KH. Hasyim Asy'ari rahimahullah mengatakan :
(فصل) في بيان وجوب التقليد لمن ليس له أهلية الإجتهاد يجب عند جمهور العلماء المحققين على كل من ليس له أهلية الإجتهاد المطلق، وإن كان قد حصل بعض العلوم المعتبرة في الإجتهاد تقليدُ قول المجتهدين والأخذ بفتواهم ليخرج عن عهدة التكليف بتقليد أيهم شاء لقوله تعالى: فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
(Pasal) yang menjelaskan tentang wajibnya taklid bagi orang yang tidak mempunyai kapasitas atau keahlian untuk berijtihad. Menurut jumhur ulama, setiap orang yang tidak mempunyai kapasitas atau keahlian untuk sampai pada tingkat kemampuan sebagai mujtahid mutlak meskipun dia sudah mampu menguasai beberapa cabang ilmu yang dipersyaratkan didalam melakukan ijtihad, maka (tetap) wajib baginya untuk taklid kepada salah satu imam mujtahid dan mengambil fatwa mereka supaya dia dapat terbebas dari ikatan beban (atau taklif) yang mewajibkannya untuk mengikuti siapa saja yang dia kehendaki dari salah satu imam mujtahid tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Maka bertanyalah kepada seorang ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.
فأوجب السؤال على من لم يعلم ذلك وذلك تقليد لعالم وهو عام لكل المخاطبين، ويجب أن يكون عاما في السؤال عن كل ما لا يعلم للإجماع على أن العامة لم تزل في زمن الصحابة والتابعين وكل حدوث المخالفين يستفتون المجتهدين و يتبعونهم في الأحكام الشرعية والعلماء
Maka wajib untuk bertanya bagi orang yang tidak mengetahui, dan bertanya itu merupakan implementasi dari sikap taklid seseorang kepada orang lain yang mengetahui. Adapun terkait firman Allah diatas, hal itu berlaku umum untuk semua golongan yang dikhithobi (yakni setiap objek yang terkena sasaran perintah). Dan secara umum pula berdasarkan kesepakatan ulama, firman Allah diatas itu mewajibkan seseorang untuk bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu yang tidak dia ketahui. Karena sesungguhnya orang yang termasuk kategori awam itu pasti sudah ada sejak zamannya para sahabat, tabi'in dan hingga zaman setelahnya. Mereka wajiblah untuk meminta fatwa kepada para mujtahid dan mengikuti fatwa-fatwa mereka dalam hukum-hukum syariat, lalu mengamalkannya sesuai dengan petunjuk ulama.
فإنهم يبادرون إلى إجابة سؤالهم من غير إشارة إلى ذكر الدليل، ولا ينهونهم عن ذلك من غير نكير، فكان إجماعا على اتباع العامى للمجتهد، ولأن فهم العامى من الكتاب والسنة ساقط عن حيز الإعتبار، إن لم يوافق أفهام علماء أهل الحق الأكابر الأخيار، فإن كل مبتدع وضال يفهم أحكامه الباطلة من الكتاب والسنة ويأخذ منهما والحال أنه لا يغنى من الحق شيئا
Sesungguhnya para mujtahid dan ulama itu bersegera menjawab pertanyaan orang awam tanpa memberi isyarat untuk menyebutkan dalil. Para mujtahid dan ulama tidak pernah melarang orang awam untuk meminta fatwa tanpa ada pengingkaran. Dan kondisi seperti itulah yang lantas disepakati adanya kewajiban bagi orang awam untuk mengikuti pendapat seorang mujtahid. Karena orang awam itu tidak memiliki kemampuan untuk memahami Al-Qur'an dan sunnah, dan tentunya pemahaman orang awam tidaklah dapat diterima jika tidak cocok dengan pemahaman ulama Ahlul Haq yang agung dan terpilih. Dan karena sesungguhnya, orang ahli bid'ah dan orang sesat, mereka memahami hukum-hukum syariat secara batil dari Al-Qur'an dan sunnah. Sehingga pada kenyataannya, apapun yang diambil oleh orang ahli bid'ah tidaklah dapat dipegangi sebagai sebuah kebenaran.
ولا يجب على العامى إلتزام مذهب في كل حادثة، ولو التزم مذهبا معينا كمذهب الشافعي رحمه الله تعالى لا يجب عليه الإستمرار، بل يجوز له الإنتقال إلى غير مذهبه
Orang awam tidak wajib untuk menetapi satu madzhab saja dalam menyikapi setiap masalah yang baru muncul. Jadi meskipun dia telah menetapkan untuk menetapi satu madzhab tertentu seperti madzhabnya imam Syafi'i rahimahullah, maka tidaklah selamanya dia harus mengikuti madzhab ini. Bahkan diperbolehkan baginya untuk pindah kepada madzhab selain madzhabnya imam Syafi'i.
والعامى الذي لم يكن له نظر واستدلال ولم يقرأ كتابا في فروع المذهب إذا قال: أنا شافعي، لم يعتبر هذا كذلك بمجرد القول، وقيل: إذا التزم العامي مذهبا معينا يلزمه الإستمرار عليه لأنه إعتقد أن المذهب الذي انتسب إليه هو الحق، فعليه الوفاء بموجب اعتقاده
Kemudian, orang awam yang tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan pengkajian masalah dan beristidlal (melakukan pencarian sumber dalil), atau dia juga tidak mempunyai kemampuan untuk membaca sebuah kitab pun yang menjadi referensi dalam sebuah madzhab, lantas dia mengatakan bahwa aku bermadzhab Syafi'i, maka pernyataan seperti itu tidaklah dianggap sah sebagai pengakuan jika hanya sebatas ucapan belaka. Dan dikatakan : Jika orang awam itu konsisten mengikuti satu madzhab tertentu, maka wajib baginya untuk menetapi madzhab pilihannya. Karena jelaslah bahwa orang awam itu meyakini bahwa madzhab yang dia pilih adalah madzhab yang benar. Maka dari itu, konsekuensi yang harus dia terima adalah wajib menjalankan apa yang menjadi ketentuan madzhab yang dia yakini.
وللمقلد تقليد غير إمامه في حادثة، فله أن يقلد إماما في صلاة الظهر مثلا ويقلد إماما آخر في صلاو العصر. والتقليد بعد العمل جائز، فلو صلى شافعي ظن صحة صلاته على مذهبه ثم تبين بطلانها في مذهبه وصحتها على مذهب غيره فله تقليده ويكتفي بتلك الصلاة
Dan bagi seseorang yang taklid, maka diperbolehkan untuk mengikuti selain imamnya dalam sebuah permasalahan yang timbul padanya. Misalnya dia taklid kepada salah satu imam saat melaksanakan sholat dzuhur, lantas dia taklid dan mengikuti imam lain saat melaksanakan sholat ashar. Jadi taklid setelah selesainya melakukan sebuah amal atau ibadah itu adalah boleh. Dan untuk memahami hal ini, dapatlah digambarkan sebuah masalah : Jika orang yang bermadzhab Syafi'i melakukan sholat dan dia menyangka atas keabsahan sholatnya menurut pandangan madzhabnya, namun ternyata sholatnya adalah batal menurut madzhab yang dianutnya tapi sah menurut pendapat madzhab lain, maka baginya boleh untuk langsung taklid kepada madzhab lain yang mengesahkan sholatnya. Dengan demikian, maka cukup terpenuhilah kewajiban sholatnya itu.
📚 (Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, hlm. 53)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar