maka hukuman bagi orang tersebut adalah dibunuh jika dia tidak mau bertaubat. Kemudian, tidak wajib bagi masyarakat daerah (atau negara) lainnya untuk mentaatinya dan masuk dibawah kekuasannya, karena saling berjauhan (jarak daerah kekuasaannya).

Maka fahamilah masalah ini, karena sesungguhnya hal ini sesuai dengan kaidah-kaidah syar'iyyah dan berkesuaian dengan dalil, oleh karena itu abaikanlah pendapat yang menyelisihinya. Sesungguhnya perbedaan antara daerah kekuasaan pada awal permulaan islam dengan yang ada pada saat ini adalah lebih jelas daripada matahari di siang hari. Dan barang siapa yang mengingkari masalah ini maka dia adalah seorang pendusta, orang seperti itu tidak perlu diajak bicara dengan hujjah karena dia bukan orang yang berakal” (Sailul Jarar : 4/215)

Hal ini dianggap sah oleh para ulama karena umat islam memang belum mendapatkan kondisi yang memungkinkan serta belum mempunyai kemampuan untuk bersatu dibawah naungan satu pemimpin saja, sehingga hal ini sesuai dengan qoidah ushul sebagai berikut :

ุงู„ุนุฌุฒ ู…ุณู‚ุท ู„ู„ุฃู…ุฑ ูˆุงู„ู†ู‡ูŠ ูˆุฅู† ูƒุงู† ูˆุงุฌุจุง ููŠ ุงู„ุฃุตู„

“Ketidak mampuan akan menggugurkan perintah dan larangan meskipun hukum asalnya adalah wajib”

Jadi jika memang imamah dalam artian yang khusus yakni seorang pemimpin muslim yang memimpin seluruh kaum muslimin itu wajib, maka kewajiban itu menjadi gugur saat tidak adanya kemampuan. Dan hal tersebutlah yang umat muslim alami saat ini, yakni mereka belum mempunyai kemampuan untuk mengangkat seorang imamul a'dzhom atau seorang khalifah.

Kemudian setelah kita mengetahui bahwa hukum mengangkat seorang imamul a'dzhom itu wajib, yang menjadi pertanyaan adalah : Seberapa besarkah kewajiban tersebut? Apakah kewajiban itu dibebankan kepada setiap muslim sehingga hukumnya menjadi fardhu ain? Ataukah hanya sebatas fardhu kifayah?

Terkait hal itu, imam Al-Mawardi rahimahullah menyatakan :

(ูุตู„) ูุฅุฐุง ุซุจุช ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ููุฑุถู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ูƒูุงูŠุฉ ูƒุงู„ุฌู‡ุงุฏ ูˆุทู„ุจ ุงู„ุนู„ู… ูุฅุฐุง ู‚ุงู… ุจู‡ุง ู…ู† ู‡ูˆ ู…ู† ุฃู‡ู„ู‡ุง ุณู‚ุท ูุฑุถู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ูƒูุงูŠุฉ، ูˆุฅู† ู„ู… ูŠู‚ู… ุจู‡ุง ุฃุญุฏ ุฎุฑุฌ ู…ู† ุงู„ู†ุงุณ ูุฑูŠู‚ุงู† ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุฃู‡ู„ ุงู„ุงุฎุชูŠุงุฑ ุญุชู‰ ูŠุฎุชุงุฑูˆุง ุฅู…ุงู…ุง ู„ู„ุฃู…ุฉ. ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ุฃู‡ู„ ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ุญุชู‰ ูŠู†ุชุตุจ ุฃุญุฏู‡ู… ู„ู„ุฅู…ุงู…ุฉ ูˆู„ูŠุณ ุนู„ู‰ ู…ู† ุนุฏุง ู‡ุฐูŠู† ุงู„ูุฑูŠู‚ูŠู† ู…ู† ุงู„ุฃู…ุฉ ููŠ ุชุฃุฎูŠุฑ ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ุญุฑุฌ ูˆู„ุง ู…ุฃุซู…

“(Pasal), maka jika telah tsabit (tetap) kewajiban imamah, maka (ketahuilah bahwa) kewajiban itu hanya bersifat fardhu kifayah seperti halnya jihad dan menuntut ilmu. Oleh karena itu jika hal tersebut sudah dilaksanakan oleh orang yang ahlinya, maka gugurlah kewajiban itu (bagi kaum muslimin yang lainnya) karena telah dilaksanakan olehnya. Sedangkan jika tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka majulah dua golongan manusia (yang berkewajiban melaksanakannya). Golongan pertama adalah ahlul ikhtiyar (perwakilan rakyat yang bertugas memilih), sampai mereka memilih seorang pemimpin untuk umat. Sedangkan golongan kedua adalah ahlul imamah (orang yang terpenuhi syarat-syarat menjadi imam atau pemimpin) sampai salah satu dari mereka menjadi pemimpin untuk umat. Dan untuk kaum muslimin selain dari dua golongan diatas, maka tidak salah dan tidak pula berdosa ketika terjadi penundaan pengangkatan imamah” (Ahkamul Sulthoniyah : 17)

Berdasarkan pernyataan imam Al-Mawardi rahimahullah diatas, jelaslah bahwa penegakan imamah itu hukumnya sekedar fardhu kifayah yang itupun hanya dibebankan kepada dua golongan saja yakni ahlul ikhtiyar dan ahlul imamah. 

Senada dengan apa yang dikatakan oleh imam Asy-Syathibi rahimahullah dibawah ini :

ู…ุง ุซุจุช ู…ู† ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ุงู„ู‚ุทุนูŠุฉ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ุนู†ู‰ ูƒุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ุงู„ูƒุจุฑู‰ ุฃูˆ ุงู„ุตุบุฑู‰ ูุฅู†ู‡ู…ุง ุฅู†ู…ุง ุชุชุนูŠู† ุนู„ู‰ ู…ู† ููŠู‡ ุฃูˆุตุงูู‡ุง ุงู„ู…ุฑุนูŠุฉ ู„ุง ุนู„ู‰ ูƒู„ ุงู„ู†ุงุณ

“Apa yang telah ditetapkan dari qoidah-qoidah syar'iyyah yang qoth'i terkait makna ini seperti dalam masalah imamah kubro dan imamah sughro, maka sesungguhnya kedua jenis imamah ini hanya wajib (ditegakkan) oleh orang yang mempunyai kemampuan, bukan kewajiban yang dibebankan kepada semua orang” (Al-Muwafaqat : 1/279) 

Oleh karena itu jika hukum terkait masalah imamah ini tidak sampai fardhu ain, maka bagaimana mungkin bisa dikatakan kalau imamah merupakan kewajiban paling penting dan paling mulia yang melebihi kewajiban sholat bahkan tauhid? Lagi pula, penegakkan imamah ini tentunya hanya berlaku untuk sebuah negeri yang belum mempunyai pemimpin muslim yang sah. Sehingga untuk negeri-negeri yang telah sah ada kepala negaranya, dipimpin oleh seorang muslim lalu wilayah negaranya telah diakui oleh seluruh dunia, maka sudah barang tentu wajib bagi masing-masing warga negara untuk taat kepada kepala negaranya masing-masing dalam hal yang bukan maksiat. Sembari terus menasehati pemerintah dengan nasehat yang baik demi memaksimalkan penerapan hukum dan ajaran islam dinegaranya tersebut.

Kesimpulan bahwa pernyataan “(imamah adalah) pokok dari seluruh masalah dalam kehidupan manusia dan prinsip dasar yang paling mendasar, dan permasalahan kaum muslimin yang paling mulia” adalah pernyataan yang salah. Bahkan pernyataan seperti itu merupakan sebuah kedustaan dan termasuk salah satu bentuk kekufuran sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah (salah seorang ulama rujukan wahabi) dibawah ini :

ุฅู† ู‚ูˆู„ ุงู„ู‚ุงุฆู„: ุฅู† ู…ุณุฃู„ุฉ ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ุฃู‡ู… ุงู„ู…ุทุงู„ุจ ููŠ ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุฏูŠู† ูˆุฃุดุฑู ู…ุณุงุฆู„ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†، ูƒุงุฐุจ ุจุฅุฌู…ุงุน ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†، ุจู„ ู‡ูˆ ูƒูุฑ ูุฅู† ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ุฃู‡ู… ู…ู† ู…ุณุฃู„ุฉ ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ

“Jika ada orang yang berkata: Sesungguhnya masalah imamah itu merupakan tujuan tertinggi dalam hukum agama islam dan permasalahan kaum muslimin yang paling mulia, maka pernyataan seperti itu merupakan sebuah kedustaan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Bahkan pernyataan tersebut termasuk salah satu bentuk kekufuran, karena beriman kepada Allah dan rasulnya jelas lebih penting daripada masalah imamah” (Minhajus Sunnah : 1/75)

2. Terlalu merzikirkan atau membombastisasi masalah imamah.

Diantara kesalahan pemikiran Hizbut Tahrir yang lain adalah terlalu berlebih-lebihan saat membahas masalah imamah. Hampir setiap saat yang mereka bahas adalah masalah imamah, oleh karena itu orang-orang Hizbut Tahrir menjadi bodoh ilmu fardhu ain. Tidak faham cara wudhu yang benar, tidak faham masalah najis, tidak mampu membedakan antara darah haid dan istihadhoh, tidak faham masalah air mutlak dan musyammas, dan ilmu-ilmu fardhu ain yang lainnya.

Dalam kerangka ajaran Hizbut Tahrir, persoalan imamah ini seolah-olah sudah seperti persoalan akidah bagi mereka. Dan demikianlah ciri-ciri kelompok menyimpang. Padahal para ulama dari kalangan salaf maupun kholaf itu sangat proporsional saat berbicara masalah imamah, bahkan mengajarkan supaya masalah imamah tidak banyak dibahas dan mengajarkan supaya menghindarkan diri dari membahasnya.

Imam Al-Amidi rahimahullah menyatakan :

ูˆุงุนู„ู… ุฃَู† ุงู„ูƒู„ุงู… ูู‰ ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ู„ูŠุณ ู…ู† ุฃุตูˆู„ ุงู„ุฏูŠุงู†ุงุช ูˆู„ุง ู…ู† ุงู„ْุฃู…ูˆุฑ ุงู„ู„ุง ุจุฏูŠุงุช ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠุณู…ุน ุงู„ู…ูƒู„ู ุงู„ุฅِุนุฑุงุถ ุนู†ู‡ุง ูˆุงู„ุฌู‡ู„ ุจู‡ุง ุจู„ ู„ุนู…ุฑู‰ ุฅِู† ุงู„ู…ุนุฑุถ ุนู†ู‡ุง ู„ุฃุฑุฌู‰ ุญุงู„ุง ู…ู† ุงู„ูˆุงุบู„ ููŠู‡ุง ูุฅِู†ู‡ุง ู‚ู„ู…ุง ุชู†ููƒ ุนู† ุงู„ุชุนุตุจ ูˆุงู„ุฃู‡ูˆุงุก ูˆุฅุซุงุฑุฉ ุงู„ูุชู† ูˆุงู„ุดุญู†ุงุก

“Ketahuilah bahwasanya pembahasan terkait masalah imamah (atau khilafah) itu tidak termasuk ke dalam pembahasan dasar-dasar akidah. Dan juga tidak termasuk perkara yang mesti dibahas (terus menerus) dimana seorang mukallaf tidak boleh mengabaikannya atau tidak boleh mengetahuinya. (Bahkan sebaliknya), orang yang menghindarkan diri dari membahasnya itu akan lebih selamat daripada orang yang terjun ke dalam pembahasan tersebut. Karena pembahasan terkait masalah imamah itu sedikit sekali orang yang terbebas dari sikap fanatik (yang berlebihan), (menuruti) hawa nafsu, munculnya fitnah (kekacauan) dan juga munculnya permusuhan” (Ghoyatul Marom Fi Ilmil Kalam : 363)

Kemudian imam Al-Haromain rahimahullah juga menyatakan :

ุงู„ูƒู„ุงู… ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุจุงุจ ู„ูŠุณ ู…ู† ุงุตูˆู„ ุงู„ุงุนุชู‚ุงุฏ، ูˆุงู„ุฎุทุฑ ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠุฒู„ ููŠู‡ ูŠُุฑุจูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุทุฑ ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠุฌู‡ู„ ุฃุตู„ู‡

“Pembahasan bab ini (yakni imamah) tidak termasuk ke dalam pembahasan dasar-dasar akidah. (Dan bahkan sebaliknya), bahaya bagi orang yang teledor dalam pembahasan tersebut melebihi bahaya bagi orang yang tidak memahami dasar pembahasannya” (Al-Irsyad Fi UshuliI I'tiqod : 316)

Kesimpulannya, membombastisasi masalah imamah adalah satu dari sekian banyak kesalahan Hizbut Tahrir. Oleh karena itu Hizbut Tahrir banyak dilarang dibanyak negara, banyak dimusuhi dan banyak kelompok-kelompok islam lain yang tidak respect. Dan kalaupun ada yang merasa terkesan dengan Hizbut Tahrir, bisa jadi dia adalah orang awam yang tidak mengetahui seluk-beluk dan kebobrokan Hizbut Tahrir. Atau orang yang agak alim namun punya kepentingan duniawi yang bersifat pribadi.

Demikianlah, salam waras semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Senin, Februari 26, 2024

KEWAJIBAN TAKLID BAGI ORANG YANG BUKAN MUJTAHID


KH. Hasyim Asy'ari rahimahullah mengatakan :

(ูุตู„) ููŠ ุจูŠุงู† ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุชู‚ู„ูŠุฏ ู„ู…ู† ู„ูŠุณ ู„ู‡ ุฃู‡ู„ูŠุฉ ุงู„ุฅุฌุชู‡ุงุฏ ูŠุฌุจ ุนู†ุฏ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุญู‚ู‚ูŠู† ุนู„ู‰ ูƒู„ ู…ู† ู„ูŠุณ ู„ู‡ ุฃู‡ู„ูŠุฉ ุงู„ุฅุฌุชู‡ุงุฏ ุงู„ู…ุทู„ู‚، ูˆุฅู† ูƒุงู† ู‚ุฏ ุญุตู„ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ูˆู… ุงู„ู…ุนุชุจุฑุฉ ููŠ ุงู„ุฅุฌุชู‡ุงุฏ ุชู‚ู„ูŠุฏُ ู‚ูˆู„ ุงู„ู…ุฌุชู‡ุฏูŠู† ูˆุงู„ุฃุฎุฐ ุจูุชูˆุงู‡ู… ู„ูŠุฎุฑุฌ ุนู† ุนู‡ุฏุฉ ุงู„ุชูƒู„ูŠู ุจุชู‚ู„ูŠุฏ ุฃูŠู‡ู… ุดุงุก ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูุงุณุฃู„ูˆุง ุฃู‡ู„ ุงู„ุฐูƒุฑ ุฅู† ูƒู†ุชู… ู„ุง ุชุนู„ู…ูˆู†

(Pasal) yang menjelaskan tentang wajibnya taklid bagi orang yang tidak mempunyai kapasitas atau keahlian untuk berijtihad. Menurut jumhur ulama, setiap orang yang tidak mempunyai kapasitas atau keahlian untuk sampai pada tingkat kemampuan sebagai mujtahid mutlak meskipun dia sudah mampu menguasai beberapa cabang ilmu yang dipersyaratkan didalam melakukan ijtihad, maka (tetap) wajib baginya untuk taklid kepada salah satu imam mujtahid dan mengambil fatwa mereka supaya dia dapat terbebas dari ikatan beban (atau taklif) yang mewajibkannya untuk mengikuti siapa saja yang dia kehendaki dari salah satu imam mujtahid tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Maka bertanyalah kepada seorang ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.

ูุฃูˆุฌุจ ุงู„ุณุคุงู„ ุนู„ู‰ ู…ู† ู„ู… ูŠุนู„ู… ุฐู„ูƒ ูˆุฐู„ูƒ ุชู‚ู„ูŠุฏ ู„ุนุงู„ู… ูˆู‡ูˆ ุนุงู… ู„ูƒู„ ุงู„ู…ุฎุงุทุจูŠู†، ูˆูŠุฌุจ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุนุงู…ุง ููŠ ุงู„ุณุคุงู„ ุนู† ูƒู„ ู…ุง ู„ุง ูŠุนู„ู… ู„ู„ุฅุฌู…ุงุน ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุนุงู…ุฉ ู„ู… ุชุฒู„ ููŠ ุฒู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุงู„ุชุงุจุนูŠู† ูˆูƒู„ ุญุฏูˆุซ ุงู„ู…ุฎุงู„ููŠู† ูŠุณุชูุชูˆู† ุงู„ู…ุฌุชู‡ุฏูŠู† ูˆ ูŠุชุจุนูˆู†ู‡ู… ููŠ ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูˆุงู„ุนู„ู…ุงุก

Maka wajib untuk bertanya bagi orang yang tidak mengetahui, dan bertanya itu merupakan implementasi dari sikap taklid seseorang kepada orang lain yang mengetahui. Adapun terkait firman Allah diatas, hal itu berlaku umum untuk semua golongan yang dikhithobi (yakni setiap objek yang terkena sasaran perintah). Dan secara umum pula berdasarkan kesepakatan ulama, firman Allah diatas itu mewajibkan seseorang untuk bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu yang tidak dia ketahui. Karena sesungguhnya orang yang termasuk kategori awam itu pasti sudah ada sejak zamannya para sahabat, tabi'in dan hingga zaman setelahnya. Mereka wajiblah untuk meminta fatwa kepada para mujtahid dan mengikuti fatwa-fatwa mereka dalam hukum-hukum syariat, lalu mengamalkannya sesuai dengan petunjuk ulama.

ูุฅู†ู‡ู… ูŠุจุงุฏุฑูˆู† ุฅู„ู‰ ุฅุฌุงุจุฉ ุณุคุงู„ู‡ู… ู…ู† ุบูŠุฑ ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุฐูƒุฑ ุงู„ุฏู„ูŠู„، ูˆู„ุง ูŠู†ู‡ูˆู†ู‡ู… ุนู† ุฐู„ูƒ ู…ู† ุบูŠุฑ ู†ูƒูŠุฑ، ููƒุงู† ุฅุฌู…ุงุนุง ุนู„ู‰ ุงุชุจุงุน ุงู„ุนุงู…ู‰ ู„ู„ู…ุฌุชู‡ุฏ، ูˆู„ุฃู† ูู‡ู… ุงู„ุนุงู…ู‰ ู…ู† ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ุณุงู‚ุท ุนู† ุญูŠุฒ ุงู„ุฅุนุชุจุงุฑ، ุฅู† ู„ู… ูŠูˆุงูู‚ ุฃูู‡ุงู… ุนู„ู…ุงุก ุฃู‡ู„ ุงู„ุญู‚ ุงู„ุฃูƒุงุจุฑ ุงู„ุฃุฎูŠุงุฑ، ูุฅู† ูƒู„ ู…ุจุชุฏุน ูˆุถุงู„ ูŠูู‡ู… ุฃุญูƒุงู…ู‡ ุงู„ุจุงุทู„ุฉ ู…ู† ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ูˆูŠุฃุฎุฐ ู…ู†ู‡ู…ุง ูˆุงู„ุญุงู„ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุบู†ู‰ ู…ู† ุงู„ุญู‚ ุดูŠุฆุง

Sesungguhnya para mujtahid dan ulama itu bersegera menjawab pertanyaan orang awam tanpa memberi isyarat untuk menyebutkan dalil. Para mujtahid dan ulama tidak pernah melarang orang awam untuk meminta fatwa tanpa ada pengingkaran. Dan kondisi seperti itulah yang lantas disepakati adanya kewajiban bagi orang awam untuk mengikuti pendapat seorang mujtahid. Karena orang awam itu tidak memiliki kemampuan untuk memahami Al-Qur'an dan sunnah, dan tentunya pemahaman orang awam tidaklah dapat diterima jika tidak cocok dengan pemahaman ulama Ahlul Haq yang agung dan terpilih. Dan karena sesungguhnya, orang ahli bid'ah dan orang sesat, mereka memahami hukum-hukum syariat secara batil dari Al-Qur'an dan sunnah. Sehingga pada kenyataannya, apapun yang diambil oleh orang ahli bid'ah tidaklah dapat dipegangi sebagai sebuah kebenaran.

ูˆู„ุง ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุงู…ู‰ ุฅู„ุชุฒุงู… ู…ุฐู‡ุจ ููŠ ูƒู„ ุญุงุฏุซุฉ، ูˆู„ูˆ ุงู„ุชุฒู… ู…ุฐู‡ุจุง ู…ุนูŠู†ุง ูƒู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ุง ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฅุณุชู…ุฑุงุฑ، ุจู„ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ ุงู„ุฅู†ุชู‚ุงู„ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ู…ุฐู‡ุจู‡

Orang awam tidak wajib untuk menetapi satu madzhab saja dalam menyikapi setiap masalah yang baru muncul. Jadi meskipun dia telah menetapkan untuk menetapi satu madzhab tertentu seperti madzhabnya imam Syafi'i rahimahullah, maka tidaklah selamanya dia harus mengikuti madzhab ini. Bahkan diperbolehkan baginya untuk pindah kepada madzhab selain madzhabnya imam Syafi'i.

ูˆุงู„ุนุงู…ู‰ ุงู„ุฐูŠ ู„ู… ูŠูƒู† ู„ู‡ ู†ุธุฑ ูˆุงุณุชุฏู„ุงู„ ูˆู„ู… ูŠู‚ุฑุฃ ูƒุชุงุจุง ููŠ ูุฑูˆุน ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ุฅุฐุง ู‚ุงู„: ุฃู†ุง ุดุงูุนูŠ، ู„ู… ูŠุนุชุจุฑ ู‡ุฐุง ูƒุฐู„ูƒ ุจู…ุฌุฑุฏ ุงู„ู‚ูˆู„، ูˆู‚ูŠู„: ุฅุฐุง ุงู„ุชุฒู… ุงู„ุนุงู…ูŠ ู…ุฐู‡ุจุง ู…ุนูŠู†ุง ูŠู„ุฒู…ู‡ ุงู„ุฅุณุชู…ุฑุงุฑ ุนู„ูŠู‡ ู„ุฃู†ู‡ ุฅุนุชู‚ุฏ ุฃู† ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุฐูŠ ุงู†ุชุณุจ ุฅู„ูŠู‡ ู‡ูˆ ุงู„ุญู‚، ูุนู„ูŠู‡ ุงู„ูˆูุงุก ุจู…ูˆุฌุจ ุงุนุชู‚ุงุฏู‡

Kemudian, orang awam yang tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan pengkajian masalah dan beristidlal (melakukan pencarian sumber dalil), atau dia juga tidak mempunyai kemampuan untuk membaca sebuah kitab pun yang menjadi referensi dalam sebuah madzhab, lantas dia mengatakan bahwa aku bermadzhab Syafi'i, maka pernyataan seperti itu tidaklah dianggap sah sebagai pengakuan jika hanya sebatas ucapan belaka. Dan dikatakan : Jika orang awam itu konsisten mengikuti satu madzhab tertentu, maka wajib baginya untuk menetapi madzhab pilihannya. Karena jelaslah bahwa orang awam itu meyakini bahwa madzhab yang dia pilih adalah madzhab yang benar. Maka dari itu, konsekuensi yang harus dia terima adalah wajib menjalankan apa yang menjadi ketentuan madzhab yang dia yakini.

ูˆู„ู„ู…ู‚ู„ุฏ ุชู‚ู„ูŠุฏ ุบูŠุฑ ุฅู…ุงู…ู‡ ููŠ ุญุงุฏุซุฉ، ูู„ู‡ ุฃู† ูŠู‚ู„ุฏ ุฅู…ุงู…ุง ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุธู‡ุฑ ู…ุซู„ุง ูˆูŠู‚ู„ุฏ ุฅู…ุงู…ุง ุขุฎุฑ ููŠ ุตู„ุงูˆ ุงู„ุนุตุฑ. ูˆุงู„ุชู‚ู„ูŠุฏ ุจุนุฏ ุงู„ุนู…ู„ ุฌุงุฆุฒ، ูู„ูˆ ุตู„ู‰ ุดุงูุนูŠ ุธู† ุตุญุฉ ุตู„ุงุชู‡ ุนู„ู‰ ู…ุฐู‡ุจู‡ ุซู… ุชุจูŠู† ุจุทู„ุงู†ู‡ุง ููŠ ู…ุฐู‡ุจู‡ ูˆุตุญุชู‡ุง ุนู„ู‰ ู…ุฐู‡ุจ ุบูŠุฑู‡ ูู„ู‡ ุชู‚ู„ูŠุฏู‡ ูˆูŠูƒุชููŠ ุจุชู„ูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ

Dan bagi seseorang yang taklid, maka diperbolehkan untuk mengikuti selain imamnya dalam sebuah permasalahan yang timbul padanya. Misalnya dia taklid kepada salah satu imam saat melaksanakan sholat dzuhur, lantas dia taklid dan mengikuti imam lain saat melaksanakan sholat ashar. Jadi taklid setelah selesainya melakukan sebuah amal atau ibadah itu adalah boleh. Dan untuk memahami hal ini, dapatlah digambarkan sebuah masalah : Jika orang yang bermadzhab Syafi'i melakukan sholat dan dia menyangka atas keabsahan sholatnya menurut pandangan madzhabnya, namun ternyata sholatnya adalah batal menurut madzhab yang dianutnya tapi sah menurut pendapat madzhab lain, maka baginya boleh untuk langsung taklid kepada madzhab lain yang mengesahkan sholatnya. Dengan demikian, maka cukup terpenuhilah kewajiban sholatnya itu.

๐Ÿ“š (Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, hlm. 53) 

Rabu, Februari 21, 2024

TANYA JAWAB - DI HAMPIRI KUCING SAAT SHOLAT BAGAIMANA HUKUMNYA?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb, izin bertanya.

Klo misalnya kita lagi shalat, lalu tiba² pas mau sujud ada kucing yg tiduran diatas sajadah tempat shalat kita, bagaimana hukumnya apakah harus membatalkan shalatnya karna kuatir ada bulunya yang rontok.

Mohon penjelasannya dan referensinya juga ๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Kucing yang tiba-tiba datang menghampiri lalu berdiam diri diatas sajadah, selama pada tubuh kucing tersebut tidak terdapat najis yang terlihat oleh mata, maka tidak masalah dan tidak ada perlunya membatalkan sholat. Terkecuali jika terlihat oleh mata secara jelas kalau pada badan kucing tersebut terdapat najis yang menempel, maka otomatis batal sholatnya.

Adapun terkait bulu kucing yang rontok pada saat dia sedang berada diatas sajadah, maka bulu tersebut memang dihukumi najis namun najisnya dima'fu jika sedikit. Bahkan dalam jumlah banyak pun tetap dima'fu, terkhusus bagi seseorang yang terbiasa hidup dirumahnya dengan kucing dan dia memang sulit untuk menghindarinya.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูƒู„ ุนูŠู† ู„ู… ุชุชูŠู‚ู† ู†ุฌุงุณุชู‡ุง ู„ูƒู† ุบู„ุจุช ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ููŠ ุฌู†ุณู‡ุง ูƒุซูŠุงุจ ุงู„ุตุจูŠุงู† ูˆ ุฌู‡ู„ุฉ ุงู„ุฌุฒุงุฑูŠู† ูˆ ุงู„ู…ุชุฏุงูŠู†ูŠู† ู…ู† ุงู„ูƒูุงุฑ ุจุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ูƒุฃูƒู„ุฉ ุงู„ุฎู†ุงุฒูŠุฑ ุงุฑุฌุญ ุงู„ู‚ูˆู„ูŠู† ููŠู‡ุง ุงู„ุนู…ู„ ุจุง๏ปทุตู„ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุทุงู‡ุฑุฉ

“Setiap sesuatu yang terlihat oleh mata namun belum yakin status kenajisannya, akan tetapi najis dan sejenisnya biasa mengenainya semisal pada baju anak kecil, tukang potong (atau jagal) yang bodoh dan orang kafir yang terbiasa bersinggungan dengan najis semisal memakan daging babi, maka pendapat yang rojih dari dua pendapat adalah sesuatu itu tetap dianggap suci berdasarkan hukum asalnya”

๐Ÿ“• (Bughyatul Mustarsyidin, hlm. 358)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูุฅุฐุง ุญู…ู„ ุญูŠูˆุงู†ุง ุทุงู‡ุฑุง ู„ุง ู†ุฌุงุณุฉ ุนู„ู‰ ุธุงู‡ุฑู‡ ููŠ ุตู„ุงุชู‡ ุตุญุช ุตู„ุงุชู‡ ุจู„ุง ุฎู„ุงู

“Jika seseorang membawa hewan yang suci ke dalam sholatnya dan secara dzohir tidak ada najis yang menempel pada badan hewan tersebut, maka sholatnya dianggap sah tanpa ada perbedaan pendapat dikalangan ulama”

๐Ÿ“• (Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 3, hlm. 150)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ู‚ุงุนุฏุฉ ู…ู‡ู…ุฉ): ูˆู‡ูŠ ุฃู† ู…ุง ุฃุตู„ู‡ ุงู„ุทู‡ุงุฑุฉ ูˆุบู„ุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุธู† ุชู†ุฌุณู‡ ู„ุบู„ุจุฉ ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ููŠ ู…ุซู„ู‡ ููŠู‡ ู‚ูˆู„ุงู† ู…ุนุฑูˆูุงู† ุจู‚ูˆู„ูŠ ุงู„ุงุตู„. ูˆุงู„ุธุงู‡ุฑ ุฃูˆ ุงู„ุบุงู„ุจ ุฃุฑุฌุญู‡ู…ุง ุฃู†ู‡ ุทุงู‡ุฑ، ุนู…ู„ุง ุจุงู„ุงุตู„ ุงู„ู…ุชูŠู‚ู†

“(Qoidah penting), bahwasanya sesuatu yang asalnya suci lalu muncul dugaan terkena najis (karena dugaannya sesuatu itu bersinggungan dengan najis), maka dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur berdasarkan qoidah hukum asal. Adapun secara dzohir atau secara umum, pendapat yang rojih adalah pendapat yang menyatakan bahwasanya sesuatu itu tetap dianggap suci berdasarkan hukum asal yang telah diyakini”

๐Ÿ“• (I'anatut Tholibin jilid 1, hlm. 124)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู„ุฃู† ุงู„ู‚ูˆู„ ุจู†ุฌุงุณุชู‡ ูŠุณุชู„ุฒู… ุชุนุจุฏ ุงู„ุนุจุงุฏ ุจุญูƒู… ู…ู† ุงู„ุฃุญูƒุงู… ูˆุงู„ุฃุตู„ ุนุฏู… ุฐู„ูƒ ูˆุงู„ุจุฑุงุกุฉ ู‚ุงุถูŠุฉ ุจุฃู†ู‡ ู„ุง ุชูƒู„ูŠู ุจุงู„ู…ุญุชู…ู„ ุญุชู‰ ูŠุซุจุช ุซุจูˆุชุง ูŠู†ู‚ู„ ุนู† ุฐู„ูƒ

“Bahwasanya jika dikatakan bahwa sesuatu itu najis, maka ini berarti membebani seorang hamba dengan suatu hukum. Oleh karena itu, hukum asalnya adalah seorang hamba telah terbebas dari beban dan seorang hamba tidak terbebani kewajiban dengan sesuatu yang masih bersifat kemungkinan najis atau tidaknya sampai ada bukti yang jelas yang menyatakan bahwa sesuatu itu najis” 

๐Ÿ“• (Ad-Daroril Mudhiyyah, hal. 57)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุฎุฑุฌ ุจุงู„ู…ุฃูƒูˆู„ ุบูŠุฑู‡ ูƒุงู„ุญู…ุงุฑ ูˆุงู„ู‡ุฑุฉ ูุดุนุฑู‡ ู†ุฌุณ ู„ูƒู† ูŠุนูู‰ ุนู† ู‚ู„ูŠู„ู‡ ุจู„ ูˆุนู† ูƒุซูŠุฑู‡ ูู‰ ุญู‚ ู…ู† ุงุจุชู„ู‰ ุจู‡ ูƒุงู„ู‚ุตุงุตูŠู†
 
“Dan dikecualikan untuk bulu hewan yang tidak halal dimakan seperti keledai dan kucing, maka (rontokan) bulu dari hewan tersebut dihukumi najis. Namun najisnya dima'fu dalam jumlah sedikit, bahkan dalam jumlah banyak pun tetap dima'fu. Terkhusus bagi orang yang terbiasa dibuat kesulitan (untuk menghindari) bulu tersebut semisal para tukang pemotong bulu”

๐Ÿ“• (Hasyiyah Al-Baijuri jilid 2, hlm. 290)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Selasa, Februari 06, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM BERHUTANG EMAS DIBAYAR DENGAN UANG


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.
Mau nanya soal utang. Bagaimana praktek dan hukum utang emas di bayar pke uang atau sebaliknya?
Syukran๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh. 

Hukum asal hutang piutang suatu barang adalah mesti dibayar atau dikembalikan dalam bentuk barang yang semisalnya. Oleh karena itu jika seseorang meminjam emas, maka harus dikembalikan dalam bentuk emas dan tidak boleh dikembalikan dalam bentuk uang. Mangkanya ada istilah mitslan bimitslin dan sawaan bisawain yang bermakna mesti sejenis dan sama pula ukuran atau takarannya saat meminjam. Jadi kalau seseorang meminjam emas seberat dua gram misalnya, maka harus dikembalikan dalam bentuk emas pula yaitu seberat dua gram, nah inilah yang dimaksud sawaan bisawain.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูˆูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุณุชู‚ุฑุถ ุฑุฏ ุงู„ู…ุซู„ ููŠู…ุง ู„ู‡ ู…ุซู„ ู„ุฃู† ู…ู‚ุชุถู‰ ุงู„ู‚ุฑุถ ุฑุฏ ุงู„ู…ุซู„

“Wajib bagi orang yang berhutang untuk mengembalikan barang yang serupa pada barang-barang yang (memang) ada keserupaan dengannya, karena tuntutan dari akad hutang piutang itu adalah (wajib) mengembalikan barang yang serupa (saat dia meminjamnya)”

๐Ÿ“• (Al-Muhadzdzab Fiqih Syafi'i jilid 2, hlm. 85)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆ ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู‚ุชุฑุถ ุฑุฏ ุงู„ู…ุซู„ ูู‰ ุงู„ู…ู‚ู„ู‰ ูˆ ู‡ูˆ ุงู„ู†ู‚ูˆุฏ ูˆ ุงู„ุญุจูˆุจ ูˆ ู„ูˆ ู†ู‚ุฏุง ุงุจุทู„ู‡ ุงู„ุณู„ุทุงู† ู„ุงู†ู‡ ุงู‚ุฑุจ ุงู„ู‰ ุญู‚ู‡ ูˆ ุฑุฏ ุงู„ู…ุซู„ู‰ ุณูˆุฑุฉ ูู‰ ุงู„ู…ุชู‚ูˆู… ูˆ ู‡ูˆ ุงู„ุญูŠูˆุงู† ูˆ ุงู„ุซูŠุงุจ ูˆ ุงู„ุฌูˆุงู‡ุฑ

“Wajib bagi orang yang berhutang dengan suatu barang untuk mengembalikannya dalam bentuk barang yang semisalnya seperti nuqud (emas, perak atau uang) dan hutang biji-bijian meski nuqud tersebut umpamanya sudah diperbarui kegunaannya oleh penguasa (dinegeri tersebut), karena pengembalian dalam bentuk barang yang semisalnya adalah lebih sesuai dengan haknya. Dan wajib untuk mengembalikan peminjaman suatu barang yang sama bentuknya pada barang-barang yang dapat dinilai seperti halnya hewan, pakaian dan juga perhiasan” 

๐Ÿ“• (Tarsihul Mustarsyidin, hlm. 233)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุงู„ุฃุตู„ ุฃู† ุงู„ู‚ุฑุถ ูŠุฑุฏ ุจู…ุซู„ู‡ ูู…ู† ุงู‚ุชุฑุถ ุฐู‡ุจุง ูุนู„ูŠู‡ ุฃู† ูŠุฑุฏ ุฐู‡ุจุง ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ุงุชูุงู‚ ู…ุนู‡ ุนู†ุฏ ุงู„ู‚ุฑุถ ุนู„ู‰ ุฃู† ูŠุฑุฏ ู†ู‚ูˆุฏุง ุฃูˆ ูุถุฉ ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ู…ู† ุงู„ุตุฑู ุงู„ู…ุคุฌู„ ูˆู‡ูˆ ุฑุจุง

“Hukum asal hutang piutang itu wajib dikembalikan dalam bentuk yang semisalnya. Oleh karena itu barang siapa yang meminjam emas, maka wajib untuk mengembalikannya dalam bentuk emas. Dan tidak diperbolehkan ada kesepakatan pada saat akad untuk mengembalikannya dalam bentuk perak (atau semisal uang), karena yang demikian itu termasuk shorof (tukar menukar emas dengan perak atau uang) yang terjadi penundaan, dan itu merupakan riba”

๐Ÿ“• (Darul Ifta Al-Mishriyyah, Nomor Fatwa. 7836)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุงู„ู‚ุฑุถ ูŠู‚ุน ููŠ ูƒู„ ุดูŠุก ูู„ุง ูŠุญู„ ุฅู‚ุฑุงุถ ุดูŠุก ู„ูŠุฑุฏ ุฅู„ูŠูƒ ุฃู‚ู„ ุฃูˆ ุฃูƒุซุฑ، ูˆู„ุง ู…ู† ู†ูˆุน ุขุฎุฑ ุฃุตู„ุง ู„ูƒู† ู…ุซู„ ู…ุง ุฃَู‚ุฑุถุช ููŠ ู†ูˆุนู‡ ูˆู…ู‚ุฏุงุฑู‡

“Hutang piutang bisa dilakukan untuk semua jenis barang (entah itu barang ribawi dan non ribawi). Maka tidak diperbolehkan meminjamkan suatu barang agar dikembalikan kepadamu dalam jumlah yang lebih sedikit atau dalam jumlah yang lebih banyak, dan tidak boleh pula untuk dikembalikan dengan jenis yang berbeda berdasarkan hukum asalnya. Akan tetapi pengembalian tersebut wajib yang semisal pada saat kamu meminjamkannya entah itu dari segi bentuknya maupun dari segi jumlahnya” 

๐Ÿ“• (Nidzhomul Islam, hlm. 256)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Jumat, Februari 02, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM MENGHADIAHKAN PAHALA UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.

Mau nanya soal menghadiahi pahala. Kan klo hadiahi pahala utk org yg sudah meninggal itu terdengar biasa, yg mau ditanyain gimana hukum menghadiahi pahala utk org yg masih hidup apakah sampai pahalanya semisal baca alquran dan sedekah di hadiahi pahala ke org lain, org tua atau kerabat.

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Menghadiahkan pahala untuk orang yang masih hidup adalah boleh, bahkan hal itu bermanfaat dan pahalanya akan sampai.

๐Ÿ“š Keterangan :

ู…ู† ุนู…ู„ ู„ู†ูุณู‡ ุซู… ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ู… ุงุฌุนู„ ุซูˆุงุจู‡ ู„ูู„ุงู† ูˆุตู„ ู„ู‡ ุงู„ุซูˆุงุจ ุณูˆุงุก ุญูŠุง ุฃูˆ ู…ูŠุชุง

“Barang siapa yang melakukan satu amalan untuk dirinya sendiri kemudian dia mengucapkan: Yaa Allah, jadikanlah pahala amalanku ini untuk si fulan, maka pahala amalan tersebut akan sampai kepadanya. Sama saja apakah dia masih hidup ataupun sudah meninggal (maka akan sampai)”

๐Ÿ“• (Bughyatul Mustarsyidin, hlm. 196)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุงู„ุฃุตู„ ุฃู† ุซูˆุงุจ ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ูŠูƒูˆู† ู„ุตุงุญุจู‡ุง، ู„ูƒู† ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ุนู„ู‰ ุณุจูŠู„ ุงู„ุฏุนุงุก ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ ู…ุซู„ุง: ุงู„ู„ู‡ู… ู‡ุจ ู…ุซู„ ุซูˆุงุจ ุนู…ู„ูŠ ู‡ุฐุง ุฃูˆ ู‚ุฑุงุกุชูŠ ู‡ุฐู‡ ุฅู„ู‰ ูู„ุงู† ุฃูˆ ูู„ุงู†ุฉ ุญูŠุง ูƒุงู† ุฃูˆ ู…ูŠุชุง، ูˆู‡ุจุฉ ุงู„ุซูˆุงุจ ุนู„ู‰ ุฌู‡ุฉ ุงู„ุฏุนุงุก ู…ู…ุง ุงุชูู‚ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุนู„ู…ุงุก

“Pada dasarnya, pahala membaca Al-Qur'an adalah milik orang yang membacanya. Akan tetapi boleh bagi seseorang yang atas dasar doa semisal mengatakan: Yaa Allah, berikanlah semisal pahala amalanku ini atau bacaanku ini untuk si fulan atau fulanah entah dia masih hidup atau sudah meninggal. Dan pemberian hadiah pahala tersebut adalah sebagai bentuk doa sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama” 

๐Ÿ“• (Darul Ifta Al-Mishriyyah, Fatwa Nomor. 2322)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆูƒู„ ู‚ุฑุจุฉ ูุนู„ู‡ุง ุงู„ู…ุณู„ู… ูˆุฌุนู„ ุซูˆุงุจู‡ุง ุฃูˆ ุจุนุถู‡ุง ูƒุงู„ู†ุตู ูˆู†ุญูˆู‡ ู„ู…ุณู„ู… ุญูŠ ุฃูˆ ู…ูŠุช ุฌุงุฒ ูˆู†ูุนู‡ ู„ุญุตูˆู„ ุงู„ุซูˆุงุจ ู„ู‡

“Setiap ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim kemudian pahalanya atau sebagian pahalanya, semisal setengah pahalanya diperuntukkan bagi muslim yang lain entah dia masih hidup ataupun sudah meninggal, maka yang demikian itu diperbolehkan. Dan hal itu akan bermanfaat baginya karena dia telah mendapatkan pahala (yang dihadiahkan kepadanya)” 

๐Ÿ“• (Al-Iqna jilid 1, hlm. 236)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุฅู† ุงู„ุซูˆุงุจ ุญู‚ ุงู„ุนุงู…ู„ ูุฅุฐุง ูˆู‡ุจู‡ ู„ุฃุฎูŠู‡ ุงู„ู…ุณู„ู… ู„ู… ูŠู…ู†ุน ู…ู† ุฐู„ูƒ ูƒู…ุง ู„ู… ูŠู…ู†ุน ู…ู† ู‡ุจุฉ ู…ุงู„ู‡ ู„ู‡ ููŠ ุญูŠุงุชู‡، ูˆุฅุจุฑุงุฆู‡ ู„ู‡ ู…ู†ู‡ ุจุนุฏ ูˆูุงุชู‡، ูˆู‚ุฏ ู†ุจู‡ ุงู„ุดุงุฑุน ุจูˆุตูˆู„ ุซูˆุงุจ ุงู„ุตูˆู… ุนู„ู‰ ูˆุตูˆู„ ุซูˆุงุจ ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ูˆู†ุญูˆู‡ุง ู…ู† ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ุงู„ุจุฏู†ูŠุฉ

“Sesungguhnya pahala ibadah itu milik orang yang beramal. Namun jika seseorang menghibahkan (menghadiahkan) pahala tersebut kepada muslim yang lain, maka yang demikian itu tidak dilarang. Sebagaimana seseorang tidak dilarang untuk menghibahkan (menghadiahkan) hartanya kepada orang lain ketika dia masih hidup, dan juga membebaskan tanggungan (hutang) sesama muslim setelah dia meninggal. Dan syariat telah menjelaskan bahwa pahala puasa itu bisa sampai kepada mayit, yang mana hal itu juga menunjukkan sampainya pahala bacaan Al-Qur'an dan ibadah badaniyah lainnya (yang dihadiahkan kepada mayit)” 

๐Ÿ“• (Syarah Thohawiyah Fil Aqidah Salafiyah jilid 1, hlm.403)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู„ุง ูุฑู‚ ุจูŠู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู…ุฌุนูˆู„ ู„ู‡ ู…ูŠุชุง ุฃูˆ ุญูŠุง، ูˆุงู„ุธุงู‡ุฑ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูุฑู‚ ุจูŠู† ุฃู† ูŠู†ูˆูŠ ุจู‡ ุนู†ุฏ ุงู„ูุนู„ ู„ู„ุบูŠุฑ ุฃูˆ ูŠูุนู„ู‡ ู„ู†ูุณู‡ ุซู… ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ูŠุฌุนู„ ุซูˆุงุจู‡ ู„ุบูŠุฑู‡

“Tidak ada perbedaan terkait bolehnya (menghadiahkan pahala) kepada orang lain entah yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Dan secara dzohir bahwasanya tidak ada perbedaan juga entah dia meniatkan untuk orang lain ketika mulai mengerjakan sebuah amal, atau dia awali niat tersebut untuk dirinya sendiri kemudian setelah itu dia hadiahkan pahalanya kepada orang lain” 

๐Ÿ“• (Hasyiyah Ibnu Abidin jilid 2, hlm. 243)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ู‚ุงู„: ู…ุง ุนู„ู‰ ุฃุญุฏูƒู… ุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠุชุตุฏู‚ ู„ู„ู‡ ุตุฏู‚ุฉ ุชุทูˆุน ุฃู† ูŠุฌุนู„ู‡ุง ุนู† ูˆุงู„ุฏูŠู‡ ุฅุฐุง ูƒุงู†ุง ู…ุณู„ู…ูŠู† ููŠูƒูˆู† ุฃุฌุฑู‡ุง ู„ู‡ู…ุง ูˆ ู„ู‡ ู…ุซู„ ุฃุฌูˆุฑู‡ู…ุง ุจุบูŠุฑ ุฃู† ูŠู†ู‚ุต ู…ู† ุฃุฌูˆุฑู‡ู…ุง ุดูŠุฃ

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma beliau berkata: Tidak apa-apa salah seorang diantara kalian jika ingin bersedekah dengan sedekah sunnah yang mana pahala sedekah tersebut diperuntukkan bagi kedua orang tuanya jika kedua orang tuanya itu adalah seorang muslim. Maka pahala sedekah tersebut akan sampai kepada kedua orang tuanya, dan dia pun tetap mendapatkan pahala seperti pahala kedua orang tuanya tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala kedua orang tuanya”

๐Ÿ“• (Ithaf Syaddatul Muttaqin jilid 7, hlm 289)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...