🔄 Pertanyaan :
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bagaimana hukum mengecat rambut menurut pandangan islam apakah hal itu di bolehkan? Soalnya pernah dengar juga katanya tidak boleh dan mengecat rambut itu termasuk kebiasaannya anak-anak yang nakal.
➡️ Jawaban :
Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.
Kalau mewarnai rambut dengan selain warna hitam misalnya kuning, merah dan yang lainnya maka hukumnya diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Terlebih lagi jika sudah beruban. Adapun mewarnai rambut dengan warna hitam, maka para ulama berbeda pendapat. Madzhab Syafi'i khususnya, pendapat yang shohih dalam madzhab ini menyatakan bahwa mewarnai rambut dengan warna hitam hukumnya adalah haram. Lebih-lebih jika ada tujuan untuk menipu, maka sepakat para ulama mengharamkannya. Sedangkan pendapat yang lainnya (bukan pendapat yang shohih) menyatakan makruh, bahkan ada yang menyatakan boleh secara mutlak. Kemudian pendapat yang lainnya menyatakan boleh jika hal itu dilakukan saat sedang berperang melawan musuh yakni jihad, atau saat seorang istri ingin menyenangkan suaminya (tujuan berhias).
📚 Keterangan :
(المجموع شرح المهذب : ج ١ ص ٣٤٧)
(فرع) اتفقوا على ذم خضاب الرأس أو اللحية بالسواد. ثم قال الغزالي في الإحياء والبغوي في التهذيب وآخرون من الأصحاب: هو مكروه، وظاهر عباراتهم أنه كراهة تنزيه، والصحيح بل الصواب أنه حرام، وممن صرح بتحريمه صاحب الحاوي في باب الصلاة بالنجاسة قال: إلا أن يكون في الجهاد
“(Cabang), para ulama sepakat untuk mengecam (mencela) orang yang mewarnai rambut atau jenggotnya dengan warna hitam. Kemudian imam Ghozali didalam kitab Ihya Ulumuddin dan imam Al-Baghowi didalam kitab At-Tahdzib serta beberapa ulama lainnya dari kalangan ashab Syafi'i menyatakan bahwa yang demikian itu hukumnya adalah makruh. Dan dzohirnya dari pernyataan mereka bahwa hal itu hukumnya adalah makruh tanzih. Namun yang shohih bahkan yang lebih shohih bahwa hukumnya adalah haram. Dan diantara ulama yang secara shorih menyatakan terkait haramnya mewarnai rambut dengan warna hitam adalah pengarang kitab Al-Hawi Al-Kabir (yakni imam Al-Mawardi) rahimahullah didalam bab sholat yang berkaitan dengan masalah najis. Beliau menyatakan: Kecuali jika hal itu dilakukan saat sedang jihad (maka tidak haram)”
📚 Tambahan keterangan :
(المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ١٤ ص ٨٠)
استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم خضابه بالسواد على الأصح، وقيل: يكره كراهة تنـزيه والمختار التحريم لقوله صلى الله عليه وسلم: اجتنبوا السواد هذا مذهبنا
“Disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan untuk mewarnai ubannya dengan warna kuning atau merah, dan diharamkan mewarnainya dengan warna hitam menurut pendapat yang shohih. Namun dikatakan: Hukumnya makruh tanzih. Dan pendapat yang dipilih (oleh para ulama) adalah haram berdasarkan sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Dan hindarilah warna hitam, inilah pendapat madzhab kami”
📚 Tambahan keterangan :
(إعانة الطالبين : ج ٢ ص ٣٨٦)
(وقوله: بحمرة أو صفرة) أي لا بسواد، أما به فيحرم إن كان لغير إرهاب العدو في الجهاد، وذلك لخبر أبي دواد والنسائي وابن حبان في صحيحه والحاكم، عن ابن عباس رضي الله عنهما، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام، لا يريحون رائحة الجنة
“Pernyataan mushonnif: (Mewarnainya) dengan warna merah atau kuning, yaitu tidak dengan warna hitam. Adapun jika dengan warna hitam, maka hal itu diharamkan (jika tidak bertujuan) untuk menakut-nakuti musuh saat sedang jihad. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari imam Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Hibban didalam kitab shohihnya dan Al-Hakim, yakni hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dimana beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Akan ada sekelompok orang diakhir zaman nanti yang mewarnai rambut mereka dengan warna hitam seperti layaknya tembolok burung merpati, dan mereka tidak akan pernah mencium bau surga”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي : ج ٣ ص ٩٩)
يحرم صبغ شعر الرأس واللحية بالسواد للرجال والنساء، ويستحب صبغ الشعر بغير السواد للرجال والنساء بصفرة أو حمرة
“Diharamkan mewarnai rambut kepala dan jenggot dengan warna hitam bagi laki-laki dan perempuan, dan disunnahkan mewarnai rambut dengan selain warna hitam bagi laki-laki dan perempuan seperti warna kuning atau merah”
📚 Tambahan keterangan :
(فتح الباري بشرح البخاري : ج ١٠ ص ٣٥٤)
وقد تمسك به من أجاز الخضاب بالسواد وقد تقدمت في باب ذكر بني إسرائيل من أحاديث الأنبياء مسألة استثناء الخضب بالسواد لحديثي جابر وابن عباس، وأن من العلماء من رخص فيه في الجهاد ومنهم من رخص فيه مطلقا وأن الأولى كراهته وجنح النووي إلى أنه كراهة تحريم، وقد رخص فيه طائفة من السلف منهم سعد بن أبي وقاص وعقبة بن عامر والحسن والحسين وجرير وغير واحد واختاره ابن أبي عاصم في كتاب الخضاب
“Dan dengannya telah ditetapkan, (yakni) yang membolehkan mewarnai rambut dengan warna hitam. Dan telah disebutkan sebelumnya didalam bab yang menyebutkan tentang Bani Israil dari hadits-hadits nabi terkait masalah pengecualian mewarnai rambut dengan warna hitam berdasarkan hadits Jabir dan Ibnu Abbas. Dan diantara ulama ada yang memberikan keringanan (atau membolehkannya) saat sedang jihad, dan ada pula yang memberikan keringanan (atau membolehkannya) secara mutlak. Dan yang lebih utama hukumnya adalah makruh. Sedangkan imam Nawawi rahimahullah lebih condong pada pendapat yang menyatakan bahwa mewarnai rambut dengan warna hitam itu hukumnya adalah makruh tahrim. Dan sekelompok ulama dari kalangan salaf pun telah memberikan keringanan (atau membolehkan hal tersebut), diantaranya adalah Sa'ad bin Abi Waqqas, Uqbah bin Amir, Hasan, Husain, Jarir dan yang lainnya serta dipilih (pendapat tersebut) oleh Ibnu Abi Ashim didalam kitab Al-Khidhob”
📚 Tambahan keterangan :
(فتح الباري بشرح البخاري : ج ١٠ ص ٣٥٤)
فمن كان في مثل حال أبي قحافة استحب له الخضاب لأنه لا يحصل به الغرور لأحد ومن كان بخلافه فلا يستحب في حقه، ولكن الخضاب مطلقا أولى لأنه فيه امتثال الأمر في مخالفة أهل الكتاب، وفيه صيانة الشعر عن تعلق الغبار وغيره به إلا إن كان من عادة أهل البلد ترك الصبغ وأن الذي ينفرد بدونهم بذلك يصير في مقام الشهرة فالترك في حقه أولى
“Barang siapa yang berada dalam keadaan seperti Abu Quhafah (yakni telah beruban), maka disunnahkan baginya untuk mewarnai (rambut yang telah beruban tersebut), karena tidak akan menimbulkan kecongkakan bagi siapapun (sebab mewarnai rambut). Dan barang siapa yang keadaannya berbeda dengan Abu Quhafah (yakni tidak beruban), maka tidak disunnahkan baginya (untuk mewarnai rambut). Akan tetapi, (mewarnai rambut) secara mutlak (entah telah beruban atau belum) itu lebih utama karena didalamnya terdapat pelaksanaan perintah untuk menyelisihi ahli kitab serta untuk melindungi rambut dari debu dan kotoran lainnya. Kecuali jika sudah menjadi kebiasaan penduduk setempat untuk tidak mewarnai rambut dan orang yang melakukannya hanya sendirian lalu menjadi terkenal (karena sebab itu), maka tidak mewarnai rambut adalah lebih utama”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٤ ص ٢٦٧٩)
وأما خضاب الشعر بالأحمر والأصفر والأسود وغير ذلك من الألوان فهو جائز، إلا عند الشافعية فإنه يحرم الخضاب بالسواد، وقال غيرهم بالكراهة فقط لما رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي عن جابر بن عبد الله قال: جيء بأبي قحافة يوم الفتح إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكأن رأسه ثغامة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اذهبوا به إلى بعض نسائه، فلتغيره بشيء وجنبوه السواد
“Adapun mewarnai rambut dengan warna merah, kuning, hitam, dan warna selain daripada itu adalah diperbolehkan. Kecuali menurut ulama kalangan madzhab Syafi'i yang menyatakan haram mewarnai rambut dengan warna hitam. Adapun ulama yang lainnya hanya menghukumi makruh saja berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh para sejumlah (periwayat hadits) kecuali imam Bukhari dan imam Tirmidzi (berdasarkan hadits) yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah dimana beliau menyatakan: Abu Quhafah pernah datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Fathu Mekkah, dan rambut kepalanya seperti tsaghamah (yang serba putih). Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: Bawalah dia kepada sebagian istrinya lalu ubahlah (warna rambutnya) dengan sesuatu, namun hindarilah warna hitam”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٤ ص ٢٦٨٠)
واختلف السلف من الصحابة والتابعين في الخضاب وجنسه، فقال بعضهم: ترك الخضاب أفضل، لحديث في النهي عن تغيير الشيب، ولأنه صلى الله عليه وسلم لم يغير شيبه. وقال آخرون: الخضاب أفضل، فقد خضب جماعة من الصحابة والتابعين ومن بعدهم للأحاديث الواردة في ذلك. ثم اختلف هؤلاء، فكان أكثرهم يخضب بالصفرة أي الشقرة، منهم ابن عمرو وأبو هريرة وآخرون وروي ذلك عن علي
“Para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi'in berbeda pendapat mengenai hukum mewarnai rambut dan jenisnya. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa meninggalkan (atau tidak) mewarnai rambut adalah lebih utama berdasarkan hadits yang melarang untuk merubah warna rambut yang sudah beruban. Dan karena nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak merubah warna rambut beliau yang sudah beruban. Adapun ulama yang lainnya menyatakan bahwa mewarnai rambut adalah lebih utama, karena sekelompok sahabat dan tabi'in serta orang-orang setelahnya itu mewarnai rambut mereka berdasarkan hadits-hadits yang meriwayatkan tentang hal itu. Kemudian mereka berbeda pendapat, dan kebanyakan dari mereka mewarnai rambutnya dengan warna kuning, yaitu warna pirang. Yang diantaranya adalah Ibnu Amr, Abu Hurairah dan yang lainnya radhiyallahu 'anhum ajma'in. Riwayat dari Ali radhiyallahu 'anhu pun demikian”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه على المذاهب الأربعة : ج ٢ ص ٤٥)
الشافعية قالوا: يكره صباغة اللحية والشعر بالسواد، إلا الخضاب بالصفرة والحمرة فإنه جائز إذا كان لغرض شرعي كالظهور بمظهر الشجاع أمام الأعداء في الغزو ونحوه
“Para ulama madzhab Syafi'i menyatakan: Mewarnai jenggot dan rambut dengan warna hitam hukumnya adalah makruh, kecuali dengan warna kuning dan merah maka diperbolehkan jika ada tujuan syariat (yang hendak dicapai) seperti untuk menonjolkan (menampakkan) keberanian dihadapan musuh saat peperangan dan yang lainnya”
📚 Tambahan keterangan :
(تحفة الأحوذي : ج ٥ ص ٣٦٠)
أن المراد بالخضب بالسواد في هذا الحديث الخضب به لغرض التلبيس والخداع لا مطلقا جمعا بين الأحاديث المختلفة وهو حرام بالاتفاق
“Bahwasanya maksud (larangan) mewarnai (rambut) dengan warna hitam yang ada dalam hadits ini adalah mewarnainya dengan bertujuan untuk menipu dan mengelabui, bukan secara mutlak (dilarang) berdasarkan penggabungan antara hadits-hadits yang berbeda. Dan yang demikian itu (yakni bertujuan untuk menipu dan mengelabui) hukumnya adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama”
📚 Tambahan keterangan :
(الموسوعة الفقهية الكويتية : ج ١١ ص ٣٥١)
وقال النووي في روضة الطّالبين: خضاب المرأة بالسواد إن كانت خلية من الزوج وفعلته فهو حرام، وإن كانت زوجة وفعلته بإذنه فجائز على المذهب، وقيل: وجهان كوصل الشر. وقال الرملي: يحرم على المرأة الخضاب بالسواد، فإن أذن لها زوجها في ذلك جاز
“Al-Imam Nawawi rahimahullah didalam kitabnya Raudhatut Thalibin menyatakan: Seorang perempuan yang mewarnai rambutnya dengan warna hitam, jika dia melakukannya dalam keadaan tidak bersuami maka hukumnya adalah haram. Namun jika dia berstatus sebagai seorang istri dan melakukannya atas izin suami, maka hal itu diperbolehkan menurut qoul madzhab. Dan ada dua pendapat mengenai hal tersebut seperti halnya (dalam permasalahan) menyambung rambut. Kemudian imam Romli menyatakan: Seorang perempuan yang mewarnai rambutnya dengan warna hitam, maka hukumnya adalah haram. Namun jika suaminya mengizinkan, maka hal itu diperbolehkan”
📚 Tambahan keterangan :
(دار الافتاء المصرية، رقم الفتوى : ٩٨٢)
وقد ذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والحنابلة إلى القول بالكراهة وليس بالجزم بالتحريم، بل ذهب بعضهم إلى الجواز استنادا لبعض الآثار الواردة عن الحسن والحسين وغيرهما أنهم كانوا يخضبون بالسواد كما في المصنف لابن أبي شيبة، كما استثنى الإمام النووي رحمه الله في روضة الطالبين المرأة تتزين لزوجها فتخضب بالسواد، وقال: بجواز ذلك لتحقق المصلحة وانتفاء المفسدة، واعتمده الرملي وغيره من المحققين
“Jumhur fuqoha dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali menyatakan bahwa (mewarnai rambut dengan warna hitam) hukumnya adalah makruh, dan mereka tidak pernah menetapkan pendapat terkait keharamannya. Bahkan sebagian dari mereka menyatakan bahwa yang demikian itu diperbolehkan berdasarkan beberapa atsar yang datang dari sayyidina Hasan, Husain dan yang lainnya dimana mereka pernah mewarnai rambutnya dengan warna hitam sebagaimana yang tercantum didalam kitab Al-Mushonnaf karya Ibnu Abi Syaibah. Al-Imam Nawawi rahimahullah juga didalam kitabnya Raudhatut Thalibin mengecualikan bahwa seorang perempuan yang berhias untuk suaminya itu diperbolehkan mewarnai rambutnya dengan warna hitam. Beliau menyatakan: Hal itu diperbolehkan demi meraih maslahat serta menghindari mafsadat, dan pendapat ini juga dikukuhkan oleh imam Romli serta para ulama lainnya dari kalangan para ahli tahqiq”
والله اعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar