Jumat, September 29, 2023

ANTARA NASAB & NASIB


Saya mulai tulisan ini dengan diawali firman Allah sebagai berikut :

فإذا نفخ في الصور فلا أنساب بينهم يومئذ ولا يتساءلون

“Apabila sangkakala ditiup (hari kiamat telah tiba), maka tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya” (Qs. Al-Mu'minun : 101)

Dihari kiamat kelak, nasab bukanlah faktor yang akan menentukan nasib. Seperti ungkapan konyol kalau ada anak yang berasal dari orang sholeh pasti akan selamat, sedangkan anak yang berasal dari seorang ahli maksiat pasti akan mendapat laknat. Diakhirat kelak, selamat atau tidaknya seseorang, maka yang paling berpengaruh adalah rahmat Allah. Dan rahmat Allah diakhirat adalah buah yang dipetik dari amal-amal sholeh yang telah dilakukan oleh seorang mukmin semasa hidupnya didunia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

ان رحمت الله قريب من المحسنين

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (Qs. Al-A'raf : 56)

Oleh karena itu, meskipun anaknya seorang nabi kalau dirinya tidak beriman dan beramal sholeh, maka diakhirat kelak dia termasuk orang-orang yang hina, Kan'an putra nabi Nuh contohnya. Sebaliknya, meskipun dia adalah anaknya seorang kafir yang memusuhi nabi, kalau dirinya beriman dan beramal sholeh, maka diakhirat kelak insyaa Allah dia termasuk orang-orang yang mulia, Ikrimah putra Abu Jahal contohnya.

Sebagaimana dikatakan kalau iman itu tidak dapat diwarisi, demikian pula kehormatan diri apalagi keselamatan diakhirat nanti. Tak hanya diakhirat dan dihadapan Allah saja, bahkan didunia dan dalam pandangan manusia pun semua itu berlaku. Misalnya keturunan orang terhormat tapi bejad, maka dalam pandangan manusia dia itu tetap akan dipandang rendah sebagai manusia yang tak bermartabat. Dan kalau pun ada yang tetap memaksakan diri untuk menghormati, maka pasti hal itu dilakukan dengan menipu nurani. Sebaliknya, meskipun keturunan seorang yang bejad tapi dengan hidayah Allah dia menjadi mukmin yang sholeh dan taat, maka orang lain pasti akan menaruh segala hormat.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

ومن بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barang siapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak akan bisa mengejarnya (menolongnya)” (HR. Muslim : 2699) 

Al-Imam Nawawi rahimahullah mengomentari hadits diatas dengan pernyataan beliau : 

معناه من كان عمله ناقصا لم يلحقه بمرتبة أصحاب الأعمال، فينبغي ألا يتكل على شرف النسب وفضيلة الآباء ويقصر في العمل

“Makna hadits ini adalah: Barang siapa yang amalnya itu kurang, maka dia tidak akan sampai pada derajat mulia orang-orang yang (ahli beramal). Maka dari itu seyogyanya seseorang untuk tidak mengandalkan nasabnya serta keutamaan nenek moyangnya (dan akhirnya malah sedikit beramal)” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 17/21)

Kemudian :

من قصر به عمله عن الوصول إلى درجات الصالحين لم ينفعه حسبه ونسبه ولو انتسب إلى النبيين والصديقين

“Barang siapa yang amalnya tidak dapat mengantarkannya pada derajat orang-orang yang sholeh, maka nasabnya tidak akan memberikan manfaat meskipun dia mempunyai garis keturunan kepada para nabi dan para shiddiqqin” (Majmu'atun Minal Mu'allifin Fatawa Syabakah Islamiyyah : 3/535)

Jadi sekali lagi saya katakan, nasab bukanlah faktor yang akan menentukan nasib. Karena punya garis nasab kepada seorang nabi pun umpamanya, itu tidak ada gunanya jika diri kamu tidak punya prestasi sebagai seorang mukmin yang baik. Oleh karena itu, prestasi kamu didunia inilah yang kelak akan menentukan nasib kamu diakhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : 

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa” (Qs. Al-Hujurat : 13)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :

وقوله: (إن أكرمكم عند الله أتقاكم) أي إنما تتفاضلون عند الله بالتقوى لا بالأحساب

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, yakni sesungguhnya keutamaan kalian disisi Allah itu hanya dengan ketakwaan, bukan dengan faktor keturunan” (Tafsir Ibnu Katsir : 7/386)

Juga pernyataan imam Ath-Thobari rahimahullah :

قوله: (إن أكرمكم عند الله أتقاكم)، إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم، أشدكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه، لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة

“Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian wahai manusia disisi robb kalian, adalah orang yang paling kokoh ketakwaannya, yakni dengan cara melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Bukan orang-orang yang paling besar rumahnya dan paling banyak sanak keluarganya” (Tafsir Ath-Thobari : 22/310)

Demikianlah, salam waras semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...