Selasa, Maret 19, 2024

APAKAH BENAR TIDURNYA ORANG YANG BERPUASA ADALAH IBADAH?


Salah satu keyakinan salah yang sudah menjalar dalam pikiran sebagian orang islam pada saat bulan ramadhan tiba adalah terkait tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Keyakinan semacam ini membuat sebagian orang menjadi cenderung bermalas-malasan dalam menjalani kegiatan selama bulan ramadhan, sehingga banyak waktu yang terbuang hanya dengan tidur saja. Celotehnya kira-kira begini: Buat apa cape-cape melakukan kegiatan lain untuk ibadah sedangkan dengan tidur saja sudah dianggap melakukan ibadah. Ini merupakan keyakinan yang salah, salah satu bentuk kebodohan terhadap sunnah dan salah satu bentuk kedustaan atas nama agama. Bahkan yang lebih parah lagi, ada orang yang sampai pada taraf terlewat waktu sholat wajib karena kebanyakan tidur disebabkan celoteh diatas, na'uzubillah.

Pertanyaannya, benarkah tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah? Mungkin kita sering mendapati hadits yang beredar ditengah-tengah masyarakat terkait hal ini. Hanya saja, ternyata hadits itu tidaklah shohih sehingga tidak bisa dijadikan sebagai standar kebenaran secara mutlak kalau tidurnya orang yang berpuasa merupakan ibadah (tanpa perlu melirik penjelasan para ulama mengenai isi haditsnya). Dan seumpama hadits tersebut dianggap benar, maka akan ada penjelasan lain terkait maksudnya. Kemudian, memang para ulama hadits berpendapat kalau hadits dhoif itu bisa dijadikan keutamaan dalam beramal (fadhoil amal). Hanya saja jika yang dimaksud beramal disini adalah dengan memperbanyak tidur, maka jelas tidak ada relevansinya dan terkesan tidak masuk akal. Dengan demikian, melegitimasi sebuah keyakinan bahwa tidurnya orang yang berpuasa merupakan ibadah secara mutlak berdasarkan hadits tersebut adalah keliru total.

Bahkan ini yang menarik, ada beberapa ulama hadits yang menyatakan kalau hadits tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah merupakan hadits palsu, karena didalamnya terdapat salah seorang perawi pendusta. Berikut ini keterangan dari imam Al-Iraqi rahimahullah :

๏ปญ๏บญ๏ปญุง๏ปฉ ๏บƒ๏บ‘๏ปฎ ๏ปฃ๏ปจ๏บผ๏ปฎ๏บญ ุง๏ปŸ๏บช๏ปณ๏ป ๏ปค๏ปฒ ๏ป“๏ปฒ ๏ปฃ๏บด๏ปจ๏บช ุง๏ปŸ๏ป”๏บฎ๏บฉ๏ปญ๏บฑ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บฃ๏บช๏ปณ๏บš ๏ป‹๏บ’๏บช ุง๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บ‘๏ปฆ ๏บƒ๏บ‘๏ปฒ ๏บƒ๏ปญ๏ป“๏ปฐ ๏ปญ๏ป“๏ปด๏ปช ๏บณ๏ป ๏ปด๏ปค๏บŽ๏ปฅ ๏บ‘๏ปฆ ๏ป‹๏ปค๏บฎ๏ปญ ุง๏ปŸ๏ปจ๏บจ๏ปŒ๏ปฒ ๏บƒ๏บฃ๏บช ุง๏ปŸ๏ปœ๏บฌุง๏บ‘๏ปด๏ปฆ

“Hadits (tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah) itu bersumber dari riwayat Abu Mansur Ad-Dailami didalam kitab Musnad Al-Firdaus dari hadits Abdullah bin Abu Aufa, dan didalamnya terdapat Sulaiman bin Amr An-Nakhai, yaitu salah seorang perndusta (hadits)” (Takhrij Ihya Ulumuddin : 2/605) 

Kerancuan hadits tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, disamping alasannya karena terdapat salah seorang perawi pendusta didalamnya, juga terdapat alasan-alasan lainnya. Diantaranya adalah matan haditsnya yang tidak masuk masuk akal. Bahkan cenderung bertentangan dengan spirit ramadhan itu sendiri, yang mana anjuran saat berpuasa itu seharusnya agar seseorang memperbanyak ibadah pada siang hari bulan ramadhan, bukan memperbanyak tidur. Dan lagi pula, banyak tidur pada saat puasa juga merupakan perkara yang jelek. Karena salah satu adab orang yang sedang berpuasa adalah dengan tidak memperbanyak tidur di siang hari sebagaimna yang dikatakan oleh Al-Imam Ghozali rahimahullah berikut ini :

ุจู„ ู…ู† ุงู„ุขุฏุงุจ ุฃู† ู„ุง ูŠูƒุซุฑ ุงู„ู†ูˆู… ุจุงู„ู†ู‡ุงุฑ ุญุชู‰ ูŠุญุณ ุจุงู„ุฌูˆุน ูˆุงู„ุนุทุด ูˆูŠุณุชุดุนุฑ ุถุนู ุงู„ู‚ูˆูŠ ููŠุตููˆ ุนู†ุฏ ุฐู„ูƒ ู‚ู„ุจู‡  

“Bahkan termasuk dari adab (orang yang sedang berpuasa) adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari sampai dia merasakan lapar, haus serta merasakan lemahnya kekuatan fisik. Dengan demikian, hati akan menjadi bersih (karena hal itu)” (Ihya Ulumuddin : 1/246)  

Dan ini yang paling penting, pada dasarnya tidur itu merupakan sesuatu yang mubah. Bukan ibadah, dan bukan pula maksiat. Hanya saja, terkadang tidurnya orang yang berpuasa akan bernilai ibadah bisa dibenarkan dalam keadaan tertentu. Namun bukan dalam hal sengaja memperbanyak tidur tanpa adanya alasan. Bagaimana penjelasannya? Yaitu jika tidur tersebut dijadikan sarana untuk menambah kekuatan fisik dan memulihkan tenaga agar lebih semangat dalam beribadah setelah bangun. Dan itu semua dikembalikan pada niat masing-masing orangnya.

Al-Imam Ibnu Daqiq rahimahullah mengatakan :

ู‚ูˆู„ู‡ ุฅู†ู…ุง ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุจุงู„ู†ูŠุงุช، ู‚ูŠู„: ุฅู†ู‡ุง ู„ู„ุนู…ูˆู… ููŠ ูƒู„ ุนู…ู„، ูู…ุง ูƒุงู† ู…ู†ู‡ุง ู‚ุฑุจุฉ ุฃุซูŠุจ ุนู„ูŠู‡ ูุงุนู„ู‡، ูˆู…ุง ูƒุงู† ู…ู†ู‡ุง ู…ู† ุฃู…ูˆุฑ ุงู„ุนุงุฏุงุช ูƒุงู„ุฃูƒู„ ูˆุงู„ุดุฑุจ ูˆุงู„ู†ูˆู… ูุฅู† ุตุงุญุจู‡ ูŠุซุงุจ ุนู„ูŠู‡ ุฅุฐุง ู†ูˆู‰ ุจู‡ ุงู„ุชู‚ูˆูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุทุงุนุฉ

“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dikatakan: Hal itu untuk sesuatu yang umum pada setiap amal (entah yang ditunjukkan kepada Allah atau tidak). Maka apa-apa yang termasuk pendekatan diri kepada Allah, niscaya pelakunya akan diberi pahala atasnya. Dan apa-apa yang termasuk perkara adat (kebiasaan) seperti makan, minum, dan tidur, maka pelakunya akan diberi pahala atasnya jika dia meniatkannya agar menjadi kuat untuk melaksanakan ketaatan (kepada Allah)” (Syarah Arba'in Nawawi : 2/5)

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :

ูˆุฅู† ู†ูˆู‰ ุจุฃูƒู„ู‡ ูˆุดุฑุจู‡ ุชู‚ูˆูŠุฉ ุจุฏู†ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ูŠุงู… ูˆุงู„ุตูŠุงู… ูƒุงู† ู…ุซุงุจุง، ูƒู…ุง ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ู†ูˆู‰ ุจู†ูˆู…ู‡ ููŠ ุงู„ู„ูŠู„ ูˆุงู„ู†ู‡ุงุฑ ุงู„ุชู‚ูˆูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุนู…ู„ ูƒุงู† ู†ูˆู…ู‡ ุนุจุงุฏุฉ

“Jika seseorang meniatkan makan dan minum untuk menguatkan tubuhnya agar mampu melaksanakan sholat dan puasa, maka dia akan diberi pahala (karena niatnya itu). Sebagaimana jika dia meniatkan tidurnya di malam dan siang hari untuk menguatkan diri dalam beramal, maka tidurnya akan bernilai ibadah (juga karena niatnya itu)” (Lathaiful Ma'arif : 279)

Teknis sederhananya itu kita tidur sebentar di siang hari dengan niatan agar lebih kuat menjalankan ibadah sholat tarawih di malam hari, dan kita tidak sampai meninggalkan sholat wajib karena alasan tidur tadi. Maka tidur dengan niatan seperti itulah yang insyaa Allah akan diberi pahala dan dinilai sebagai ibadah.

Al-Imam Nawawi rahimahullah mengatakan :

ุฃู† ุงู„ู…ุจุงุญ ุฅุฐุง ู‚ุตุฏ ุจู‡ ูˆุฌู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุตุงุฑ ุทุงุนุฉ ูˆูŠุซุงุจ ุนู„ูŠู‡

“Sesuatu yang mubah jika tujuannya untuk mengharap keridhoan Allah, maka hal itu akan dinilai sebagai suatu ketaatan dan mendapatkan balasan (pahala) baginya” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 6/16)

Syaikh Murtadho Az-Zabidi rahimahullah mengatakan :

ู†ูˆู… ุงู„ุตุงุฆู… ุนุจุงุฏุฉ ูˆู†ูุณู‡ ุชุณุจูŠุญ ูˆุตู…ุชู‡ ุญูƒู…ุฉ، ู‡ุฐุง ู…ุน ูƒูˆู† ุงู„ู†ูˆู… ุนูŠู† ุงู„ุบูู„ุฉ ูˆู„ูƒู† ูƒู„ ู…ุง ูŠุณุชุนุงู† ุจู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุจุงุฏุฉ ูŠูƒูˆู† ุนุจุงุฏุฉ  

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, nafasnya adalah tasbih dan diamnya adalah hikmah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tidur merupakan pangkal dari segala kelalaian, namun setiap hal yang dapat membantu seseorang untuk melaksanakan ibadah, maka akan dinilai pula sebagai ibadah” (Ithaf Saddatul Muttaqin : 5/574)

Atau tidur dalam rangka menjauhi maksiat, contohnya ghibah. Maka pada saat itu tidur dinilai jauh lebih baik daripada bangun tapi melakukan ghibah atau maksiat-maksiat lainnya.

Al-Imam Abul Aliyyah rahimahullah mengatakan :

ุงู„ุตุงุฆู… ูู‰ ุนุจุงุฏุฉ ู…ุง ู„ู… ูŠุบุชุจ ุฃุญุฏุง ูˆุฅู† ูƒุงู† ู†ุงุฆู…ุง ุนู„ู‰ ูุฑุงุดู‡

“Orang yang berpuasa itu senantiasa berada dalam keadaan ibadah selama dia tidak mengghibah siapapun meskipun dia sedang tidur diatas ranjangnya” (Lathaiful Ma'arif : 279)

Nah kesimpulannya, tidur-tidur yang diniatkan seperti diataslah yang akan dinilai sebagai ibadah. Oleh karena itu, jika tidur malah membuat kita lalai dari ibadah, bahkan sholat wajib pun menjadi terlewat begitu saja, jangankan tidur kita akan dinilai sebagai ibadah, mendapat pahala pun niscaya tidak akan. Bahkan bisa jadi tidur kita akan dinilai sebagai bentuk maksiat, na'uzubillah.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Minggu, Maret 17, 2024

CIRI-CIRI HATI YANG MATI


Syaikh Sa'id Ramadhan Al-Buthi pernah menukil salah satu perkataannya Syaikh Ibnu Atha'illah Sakandari rahimahullah sebagai berikut :

ู…ู† ุนู„ุงู…ุงุช ู…ูˆุช ุงู„ู‚ู„ุจ ุนุฏู… ุงู„ุญุฒู† ุนู„ู‰ ู…ุง ูุงุชูƒ ู…ู† ุงู„ู…ูˆุงูู‚ุงุช ูˆุชุฑูƒ ุงู„ู†ุฏู… ุนู„ู‰ ู…ุง ูุนู„ุช ู…ู† ูˆุฌูˆุฏ ุงู„ุฒู„ุงุช

“Diantara ciri-ciri hati yang mati adalah tidak adanya perasaan sedih atas berbagai ketaatan yang telah dilewatkan, dan tidak adanya perasaan menyesal atas berbagai kesalahan (perbuatan dosa) yang telah dilakukan” {Syarah Al-Hikam : 2/207}

Ketahuilah bahwa matinya hati itu menunjukkan kalau hati telah kosong dari nilai-nilai keimanan. Dan matinya hati juga bisa bermakna kosongnya hati dari kecintaan kepada Allah, mengagungkannya dan takut kepadanya. Sedangkan diantara tanda-tandanya adalah tidak adanya perasaan sedih atas terlewatkannya berbagai ketaatan, dan tidak adanya perasaan menyesal atas berbagai kesalahan dan dosa yang telah dilakukan.

Sebaliknya, tanda hidupnya hati berarti itu menunjukkan kalau hatinya telah penuh dengan nilai-nilai keimanan, telah penuh dengan kecintaan, pengagungan dan rasa takut kepada Allah. Dan ciri-cirinya adalah muncul perasaan sedih disaat melewatkan ketaatan, dan muncul perasaan menyesal disaat melakukan kemaksiatan.

Kenapa bisa demikian? Tiada lain karena amal baik dan amal buruk itu menjadi tanda keridhoan dan kemurkaan Allah kepada manusia. Oleh karena itu disaat Allah memudahkan seseorang melakukan berbagai kebaikan, niscaya hal itu akan membuatnya bahagia karena menjadi tanda keridhoan Allah kepadanya. Begitu juga sebaliknya, disaat Allah memudahkan seseorang melakukan berbagai keburukan dan kemaksiatan, niscaya hal itu akan membuatnya sedih karena menjadi tanda kemurkaan Allah kepadanya.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

ู…ู† ุณุฑุชู‡ ุญุณู†ุชู‡ ูˆุณุงุกุชู‡ ุณูŠุฆุชู‡ ูู‡ูˆ ู…ุคู…ู†

“Barang siapa yang perbuatan baiknya membuat seseorang bahagia dan perbuatan buruknya membuat seseorang bersedih, maka dia adalah seorang mukmin (yang sejati)” {HR. Ahmad : 109}

Hati yang hidup adalah hati yang mampu merasakan setiap hal yang mendatangkan keridhoan Allah, sehingga membuatnya bahagia. Dan juga mampu merasakan setiap hal yang mendatangkan kemurkaan Allah, sehingga membuatnya sedih. Sementara hati yang mati tidak akan mampu merasakan apapun. Oleh karena itu, bagi dia ketaatan dan kemaksiatan adalah sama saja. Ketaatan tidak membuatnya bahagia, dan kemaksiatan pun tidak membuatnya gundah gulana. Persis seperti orang mati yang tidak mampu merasakan apa-apa.

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata :

ุฅู† ุงู„ู…ุคู…ู† ูŠุฑู‰ ุฐู†ูˆุจู‡ ูƒุฃู†ู‡ ููŠ ุฃุตู„ ุฌุจู„ ูŠุฎุงู ุฃู† ูŠู‚ุน ุนู„ูŠู‡، ูˆุฅู† ุงู„ูุงุฌุฑ ูŠุฑู‰ ุฐู†ูˆุจู‡ ูƒุฐุจุงุจ ูˆู‚ุน ุนู„ู‰ ุฃู†ูู‡ ู‚ุงู„ ุจู‡ ู‡ูƒุฐุง ูุทุงุฑ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti dia sedang berada dibawah gunung, dan dia khawatir kalau gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (pelaku dosa) melihat dosa-dosanya seperti ada seekor lalat yang sedang hinggap diatas hidungnya, dia mengusirnya begini (sambil berisyarat dengan tangannya) lalu lalat itupun terbang” {HR. Tirmidzi : 2597}

Nah demikianlah sedikit ulasan terkait ciri-ciri matinya hati seseorang, semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Kamis, Maret 14, 2024

KAPAN TURUNNYA AL-QUR'AN?


Turunnya Al-Qur'an, yaitu pada bulan ramadhan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini :

ุดู‡ุฑ ุฑู…ุถุงู† ุงู„ุฐูŠ ุฃู†ุฒู„ ููŠู‡ ุงู„ู‚ุฑุขู†

“Bulan ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an” (Qs. Al-Baqarah : 185)

Pertanyaan berikutnya, kapan waktu yang tepat pada bulan ramadhan tersebut? Sebagian orang meyakini bahwa Al-Qur'an turun pada tanggal 17 ramadhan. Namun hal itu kurang tepat, sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

ุฅู†ุง ุฃู†ุฒู„ู†ุงู‡ ููŠ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadar” (Qs. Al-Qadar : 1)

Dan yang dimaksud turunnya Al-Qur'an pada malam Lailatul Qadar adalah turunnya Al-Qur'an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia. Yang kemudian setelah itu malaikat Jibril 'alaihissalam menurunkannya kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara berangsur-angsur. Adapun tanggal 17 Ramadhan, itu kemungkinan maksudnya adalah Al-Qur'an yang diturunkan oleh malaikat Jibril 'alaihissalam kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bukan Al-Qur'an yang diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz. 

Al-Imam Qurthubi rahimahullah mengatakan :

ู‚ูˆู„ู‡: ุฅู†ุง ุฃู†ุฒู„ู†ุงู‡ ููŠ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ، ูˆููŠ ู‡ุฐุง ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ุฅู†ู…ุง ุชูƒูˆู† ููŠ ุฑู…ุถุงู† ู„ุง ููŠ ุบูŠุฑู‡، ูˆู„ุง ุฎู„ุงู ุฃู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ุฃู†ุฒู„ ู…ู† ุงู„ู„ูˆุญ ุงู„ู…ุญููˆุธ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ุนู„ู‰ ู…ุง ุจูŠู†ุงู‡ ุฌู…ู„ุฉ ูˆุงุญุฏุฉ ููˆุถุน ููŠ ุจูŠุช ุงู„ุนุฒุฉ ููŠ ุณู…ุงุก ุงู„ุฏู†ูŠุง، ุซู… ูƒุงู† ุฌุจุฑูŠู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠู†ุฒู„ ุจู‡ ู†ุฌู…ุง ู†ุฌู…ุง ููŠ ุงู„ุฃูˆุงู…ุฑ ูˆุงู„ู†ูˆุงู‡ูŠ ูˆุงู„ุฃุณุจุงุจ ูˆุฐู„ูƒ ููŠ ุนุดุฑูŠู† ุณู†ุฉ. ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุงุณ: ุฃู†ุฒู„ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู…ู† ุงู„ู„ูˆุญ ุงู„ู…ุญููˆุธ ุฌู…ู„ุฉ ูˆุงุญุฏุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ูƒุชุจุฉ ููŠ ุณู…ุงุก ุงู„ุฏู†ูŠุง، ุซู… ุฃู†ุฒู„ ุจู‡ ุฌุจุฑูŠู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ู†ุฌูˆู…ุง ูŠุนู†ูŠ ุงู„ุขูŠุฉ ูˆุงู„ุขูŠุชูŠู† ููŠ ุฃูˆู‚ุงุช ู…ุฎุชู„ูุฉ ููŠ ุฅุญุฏู‰ ูˆุนุดุฑูŠู† ุณู†ุฉ

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadar. Ayat ini menjadi dalil yang sangat jelas bahwa malam Lailatul Qadar hanya terdapat pada bulan Ramadhan, tidak pada bulan lainnya. Dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama bahwa Al-Qur'an diturunkan oleh Allah dari Lauhul Mahfudz (secara keseluruhan) pada malam tersebut sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya, lalu diletakkan di Baitul Izzah dilangit dunia. Setelah itu malaikat Jibril 'alaihissalam menurunkannya kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara berangsur-angsur sesuai kondisi baik itu yang terkait dengan perintah, larangan atau sebab-sebab lainnya selama dua puluh tahun. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Al-Qur'an diturunkan oleh Allah secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz pada malam Lailatul Qadar ke langit dunia, kemudian malaikat Jibril 'alaihissalam menurunkannya kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara berangsur-angsur (yakni satu dua ayat) pada waktu yang berbeda selama dua puluh satu tahun” (Jami Li Ahkamil Qur'an : 2/297)

Kemudian setelah kita mengetahui bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, maka kita perlu mengetahui nash yang menunjukkan kapan Laitul Qadar itu. Kali ini, beberapa hadits yang akan menjawabnya.

➡️ Hadits pertama :

ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุงู„ุชู…ุณูˆู‡ุง ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ูŠุนู†ูŠ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ูุฅู† ุถุนู ุฃุญุฏูƒู… ุฃูˆ ุนุฌุฒ ูู„ุง ูŠุบู„ุจู† ุนู„ู‰ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุจูˆุงู‚ูŠ

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dia berkata, Rasulullah ๏ทบ bersabda: Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Jika salah satu diantara kalian tidak mampu melakukannya, maka jangan lewatkan tujuh malam yang tersisa” (HR.Muslim : 639)

➡️ Hadits kedua :

ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: ุชุญุฑูˆุง ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ููŠ ุงู„ูˆุชุฑ ู…ู† ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู†

“Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya Rasulullah ๏ทบ bersabda: Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil disepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan” (HR.Bukhari : 1878)

➡️ Hadits ketiga :

ุนู† ุฃุจูŠ ู…ุฌู„ุฒ ูˆุนูƒุฑู…ุฉ ุฃู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ู‡ูŠ ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ู‡ูŠ ููŠ ุชุณุน ูŠู…ุถูŠู† ุฃูˆ ููŠ ุณุจุน ูŠุจู‚ูŠู† ูŠุนู†ูŠ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ

“Diriwayatkan dari Abu Mijlaz dan Ikrimah bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah ๏ทบ bersabda: Dia terjadi pada sepuluh malam terakhir, juga pada sembilan hari yang terakhir atau pada yang ke tujuh, yaitu terjadinya Lailatul Qadar” (HR.Bukhari : 1882)

Kesimpulannya, waktu yang tepat untuk menjawab kapan turunnya Al-Qur'an adalah pada malam Lailatul Qadar. Entah itu pada malam 21, 23 atau pada malam lain pada sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. Namun yang jelas, Lailatul Qadar itu ada diantara malam-malam yang ganjil dari malam ke 21 Ramadhan sampai seterusnya.

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan :

ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ู…ู†ุญุตุฑุฉ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ุซู… ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃุฎูŠุฑ ู…ู†ู‡ ุซู… ููŠ ุฃูˆุชุงุฑู‡ ู„ุง ููŠ ู„ูŠู„ุฉ ู…ู†ู‡ ุจุนูŠู†ู‡ุง، ูˆู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฏู„ ุนู„ูŠู‡ ู…ุฌู…ูˆุน ุงู„ุฃุฎุจุงุฑ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ููŠู‡ุง

“Malam Lailatul Qadar itu hanya ada pada bulan ramadhan, kemudian hanya ada pada sepuluh hari terakhir darinya, kemudian hanya ada pada hari-hari ganjilnya. Tidak ada satu malam tertentu dari malam-malam ganjil tersebut, dan inilah yang ditunjukkan dalam hadits-hadits shohih yang menjelaskan tentangnya” (Fathul Bari : 4/260)

Demikianlah sedikit ulasan terkait kapan turunnya Al-Qur'an, semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

Selasa, Maret 12, 2024

TANYA JAWAB - JANJI MENIKAHI TAPI INGKAR, BAGAIMANA HUKUMNYA?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Di dlm hadis disebutkan bahwa salah satu sifat munafik adalah jika berjanji tpi mengingkari. Nah ada seorang perempuan yg dijanjikan akan dinikahi oleh seorang lelaki, tapi lelaki tersebut ingkar janji, menghilang tanpa jejak dan tanpa kabar. 

Pertanyaannya, apakah lelaki itu berdosa dan termasuk munafik? Dan bagaimana hukum mengingkari janji?๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Hukum tidak memenuhi sebuah janji jika janjinya tersebut adalah berkaitan dengan sesuatu yang mubah (bukan untuk berbuat keharaman), maka hukum memenuhinya adalah sunnah berdasarkan pendapatnya mayoritas ulama. Adapun yang termasuk dosa dan termasuk munafik saat tidak memenuhi janji itu hanya diperuntukkan bagi orang yang berucap janji tapi didalam hatinya ada niat untuk mengingkari. Sedangkan bagi orang yang berjanji namun tidak mampu memenuhi janji tersebut karena punya alasan-alasan tertentu, maka orang tersebut tidak berdosa dan tidak tergolong sebagai munafik sebagaimana yang telah disebutkan didalam hadits.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูˆุฃุฌู…ุนูˆุง ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ูˆูุงุก ุจุงู„ูˆุนุฏ ููŠ ุงู„ุฎูŠุฑ ู…ุทู„ูˆุจ ูˆู‡ู„ ู‡ูˆ ูˆุงุฌุจ ุฃูˆ ู…ุณุชุญุจ؟ ููŠู‡ ุฎู„ุงู ุฐู‡ุจ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุฃูƒุซุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู…ุณุชุญุจ، ูู„ูˆ ุชุฑูƒู‡ ูุงุชู‡ ุงู„ูุถู„ ูˆุงุฑุชูƒุจ ุงู„ู…ูƒุฑูˆู‡ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุดุฏูŠุฏุฉ ูˆู„ูƒู† ู„ุง ูŠุฃุซู…، ูˆุฐู‡ุจ ุฌู…ุงุนุฉ ุฃู†ู‡ ูˆุงุฌุจ ู…ู†ู‡ู… ุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ، ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ู…ุฐู‡ุจุง ุซุงู„ุซุง: ุฃู† ุงู„ูˆุนุฏ ุฅู† ุงุดุชุฑุท ุจุณุจุจ ูƒู‚ูˆู„ู‡ ุชุฒูˆุฌ ูˆู„ูƒ ูƒุฐุง ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ูˆุฌุจ ุงู„ูˆูุงุก ุจู‡، ูˆุฅู† ูƒุงู† ุงู„ูˆุนุฏ ู…ุทู„ู‚ุง ู„ู… ูŠุฌุจ

“Para ulama telah sepakat bahwa memenuhi janji untuk kebaikan itu diperintahkan. Namun apakah memenuhi janji tersebut hukumnya wajib atau sunnah? Maka didalamnya terdapat perbedaan pendapat. Diantaranya adalah pendapat imam Abu Hanifah, imam Syafi'i, imam Ahmad dan juga mayoritas ulama yang menyatakan bahwa memenuhi janji hukumnya adalah sunnah. Oleh karena itu jika seseorang mengingkarinya, maka dia telah meninggalkan keutamaan dan telah melakukan sesuatu yang makruh dengan tingkatan kemakruhan yang sangat, hanya saja perbuatan tersebut tidak menyebabkan berdosa. Dan sekelompok ulama yang lain menyatakan bahwa memenuhi janji hukumnya adalah wajib, diantaranya adalah pendapat Umar bin Abdul Aziz. Kemudian imam Malik memilih pendapat ketiga yang menyatakan bahwa jika janji tersebut digantungkan dengan syarat seperti ucapan: Menikahlah, bagimu ini dan itu, atau ucapan yang lainnya, maka wajib untuk memenuhi janji tersebut. Namun jika janjinya mutlak (atau tidak digantungkan), maka tidak wajib memenuhinya” 

๐Ÿ“• (Jawahirul Uqud jilid 1, hlm. 315)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู‚ุฏ ุฃุฌู…ุน ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู† ู…ู† ูˆุนุฏ ุฅู†ุณุงู†ุง ุดูŠุฆุง ู„ูŠุณ ุจู…ู†ู‡ูŠ ุนู†ู‡ ููŠู†ุจุบูŠ ุงู† ูŠููŠ ุจูˆุนุฏู‡ ูˆู‡ู„ ุฐู„ูƒ ูˆุงุฌุจ ุฃูˆ ู…ุณุชุญุจ؟ ููŠู‡ ุฎู„ุงู ุจูŠู†ู‡ู… ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู…ุณุชุญุจ، ูู„ูˆ ุชุฑูƒู‡ ูุงุชู‡ ุงู„ูุถู„ ูˆุงุฑุชูƒุจ ุงู„ู…ูƒุฑูˆู‡ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชู†ุฒูŠู‡ ุดุฏูŠุฏุฉ ูˆู„ูƒู† ู„ุง ูŠุฃุซู…، ูˆุฐู‡ุจ ุฌู…ุงุนุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ูˆุงุฌุจ ู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุจู† ุงู„ุนุฑุจูŠ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠ: ุฃุฌู„ ู…ู† ุฐู‡ุจ ุฅู„ู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ู‚ุงู„ ูˆุฐู‡ุจุช ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ู…ุฐู‡ุจุง ุซุงู„ุซุง: ุฃู†ู‡ ุฅู† ุงุฑุชุจุท ุงู„ูˆุนุฏ ุจุณุจุจ ูƒู‚ูˆู„ู‡ ุชุฒูˆุฌ ูˆู„ูƒ ูƒุฐุง ุฃูˆ ุฃุญู„ู ุฃู†ูƒ ู„ุง ุชุดุชู…ู†ูŠ ูˆู„ูƒ ูƒุฐุง ุฃูˆ ู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ูˆุฌุจ ุงู„ูˆูุงุก ูˆุฅู† ูƒุงู† ูˆุนุฏุง ู…ุทู„ู‚ุง ู„ู… ูŠุฌุจ

“Para ulama telah sepakat bahwa barang siapa menjanjikan sesuatu yang tidak dilarang (atau tidak diharamkan oleh syariat) kepada seseorang, maka hendaklah dia memenuhi janjinya. Namun apakah memenuhi janji tersebut hukumnya wajib atau sunnah? Maka didalamnya terdapat perbedaan pendapat. Diantaranya adalah pendapat imam Syafi'i, imam Abu Hanifah, dan juga mayoritas ulama yang menyatakan bahwa memenuhi janji hukumnya adalah sunnah. Oleh karena itu jika seseorang mengingkarinya, maka dia telah meninggalkan keutamaan dan telah melakukan sesuatu yang makruh dengan tingkatan kemakruhan yang sangat, hanya saja perbuatan tersebut tidak menyebabkan berdosa. Dan sekelompok ulama yang lain menyatakan bahwa memenuhi janji hukumnya adalah wajib. Imam Ibnul Arobi Al-Maliki mengatakan: Salah satu pendapat yang menyatakan terkait wajibnya memenuhi janji adalah pendapatnya Umar bin Abdul Aziz. Kemudian imam Malik memilih pendapat ketiga yang menyatakan bahwa jika janji tersebut digantungkan dengan syarat seperti ucapan: Menikahlah, bagimu ini dan itu, atau ucapan yang lainnya, maka wajib untuk memenuhi janji tersebut. Namun jika janjinya mutlak (atau tidak digantungkan), maka tidak wajib memenuhinya” 

๐Ÿ“• (Al-Adzkar, hlm. 317)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ูˆู„ู‡: ุฃุฑุจุน ู…ู† ูƒู† ููŠู‡ ูƒุงู† ู…ู†ุงูู‚ุง ุฎุงู„ุตุง، ูˆู…ู† ูƒุงู†ุช ููŠู‡ ุฎุตู„ุฉ ู…ู†ู‡ู† ูƒุงู†ุช ููŠู‡ ุฎุตู„ุฉ ู…ู† ุงู„ู†ูุงู‚ ุญุชู‰ ูŠุฏุนู‡ุง: ุฅุฐุง ุงุคุชู…ู† ุฎุงู† ูˆุฅุฐุง ุญุฏุซ ูƒุฐุจ ูˆุฅุฐุง ุนุงู‡ุฏ ุบุฏุฑ ูˆุฅุฐุง ุฎุงุตู… ูุฌุฑ. ูˆู‡ุฐุง ูŠู†ุฒู„ ุนู„ู‰ ู…ู† ุฅุฐุง ูˆุนุฏ ูˆู‡ูˆ ุนุฒู… ุงู„ุฎู„ู ุฃูˆ ุชุฑูƒ ุงู„ูˆูุงุก ู…ู† ุบูŠุฑ ุนุฐุฑ، ูุฃู…ุง ู…ู† ุนุฒู… ุนู„ู‰ ุงู„ูˆูุงุก ูุนู† ู„ู‡ ุนุฐุฑ ู…ู†ุนู‡ ู…ู† ุงู„ูˆูุงุก ู„ู… ูŠูƒู† ู…ู†ุงูู‚ุง ูˆุฅู† ุฌุฑู‰ ุนู„ูŠู‡ ู…ุง ู‡ูˆ ุตูˆุฑุฉ ุงู„ู†ูุงู‚، ูˆู„ูƒู† ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุญุชุฑุฒ ู…ู† ุตูˆุฑุฉ ุงู„ู†ูุงู‚ ุฃูŠุถุง ูƒู…ุง ูŠุญุชุฑุฒ ู…ู† ุญู‚ูŠู‚ุชู‡

“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Ada empat perkara yang barang siapa ke empat perkara tersebut terkumpul pada dirinya, maka dia termasuk seorang munafik yang murni (munafik yang sebenar-benarnya munafik). Dan barang siapa yang didalam dirinya terdapat salah satu dari ke empat perkara tersebut, maka dia telah memiliki salah satu perkara dari kemunafikan sampai dia meninggalkannya, yaitu: Jika diberi amanat dia berkhianat, jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika berseteru maka dia akan berbuat curang. (Hadits) ini berlaku bagi orang yang berjanji sementara dia berniat untuk mengingkarinya, atau berniat meninggalkannya (tidak menepatinya) dengan tanpa adanya uzur. Adapun orang yang memang sudah berniat menepatinya, hanya saja dia tidak mampu menepatinya karena adanya uzur, maka dia tidak termasuk munafik meskipun pada dirinya terdapat salah satu bentuk kemunafikan (sebagaimana yang disebutkan dalam hadits). Akan tetapi hendaknya dia waspada terhadap salah satu bentuk kemunafikan tersebut sebagaimana dia waspada terhadap bentuk kemunafikan yang sebenarnya” 

๐Ÿ“• (Ihya Ulumuddin jilid 3, hlm. 130)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Sabtu, Maret 09, 2024

TANYA JAWAB - APAKAH TAKDIR BISA BERUBAH?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, mau bertanya.

Apakah usaha dan doa yang kita panjatkan itu akan bermanfaat untuk perubahan takdir? Umpama ada orang miskin dia berdoa dan terus berusaha lalu menjadi kaya, mohon penjelasannya ๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Takdir manusia itu sudah Allah tetapkan sejak zaman azali, dan tidak akan mengalami perubahan sama sekali. Dan maksud takdir yang tidak akan mengalami perubahan disini adalah takdir yang telah tertulis di Lauh Mahfud. Adapun usaha dan doa yang dilakukan oleh manusia, adalah bagian daripada takdir.

Contoh sederhananya semisal ada orang miskin yang dengan pilihan sadarnya berusaha keras agar kemiskinannya itu berubah menjadi kekayaan dan hal itu berhasil dia lakukan, maka sebenarnya dia tidak merubah sedikit pun takdirnya. Takdirnya bukanlah miskin kemudian dilawan hingga berubah menjadi kaya, akan tetapi takdirnya adalah dia miskin lalu berusaha keras dan menjadi kaya. Jadi jika ditinjau dari pengetahuan atau pandangan Allah, Allah itu sebenarnya sudah lebih dulu mengetahui kalau orang miskin tersebut akan berdoa dan berusaha kemudian menjadi kaya.

Hanya saja jika ditinjau dari pengetahuan atau pandangan makhluk seperti manusia dan malaikat, maka takdir itu seolah-olah bisa berubah. Contohnya seperti orang miskin yang berdoa dan berusaha tadi, yang mana dalam pandangannya doa dan usaha dia itu seolah merubah kemiskinannya menjadi kekayaan. Padahal dia miskin, kemudian berdoa lalu berusaha dan menjadi kaya itu merupakan takdirnya. Jadi kesimpulannya, takdir tidak berubah jika ditinjau dari pengetahuan atau pandangan Allah. Tapi seolah terlihat berubah jika ditinjau dari pengetahuan atau pandangan makhluk.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูƒุฃู† ูŠู‚ุงู„ ู„ู„ู…ู„ูƒ ู…ุซู„ุง ุฃู† ุนู…ุฑ ูู„ุงู† ู…ุงุฆุฉ ู…ุซู„ุง ุฃู† ูˆุตู„ ุฑุญู…ู‡ ูˆุณุชูˆู† ุฅู† ู‚ุทุนู‡ุง ูˆู‚ุฏ ุณุจู‚ ููŠ ุนู„ู… ุงู„ู„ู‡ ุฃู†ู‡ ูŠุตู„ ุฃูˆ ูŠู‚ุทุน ูุงู„ุฐูŠ ููŠ ุนู„ู… ุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠุชู‚ุฏู… ูˆู„ุง ูŠุชุฃุฎุฑ ูˆุงู„ุฐูŠ ููŠ ุนู„ู… ุงู„ู…ู„ูƒ ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠู…ูƒู† ููŠู‡ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ูˆุงู„ู†ู‚ุต ูˆุงู„ูŠู‡ ุงู„ุฅุดุงุฑุฉ ุจู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูŠู…ุญูˆ ุงู„ู„ู‡: ูŠู…ุญูˆุง ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ูŠุดุงุก ูˆูŠุซุจุช ูˆุนู†ุฏู‡ ุฃู… ุงู„ูƒุชุงุจ، ูุงู„ู…ุญูˆ ูˆุงู„ุฅุซุจุงุช ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู…ุง ููŠ ุนู„ู… ุงู„ู…ู„ูƒ ูˆู…ุง ููŠ ุฃู… ุงู„ูƒุชุงุจ ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ููŠ ุนู„ู… ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูู„ุง ู…ุญูˆ ููŠู‡ ุงู„ุจุชุฉ ูˆูŠู‚ุงู„ ู„ู‡ ุงู„ู‚ุถุงุก ุงู„ู…ุจุฑู… ูˆูŠู‚ุงู„ ู„ู„ุฃูˆู„ ุงู„ู‚ุถุงุก ุงู„ู…ุนู„ู‚

“Semisal dikatakan kepada malaikat: Sesungguhnya umur si fulan itu seratus tahun jika dia menyambung silaturahim, tapi jika tidak maka umurnya hanya delapan puluh tahun. Dan Allah telah lebih dulu mengetahui bahwa si fulan tersebut akan menyambung silaturahim atau memutuskan silaturahim. Maka, dalam pengetahuan (atau pandangan) Allah ketentuan si fulan itu tidak bisa dimajukan dan tidak bisa pula mundurkan. Adapun apa yang ada dalam pengetahuan (atau pandangan) malaikat (makhluk), maka mungkin saja bertambah atau berkurang. Dan hal ini telah diisyaratkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Allah menghapuskan apa yang dikehendakinya dan menetapkan (apa yang dikehendakinya), dan disisinya terdapat ummul kitab (Lauh Mahfud). Maka, yang mungkin adanya pengahapusan atau penetapan itu adalah catatan yang ada pada malaikat. Sedangkan yang ada pada ummul kitab (Lauh Mahfudz atau yang ada pada pengetahuan Allah), maka tidak ada pengahapusan sama sekali. Dan itulah yang disebut takdir mubrom, sedangkan yang pertama disebut takdir muallaq (yaitu ketetapan atau takdir yang bergantung pada sebab)” 

๐Ÿ“• (Fathul Bari jilid 10, hlm. 416)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ุงู„ุฐูŠ ุณุจู‚ ููŠ ุนู„ู… ุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠุชุบูŠุฑ ูˆู„ุง ูŠุชุจุฏู„ ูˆุงู„ุฐูŠ ูŠุฌูˆุฒ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุชุบูŠูŠุฑ ูˆุงู„ุชุจุฏูŠู„ ู…ุง ูŠุจุฏูˆ ู„ู„ู†ุงุณ ู…ู† ุนู…ู„ ุงู„ุนุงู…ู„ ูˆู„ุง ูŠุจุนุฏ ุฃู† ูŠุชุนู„ู‚ ุฐู„ูƒ ุจู…ุง ููŠ ุนู„ู… ุงู„ุญูุธุฉ ูˆุงู„ู…ูˆูƒู„ูŠู† ุจุงู„ุขุฏู…ูŠ، ููŠู‚ุน ููŠู‡ ุงู„ู…ุญูˆ ูˆุงู„ุฅุซุจุงุช ูƒุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ููŠ ุงู„ุนู…ุฑ ูˆุงู„ู†ู‚ุต ูˆุฃู…ุง ู…ุง ููŠ ุนู„ู… ุงู„ู„ู‡ ูู„ุง ู…ุญูˆ ููŠู‡ ูˆู„ุง ุฅุซุจุงุช ูˆุงู„ุนู„ู… ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡

“Apa yang telah diketahui oleh Allah (mengenai takdir) itu sama sekali tidak mengalami perubahan dan tidak mengalami pergantian, tapi yang (terkadang) bisa berubah dan berganti adalah apa yang tampak bagi manusia dari amal perbuatan seseorang (yang seolah tampak seperti berubah). Dan juga apa yang tampak bagi para malaikat penjaga yang ditugaskan kepada manusia. Maka dalam hal inilah (seolah) terjadi penetapan dan penghapusan (takdir) seperti bertambah atau berkurangnya umur seseorang. Adapun dalam pengetahuan (atau dalam pandangan) Allah, maka tidak ada penghapusan dan penetapan sama sekali. Dan pengetahuan yang hakiki itu hanya disisi Allah” 

๐Ÿ“• (Fathul Bari jilid 11, hlm. 488)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บœ๏บŽ๏ปง๏ปฒ ๏บƒ๏ปง๏ปช ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏ปจ๏บด๏บ’๏บ” ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ ๏ปฃ๏บŽ ๏ปณ๏ปˆ๏ปฌ๏บฎ ๏ปŸ๏ป ๏ปค๏ปผ๏บ‹๏ปœ๏บ” ๏ปญ๏ป“๏ปฒ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปฎ๏บก ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บค๏ป”๏ปฎ๏ป… ๏ปญ๏ปง๏บค๏ปฎ ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏ป“๏ปด๏ปˆ๏ปฌ๏บฎ ๏ปŸ๏ปฌ๏ปข ๏ป“๏ปฒ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปฎ๏บก ๏บƒ๏ปฅ ๏ป‹๏ปค๏บฎ๏ปฉ ๏บณ๏บ˜๏ปฎ๏ปฅ ๏บณ๏ปจ๏บ” ๏บ‡๏ปป ๏บƒ๏ปฅ ๏ปณ๏บผ๏ปž ๏บญ๏บฃ๏ปค๏ปช ๏ป“๏บŽ๏ปฅ ๏ปญ๏บป๏ป ๏ปฌ๏บŽ ๏บฏ๏ปณ๏บช ๏ปŸ๏ปช ๏บƒ๏บญ๏บ‘๏ปŒ๏ปฎ๏ปฅ ๏ปญ๏ป—๏บช ๏ป‹๏ป ๏ปข ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บณ๏บ’๏บค๏บŽ๏ปง๏ปช ๏ปญ๏บ—๏ปŒ๏บŽ๏ปŸ๏ปฐ ๏ปฃ๏บŽ ๏บณ๏ปด๏ป˜๏ปŠ ๏ปŸ๏ปช ๏ปฃ๏ปฆ ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏ปญ๏ปซ๏ปฎ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ปฃ๏ปŒ๏ปจ๏ปฐ ๏ป—๏ปฎ๏ปŸ๏ปช ๏บ—๏ปŒ๏บŽ๏ปŸ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปฃ๏บŽ ๏ปณ๏บธ๏บŽ๏บ€ ๏ปญ๏ปณ๏บœ๏บ’๏บ– ๏ป“๏ปด๏ปช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บด๏บ’๏บ” ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ ๏ป‹๏ป ๏ปข ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บ—๏ปŒ๏บŽ๏ปŸ๏ปฐ ๏ปญ๏ปฃ๏บŽ ๏บณ๏บ’๏ป– ๏บ‘๏ปช ๏ป—๏บช๏บญ๏ปฉ ๏ปญ๏ปป ๏บฏ๏ปณ๏บŽ๏บฉ๏บ“ ๏บ‘๏ปž ๏ปซ๏ปฒ ๏ปฃ๏บด๏บ˜๏บค๏ปด๏ป ๏บ” ๏ปญ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏ปจ๏บด๏บ’๏บ” ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ ๏ปฃ๏บŽ ๏ป‡๏ปฌ๏บฎ ๏ปŸ๏ป ๏ปค๏บจ๏ป ๏ปฎ๏ป—๏ปด๏ปฆ ๏บ—๏บ˜๏บผ๏ปฎ๏บญ ๏บ๏ปŸ๏บฐ๏ปณ๏บŽ๏บฉ๏บ“ ๏ปญ๏ปซ๏ปฎ ๏ปฃ๏บฎ๏บ๏บฉ ๏บ๏ปŸ๏บค๏บช๏ปณ๏บš

“Yang kedua bahwasanya hal itu berkaitan dengan apa yang ada dalam pengetahuan (atau pandangan) malaikat dan yang ada di Lauh Mahfud atau semisalnya. Maka tampak bagi mereka (yang sudah tertulis) di Lauh Mahfud bahwa umurnya enam puluh tahun kecuali jika dia menyambung silaturahim, jika dia menyambung silaturahim maka akan mendapatkan tambahan umur empat puluh tahun. Dan sungguh Allah telah lebih dulu mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya (yaitu apakah dia akan menyambung silaturahim atau tidak). Dan yang demikian itu termasuk dalam makna firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Allah menghapuskan apa yang dikehendakinya dan menetapkan (apa yang dikehendakinya). Namun yang demikian ini jika dinisbatkan (ditinjau) dari pengetahuan (atau pandangan) Allah. Dan apa yang telah ditakdirkan itu sebenarnya tidak akan ada tambahannya, bahkan tambahan tersebut adalah mustahil. Sedangkan jika dinisbatkan (ditinjau) dari apa yang tampak bagi makhluk (manusia dan malaikat), maka akan tergambar seolah adanya penambahan (umur), dan itulah yang dimaksud hadits tersebut” 

๐Ÿ“• (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim jilid 16, hlm. 114)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ูˆู„ู‡: ูŠู…ุญูˆุง ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ูŠุดุงุก ูˆูŠุซุจุช ูˆุนู†ุฏู‡ ุฃู… ุงู„ูƒุชุงุจ، ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุงุณ: ูŠู…ุญูˆ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ูŠุดุงุก ูˆูŠุซุจุช ุฅู„ุง ุฃุดูŠุงุก ุงู„ุฎู„ู‚ ูˆุงู„ุฎู„ู‚ ูˆุงู„ุฃุฌู„ ูˆุงู„ุฑุฒู‚ ูˆุงู„ุณุนุงุฏุฉ ูˆุงู„ุดู‚ุงูˆุฉ، ูˆุนู†ู‡: ู‡ู…ุง ูƒุชุงุจุงู† ุณูˆู‰ ุฃู… ุงู„ูƒุชุงุจ ูŠู…ุญูˆ ุงู„ู„ู‡ ู…ู†ู‡ู…ุง ู…ุง ูŠุดุงุก ูˆูŠุซุจุช ูˆุนู†ุฏู‡ ุฃู… ุงู„ูƒุชุงุจ ุงู„ุฐูŠ ู„ุง ูŠุชุบูŠุฑ ู…ู†ู‡ ุดูŠุก

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Allah menghapuskan apa yang dikehendakinya dan menetapkan (apa yang dikehendakinya), dan disisinya terdapat ummul kitab (Lauh Mahfud). Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Allah menghapus dan menetapkan apa yang dikehendakinya kecuali terkait penciptaan, perangai (akhlak), ajal, rezeki, kebahagiaan dan kesengsaraan. Kemudian pendapat lain dari beliau: Terdapat dua kitab selain ummul kitab (Lauh Mahfud), dan dari dua kitab tersebut Allah menghapus serta menetapkan apa yang dikehendakinya. Disisinya terdapat ummul kitab (Lauh Mahfud) yang tidak akan mengalami perubahan sama sekali” 

๐Ÿ“• (Jami' Li Ahkamil Qur'an jilid 9, hlm. 288)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูŠู…ุญูˆ ุงู„ู„ู‡ ู…ู†ู‡ ู…ุง ูŠุดุงุก ูˆูŠุซุจุช ุจุงู„ุชุฎููŠู ูˆุงู„ุชุดุฏูŠุฏ، ููŠู‡ ู…ุง ูŠุดุงุก ู…ู† ุงู„ุฃุญูƒุงู… ูˆุบูŠุฑู‡ุง ูˆุนู†ุฏู‡ ุฃู… ุงู„ูƒุชุงุจ ุฃุตู„ู‡ ุงู„ุฐูŠ ู„ุง ูŠุชุบูŠุฑ ู…ู†ู‡ ุดูŠุก ูˆู‡ูˆ ู…ุง ูƒุชุจู‡ ููŠ ุงู„ุฃุฒู„

“(Allah menghapuskan) daripada kitab itu (apa yang dikehendakinya dan menetapkan apa yang dikehendakinya), yakni berupa hukum-hukum dan masalah-masalah lain untuk dihapus atau ditetapkan. (Dan disisinya terdapat ummul kitab), yakni asal kitab (Lauh Mahfud) yang tidak mengalami perubahan sedikit pun daripadanya, yaitu sesuatu yang telah Allah tulis sejak zaman azali” 

๐Ÿ“• (Tafsir Jalalain jilid 2, hlm. 254)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Jumat, Maret 08, 2024

TANYA JAWAB - TALAK DALAM KEADAAN MABUK


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.

Sebut saja namanya ridwan yang setiap hari gemar sekali meminum minuman keras, dan kebetulan ridwan ini sudah punya istri. Suatu hari saat dia pulang malam dalam keadaan mabuk, oleh istrinya dinasehati dengan berbagai macam nasehat. Bukannya berterima kasih pada istrinya karena sudah dinasehati, tapi dia malah marah sampai-sampai mentalak istrinya karena merasa jengkel dinasehati.

Pertanyaannya, bagaimana status talak yang diucapkan ridwan kepada istrinya dalam keadaan mabuk apakah sah atau tidak?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Status jatuh atau tidaknya talak yang diucapkan oleh suami yang sedang mabuk itu diperinci sehingga terbagi menjadi dua pendapat :

1. Ini merupakan pendapat yang shohih didalam madzhab Syafi'i. Jika suami mabuk dalam keadaan sengaja, maka talak yang diucapkannya itu adalah sah. Tapi jika suami mabuk dalam keadaan tidak sengaja semisal minum obat sampai hilang kesadaran akalnya (mabuk), maka talak yang diucapkannya itu tidak sah.

2. Tidak jatuh talaknya suami yang mabuk (hilang kesadaran akalnya) entah itu dilakukan dalam keadaan sengaja maupun tidak, dan ini merupakan pendapatnya imam Al-Muzani salah satu muridnya imam Syafi'i. Juga merupakan salah satu pendapat terdahulu dari imam Syafi'i dan pendapat-pendapatnya ulama selain dari madzhab Syafi'i.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูุฃู…ุง ู…ู† ู„ุง ูŠุนู‚ู„ ูุฅู†ู‡ ู„ู… ูŠุนู‚ู„ ุจุณุจุจ ูŠุนุฐุฑ ููŠู‡ ูƒุงู„ู†ุงุฆู… ูˆุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ูˆุงู„ู…ุฑูŠุถ ูˆู…ู† ุดุฑุจ ุฏูˆุงุก ู„ู„ุชุฏุงูˆูŠ ูุฒุงู„ ุนู‚ู„ู‡ ุฃูˆ ุฃูƒุฑู‡ ุนู„ู‰ ุดุฑุจ ุงู„ุฎู…ุฑ ุญุชู‰ ุณูƒุฑ ู„ู… ูŠู‚ุน ุทู„ุงู‚ู‡ ู„ุฃู†ู‡ ู†ุต ููŠ ุงู„ุฎุจุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฆู… ูˆุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ูˆู‚ุณู†ุง ุนู„ูŠู‡ู…ุง ุงู„ุจุงู‚ูŠู†، ูˆุฅู† ู„ู… ูŠุนู‚ู„ ุจุณุจุจ ู„ุง ูŠุนุฐุฑ ููŠู‡ ูƒู…ู† ุดุฑุจ ุงู„ุฎู…ุฑ ู„ุบูŠุฑ ุนุฐุฑ ูุณูƒุฑ ุฃูˆ ุดุฑุจ ุฏูˆุงุก ู„ุบูŠุฑ ุญุงุฌุฉ ูุฒุงู„ ุนู‚ู„ู‡ ูุงู„ู…ู†ุตูˆุต ููŠ ุงู„ุณูƒุฑุงู† ุฃู†ู‡ ูŠุตุญ ุทู„ุงู‚ู‡

“Adapun orang yang hilang kesadaran akalnya, maka jika hilang kesadaran akalnya itu disebabkan oleh uzur-uzur tertentu semisal tidur, gila, sakit, dan minum obat untuk mengobati penyakitnya sampai hilang kesadaran akalnya, atau dipaksa minum khomr sampai mabuk, maka tidak jatuh talaknya sebagaimana yang telah ditetapkan didalam nash (imam Syafi'i) terkait orang tidur dan orang gila. Sedangkan orang yang hilang kesadaran akalnya disebabkan tidak ada uzur-uzur tertentu semisal orang yang sengaja minum khomr sampai mabuk, atau minum obat tanpa adanya kebutuhan sampai hilang kesadaran akalnya, maka menurut nash (imam Syafi'i) yang telah ditetapkan mengenai orang mabuk adalah sah (atau jatuh) talaknya” 

๐Ÿ“• (Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 18, hlm. 198)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุฑูˆู‰ ุงู„ู…ุฒู†ูŠ ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ู‚ุฏูŠู…: ู„ุง ูŠุตุญ ุธู‡ุงุฑู‡ ูˆุงู„ุทู„ุงู‚ ูˆุงู„ุธู‡ุงุฑ ูˆุงุญุฏ. ูู…ู† ุฃุตุญุงุจู†ุง ู…ู† ู‚ุงู„ ููŠู‡ ู‚ูˆู„ุงู†. (ุฃุญุฏุงู‡ู…ุง) ู„ุง ูŠุตุญ ูˆู‡ูˆ ุงุฎุชูŠุงุฑ ุงู„ู…ุฒู†ูŠ ูˆุฃุจู‰ ุซูˆุฑ، ู„ุงู†ู‡ ุฒุงุฆู„ ุงู„ุนู‚ู„ ูุฃุดุจู‡ ุงู„ู†ุงุฆู… ุฃูˆ ู…ูู‚ูˆุฏ ุงู„ุงุฑุงุฏุฉ ูุฃุดุจู‡ ุงู„ู…ูƒุฑู‡. (ูˆุงู„ุซุงู†ู‰) ุฃู†ู‡ ูŠุตุญ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุตุญูŠุญ ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃุจูˆ ูˆุจุฑุฉ ุงู„ูƒู„ุจู‰

“Imam Al-Muzani meriwayatkan pendapat (imam Syafi'i) dalam qoul qodim bahwasanya dziharnya (suami yang mabuk) itu tidak sah, sedangkan talak dan dzihar itu sama. Kemudian para ulama madzhab Syafi'i juga menyatakan terkait (talak yang dilakukan oleh suami mabuk) menjadi dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan talaknya tidak sah, dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh imam Al-Muzani dan Abu Tsaur. (Alasannya) karena dia (suami yang mabuk itu) sedang hilang kesadaran akalnya sehingga serupa dengan orang tidur, atau hilang keinginannya sehingga serupa dengan orang yang dipaksa. Kemudian pendapat yang kedua menyatakan talaknya sah, dan ini merupakan pendapat shohih sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Wabrah Al-Kalbi” 

๐Ÿ“• (Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 18, hlm. 198)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆู…ู† ุดุฑุจ ุฎู…ุฑุง ุฃูˆ ู†ุจูŠุฐุง ูุฃุณูƒุฑู‡ ูุทู„ู‚ ู„ุฒู…ู‡ ุงู„ุทู„ุงู‚ ูˆุงู„ุญุฏูˆุฏ ูƒู„ู‡ุง، ูˆู…ู† ุดุฑุจ ุจู†ุฌุง ุฃูˆ ุญุฑูŠูุง ุฃูˆ ู…ุฑู‚ุฏุง ู„ูŠุชุนุงู„ุฌ ุจู‡ ู…ู† ู…ุฑุถ ูุฃุฐู‡ุจ ุนู‚ู„ู‡ ูุทู„ู‚ ู„ู… ูŠู„ุฒู…ู‡ ุงู„ุทู„ุงู‚

“Barang siapa yang meminum khomr atau anggur yang sampai menyebabkannya mabuk kemudian dia mentalak istrinya, maka jatuhlah talaknya dan dia wajib dihukum. Namun barang siapa yang meminum obat pereda nyeri atau obat hirup untuk mengobati satu penyakit yang sampai menghilangkan kesadaran akalnya kemudian dia mentalak istrinya, maka tidak jatuh talaknya”

๐Ÿ“• (Al-Umm jilid 5, hlm. 270)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุฐูƒุฑ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุฃุซุฑ ุนุซู…ุงู† ุซู… ุจู† ุนุจุงุณ ุงุณุชุธู‡ุงุฑุง ู„ู…ุง ุฏู„ ุนู„ูŠู‡ ุญุฏูŠุซ ุนู„ู‰ ููŠ ู‚ุตุฉ ุญู…ุฒุฉ، ูˆุฐู‡ุจ ุฅู„ู‰ ุนุฏู… ูˆู‚ูˆุน ุทู„ุงู‚ ุงู„ุณูƒุฑุงู† ุฃูŠุถุง ุฃุจูˆ ุงู„ุดุนุซุงุก ูˆุนุทุงุก ูˆุทุงูˆุณ ูˆุนูƒุฑู…ุฉ ูˆุงู„ู‚ุงุณู… ูˆุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุฐูƒุฑู‡ ุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ ุนู†ู‡ู… ุจุฃุณุงู†ูŠุฏ ุตุญูŠุญุฉ، ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุฑุจูŠุนุฉ ูˆุงู„ู„ูŠุซ ูˆุฅุณุญุงู‚ ูˆุงู„ู…ุฒู†ูŠ ูˆุงุฎุชุงุฑู‡ ุงู„ุทุญุงูˆูŠ ูˆุงุญุชุฌ ุจุฃู†ู‡ู… ุงุฌู…ุนูˆุง ุนู„ู‰ ุฃู† ุทู„ุงู‚ ุงู„ู…ุนุชูˆู‡ ู„ุง ูŠู‚ุน ู‚ุงู„ ูˆุงู„ุณูƒุฑุงู† ู…ุนุชูˆู‡ ุจุณูƒุฑู‡

“Imam Bukhari menyebutkan atsar Utsman bin Affan dan Ibnu Abbas didalam menjelaskan maksud hadits Ali pada kisah Hamzah (tentang talak yang diucapkan saat suami sedang mabuk). Pendapat yang menyatakan bahwa tidak jatuh talaknya orang yang mabuk adalah pendapat dari Abu Sya'tsa, Atho, Thowus, Ikrimah, Qosim dan juga Umar bin Abdul Aziz sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih. Dan ini juga merupakan pendapat dari Rabi'ah, Al-Laits, Ishaq dan Al-Muzani yang kemudian pendapat tersebut dipilih oleh At-Thohawi. Dengan pendapat seperti itu, mereka sepakat bahwasanya talak orang yang hilang kesadaran akalnya adalah tidak jatuh. Imam Bukhari kembali berkata: Orang mabuk itu hilang kesadaran akalnya disebabkan mabuk” 

๐Ÿ“• (Fathul Bari jilid 9, hlm. 294)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู‚ูˆู„ู‡ (ูˆู‚ุงู„ ุนุซู…ุงู†: ู„ูŠุณ ู„ู…ุฌู†ูˆู† ูˆู„ุง ู„ุณูƒุฑุงู† ุทู„ุงู‚) ูˆุตู„ู‡ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ ุนู† ุดุจุงุจุฉ ูˆุฑูˆูŠู†ุงู‡ ููŠ ุงู„ุฌุฒุก ุงู„ุฑุงุจุน ู…ู† ุชุงุฑูŠุฎ ุฃุจูŠ ุฒุฑุนุฉ ุงู„ุฏู…ุดู‚ูŠ ุนู† ุขุฏู… ุจู† ุฃุจูŠ ุฅูŠุงุณ ูƒู„ุงู‡ู…ุง ุนู† ุงุจู† ุฃุจูŠ ุฐุฆุจ ุนู† ุงู„ุฒู‡ุฑูŠ ู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุฌู„ ู„ุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ: ุทู„ู‚ุช ุงู…ุฑุฃุชูŠ ูˆุฃู†ุง ุณูƒุฑุงู† ููƒุงู† ุฑุฃูŠ ุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ู…ุน ุฑุฃูŠู†ุง ุฃู† ูŠุฌู„ุฏู‡ ูˆูŠูุฑู‚ ุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู† ุงู…ุฑุฃุชู‡ ุญุชู‰ ุญุฏุซู‡ ุฃุจุงู† ุจู† ุนุซู…ุงู† ุจู† ุนูุงู† ุนู† ุฃุจูŠู‡ ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„: ู„ูŠุณ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ูˆู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุณูƒุฑุงู† ุทู„ุงู‚

“(Utsman bin Affan berkata: Tidak sah talaknya orang gila dan orang yang mabuk). Ibnu Abi Syaibah meriwayatkannya dari Syababah, dan kami meriwayatkannya pada juz ke empat dari Tarikh Abi Zar'ah Ad-Dimasyqi, dari riwayat Adam bin Abi Iyas yang keduanya berasal dari riwayat Ibnu Abi Dzaib, kemudian dari Az-Zuhri yang mana beliau menyatakan: Ada seorang laki-laki yang berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, (wahai khalifah) aku telah menceraikan istriku sedangkan aku dalam keadaan mabuk. Maka pandangan Umar bin Abdul Aziz adalah sama seperti pandangan kami yaitu laki-laki tersebut harus dicambuk dan dipisahkan dari istrinya. (Riwayat ini jalurnya) sampai kepada Aban bin Utsman bin Affan, dari ayahnya yang menyatakan: Tidak sah talaknya orang gila dan orang yang mabuk”

๐Ÿ“• (Fathul Bari jilid 9, hlm. 294)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Rabu, Maret 06, 2024

TANYA JAWAB - HUKUM MENDAHULUKAN PENGELUARAN ZAKAT SEBELUM MENCAPAI HAUL & NISHOB


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin bertanya.

Gimana hukumnya ngeluarin zakat perdagangan atau zakat mal tapi blm sampai haul dan nishab, apakah boleh? Soalnya di kampung saya ada kejadian dmn org yg punya usaha dagang mengeluarkan zakatnya sblm haul dan nishab๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu bahwasanya nishob untuk zakat tijaroh maupun mal itu merupakan sebab wajibnya zakat, sedangkan untuk haul adalah merupakan syarat wajibnya zakat. Dan untuk ibadah yang dilakukan sebelum datang sebab wajibnya, maka tidak diperbolehkan. Termasuk dalam masalah zakat tijaroh atau zakat mal ini. Tapi untuk ibadah yang dilakukan sebelum datang syarat wajibnya, maka diperbolehkan. 

Contoh, salah satu syarat wajibnya sholat adalah baligh. Tapi meski demikian, seorang anak yang belum baligh itu diperbolehkan untuk melakukan sholat. Nah demikian halnya dengan mengeluarkan zakat tijaroh sebelum haul, hal itu diperbolehkan karena haul merupakan syarat wajibnya zakat. Berbeda dengan nishob yang mana hal itu merupakan sebab wajibnya zakat, maka tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat tijaroh sebelum datang sebab wajibnya yaitu sampai nishob.

Kemudian, ada dua poin penting yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin mengeluarkan zakat tijaroh atau zakat mal sebelum haul. Yang pertama adalah, pada akhir haul dia memang merupakan orang yang tetap terkena kewajiban untuk mengeluarkan zakat (berstatus sebagai muzakki), dan dia juga masih hidup sampai akhir haul. Lalu yang kedua, si penerima zakat pun memang merupakan orang yang berhak untuk menerima zakat (berstatus sebagai mustahiq), dan dia pun juga masih hidup sampai akhir haul.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ ุงู„ู‚ูˆูŠู… ุดุฑุญ ุงู„ู…ู‚ุฏู…ุฉ ุงู„ุญุถุฑู…ูŠุฉ : ุต ูขูฃูฅ)
ูˆูŠุฌูˆุฒ ุชุนุฌูŠู„ู‡ุง ู‚ุจู„ ุงู„ุญูˆู„، ูˆุดุฑุท ุฅุฌุฒุงุก ุงู„ู…ุนุฌู„ ุฃู† ูŠุจู‚ู‰ ุงู„ู…ุงู„ูƒ ุฃู‡ู„ุง ู„ู„ูˆุฌูˆุจ ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑ ุงู„ุญูˆู„، ูˆุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู‚ุงุจุถ ููŠ ุขุฎุฑ ุงู„ุญูˆู„ ู…ุณุชุญู‚ุง، ูˆุฅุฐุง ู„ู… ูŠุฌุฒุฆู‡ ุงุณุชุฑุฏ ุฅู† ุนู„ู… ุงู„ู‚ุงุจุถ ุฃู†ู‡ุง ุฒูƒุงุฉ ู…ุนุฌู„ุฉ

“Diperbolehkan mendahulukan pengeluaran zakat (tijaroh atau zakat mal) sebelum mencapai haul. Dan syarat mencukupinya zakat yang didahulukan pengeluarannya tersebut adalah si pemilik harta memang orang yang berstatus wajib untuk mengeluarkan zakat sampai akhir haul, dan si penerima zakat pun pada akhir haul memang orang yang berstatus sebagai mustahiq (orang yang berhak menerima zakat). Oleh karena itu jika syarat diatas tidak terpenuhi, maka si pemilik harta boleh meminta kembali zakat yang telah dia berikan jika si penerima zakat itu tau bahwa apa yang dia terima merupakan zakat yang didahulukan pengeluarannya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ู†ู‡ุงูŠุฉ ุงู„ู…ุญุชุงุฌ : ุฌ ูฃ ุต ูกูคูก)
ูŠุฌูˆุฒ ุชุนุฌูŠู„ู‡ุง ููŠ ุงู„ู…ุงู„ ุงู„ุญูˆู„ูŠ ู‚ุจู„ ุชู…ุงู… ุงู„ุญูˆู„ ููŠู…ุง ุงู†ุนู‚ุฏ ุญูˆู„ู‡ ูˆูˆุฌุฏ ุงู„ู†ุตุงุจ ููŠู‡   

“Diperbolehkan mengeluarkan zakat harta yang bersifat menahun sebelum sempurna haulnya, yakni untuk harta yang terikat dengan haul dan juga telah mencapai nishob”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุฏุงุฑ ุงู„ุงูุชุงุก ุงู„ู…ุตุฑูŠุฉ ุฑู‚ู… : ูขูฉูงูค)
ูŠุฌูˆุฒ ุชุนุฌูŠู„ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ู‚ุจู„ ุญู„ูˆู„ ุงู„ุญูˆู„ ูˆุจุนุฏ ุจู„ูˆุบ ุงู„ู…ุงู„ ุงู„ู†ุตุงุจ ุนู†ุฏ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูƒุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ، ููŠุฌูˆุฒ ุชุนุฌูŠู„ ุฒูƒุงุฉ ุงู„ู…ุงุดูŠุฉ ูˆุงู„ู†ู‚ุฏูŠู† ูˆุนุฑูˆุถ ุงู„ุชุฌุงุฑุฉ

“Diperbolehkan mendahulukan pengeluaran zakat sebelum mencapai haul dan setelah mencapai nishob berdasarkan pendapatnya jumhur ulama seperti imam Abu Hanifah, imam Syafi'i dan imam Ahmad. Dan juga diperbolehkan mendahulukan pengeluaran zakat hewan ternak, zakat nuqud (emas dan perak) serta zakat tijaroh”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุฏุงุฑ ุงู„ุงูุชุงุก ุงู„ู…ุตุฑูŠุฉ ุฑู‚ู… : ูขูฉูงูค)
ูŠุดุชุฑุท ู„ุตุญุฉ ุชู‚ุฏูŠู… ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุฃู† ูŠุจู‚ู‰ ู…ุงู„ูƒ ุงู„ู†ุตุงุจ ุฃู‡ู„ุง ู„ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑ ุงู„ุญูˆู„: ูˆุฐู„ูƒ ุจุจู‚ุงุฆู‡ ุญูŠุง ูˆุจู‚ุงุก ู…ุงู„ู‡ ู†ุตุงุจุง، ูู„ูˆ ู…ุงุช ู‚ุจู„ ุชู…ุงู… ุงู„ุญูˆู„ ู„ุง ูŠุนุชุจุฑ ู…ุง ุนุฌู„ู‡ ุฒูƒุงุฉ

“Syarat sah mendahulukan pengeluaran zakat adalah si pemilik harta satu nishob tersebut merupakan orang yang terkena kewajiban zakat sampai akhir haul, lalu hidup sampai akhir haul dan hartanya mencapai satu nishob pada akhir haul. Oleh karena itu jika seandainya dia meninggal sebelum sempurna haulnya, maka zakat yang telah dia keluarkan dengan cara didahulukan itu tidak dihitung sebagai zakat”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุฏุงุฑ ุงู„ุงูุชุงุก ุงู„ู…ุตุฑูŠุฉ ุฑู‚ู… : ูขูฉูงูค)
ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู‚ุงุจุถ ู„ู„ุฒูƒุงุฉ ุงู„ู…ุนุฌู„ุฉ ู…ุณุชุญู‚ุง ู„ู‡ุง ุนู†ุฏ ุชู…ุงู… ุงู„ุญูˆู„، ูู„ูˆ ู…ุงุช ู„ู… ูŠุญุณุจ ุงู„ู…ุฏููˆุน ู„ู‡ ุฒูƒุงุฉ   

“(Syarat sah mendahulukan pengeluaran zakat berikutnya adalah) si penerima zakat memang orang yang berstatus sebagai mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) sampai akhir haul. Oleh karena itu jika seandainya dia meninggal (sebelum sempurna haulnya), maka zakat yang dia terima dengan cara didahulukan pengeluarannya itu tidak dihitung sebagai zakat”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ : ุฌ ูฃูฅ ุต ูคูจ)
ู„ุง ุฎู„ุงู ุจูŠู† ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ุนุฏู… ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุชูƒููŠุฑ ู‚ุจู„ ุงู„ูŠู…ูŠู†، ู„ุฃู†ู‡ ุชู‚ุฏูŠู… ุงู„ุญูƒู… ู‚ุจู„ ุณุจุจู‡ ، ูƒุชู‚ุฏูŠู… ุงู„ุฒูƒุงุฉ ู‚ุจู„ ู…ู„ูƒ ุงู„ู†ุตุงุจ ูˆูƒุชู‚ุฏูŠู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ู‚ุจู„ ุฏุฎูˆู„ ูˆู‚ุชู‡ุง

“Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama terkait ketidak bolehan membayar kafarot sumpah sebelum adanya sumpah. Karena yang demikian itu berarti mendahulukan hukum sebelum ada sebabnya. Seperti halnya mendahulukan pengeluaran zakat sebelum mencapai nishob, atau mendahulukan melakukan sholat sebelum masuk waktunya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู…ุบู†ูŠ : ุฌ ูข ุต ูคูฉูฅ)
ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชุนุฌูŠู„ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ู‚ุจู„ ู…ู„ูƒ ุงู„ู†ุตุงุจ ุจุบูŠุฑ ุฎู„ุงู ุนู„ู…ู†ุงู‡ ูˆู„ูˆ ู…ู„ูƒ ุจุนุถ ู†ุตุงุจ ูุนุฌู„ ุฒูƒุงุชู‡ ุฃูˆ ุฒูƒุงุฉ ู†ุตุงุจ ู„ู… ูŠุฌุฒ ู„ุฃู†ู‡ ุชุนุฌู„ ุงู„ุญูƒู… ู‚ุจู„ ุณุจุจู‡

“Tidak diperbolehkan mendahulukan pengeluaran zakat sebelum tercapainya harta satu nishob tanpa adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama yang kami ketahui. Oleh karena itu jika ada orang yang mempunyai harta separuh nishob kemudian dia mendahulukan pengeluarannya, maka tidak diperbolehkan. Karena dengan demikian berarti dia telah mendahulukan hukum sebelum ada sebabnya”

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

(ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ : ุฌ ูก ุต ูฉ)
ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ูƒู„ู‡ุง ุณูˆุงุก ูƒุงู†ุช ุจุฏู†ูŠุฉ ุฃูˆ ู…ุงู„ูŠุฉ ุฃูˆ ู…ุฑูƒุจุฉ ู…ู†ู‡ู…ุง ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชู‚ุฏูŠู…ู‡ุง ุนู„ู‰ ุณุจุจ ูˆุฌูˆุจู‡ุง ูˆูŠุฌูˆุฒ ุชู‚ุฏูŠู…ู‡ุง ุจุนุฏ ุณุจุจ ุงู„ูˆุฌูˆุจ ูˆู‚ุจู„ ุงู„ูˆุฌูˆุจ ุฃูˆ ู‚ุจู„ ุดุฑุท ุงู„ูˆุฌูˆุจ

“Semua ibadah adalah sama saja entah itu ibadah badaniyah, ibadah maliyah atau gabungan dari keduanya. Yaitu tidak boleh dilakukan sebelum ada sebab wajibnya, namun boleh dilakukan setelah ada sebab wajibnya, sebelum adanya kewajiban atau sebelum ada syarat wajibnya”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Jumat, Maret 01, 2024

TIGA TINGKATAN PUASA


Al-Imam Ghozali rahimahullah mengatakan :

ุฅุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุตูˆู… ุซู„ุงุซ ุฏุฑุฌุงุช: ุตูˆู… ุงู„ุนู…ูˆู… ูˆุตูˆู… ุงู„ุฎุตูˆุต ูˆุตูˆู… ุฎุตูˆุต ุงู„ุฎุตูˆุต، ูˆุฃู…ุง ุตูˆู… ุงู„ุนู…ูˆู… ูู‡ูˆ ูƒู ุงู„ุจุทู† ูˆุงู„ูุฑุฌ ุนู† ู‚ุถุงุก ุงู„ุดู‡ูˆุฉ ูƒู…ุง ุณุจู‚ ุชูุตูŠู„ู‡، ูˆุฃู…ุง ุตูˆู… ุงู„ุฎุตูˆุต ูู‡ูˆ ูƒู ุงู„ุณู…ุน ูˆุงู„ุจุตุฑ ูˆุงู„ู„ุณุงู† ูˆุงู„ูŠุฏ ูˆุงู„ุฑุฌู„ ูˆุณุงุฆุฑ ุงู„ุฌูˆุงุฑุญ ุนู† ุงู„ุขุซุงู…، ูˆุฃู…ุง ุตูˆู… ุฎุตูˆุต ุงู„ุฎุตูˆุต ูุตูˆู… ุงู„ู‚ู„ุจ ุนู† ุงู„ู‡ุถู… ุงู„ุฏู†ูŠุฉ ูˆุงู„ุฃููƒุงุฑ ุงู„ุฏู†ูŠูˆูŠุฉ ูˆูƒูู‡ ุนู…ุง ุณูˆู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ุจุงู„ูƒู„ูŠุฉ ูˆูŠุญุตู„ ุงู„ูุทุฑ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุตูˆู… ุจุงู„ููƒุฑ ููŠู…ุง ุณูˆู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ูˆุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุขุฎุฑ

“Ketahuilah bahwasanya puasa itu memiliki tiga tingkatan. Yaitu puasa secara umum, puasa secara khusus dan puasa yang lebih khusus. Adapun puasa secara umum adalah puasanya seseorang dengan cara menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat sebagaimana yang telah dijelaskan rinciannya. Sedangkan puasa secara khusus adalah puasanya seseorang dengan cara menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari berbagi perbuatan dosa. Sementara puasa yang lebih khusus adalah puasanya hati dari keinginan-keinginan yang rendah, memikirkan perkara duniawi dan memikirkan perkara selain Allah secara keseluruhan. Oleh karena itu untuk puasa yang terakhir ini (yaitu puasa yang lebih khusus) akan dianggap batal (jika terlintas didalam hati seseorang), yaitu pikiran selain Allah dan hari akhir” (Ihya Ulumuddin : 1/234)

Berdasarkan keterangan diatas, tiga tingkatan puasa ini diklasifikasikan oleh Al-Imam Ghozali rahimahullah berdasarkan sifat orang yang mengerjakan puasa. Yakni ada orang yang berpuasa namun hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi terkadang perbuatan dosa dan maksiat masih tetap dia lakukan. Inilah bentuk puasanya orang-orang awam. Dan pada umumnya, mereka memahami puasa hanya sebatas menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzohir saja. Hal ini tentu berbeda dengan tingkatan yang kedua, yaitu puasanya orang-orang sholeh dan ahli ilmu. Mereka sedikit lebih maju dibandingkan orang-orang awam, sebab mereka memahami bahwa puasa itu tidak sekedar menahan lapar dan haus saja, akan tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa dan maksiat yang mana hal itu akan berdampak pada gugurnya pahala puasa mereka. Dan itulah gambaran orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya sekedar rasa lapar dan haus.

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan :

ูˆุงู„ุตุงุฆู… ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ุตุงู…ุช ุฌูˆุงุฑุญู‡ ุนู† ุงู„ุขุซุงู…، ูˆู„ุณุงู†ู‡ ุนู† ุงู„ูƒุฐุจ ูˆุงู„ูุญุด ูˆู‚ูˆู„ ุงู„ุฒูˆุฑ ูˆุจุทู†ู‡ ุนู† ุงู„ุทุนุงู… ูˆุงู„ุดุฑุงุจ ูˆูุฑุฌู‡ ุนู† ุงู„ุฑูุซ، ูุฅู† ุชูƒู„ู… ู„ู… ูŠุชูƒู„ู… ุจู…ุง ูŠุฌุฑุญ ุตูˆู…ู‡، ูˆุฅู† ูุนู„ ู„ู… ูŠูุนู„ ู…ุง ูŠูุณุฏ ุตูˆู…ู‡ ููŠุฎุฑุฌ ูƒู„ุงู…ู‡ ูƒู„ู‡ ู†ุงูุนุง ุตุงู„ุญุง ูˆูƒุฐู„ูƒ ุฃุนู…ุงู„ู‡

“(Hakikat) orang yang berpuasa adalah orang yang (seluruh) anggota tubuhnya berpuasa dari dosa-dosa. Lisannya berpuasa dari ucapan dusta, keji dan ucapan-ucapan buruk lainnya, lalu perutnya berpuasa dari makan dan minum, kemudian kemaluannya berpuasa dari rafats (jima). Jika dia berbicara, maka dia tidak berbicara dengan ucapan-ucapan yang akan mengotori puasanya. Dan jika dia berbuat, maka dia tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak puasanya. Oleh karena itu, seluruh ucapannya adalah ucapan yang bermanfaat lagi baik, demikian pula dengan perbuatan-perbuatannya” (Tadzkirul Anam, hlm. 25)

Didalam keterangan yang lain beliau mengatakan :

ูุงู„ุตูˆู… ู‡ูˆ ุตูˆู… ุงู„ุฌูˆุงุฑุญ ุนู† ุงู„ุขุซุงู… ูˆุตูˆู… ุงู„ุจุทู† ุนู† ุงู„ุดุฑุงุจ ูˆุงู„ุทุนุงู…، ููƒู…ุง ุฃู† ุงู„ุทุนุงู… ูˆุงู„ุดุฑุงุจ ูŠู‚ุทุนู‡ ูˆูŠูุณุฏู‡، ูู‡ูƒุฐุง ุงู„ุขุซุงู… ุชู‚ุทุน ุซูˆุงุจู‡ ูˆุชูุณุฏ ุซู…ุฑุชู‡ ูุชุตูŠุฑู‡ ุจู…ู†ุฒู„ุฉ ู…ู† ู„ู… ูŠุตู…

“Puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa dan puasanya perut dari makanan dan minuman. Sebagaimana makan dan minum akan memutus dan merusak (keabsahan) puasa, maka demikian pula dengan dosa-dosa. Dia akan memutus pahala puasa dan merusak buahnya sehingga membuat pelakunya (seolah-olah) seperti orang yang tidak berpuasa” (Roudhotul Abidin, hlm. 238)

Kemudian yang terakhir, yakni puasa yang lebih khusus. Puasa model ini terkadang hanya mampu dikerjakan oleh orang-orang tertentu saja dan hanya sedikit orang yang bisa sampai pada tahap ini. Sebab selain harus menahan lapar, haus dan menahan diri untuk tidak melakukan dosa serta maksiat, mereka juga harus memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah saja. Bahkan pikiran-pikiran yang berkaitan dengan selain Allah dan pikiran-pikiran yang berkaitan dengan urusan duniawi itu dianggap akan merusak puasanya. Nah dari pembahasan tentang tingkatan puasa ini kita bisa belajar bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri agar kedepannya bisa lebih baik dari sebelumnya. Maka dari itu, semoga puasa kita tidak hanya bersifat formalitas yang hanya dijadikan sebagai penggugur kewajiban saja, akan tetapi juga bermanfaat serta berdampak positif pada kepribadian kita sehari-harinya.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...