Sabtu, September 30, 2023

AHLUL BAIT DISUCIKAN DARI DOSA, SIAPAKAH YANG DIMAKSUD?


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ูˆูŠุทู‡ุฑูƒู… ุชุทู‡ูŠุฑุง

“Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian wahai ahlul bait dari Ar-Rijs (dosa) dan mensucikannya dengan sesuci-sucinya” (Qs. Al-Ahzab : 33)

Jika mau berbicara konteks ayat ini, kita perlu mengetahui terlebih dahulu siapakah ahlul bait yang dimaksud pada ayat tersebut. Dan untuk mengetahuinya, kita akan menelusuri tafsir dari ayatnya itu sendiri. Jadi jangan sampai ayat ini dipelintir bahwa yang dimaksud ahlul bait adalah termasuk semua keturunan nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang ada pada hari ini. Sebab jika demikian, maka akan berimplikasi bahwa semua keturunan nabi pada hari ini telah disucikan dan dijamin surga meskipun mereka berbuat maksiat, tentu ini sangat keliru dan terkesan cocok logi ayat yang jauh dari kebenaran yang sesungguhnya.

Ketahuilah bahwa makna khusus terkait ayat diatas, ahlul bait yang dimaksud itu adalah Sayyidah Fatimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen. Sebab jika menelisik turunnya ayat tersebut, ayat itu memang ditujukan kepada Rasulullah juga kepada anak dan menantunya beserta kedua cucunya. Didalam tafsir ayatnya kita akan menemukan hadits sebagai berikut :

ุนู† ุฃู… ุณู„ู…ุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช : ู†ุฒู„ุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ ููŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนู„ูŠ ูˆูุงุทู…ุฉ ูˆุญุณู† ูˆุญุณูŠู† : ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ูˆูŠุทู‡ุฑูƒู… ุชุทู‡ูŠุฑุง

“Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha beliau berkata : Ayat tentang ‘sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian wahai ahlul bait dari Ar-Rijs (dosa) dan mensucikannya dengan sesuci-sucinya’ itu turun untuk ditujukkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Ali, Fatimah, Hasan dan Husen” (Tafsir Surah Al-Ahzab : 33)

Dan juga hadits sebagai berikut :

ุนู† ุฃุจูŠ ุณุนูŠุฏ ุงู„ุฎุฏุฑูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ ุนุฒ ูˆ ุฌู„ : ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ูˆูŠุทู‡ุฑูƒู… ุชุทู‡ูŠุฑุง، ู‚ุงู„ : ู†ุฒู„ุช ููŠ ุฎู…ุณุฉ ููŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ูˆุนู„ูŠ ูˆูุงุทู…ุฉ ูˆุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…

“Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu terkait firman Allah Azza wa Jalla : Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian wahai ahlul bait dari Ar-Rijs (dosa) dan mensucikannya dengan sesuci-sucinya. Beliau mengatakan bahwa ayat tersebut turun untuk lima orang yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Ali, Fatimah, Hasan dan Husen radhiyallahu 'anhum” (HR. Thabrani : 375)

Dan juga hadits berikut ini :

ุนู† ุฃู… ุณู„ู…ุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช : ููŠ ุจูŠุชูŠ ู†ุฒู„ุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ ุฅู†ู…ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ูƒู… ุงู„ุฑุฌุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช، ู‚ุงู„ุช : ูุฃุฑุณู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฅู„ู‰ ุนู„ูŠ ูˆ ูุงุทู…ุฉ ูˆ ุงู„ุญุณู† ูˆ ุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ุฃุฌู…ุนูŠู† ูู‚ุงู„ : ุงู„ู„ู‡ู… ู‡ุคู„ุงุก ุฃู‡ู„ ุจูŠุชูŠ ู‚ุงู„ุช ุฃู… ุณู„ู…ุฉ : ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุฃู†ุง ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ؟ ู‚ุงู„ : ุฅู†ูƒ ุฃู‡ู„ูŠ ุฎูŠุฑ ูˆ ู‡ุคู„ุงุก ุฃู‡ู„ ุจูŠุชูŠ ุงู„ู„ู‡ู… ุฃู‡ู„ูŠ ุฃุญู‚

“Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha beliau berkata : Dirumahku turun ayat ‘sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian dari Ar-Rijs (dosa) wahai ahlul bait. Maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husen radhiyallahu 'anhum ajma'in seraya berkata : Yaa Allah, mereka adalah ahlul baitku. Ummu Salamah berkata kembali : Wahai rasulullah, apakah aku termasuk ahlul bait? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menjawab : Engkau adalah keluargaku yang baik dan mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husen) adalah ahlul baitku. Yaa Allah keluargaku yang haq” (HR. Al-Hakim : 3558)

Nah berdasarkan hadits-hadits diatas, maka yang dimaksud ahlul bait dalam surah Al-Ahzab ayat 33 itu adalah Sayyidah Fatimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen. Oleh karena itu para keturunan nabi yang ada pada hari ini tidaklah tercakup ke dalam maksud daripada ayat tersebut. Dan mereka itu lebih tepatnya adalah disebut sebagai dzurriyah, bukan disebut sebagai ahlul bait yang secara akhos (khusus).

Dan terakhir sebagai bantahan terhadap orang yang hobi mengaku-ngaku sebagai ahlul bait nabi, simak perkataannya imam Al-Munawi rahimahullah berikut ini :

ุฅู† ูุงุทู…ุฉ ุจู†ุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃุญุตู†ุช ููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ุญุตู†ุช ุจุบูŠุฑ ุฃู„ู ูุฑุฌู‡ุง ุตุงู†ุชู‡ ุนู† ูƒู„ ู…ุญุฑู… ู…ู† ุฒู†ุง ูˆุณุญุงู‚ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ูุญุฑู…ู‡ุง ุฃูŠ ุจุณุจุจ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฅุญุตุงู† ุญุฑู…ู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฐุฑูŠุชู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฑ ุฃูŠ ุญุฑู… ุฏุฎูˆู„ ุงู„ู†ุงุฑ ุนู„ูŠู‡ู… ูุฃู…ุง ู‡ูŠ ูˆุงุจู†ุงู‡ุง ูุงู„ู…ุฑุงุฏ ููŠ ุญู‚ู‡ู… ุงู„ุชุญุฑูŠู… ุงู„ู…ุทู„ู‚ ูˆุฃู…ุง ู…ู† ุนุฏุงู‡ู… ูุงู„ู…ุญุฑู… ุนู„ูŠู‡ู… ู†ุงุฑ ุงู„ุฎู„ูˆุฏ ูˆุฃู…ุง ุงู„ุฏุฎูˆู„ ูู„ุง ู…ุงู†ุน ู…ู† ูˆู‚ูˆุนู‡ ู„ู„ุจุนุถ ู„ู„ุชุทู‡ูŠุฑ ู‡ูƒุฐุง ูุงูู‡ู…

“Sesungguhnya Fatimah binti nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menjaga kehormatannya. Dan kalimat telah menjaga kehormatannya yang dalam riwayat lain memakai kalimat hasonat tanpa huruf alif, itu menunjukan bahwa Fatimah telah menjaga dirinya dari perbuatan yang diharamkan seperti zina, masturbasi dan yang semisalnya. Oleh karena itulah Allah mengharamkan Fatimah dan keturunannya masuk ke dalam neraka. Jadi, bagi Fatimah dan kedua putranya (yakni Hasan dan Husen) maka mereka tidak akan masuk neraka sama sekali. Adapun bagi keturunan Rasulullah selain daripada mereka bertiga (generasi setelah Hasan dan Husen) itu masih ada kemungkinan untuk masuk neraka tapi tidak selama-lamanya, sedangkan mereka yang masuk neraka hal itu semata-mata hanya untuk mensucikan dosa-dosa mereka” (Faidhul Qodir : 2/462)

Nah jadi kesimpulannya, bagi anda yang hobi mengaku-ngaku sebagai keturunan nabi apalagi mengaku-ngaku sebagai ahlul bait nabi, janganlah merasa diri anda itu suci. Apalagi sampai menganggap kalau diri anda sudah dijamin surga, prett na'udzubillah. Yang itupun bahkan hanya sekedar pengakuan sepihak serta belum terbukti kevalidannya sebagai keturunan nabi. Dan umpamanya pun anda memang benar sebagai keturunan nabi tapi anda bermaksiat kepada Allah dan anda tidak punya prestasi sebagai seorang mukmin yang baik, maka tetap saja kalau nasab anda itu tidak akan ada gunanya. Karena tidak ada yang istimewa dengan nasab, sebab tolok ukur kemuliaan itu adalah dengan ilmu dan ketakwaan, bukan dengan nasab. Maka berhentilah mengobral nasab demi nasib, dan berhentilah mendoktrin orang-orang awam dengan pengakuan sebagai keturunan nabi (padahal bukan) hanya karena ingin dihormati, dimuliakan dan dianggap sebagai tuan dinegeri Indonesia ini.

Simak hadits berikut ini :

ุณุฆู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุฃูƒุฑู… ู‚ุงู„ ุฃูƒุฑู…ู‡ู… ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃุชู‚ุงู‡ู…

“Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : Siapakah manusia yang paling mulia wahai Rasulullah? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menjawab : Manusia yang paling mulia diantara mereka adalah yang paling bertakwa” (HR. Bukhari : 4689)

Syaikh Nawawi Al-Bantani rahimahullah mengatakan :

ูˆุฃู† ุงู„ุนุงู„ู… ุงู„ุฐูŠ ู„ู… ูŠู†ุณุจ ุฅู„ูŠู‡ ูŠููˆู‚ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ุงู„ุนุงู„ู… ู…ู…ู† ุงู†ุชุณุจ ุฅู„ูŠู‡ ุจุณุชูŠู† ุฏุฑุฌุฉ

“Bahwasanya orang berilmu yang tidak punya garis keturunan kepada (nabi shallallahu 'alaihi wasallam) itu enam puluh derajat lebih utama daripada orang yang mempunyai garis keturunan kepada (nabi shallallahu 'alaihi wasallam) namun tidak berilmu” (Muroqil Ubudiyah, hlm. 284)

Kemudian Syeikh Ismail Utsman Al-Yamani rahimahullah mengatakan :

ูˆูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุนู„ู… ุชููˆู‚ ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุณุจ

“Keistimewaan ilmu itu melebihi keistimewaan nasab” (Qurotul 'Ain Fatawa Ulama Haromain : 1/281)

Demikianlah, salam waras semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...