Jumat, Maret 08, 2024

TANYA JAWAB - TALAK DALAM KEADAAN MABUK


🔄 Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr wb.

Sebut saja namanya ridwan yang setiap hari gemar sekali meminum minuman keras, dan kebetulan ridwan ini sudah punya istri. Suatu hari saat dia pulang malam dalam keadaan mabuk, oleh istrinya dinasehati dengan berbagai macam nasehat. Bukannya berterima kasih pada istrinya karena sudah dinasehati, tapi dia malah marah sampai-sampai mentalak istrinya karena merasa jengkel dinasehati.

Pertanyaannya, bagaimana status talak yang diucapkan ridwan kepada istrinya dalam keadaan mabuk apakah sah atau tidak?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Status jatuh atau tidaknya talak yang diucapkan oleh suami yang sedang mabuk itu diperinci sehingga terbagi menjadi dua pendapat :

1. Ini merupakan pendapat yang shohih didalam madzhab Syafi'i. Jika suami mabuk dalam keadaan sengaja, maka talak yang diucapkannya itu adalah sah. Tapi jika suami mabuk dalam keadaan tidak sengaja semisal minum obat sampai hilang kesadaran akalnya (mabuk), maka talak yang diucapkannya itu tidak sah.

2. Tidak jatuh talaknya suami yang mabuk (hilang kesadaran akalnya) entah itu dilakukan dalam keadaan sengaja maupun tidak, dan ini merupakan pendapatnya imam Al-Muzani salah satu muridnya imam Syafi'i. Juga merupakan salah satu pendapat terdahulu dari imam Syafi'i dan pendapat-pendapatnya ulama selain dari madzhab Syafi'i.

📚 Keterangan :

فأما من لا يعقل فإنه لم يعقل بسبب يعذر فيه كالنائم والمجنون والمريض ومن شرب دواء للتداوي فزال عقله أو أكره على شرب الخمر حتى سكر لم يقع طلاقه لأنه نص في الخبر على النائم والمجنون وقسنا عليهما الباقين، وإن لم يعقل بسبب لا يعذر فيه كمن شرب الخمر لغير عذر فسكر أو شرب دواء لغير حاجة فزال عقله فالمنصوص في السكران أنه يصح طلاقه

“Adapun orang yang hilang kesadaran akalnya, maka jika hilang kesadaran akalnya itu disebabkan oleh uzur-uzur tertentu semisal tidur, gila, sakit, dan minum obat untuk mengobati penyakitnya sampai hilang kesadaran akalnya, atau dipaksa minum khomr sampai mabuk, maka tidak jatuh talaknya sebagaimana yang telah ditetapkan didalam nash (imam Syafi'i) terkait orang tidur dan orang gila. Sedangkan orang yang hilang kesadaran akalnya disebabkan tidak ada uzur-uzur tertentu semisal orang yang sengaja minum khomr sampai mabuk, atau minum obat tanpa adanya kebutuhan sampai hilang kesadaran akalnya, maka menurut nash (imam Syafi'i) yang telah ditetapkan mengenai orang mabuk adalah sah (atau jatuh) talaknya” 

📕 (Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 18, hlm. 198)

📚 Tambahan keterangan :

وروى المزني أنه قال في القديم: لا يصح ظهاره والطلاق والظهار واحد. فمن أصحابنا من قال فيه قولان. (أحداهما) لا يصح وهو اختيار المزني وأبى ثور، لانه زائل العقل فأشبه النائم أو مفقود الارادة فأشبه المكره. (والثانى) أنه يصح وهو الصحيح لما روى أبو وبرة الكلبى

“Imam Al-Muzani meriwayatkan pendapat (imam Syafi'i) dalam qoul qodim bahwasanya dziharnya (suami yang mabuk) itu tidak sah, sedangkan talak dan dzihar itu sama. Kemudian para ulama madzhab Syafi'i juga menyatakan terkait (talak yang dilakukan oleh suami mabuk) menjadi dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan talaknya tidak sah, dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh imam Al-Muzani dan Abu Tsaur. (Alasannya) karena dia (suami yang mabuk itu) sedang hilang kesadaran akalnya sehingga serupa dengan orang tidur, atau hilang keinginannya sehingga serupa dengan orang yang dipaksa. Kemudian pendapat yang kedua menyatakan talaknya sah, dan ini merupakan pendapat shohih sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Wabrah Al-Kalbi” 

📕 (Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 18, hlm. 198)

📚 Tambahan keterangan :

ومن شرب خمرا أو نبيذا فأسكره فطلق لزمه الطلاق والحدود كلها، ومن شرب بنجا أو حريفا أو مرقدا ليتعالج به من مرض فأذهب عقله فطلق لم يلزمه الطلاق

“Barang siapa yang meminum khomr atau anggur yang sampai menyebabkannya mabuk kemudian dia mentalak istrinya, maka jatuhlah talaknya dan dia wajib dihukum. Namun barang siapa yang meminum obat pereda nyeri atau obat hirup untuk mengobati satu penyakit yang sampai menghilangkan kesadaran akalnya kemudian dia mentalak istrinya, maka tidak jatuh talaknya”

📕 (Al-Umm jilid 5, hlm. 270)

📚 Tambahan keterangan :

وذكر البخاري أثر عثمان ثم بن عباس استظهارا لما دل عليه حديث على في قصة حمزة، وذهب إلى عدم وقوع طلاق السكران أيضا أبو الشعثاء وعطاء وطاوس وعكرمة والقاسم وعمر بن عبد العزيز ذكره بن أبي شيبة عنهم بأسانيد صحيحة، وبه قال ربيعة والليث وإسحاق والمزني واختاره الطحاوي واحتج بأنهم اجمعوا على أن طلاق المعتوه لا يقع قال والسكران معتوه بسكره

“Imam Bukhari menyebutkan atsar Utsman bin Affan dan Ibnu Abbas didalam menjelaskan maksud hadits Ali pada kisah Hamzah (tentang talak yang diucapkan saat suami sedang mabuk). Pendapat yang menyatakan bahwa tidak jatuh talaknya orang yang mabuk adalah pendapat dari Abu Sya'tsa, Atho, Thowus, Ikrimah, Qosim dan juga Umar bin Abdul Aziz sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih. Dan ini juga merupakan pendapat dari Rabi'ah, Al-Laits, Ishaq dan Al-Muzani yang kemudian pendapat tersebut dipilih oleh At-Thohawi. Dengan pendapat seperti itu, mereka sepakat bahwasanya talak orang yang hilang kesadaran akalnya adalah tidak jatuh. Imam Bukhari kembali berkata: Orang mabuk itu hilang kesadaran akalnya disebabkan mabuk” 

📕 (Fathul Bari jilid 9, hlm. 294)

📚 Tambahan keterangan :

قوله (وقال عثمان: ليس لمجنون ولا لسكران طلاق) وصله ابن أبي شيبة عن شبابة ورويناه في الجزء الرابع من تاريخ أبي زرعة الدمشقي عن آدم بن أبي إياس كلاهما عن ابن أبي ذئب عن الزهري قال: قال رجل لعمر بن عبد العزيز: طلقت امرأتي وأنا سكران فكان رأي عمر بن عبد العزيز مع رأينا أن يجلده ويفرق بينه وبين امرأته حتى حدثه أبان بن عثمان بن عفان عن أبيه أنه قال: ليس على المجنون ولا على السكران طلاق

“(Utsman bin Affan berkata: Tidak sah talaknya orang gila dan orang yang mabuk). Ibnu Abi Syaibah meriwayatkannya dari Syababah, dan kami meriwayatkannya pada juz ke empat dari Tarikh Abi Zar'ah Ad-Dimasyqi, dari riwayat Adam bin Abi Iyas yang keduanya berasal dari riwayat Ibnu Abi Dzaib, kemudian dari Az-Zuhri yang mana beliau menyatakan: Ada seorang laki-laki yang berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, (wahai khalifah) aku telah menceraikan istriku sedangkan aku dalam keadaan mabuk. Maka pandangan Umar bin Abdul Aziz adalah sama seperti pandangan kami yaitu laki-laki tersebut harus dicambuk dan dipisahkan dari istrinya. (Riwayat ini jalurnya) sampai kepada Aban bin Utsman bin Affan, dari ayahnya yang menyatakan: Tidak sah talaknya orang gila dan orang yang mabuk”

📕 (Fathul Bari jilid 9, hlm. 294)

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...