Senin, Agustus 21, 2023

MENJAWAB SYUBHAT SATU HABIB YANG BODOH LEBIH UTAMA DARIPADA 70 ORANG ALIM YANG BUKAN HABIB


Belakangan waktu lalu muncul doktrin atau statement orang yang mengatakan bahwa satu habib yang bodoh itu lebih utama daripada tujuh puluh orang alim yang bukan habib. Bagi saya pernyataan ini sangat lucu, tapi apakah benar statement orang yang mengatakan seperti itu?

Sebelumnya, tulisan ini saya buat sebagai bahan kritikan atau bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa satu habib yang bodoh itu lebih utama daripada tujuh puluh orang alim yang bukan habib. Didalam kitab Muroqil Ubudiyah, Syeikh Nawawi Al-Bantani mengatakan :

أن من انتسب إلى رسول الله وهو من أولاد سيدنا الحسن أو الحسين وهو غير عالم يفوق على غيره ممن يساويه في الرتبة بستين درجة، وأن العالم الذي لم ينسب إليه يفوق على غير العالم ممن انتسب إليه بستين درجة

“Orang yang bernasab kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melalui jalur sayyidina Hasan atau sayyidina Husein dan dia tidak alim (dalam masalah ilmu agama), itu enam puluh derajat lebih utama daripada orang biasa yang sama-sama tidak alim. Sedangkan orang biasa yang tidak punya garis nasab kepada beliau namun alim (dalam masalah ilmu agama), maka dia enam puluh derajat lebih utama daripada orang yang mempunyai garis nasab kepada beliau namun tidak alim” (Muroqil Ubudiyah : 284)

Jika kita simak pernyataan Syeikh Nawawi Al-Bantani diatas, maka jelas bahwa statement orang yang mengatakan kalau satu orang habib atau keturunan nabi yang bodoh itu lebih utama dari tujuh puluh orang alim namun bukan habib, adalah pernyataan yang amat keliru dan sangat menyelisihi akal sehat.

Bagaimana tidak menyelisihi akal sehat, sebab keutamaan ilmu itu sudah jelas dan banyak diterangkan didalam Al-Qur'an dan sunnah serta qoulnya para ulama. Mangkanya statement seperti itu sangat berbahaya, sebab nantinya bisa mendorong orang-orang awam untuk belajar kepada orang yang bukan ahli ilmu asalkan dia seorang habib atau keturunan nabi. Belajar ilmu kepada orang bodoh yang tidak punya ilmu, apa yang mau diambil? Begitulah logikanya.

Tapi jika yang dimaksud adalah utama dari segi nasab, maka no problem. Sebab orang biasa tentu beda dengan orang yang punya garis nasab kepada nabi. Hanya saja antara keturunan nabi dan orang biasa yang alim itu punya keistimewaan masing-masing, dan keistimewaan ilmu itu melebihi keistimewaan nasab. Contoh, Allah mengangkat derajat nabi adam yang diciptakan dari tanah, lalu para malaikat bersujud padahal dari segi karakter perciptaan kedua itu berbeda jauh. Nah itu semua dikarenakan nabi adam diberikan sesuatu yang tidak Allah berikan kepada para malaikat, yaitu ilmu.

Syeikh Ismail Utsman Al-Yamani mengatakan :

الشريف أفضل من حيث النسب، والعالم أفضل من حيث العلم، وفضيلة العلم تفوق فضيلة النسب

“Seorang syarif (keturunan nabi) itu memiliki keutamaan dari segi nasab, sedangkan seorang alim itu mempunyai keutamaan dari segi ilmu. Dan keutamaan ilmu tentu melebihi keutamaan nasab” (Qurotul 'Ain Fatawa Ulama Haromain : 1/281)

Lalu muncul pertanyaan, adakah yang lebih utama daripada keutamaan ilmu? Maka jawabannya ada, yaitu keutamaan takwa.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu beliau berkata :

سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أى الناس أكرم قال أكرمهم عند الله أتقاهم

“Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : Siapakah manusia yang paling mulia wahai Rasulullah? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menjawab : Manusia yang paling mulia diantara mereka adalah yang paling bertakwa” (HR. Bukhari : 4689)

Dalam keterangan lain disebutkan :

وشرف العلم أفضل من حيث التقدم في الصلاة ومنصب الإفتاء والقضاء وغير ذلك. وينظر في منصب الخلافة، والإمامة العظمى فهل يستحقها قرشي جاهل أو عجمي فاضل؟ وهذا كله مع الاتصاف بتقوى الله تعالى وإلا فالعالم الفاسق كإبليس والعربي الجاهل كفرعون وكلاهما مذموم

“Kemuliaan ilmu itu lebih utama dari sisi untuk didahulukan menjadi imam sholat, jabatan sebagai mufti, jabatan sebagai hakim, dan sebagainya. Dan yang menjadi pertimbangan juga adalah dalam rangka pemilihan kholifah. Maka apakah 'arobi (keturunan nabi) yang bodoh atau orang ajam (orang biasa tapi alim) yang lebih utama? Ini semua dengan (catatan) mereka memiliki sifat takwa kepada Allah. Sebab jika tidak, maka orang alim yang fasiq itu seperti iblis, dan 'arobi (keturunan nabi) yang bodoh itu seperti fir'aun yang mana kedua-duanya sangat tercela” (Masbuq Adz-Dzahab fi Fadhlil Arob wa Syaroful Ilmi 'Ala Syarofin Nasab : 15)

Nah demikianlah, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...