Sabtu, September 30, 2023

AHLUL BAIT DISUCIKAN DARI DOSA, SIAPAKAH YANG DIMAKSUD?


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ูˆูŠุทู‡ุฑูƒู… ุชุทู‡ูŠุฑุง

“Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian wahai ahlul bait dari Ar-Rijs (dosa) dan mensucikannya dengan sesuci-sucinya” (Qs. Al-Ahzab : 33)

Jika mau berbicara konteks ayat ini, kita perlu mengetahui terlebih dahulu siapakah ahlul bait yang dimaksud pada ayat tersebut. Dan untuk mengetahuinya, kita akan menelusuri tafsir dari ayatnya itu sendiri. Jadi jangan sampai ayat ini dipelintir bahwa yang dimaksud ahlul bait adalah termasuk semua keturunan nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang ada pada hari ini. Sebab jika demikian, maka akan berimplikasi bahwa semua keturunan nabi pada hari ini telah disucikan dan dijamin surga meskipun mereka berbuat maksiat, tentu ini sangat keliru dan terkesan cocok logi ayat yang jauh dari kebenaran yang sesungguhnya.

Ketahuilah bahwa makna khusus terkait ayat diatas, ahlul bait yang dimaksud itu adalah Sayyidah Fatimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen. Sebab jika menelisik turunnya ayat tersebut, ayat itu memang ditujukan kepada Rasulullah juga kepada anak dan menantunya beserta kedua cucunya. Didalam tafsir ayatnya kita akan menemukan hadits sebagai berikut :

ุนู† ุฃู… ุณู„ู…ุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช : ู†ุฒู„ุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ ููŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนู„ูŠ ูˆูุงุทู…ุฉ ูˆุญุณู† ูˆุญุณูŠู† : ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ูˆูŠุทู‡ุฑูƒู… ุชุทู‡ูŠุฑุง

“Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha beliau berkata : Ayat tentang ‘sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian wahai ahlul bait dari Ar-Rijs (dosa) dan mensucikannya dengan sesuci-sucinya’ itu turun untuk ditujukkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Ali, Fatimah, Hasan dan Husen” (Tafsir Surah Al-Ahzab : 33)

Dan juga hadits sebagai berikut :

ุนู† ุฃุจูŠ ุณุนูŠุฏ ุงู„ุฎุฏุฑูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ ุนุฒ ูˆ ุฌู„ : ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ูˆูŠุทู‡ุฑูƒู… ุชุทู‡ูŠุฑุง، ู‚ุงู„ : ู†ุฒู„ุช ููŠ ุฎู…ุณุฉ ููŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ูˆุนู„ูŠ ูˆูุงุทู…ุฉ ูˆุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…

“Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu terkait firman Allah Azza wa Jalla : Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian wahai ahlul bait dari Ar-Rijs (dosa) dan mensucikannya dengan sesuci-sucinya. Beliau mengatakan bahwa ayat tersebut turun untuk lima orang yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Ali, Fatimah, Hasan dan Husen radhiyallahu 'anhum” (HR. Thabrani : 375)

Dan juga hadits berikut ini :

ุนู† ุฃู… ุณู„ู…ุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช : ููŠ ุจูŠุชูŠ ู†ุฒู„ุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช، ู‚ุงู„ุช : ูุฃุฑุณู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฅู„ู‰ ุนู„ูŠ ูˆ ูุงุทู…ุฉ ูˆ ุงู„ุญุณู† ูˆ ุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ุฃุฌู…ุนูŠู† ูู‚ุงู„ : ุงู„ู„ู‡ู… ู‡ุคู„ุงุก ุฃู‡ู„ ุจูŠุชูŠ ู‚ุงู„ุช ุฃู… ุณู„ู…ุฉ : ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุฃู†ุง ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ؟ ู‚ุงู„ : ุฅู†ูƒ ุฃู‡ู„ูŠ ุฎูŠุฑ ูˆ ู‡ุคู„ุงุก ุฃู‡ู„ ุจูŠุชูŠ ุงู„ู„ู‡ู… ุฃู‡ู„ูŠ ุฃุญู‚

“Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha beliau berkata : Dirumahku turun ayat ‘sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian dari Ar-Rijs (dosa) wahai ahlul bait. Maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husen radhiyallahu 'anhum ajma'in seraya berkata : Yaa Allah, mereka adalah ahlul baitku. Ummu Salamah berkata kembali : Wahai rasulullah, apakah aku termasuk ahlul bait? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menjawab : Engkau adalah keluargaku yang baik dan mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husen) adalah ahlul baitku. Yaa Allah keluargaku yang haq” (HR. Al-Hakim : 3558)

Nah berdasarkan hadits-hadits diatas, maka yang dimaksud ahlul bait dalam surah Al-Ahzab ayat 33 itu adalah Sayyidah Fatimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen. Oleh karena itu para keturunan nabi yang ada pada hari ini tidaklah tercakup ke dalam maksud daripada ayat tersebut. Dan mereka itu lebih tepatnya adalah disebut sebagai dzurriyah, bukan disebut sebagai ahlul bait yang secara akhos (khusus).

Dan terakhir sebagai bantahan terhadap orang yang hobi mengaku-ngaku sebagai ahlul bait nabi, simak perkataannya imam Al-Munawi rahimahullah berikut ini :

ุฅู† ูุงุทู…ุฉ ุจู†ุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃุญุตู†ุช ููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ุญุตู†ุช ุจุบูŠุฑ ุฃู„ู ูุฑุฌู‡ุง ุตุงู†ุชู‡ ุนู† ูƒู„ ู…ุญุฑู… ู…ู† ุฒู†ุง ูˆุณุญุงู‚ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ูุญุฑู…ู‡ุง ุฃูŠ ุจุณุจุจ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฅุญุตุงู† ุญุฑู…ู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฐุฑูŠุชู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฑ ุฃูŠ ุญุฑู… ุฏุฎูˆู„ ุงู„ู†ุงุฑ ุนู„ูŠู‡ู… ูุฃู…ุง ู‡ูŠ ูˆุงุจู†ุงู‡ุง ูุงู„ู…ุฑุงุฏ ููŠ ุญู‚ู‡ู… ุงู„ุชุญุฑูŠู… ุงู„ู…ุทู„ู‚ ูˆุฃู…ุง ู…ู† ุนุฏุงู‡ู… ูุงู„ู…ุญุฑู… ุนู„ูŠู‡ู… ู†ุงุฑ ุงู„ุฎู„ูˆุฏ ูˆุฃู…ุง ุงู„ุฏุฎูˆู„ ูู„ุง ู…ุงู†ุน ู…ู† ูˆู‚ูˆุนู‡ ู„ู„ุจุนุถ ู„ู„ุชุทู‡ูŠุฑ ู‡ูƒุฐุง ูุงูู‡ู…

“Sesungguhnya Fatimah binti nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menjaga kehormatannya. Dan kalimat telah menjaga kehormatannya yang dalam riwayat lain memakai kalimat hasonat tanpa huruf alif, itu menunjukan bahwa Fatimah telah menjaga dirinya dari perbuatan yang diharamkan seperti zina, masturbasi dan yang semisalnya. Oleh karena itulah Allah mengharamkan Fatimah dan keturunannya masuk ke dalam neraka. Jadi, bagi Fatimah dan kedua putranya (yakni Hasan dan Husen) maka mereka tidak akan masuk neraka sama sekali. Adapun bagi keturunan Rasulullah selain daripada mereka bertiga (generasi setelah Hasan dan Husen) itu masih ada kemungkinan untuk masuk neraka tapi tidak selama-lamanya, sedangkan mereka yang masuk neraka hal itu semata-mata hanya untuk mensucikan dosa-dosa mereka” (Faidhul Qodir : 2/462)

Nah jadi kesimpulannya, bagi anda yang hobi mengaku-ngaku sebagai keturunan nabi apalagi mengaku-ngaku sebagai ahlul bait nabi, janganlah merasa diri anda itu suci. Apalagi sampai menganggap kalau diri anda sudah dijamin surga, prett na'udzubillah. Yang itupun bahkan hanya sekedar pengakuan sepihak serta belum terbukti kevalidannya sebagai keturunan nabi. Dan umpamanya pun anda memang benar sebagai keturunan nabi tapi anda bermaksiat kepada Allah dan anda tidak punya prestasi sebagai seorang mukmin yang baik, maka tetap saja kalau nasab anda itu tidak akan ada gunanya. Karena tidak ada yang istimewa dengan nasab, sebab tolok ukur kemuliaan itu adalah dengan ilmu dan ketakwaan, bukan dengan nasab. Maka berhentilah mengobral nasab demi nasib, dan berhentilah mendoktrin orang-orang awam dengan pengakuan sebagai keturunan nabi (padahal bukan) hanya karena ingin dihormati, dimuliakan dan dianggap sebagai tuan dinegeri Indonesia ini.

Simak hadits berikut ini :

ุณุฆู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุฃูƒุฑู… ู‚ุงู„ ุฃูƒุฑู…ู‡ู… ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃุชู‚ุงู‡ู…

“Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : Siapakah manusia yang paling mulia wahai Rasulullah? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menjawab : Manusia yang paling mulia diantara mereka adalah yang paling bertakwa” (HR. Bukhari : 4689)

Syaikh Nawawi Al-Bantani rahimahullah mengatakan :

ูˆุฃู† ุงู„ุนุงู„ู… ุงู„ุฐูŠ ู„ู… ูŠู†ุณุจ ุฅู„ูŠู‡ ูŠููˆู‚ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ุงู„ุนุงู„ู… ู…ู…ู† ุงู†ุชุณุจ ุฅู„ูŠู‡ ุจุณุชูŠู† ุฏุฑุฌุฉ

“Bahwasanya orang berilmu yang tidak punya garis keturunan kepada (nabi shallallahu 'alaihi wasallam) itu enam puluh derajat lebih utama daripada orang yang mempunyai garis keturunan kepada (nabi shallallahu 'alaihi wasallam) namun tidak berilmu” (Muroqil Ubudiyah, hlm. 284)

Kemudian Syeikh Ismail Utsman Al-Yamani rahimahullah mengatakan :

ูˆูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุนู„ู… ุชููˆู‚ ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุณุจ

“Keistimewaan ilmu itu melebihi keistimewaan nasab” (Qurotul 'Ain Fatawa Ulama Haromain : 1/281)

Demikianlah, salam waras semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Jumat, September 29, 2023

ANTARA NASAB & NASIB


Saya mulai tulisan ini dengan diawali firman Allah sebagai berikut :

ูุฅุฐุง ู†ูุฎ ููŠ ุงู„ุตูˆุฑ ูู„ุง ุฃู†ุณุงุจ ุจูŠู†ู‡ู… ูŠูˆู…ุฆุฐ ูˆู„ุง ูŠุชุณุงุกู„ูˆู†

“Apabila sangkakala ditiup (hari kiamat telah tiba), maka tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya” (Qs. Al-Mu'minun : 101)

Dihari kiamat kelak, nasab bukanlah faktor yang akan menentukan nasib. Seperti ungkapan konyol kalau ada anak yang berasal dari orang sholeh pasti akan selamat, sedangkan anak yang berasal dari seorang ahli maksiat pasti akan mendapat laknat. Diakhirat kelak, selamat atau tidaknya seseorang, maka yang paling berpengaruh adalah rahmat Allah. Dan rahmat Allah diakhirat adalah buah yang dipetik dari amal-amal sholeh yang telah dilakukan oleh seorang mukmin semasa hidupnya didunia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

ุงู† ุฑุญู…ุช ุงู„ู„ู‡ ู‚ุฑูŠุจ ู…ู† ุงู„ู…ุญุณู†ูŠู†

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (Qs. Al-A'raf : 56)

Oleh karena itu, meskipun anaknya seorang nabi kalau dirinya tidak beriman dan beramal sholeh, maka diakhirat kelak dia termasuk orang-orang yang hina, Kan'an putra nabi Nuh contohnya. Sebaliknya, meskipun dia adalah anaknya seorang kafir yang memusuhi nabi, kalau dirinya beriman dan beramal sholeh, maka diakhirat kelak insyaa Allah dia termasuk orang-orang yang mulia, Ikrimah putra Abu Jahal contohnya.

Sebagaimana dikatakan kalau iman itu tidak dapat diwarisi, demikian pula kehormatan diri apalagi keselamatan diakhirat nanti. Tak hanya diakhirat dan dihadapan Allah saja, bahkan didunia dan dalam pandangan manusia pun semua itu berlaku. Misalnya keturunan orang terhormat tapi bejad, maka dalam pandangan manusia dia itu tetap akan dipandang rendah sebagai manusia yang tak bermartabat. Dan kalau pun ada yang tetap memaksakan diri untuk menghormati, maka pasti hal itu dilakukan dengan menipu nurani. Sebaliknya, meskipun keturunan seorang yang bejad tapi dengan hidayah Allah dia menjadi mukmin yang sholeh dan taat, maka orang lain pasti akan menaruh segala hormat.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

ูˆู…ู† ุจุทุฃ ุจู‡ ุนู…ู„ู‡ ู„ู… ูŠุณุฑุน ุจู‡ ู†ุณุจู‡

“Barang siapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak akan bisa mengejarnya (menolongnya)” (HR. Muslim : 2699) 

Al-Imam Nawawi rahimahullah mengomentari hadits diatas dengan pernyataan beliau : 

ู…ุนู†ุงู‡ ู…ู† ูƒุงู† ุนู…ู„ู‡ ู†ุงู‚ุตุง ู„ู… ูŠู„ุญู‚ู‡ ุจู…ุฑุชุจุฉ ุฃุตุญุงุจ ุงู„ุฃุนู…ุงู„، ููŠู†ุจุบูŠ ุฃู„ุง ูŠุชูƒู„ ุนู„ู‰ ุดุฑู ุงู„ู†ุณุจ ูˆูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุขุจุงุก ูˆูŠู‚ุตุฑ ููŠ ุงู„ุนู…ู„

“Makna hadits ini adalah: Barang siapa yang amalnya itu kurang, maka dia tidak akan sampai pada derajat mulia orang-orang yang (ahli beramal). Maka dari itu seyogyanya seseorang untuk tidak mengandalkan nasabnya serta keutamaan nenek moyangnya (dan akhirnya malah sedikit beramal)” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 17/21)

Kemudian :

ู…ู† ู‚ุตุฑ ุจู‡ ุนู…ู„ู‡ ุนู† ุงู„ูˆุตูˆู„ ุฅู„ู‰ ุฏุฑุฌุงุช ุงู„ุตุงู„ุญูŠู† ู„ู… ูŠู†ูุนู‡ ุญุณุจู‡ ูˆู†ุณุจู‡ ูˆู„ูˆ ุงู†ุชุณุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠูŠู† ูˆุงู„ุตุฏูŠู‚ูŠู†

“Barang siapa yang amalnya tidak dapat mengantarkannya pada derajat orang-orang yang sholeh, maka nasabnya tidak akan memberikan manfaat meskipun dia mempunyai garis keturunan kepada para nabi dan para shiddiqqin” (Majmu'atun Minal Mu'allifin Fatawa Syabakah Islamiyyah : 3/535)

Jadi sekali lagi saya katakan, nasab bukanlah faktor yang akan menentukan nasib. Karena punya garis nasab kepada seorang nabi pun umpamanya, itu tidak ada gunanya jika diri kamu tidak punya prestasi sebagai seorang mukmin yang baik. Oleh karena itu, prestasi kamu didunia inilah yang kelak akan menentukan nasib kamu diakhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : 

ุฅู† ุฃูƒุฑู…ูƒู… ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃุชู‚ุงูƒู…

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa” (Qs. Al-Hujurat : 13)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :

ูˆู‚ูˆู„ู‡: (ุฅู† ุฃูƒุฑู…ูƒู… ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃุชู‚ุงูƒู…) ุฃูŠ ุฅู†ู…ุง ุชุชูุงุถู„ูˆู† ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจุงู„ุชู‚ูˆู‰ ู„ุง ุจุงู„ุฃุญุณุงุจ

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, yakni sesungguhnya keutamaan kalian disisi Allah itu hanya dengan ketakwaan, bukan dengan faktor keturunan” (Tafsir Ibnu Katsir : 7/386)

Juga pernyataan imam Ath-Thobari rahimahullah :

ู‚ูˆู„ู‡: (ุฅู† ุฃูƒุฑู…ูƒู… ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃุชู‚ุงูƒู…)، ุฅู† ุฃูƒุฑู…ูƒู… ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู†ุงุณ ุนู†ุฏ ุฑุจูƒู…، ุฃุดุฏูƒู… ุงุชู‚ุงุก ู„ู‡ ุจุฃุฏุงุก ูุฑุงุฆุถู‡ ูˆุงุฌุชู†ุงุจ ู…ุนุงุตูŠู‡، ู„ุง ุฃุนุธู…ูƒู… ุจูŠุชุง ูˆู„ุง ุฃูƒุซุฑูƒู… ุนุดูŠุฑุฉ

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian wahai manusia disisi robb kalian, adalah orang yang paling kokoh ketakwaannya, yakni dengan cara melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Bukan orang-orang yang paling besar rumahnya dan paling banyak sanak keluarganya” (Tafsir Ath-Thobari : 22/310)

Demikianlah, salam waras semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

MEMBANTAH SYUBHAT HIZBUT TAHRIR TERKAIT MASALAH KHILAFAH


Pendiri Hizbut Tahrir mengatakan :

ูˆุฅู‚ุงู…ุฉ ุฎู„ูŠูุฉ ูุฑุถ ุนู„ู‰ ูƒุงูุฉ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ููŠ ุฌู…ูŠุน ุฃู‚ุทุงุฑ ุงู„ุนุงู„ู…. ูˆุงู„ู‚ูŠุงู… ุจู‡ ูƒุงู„ู‚ูŠุงู… ุจุฃูŠ ูุฑุถ ู…ู† ุงู„ูุฑูˆุถ ุงู„ุชูŠ ูุฑุถู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†

“Mengangkat seorang khalifah (yakni menegakkan khilafah menurut Hizbut Tahrir) adalah wajib atas seluruh orang-orang muslim diseluruh penjuru alam. Dan megenakkannya itu seperti halnya kewajiban yang lain diantara kewajiban-kewajiban yang telah Allah bebankan atas orang-orang muslim”

Kalimat ูƒุงูุฉ dengan dibaca manshub yang diakhiri tanda kasroh pada huruf Ta nya, adalah kalimat yang menunjukkan bahwa yang dimaksud itu adalah keseluruhan tanpa terkecuali, beda dengan kalimat ูƒู„ yang bisa dimaknai sebagai makna sebagian. Dan pendiri Hizbut Tahrir ini sepertinya memang sengaja memakai kalimat tersebut bahwa khilafah menurut ideologinya adalah kewajiban yang dibebankan atas seluruh umat muslim tanpa terkecuali.

Lalu pada kalimat ูˆุงู„ู‚ูŠุงู… ุจู‡ ูƒุงู„ู‚ูŠุงู… ุจุฃูŠ ูุฑุถ ู…ู† ุงู„ูุฑูˆุถ ุงู„ุชูŠ ูุฑุถู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†, disana pendiri Hizbut Tahrir menyatakan bahwa menegakkan khilafah itu hukumnya adalah wajib sebagaimana kewajiban-kewajiban yang telah Allah bebankan kepada seluruh umat muslim. Jadi berdasarkan pernyataan pendiri Hizbut Tahrir diatas, menegakkan khilafah itu jika kita fahami adalah seperti halnya sholat dan puasa yang mana keduanya adalah fardhu 'ain (wajib atas semua umat muslim yang mukallaf).

Nah pernyataan seperti itu sangat berbahaya, sebab akan berkonsekuensi berdosanya orang yang tidak menegakkan khilafah karena menegakkan khilafah itu dianggap fardhu 'ain hukumnya oleh mereka. Beda halnya dengan pernyataan para ulama salaf yang mu'tabar bahwa menegakkan khilafah itu hukumnya adalah fardhu kifayah yang dibebankan kepada orang yang punya kapabilitas saja, dan ini dapat diterima dengan akal yang waras. Sebab bagaimana mungkin hal yang seberat dan seberbahaya menegakkan khilafah itu diwajibkan atas seluruh umat muslim tanpa terkecuali. Oleh karena itu, sangat keliru kalau menegakkan itu adalah kewajiban yang dibebankan atas seluruh umat muslim.

Lagi pula, membahas tentang masalah khilafah sebenarnya bagi orang-orang sekelas kita itu sangat tidak diperlukan. Apalagi jika sampai punya agenda untuk menegakkannya dengan berbagai dalih ataupun dengan berbagai cara. Kita sama sekali tidak punya kapabilitas untuk melakukan itu semua bro.

Sebagai penutup, mari kita simak pernyataan imam Asy-Syahrostani rahimahullah berikut ini :

ุงุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ู„ูŠุณุช ู…ู† ุฃุตูˆู„ ุงู„ุงุนุชู‚ุงุฏ ุจุญูŠุซ ูŠูุถูŠ ุงู„ู†ุธุฑ ููŠู‡ุง ุฅู„ู‰ ู‚ุทุน ูˆูŠู‚ูŠู† ุจุงู„ุชุนูŠู† ูˆู„ูƒู† ุงู„ุฎุทุฑ ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠุฎุทูŠ ููŠู‡ุง ูŠุฒูŠุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุทุฑ ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠุฌู‡ู„ ุฃุตู„ู‡ุง ูˆุงู„ุชุนุณู ุงู„ุตุงุฏุฑ ุนู† ุงู„ุฃู‡ูˆุงุก ุงู„ู…ุถู„ุฉ ู…ุงู†ุน ู…ู† ุงู„ุฅู†ุตุงู ููŠู‡ุง

“Ketahuilah bahwa persoalan imamah (atau khilafah) itu tidak termasuk ke dalam persoalan dasar-dasar akidah, yang mana pembahasan terkait hal tersebut akan mengantarkan kepada kesimpulan dan keyakinan yang pasti. Sebaliknya, bahaya bagi orang yang melakukan kesalahan dalam pembahasan ini justru melebihi bahaya orang yang tidak mengerti pembahasan ini sama sekali. Dan keteledoran yang muncul dari hawa nafsu yang menyesatkan itu akan menghalangi seseorang untuk bersikap inshof dalam pembahasan ini” (Nihayatul Iqdam Fi Ilmil Kalam : 168)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

Minggu, September 17, 2023

MENAKAR KESHAHIHAN NASAB DENGAN DATA PRIMER, SEKUNDER & PEMBANDING


Nasab siapapun terlebih lagi itu nasab seorang tokoh, bisa dikatakan shahih jika memiliki data-data ilmiah yang mencatat baik pada masa sekarang maupun pada masa seorang tokoh itu hidup. Atau minimalnya beberapa rentang tahun setelah kematiannya. 

Dalam kajian filologi, keberadaan data primer (tempo dulu) itu sangat penting. Nasab nabi shallallahu 'alaihi wasallam contohnya, disamping ada data sekunder yang mencatat silsilah nasabnya, juga terdapat data primer yang mencatatnya. Dan data primer inilah yang akan menjadi data penguat keshahihan nasab tersebut.

Apalagi jika misalnya ditambah dengan data-data pembanding dari dokumen-dokumen diluar islam seperti dari Nasrani misalnya, atau dari Yahudi, maka keshahihan nasabnya itu tidak akan mungkin untuk bisa diragukan lagi keshahihannya. Dan mengenai nasab nabi shallallahu 'alaihi wasallam, itu telah terbukti dengan adanya data-data primer dan sekunder, ditambah lagi dengan data-data pembanding dari luar islam seperti dari Nasrani dan Yahudi.

Jika para pengkaji sejarah dan pengkaji nasab khususnya mau memakai metode seperti ini, maka sangat bagus. Karena untuk membuktikan sebuah informasi yang sebelumnya dianggap tidak ada misalnya, itu tidak akan lagi bisa dianggap menjadi tidak ada karena sudah dibuktikan dengan adanya data-data ilmiah baik data dari sepihak maupun data dari luar sebagai pembandingnya.

Nah oleh karena itu, dizaman sekarang yang namanya syuhroh wal istifadhoh (kemasyhuran dan ketersebaran) untuk penetapan sebuah nasab itu saya kira masih kurang. Karena keberadaan data-data ilmiah yang sekunder dan terlebih lagi yang primer, itu sangat penting keberadaannya. Sebab data-data tersebutlah yang nantinya akan menjadikan silsilah nasab seseorang itu menjadi kuat keshahihannya. Dan lagi pula, diantara syarat istifadhoh atau ketersebaran sebuah nasab itu sendiri adalah mesti diketahui sepanjang zaman. Artinya jika nasab seseorang sudah memenuhi kriteria istifadhoh, maka nasabnya akan tercatat pula sepanjang zaman pada kitab-kitab nasab dan melalui kesaksian-kesaksian para ahli nasab.

Al-Imam Ar-Ruyani rahimahullah mengatakan :

ุงู† ุฅู„ุงุณุชูุงุถุฉ ุจุงู„ู†ุณุจ ุนุฑู ุจุทูˆู„ ุงู„ุฒู…ุงู†

“Sesungguhnya istifadhoh untuk (menetapkan sebuah) nasab itu mesti diketahui sepanjang zaman” (Bahrul Madzhab : 3/134)

Mangkanya jika keshahihan nasab seseorang ingin diakui oleh semua pihak, itu sangat wajib untuk menghadirkan data-data sekunder dan primer, kemudian ditambah lagi dengan data-data pembanding sebagai penguatnya. Sebab jika tidak demikian, maka banyak orang yang tidak akan mempercayai keshahihan nasab tersebut, terlebih bagi mereka-mereka yang sangat kritis dengan masalah ilmu nasab. Dan pada hari ini, banyak orang yang sudah melek akan hal itu. Bukan karena alasan apapun, tapi karena mereka sudah mulai cerdas dan sudah mulai kritis bahwa ternyata istilah percaya terhadap sesuatu itu tidak cukup hanya sebatas percaya begitu saja, melainkan juga mesti dibuktikan dengan ilmu pengetahuan.

Demikianlah, salam waras semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

Sabtu, September 16, 2023

TANYA JAWAB - TIDAK BISA BACA SURAH AL-FATIHAH, BAGAIMANA SHOLATNYA?


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Izin bertanya, bagaimana hukum nya shalat org yg tak hafal surah Al Fatihah, jg tak hafal surah lain nya bahkan sama sekali tak bsa membaca Alquran?
Syukran jazakumullahu khairan๐Ÿ™๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh. 

Bagi orang yang tidak mampu membaca surah Al-Fatihah pada saat sholat, itu diberi tiga opsi :

1. Membaca surah lain yang ukuran ayatnya sama dengan ayat-ayat yang ada pada surah Al-Fatihah, yakni 7 ayat atau lebih.

2. Jika tidak mampu maka bisa diganti dengan cara membaca lafadz-lafadz dzikir semisal subhanallah, walhamdulillah dan seterusnya yang hurufnya itu tidak kurang dari jumlah huruf yang ada pada surah Al-Fatihah.

3. Dan jika masih tidak mampu juga, maka cukup berdiri saja seukuran waktu untuk membaca surah Al-Fatihah.

๐Ÿ“š Keterangan :

ูˆู…ู† ุฌู‡ู„ ุงู„ูุงุชุญุฉ ูˆุชุนุฐุฑุช ุนู„ูŠู‡ ู„ุนุฏู… ู…ุนู„ู… ู…ุซู„ุง ูˆุฃุญุณู† ุบูŠุฑู‡ุง ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู†، ูˆุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุณุจุน ุขูŠุงุช ู…ุชูˆุงู„ูŠุฉ ุนูˆุถุง ุนู† ุงู„ูุงุชุญุฉ ุฃูˆ ู…ุชูุฑู‚ุฉ ูุฅู† ุนุฌุฒ ุนู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ุฃุชู‰ ุจุฐูƒุฑ ุจุฏู„ุง ุนู†ู‡ุง ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠู†ู‚ุต ุนู† ุญุฑูˆูู‡ุง، ูุฅู† ู„ู… ูŠุญุณู† ู‚ุฑุขู†ุง ูˆู„ุง ุฐูƒุฑุง ูˆู‚ู ู‚ุฏุฑ ุงู„ูุงุชุญุฉ

“Barang siapa yang tidak mengetahui atau kesulitan membaca surah Al-Fatihah semisal karena tidak ada yang mengajari, namun dia bisa membaca surah yang lain dari (surah-surah) Al-Qur'an, maka wajib baginya untuk membaca tujuh ayat secara berurutan ataupun tidak sebagai ganti dari (membaca) surah Al-Fatihah. Dan jika (misalnya dia) tidak mampu membaca Al-Qur'an (seluruhnya), maka (hendaknya dia) membaca dzikir (lain) sebagai ganti dari (membaca) surah Al-Fatihah yang sekiranya huruf dzikir tersebut tidak kurang dari jumlah huruf yang ada pada surah Al-Fatihah. Dan jika dia tidak bisa membaca Al-Qur'an dan juga tidak bisa membaca dzikir, maka (hendaknya) dia berdiam diri saja seukuran waktu saat membaca surah Al-Fatihah”

๐Ÿ“• (Fathul Qarib, jilid 1 hlm. 76)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูˆุงู„ุนุงุฌุฒ ุนู† ุงู„ูุงุชุญุฉ ููŠ ู‡ุฐุง ูƒู„ู‡ ูŠุฃุชูŠ ุจุจุฏู„ู‡ุง ููŠู‚ุฑุฃ ุจู‚ุฏุฑู‡ุง ู…ู† ุบูŠุฑู‡ุง ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู†، ูุฅู† ู„ู… ูŠุญุณู† ุฃุชู‰ ุจู‚ุฏุฑู‡ุง ู…ู† ุงู„ุฃุฐูƒุงุฑ ูƒุงู„ุชุณุจูŠุญ ูˆุงู„ุชู‡ู„ูŠู„ ูˆู†ุญูˆู‡ู…ุง، ูุฅู† ู„ู… ูŠุญุณู† ุดูŠุฆุง ูˆู‚ู ุจู‚ุฏุฑ ุงู„ูุงุชุญุฉ ุซู… ูŠุฑูƒุน

“Seseorang yang tidak mampu untuk membaca surah Al-Fatihah pada setiap keadaan, maka dia bisa membaca gantinya. Yakni membaca surah lain yang ada didalam Al-Qur'an sebanyak huruf yang ada pada surah Al-Fatihah. Adapun jika seseorang tidak terlalu mahir saat membaca Al-Qur'an, maka dia bisa membaca lafadz-lafadz dzikir sebanyak huruf yang ada pada surah Al-Fatihah seperti lafadz dzikir tasbih, tahlil dan yang semisalnya. Dan jika membaca lafadz dzikir pun masih tidak mahir juga, maka hendaknya dia berdiam diri saja seukuran waktu saat membaca surah Al-Fatihah kemudian melakukan rukuk” 

๐Ÿ“• (At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an, hlm. 109)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูุฅู† ุนุฌุฒ ุนู† ุฌู…ูŠุน ุงู„ูุงุชุญุฉ ู„ุนุฏู… ู…ุนู„ู… ุฃูˆ ู…ุตุญู ุฃูˆ ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ ูุณุจุน ุขูŠุงุช ุนุฏุฏ ุขูŠุงุชู‡ุง ูŠุฃุชูŠ ุจู‡ุง ูˆู„ูˆ ู…ุชูุฑู‚ุฉ ู„ุง ุชู†ู‚ุต ุญุฑูˆูู‡ุง ุนู† ุญุฑูˆู ุงู„ูุงุชุญุฉ

“Jika seseorang tidak mampu untuk membaca surah Al-Fatihah seluruhnya semisal karena tidak ada yang mengajari, tidak ada mushaf yang bisa dibaca atau (kendala-kendala) lainnya, maka hendaknya dia membaca ayat Al-Qur'an (yang lain sebagai gantinya) sebanyak tujuh ayat meskipun ayat-ayatnya tersebut diambil dari surah-surah berbeda yang mana jumlah hurufnya itu tidak kurang dari jumlah huruf yang ada pada surah Al-Fatihah” 

๐Ÿ“• (Al-Iqna, hlm. 134)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...