Salah satu keyakinan salah yang sudah menjalar dalam pikiran sebagian orang islam pada saat bulan ramadhan tiba adalah terkait tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Keyakinan semacam ini membuat sebagian orang menjadi cenderung bermalas-malasan dalam menjalani kegiatan selama bulan ramadhan, sehingga banyak waktu yang terbuang hanya dengan tidur saja. Celotehnya kira-kira begini: Buat apa cape-cape melakukan kegiatan lain untuk ibadah sedangkan dengan tidur saja sudah dianggap melakukan ibadah. Ini merupakan keyakinan yang salah, salah satu bentuk kebodohan terhadap sunnah dan salah satu bentuk kedustaan atas nama agama. Bahkan yang lebih parah lagi, ada orang yang sampai pada taraf terlewat waktu sholat wajib karena kebanyakan tidur disebabkan celoteh diatas, na'uzubillah.
Pertanyaannya, benarkah tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah? Mungkin kita sering mendapati hadits yang beredar ditengah-tengah masyarakat terkait hal ini. Hanya saja, ternyata hadits itu tidaklah shohih sehingga tidak bisa dijadikan sebagai standar kebenaran secara mutlak kalau tidurnya orang yang berpuasa merupakan ibadah (tanpa perlu melirik penjelasan para ulama mengenai isi haditsnya). Dan seumpama hadits tersebut dianggap benar, maka akan ada penjelasan lain terkait maksudnya. Kemudian, memang para ulama hadits berpendapat kalau hadits dhoif itu bisa dijadikan keutamaan dalam beramal (fadhoil amal). Hanya saja jika yang dimaksud beramal disini adalah dengan memperbanyak tidur, maka jelas tidak ada relevansinya dan terkesan tidak masuk akal. Dengan demikian, melegitimasi sebuah keyakinan bahwa tidurnya orang yang berpuasa merupakan ibadah secara mutlak berdasarkan hadits tersebut adalah keliru total.
Bahkan ini yang menarik, ada beberapa ulama hadits yang menyatakan kalau hadits tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah merupakan hadits palsu, karena didalamnya terdapat salah seorang perawi pendusta. Berikut ini keterangan dari imam Al-Iraqi rahimahullah :
๏ปญ๏บญ๏ปญุง๏ปฉ ๏บ๏บ๏ปฎ ๏ปฃ๏ปจ๏บผ๏ปฎ๏บญ ุง๏ป๏บช๏ปณ๏ป ๏ปค๏ปฒ ๏ป๏ปฒ ๏ปฃ๏บด๏ปจ๏บช ุง๏ป๏ป๏บฎ๏บฉ๏ปญ๏บฑ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บฃ๏บช๏ปณ๏บ ๏ป๏บ๏บช ุง๏ป๏ป ๏ปช ๏บ๏ปฆ ๏บ๏บ๏ปฒ ๏บ๏ปญ๏ป๏ปฐ ๏ปญ๏ป๏ปด๏ปช ๏บณ๏ป ๏ปด๏ปค๏บ๏ปฅ ๏บ๏ปฆ ๏ป๏ปค๏บฎ๏ปญ ุง๏ป๏ปจ๏บจ๏ป๏ปฒ ๏บ๏บฃ๏บช ุง๏ป๏ป๏บฌุง๏บ๏ปด๏ปฆ
“Hadits (tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah) itu bersumber dari riwayat Abu Mansur Ad-Dailami didalam kitab Musnad Al-Firdaus dari hadits Abdullah bin Abu Aufa, dan didalamnya terdapat Sulaiman bin Amr An-Nakhai, yaitu salah seorang perndusta (hadits)” (Takhrij Ihya Ulumuddin : 2/605)
Kerancuan hadits tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, disamping alasannya karena terdapat salah seorang perawi pendusta didalamnya, juga terdapat alasan-alasan lainnya. Diantaranya adalah matan haditsnya yang tidak masuk masuk akal. Bahkan cenderung bertentangan dengan spirit ramadhan itu sendiri, yang mana anjuran saat berpuasa itu seharusnya agar seseorang memperbanyak ibadah pada siang hari bulan ramadhan, bukan memperbanyak tidur. Dan lagi pula, banyak tidur pada saat puasa juga merupakan perkara yang jelek. Karena salah satu adab orang yang sedang berpuasa adalah dengan tidak memperbanyak tidur di siang hari sebagaimna yang dikatakan oleh Al-Imam Ghozali rahimahullah berikut ini :
ุจู ู
ู ุงูุขุฏุงุจ ุฃู ูุง ููุซุฑ ุงูููู
ุจุงูููุงุฑ ุญุชู ูุญุณ ุจุงูุฌูุน ูุงูุนุทุด ููุณุชุดุนุฑ ุถุนู ุงูููู ููุตูู ุนูุฏ ุฐูู ููุจู
“Bahkan termasuk dari adab (orang yang sedang berpuasa) adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari sampai dia merasakan lapar, haus serta merasakan lemahnya kekuatan fisik. Dengan demikian, hati akan menjadi bersih (karena hal itu)” (Ihya Ulumuddin : 1/246)
Dan ini yang paling penting, pada dasarnya tidur itu merupakan sesuatu yang mubah. Bukan ibadah, dan bukan pula maksiat. Hanya saja, terkadang tidurnya orang yang berpuasa akan bernilai ibadah bisa dibenarkan dalam keadaan tertentu. Namun bukan dalam hal sengaja memperbanyak tidur tanpa adanya alasan. Bagaimana penjelasannya? Yaitu jika tidur tersebut dijadikan sarana untuk menambah kekuatan fisik dan memulihkan tenaga agar lebih semangat dalam beribadah setelah bangun. Dan itu semua dikembalikan pada niat masing-masing orangnya.
Al-Imam Ibnu Daqiq rahimahullah mengatakan :
ูููู ุฅูู
ุง ุงูุฃุนู
ุงู ุจุงูููุงุช، ููู: ุฅููุง ููุนู
ูู
ูู ูู ุนู
ู، ูู
ุง ูุงู ู
ููุง ูุฑุจุฉ ุฃุซูุจ ุนููู ูุงุนูู، ูู
ุง ูุงู ู
ููุง ู
ู ุฃู
ูุฑ ุงูุนุงุฏุงุช ูุงูุฃูู ูุงูุดุฑุจ ูุงูููู
ูุฅู ุตุงุญุจู ูุซุงุจ ุนููู ุฅุฐุง ููู ุจู ุงูุชููู ุนูู ุงูุทุงุนุฉ
“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dikatakan: Hal itu untuk sesuatu yang umum pada setiap amal (entah yang ditunjukkan kepada Allah atau tidak). Maka apa-apa yang termasuk pendekatan diri kepada Allah, niscaya pelakunya akan diberi pahala atasnya. Dan apa-apa yang termasuk perkara adat (kebiasaan) seperti makan, minum, dan tidur, maka pelakunya akan diberi pahala atasnya jika dia meniatkannya agar menjadi kuat untuk melaksanakan ketaatan (kepada Allah)” (Syarah Arba'in Nawawi : 2/5)
Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :
ูุฅู ููู ุจุฃููู ูุดุฑุจู ุชูููุฉ ุจุฏูู ุนูู ุงูููุงู
ูุงูุตูุงู
ูุงู ู
ุซุงุจุง، ูู
ุง ุฃูู ุฅุฐุง ููู ุจููู
ู ูู ุงูููู ูุงูููุงุฑ ุงูุชููู ุนูู ุงูุนู
ู ูุงู ููู
ู ุนุจุงุฏุฉ
“Jika seseorang meniatkan makan dan minum untuk menguatkan tubuhnya agar mampu melaksanakan sholat dan puasa, maka dia akan diberi pahala (karena niatnya itu). Sebagaimana jika dia meniatkan tidurnya di malam dan siang hari untuk menguatkan diri dalam beramal, maka tidurnya akan bernilai ibadah (juga karena niatnya itu)” (Lathaiful Ma'arif : 279)
Teknis sederhananya itu kita tidur sebentar di siang hari dengan niatan agar lebih kuat menjalankan ibadah sholat tarawih di malam hari, dan kita tidak sampai meninggalkan sholat wajib karena alasan tidur tadi. Maka tidur dengan niatan seperti itulah yang insyaa Allah akan diberi pahala dan dinilai sebagai ibadah.
Al-Imam Nawawi rahimahullah mengatakan :
ุฃู ุงูู
ุจุงุญ ุฅุฐุง ูุตุฏ ุจู ูุฌู ุงููู ุชุนุงูู ุตุงุฑ ุทุงุนุฉ ููุซุงุจ ุนููู
“Sesuatu yang mubah jika tujuannya untuk mengharap keridhoan Allah, maka hal itu akan dinilai sebagai suatu ketaatan dan mendapatkan balasan (pahala) baginya” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 6/16)
Syaikh Murtadho Az-Zabidi rahimahullah mengatakan :
ููู
ุงูุตุงุฆู
ุนุจุงุฏุฉ ูููุณู ุชุณุจูุญ ูุตู
ุชู ุญูู
ุฉ، ูุฐุง ู
ุน ููู ุงูููู
ุนูู ุงูุบููุฉ ูููู ูู ู
ุง ูุณุชุนุงู ุจู ุนูู ุงูุนุจุงุฏุฉ ูููู ุนุจุงุฏุฉ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, nafasnya adalah tasbih dan diamnya adalah hikmah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tidur merupakan pangkal dari segala kelalaian, namun setiap hal yang dapat membantu seseorang untuk melaksanakan ibadah, maka akan dinilai pula sebagai ibadah” (Ithaf Saddatul Muttaqin : 5/574)
Atau tidur dalam rangka menjauhi maksiat, contohnya ghibah. Maka pada saat itu tidur dinilai jauh lebih baik daripada bangun tapi melakukan ghibah atau maksiat-maksiat lainnya.
Al-Imam Abul Aliyyah rahimahullah mengatakan :
ุงูุตุงุฆู
ูู ุนุจุงุฏุฉ ู
ุง ูู
ูุบุชุจ ุฃุญุฏุง ูุฅู ูุงู ูุงุฆู
ุง ุนูู ูุฑุงุดู
“Orang yang berpuasa itu senantiasa berada dalam keadaan ibadah selama dia tidak mengghibah siapapun meskipun dia sedang tidur diatas ranjangnya” (Lathaiful Ma'arif : 279)
Nah kesimpulannya, tidur-tidur yang diniatkan seperti diataslah yang akan dinilai sebagai ibadah. Oleh karena itu, jika tidur malah membuat kita lalai dari ibadah, bahkan sholat wajib pun menjadi terlewat begitu saja, jangankan tidur kita akan dinilai sebagai ibadah, mendapat pahala pun niscaya tidak akan. Bahkan bisa jadi tidur kita akan dinilai sebagai bentuk maksiat, na'uzubillah.
ูุงููู ุฃุนูู
ุจุงูุตูุงุจ
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
