Senin, November 25, 2024

TANYA JAWAB - AHLI KITAB YANG SEMBELIHANNYA HALAL & PEREMPUANNYA BOLEH DINIKAHI


🔄 Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Siapakah yang dimaksud dengan ahli kitab dan bagaimana kaitannya dengan hukum syariah terkait masalah sembelihan mereka dan wanitanya yang halal di nikahi?

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Menurut jumhur ulama, ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani, itu yang secara umum. Adapun didalam madzhab Syafi'i, ahli kitab dikerucutkan lagi cakupannya hanya bagi mereka yang berasal dari kalangan Bani Israil maupun keturunannya yang masih berpegang teguh pada agama yang benar, belum ada perubahan pada kitab sucinya serta masih murni ajarannya. Juga bagi mereka yang masuk agama Yahudi atau Nasrani sebelum kitab sucinya mengalami perubahan dan sebelum adanya naskh (dengan turunnya risalah baru). Atas dasar itu, setiap orang yang masuk agama Yahudi dan Nasrani setelah adanya perubahan pada kitab sucinya atau setelah turunnya risalah baru, maka mereka tidak termasuk ahli kitab yang sembelihannya halal dan perempuannya boleh dinikahi. Sedangkan menurut pendapat jumhur ulama selain madzhab Syafi'i seperti madzhabnya imam Ahmad rahimahullah, siapapun yang beragama Yahudi dan Nasrani lalu menisbatkan dirinya pada agama tersebut meskipun ajarannya sudah tidak murni lagi dan kitab sucinya sudah mengalami perubahan, maka dia tetap tergolong sebagai ahli kitab. Dengan demikian, Yahudi dan Nasrani yang ada pada hari ini masih relevan untuk dianggap sebagai ahli kitab.

📝 Catatan :

Jika pengklasifikasian mengenai ahli kitab ditinjau dari pendapatnya madzhab Syafi'i, maka pada hari ini sembelihan orang Yahudi dan Nasrani jelas tidak halal bagi orang-orang muslim dan perempuannya pun tidak boleh dinikahi. Tapi jika pengklasifikasiannya ditinjau dari pendapat diluar madzhab Syafi'i, maka sembelihan mereka tetap halal bagi orang-orang muslim dan perempuannya boleh dinikahi. Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah sendiri adalah seorang alim allamah yang merojihkan pendapatnya jumhur ulama diluar madzhab Syafi'i bahwa ahli kitab itu tidak dibatasi hanya dikarenakan kitab sucinya sudah mengalami perubahan dan ajarannya sudah mengalami penyelewengan (tidak murni lagi). Atas dasar itu, Yahudi dan Nasrani yang ada pada hari ini tetap tergolong sebagai ahli kitab berdasarkan pendapat jumhur ulama.

📚 Keterangan :

(الأم : ج ٤ ص ١٩٣)
ولم أعلم مخالفا في أن لا تنكح نساء المجوس ولا تؤكل ذبائحهم فلما دل الاجماع على أن حكم أهل الكتاب حكمان وأن منهم من تنكح نساؤه وتؤكل ذبيحته ومنهم من لا تنكح نساؤه ولا تؤكل ذبيحته وذكر الله عزو جل نعمته علي بني إسرائيل في غير موضع من كتابه وما آتاهم دون غيرهم من أهل دهرهم كان من دان دين بني إسرائيل قبل الاسلام من غير بني إسرائيل في غير معنى من بني إسرائيل ان ينكح لأنه لا يقع عليهم أهل الكتاب بأن آباءهم كانوا غير أهل الكتاب ومن غير نسب بني إسرائيل فلم يكونوا أهل كتاب إلا بمعنى لا أهل كتاب مطلق

“Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa perempuan majusi tidak boleh dinikahi dan sembelihan mereka tidak boleh dimakan. Dan ijma telah menunjukkan bahwa hukum ahli kitab terbagi menjadi dua, yaitu ada diantara mereka yang perempuannya (boleh) dinikahi dan sembelihannya (boleh) dimakan, dan ada diantara mereka ada yang perempuannya (tidak boleh) dinikahi dan sembelihannya (tidak boleh) dimakan. Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan nikmatnya kepada Bani Israil di berbagai tempat didalam kitabnya, serta apa yang diberikan kepada mereka dibandingkan dengan (kaum) selain mereka dari kalangan manusia pada zamannya. Maka barang siapa yang beragama (dengan agamanya) Bani Israil sebelum islam (yakni dengan datangnya nabi shallallahu 'alaihi wasallam), maka (dia tidak termasuk golongan) Bani Israil dalam arti bahwa mereka tidak termasuk ahli kitab. Sebab nenek moyangnya bukanlah ahli kitab, dan mereka bukan dari keturunan Bani Israil. Oleh karena itu, mereka tidak dianggap sebagai ahli kitab kecuali dalam arti (tertentu), bukan sebagai ahli kitab yang secara mutlak”

📚 Tambahan keterangan :

(الأم : ج ٤ ص ١٩٣)
فلم يجز والله تعالى أعلم أن ينكح نساء أحد من العرب والعجم غير بني إسرائيل دان دين اليهود والنصارى بحال..فمن كان من بني إسرائيل يدين دين اليهود والنصارى نكح نساؤه وأكلت ذبيحته

“Allah tidak membolehkan (seorang muslim) menikahi perempuan ahli kitab dari kalangan arab dan ajam selain Bani Israil yang beragama yahudi dan nashrani. Maka barang siapa berasal dari Bani Israil yang beragama yahudi dan nasrani, maka perempuannya (boleh) dinikahi dan sembelihannya (halal) dimakan”

📚 Tambahan keterangan :

(الأم : ج ٥ ص ٨)
ليس نصارى العراب باْهل كتاب وانمااْهل الكتاب بنو اسرائيل والذين جاءتهم التوراة والانجيل فاْما من دخل فيهم من الناس فليسوامنهم

“Orang-orang Nasrani dari kalangan arab itu tidak termasuk ahli kitab, akan tetapi yang termasuk ahli kitab adalah (berasal dari) kalangan Bani Israil dan mereka yang mendapati kitab Taurat dan Injil (ketika masih murni ajarannya). Adapun orang-orang yang masuk ke dalam agama mereka (setelah itu), maka tidak termasuk ahli kitab”

📚 Tambahan keterangan :

(الموسوعة الفقهية : ج ١٥ ص ١٦٦)
اختلف العلماء في المراد بأهل الكتاب: فذهب الحنفية إلى أن المراد بهم كل من يؤمن بنبي ويقر بكتاب ويدخل في ذلك اليهود والنصارى ومن آمن بزبور داود عليه السلام وصحف إبراهيم عليه السلام وذلك لأنهم يعتقدون دينا سماويا منزلا بكتاب، وذهب جمهور الفقهاء إلى أن المراد بهم اليهود والنصارى بجميع فرقهم المختلفة دون غيرهم ممن لا يؤمن إلا بصحف إبراهيم وزبور داود

“Para ulama berbeda pendapat terkait yang dimaksud dengan ahli kitab. Para ulama madzhab Hanafi menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah setiap orang yang beriman kepada seorang nabi serta mengakui adanya sebuah kitab, dan yang termasuk didalamnya adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Lalu orang yang beriman kepada kitab zabur nabi Daud 'alaihissalam dan shuhuf nabi Ibrahim 'alaihissalam, karena mereka meyakini agama samawi yang diturunkan darinya sebuah kitab. Sedangkan jumhur fuqoha menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan seluruh firqohnya (golongannya) yang berbeda-beda, bukan yang lainnya yang tidak beriman kecuali kepada shuhufnya nabi Ibrahim dan zaburnya nabi Daud”

📚 Tambahan keterangan :

(الموسوعة الفقهية : ج ٢١ ص ١٨٥)
إن كون الرجل كتابيا أو غير كتابي هو حكم يستفيده بنفسه لا بنسبه فكل من تدين بدين أهل الكتاب فهو منهم، سواء كان أبوه أو جده قد دخل في دينهم أم لم يدخل وسواء أكان دخوله بعد النسخ والتبديل أم قبل ذلك وهو المنصوص الصريح عن أحمد

“Sesungguhnya seseorang (yang dianggap) sebagai ahli kitab atau bukan adalah (sekedar) hukum (atau penisbatan) yang berlaku untuk dirinya sendiri (dzattiyahnya), bukan berdasarkan nasabnya. Oleh karena itu setiap orang yang beragama dengan agama ahli kitab, maka dia termasuk ke dalam golongan mereka. Entah ayahnya atau kakeknya masuk ke dalam agama ahli kitab atau tidak, dan entah masuknya itu setelah adanya naskh (penghapusan) dan tabdil (penyelewengan) atau sebelumnya. Dan pendapat inilah yang secara shorih dinyatakan oleh imam Ahmad”

📚 Tambahan keterangan :

(تفسير ابن عاشور : ج ٢٨ ص ٤٣٠)
اسم أهل الكتاب لقب في القرآن لليهود والنصارى الذين لم يتدينوا بالإسلام لأن المراد بالكتاب التوراة والإنجيل إذا أضيف إليه (أهل)، فلا يطلق على المسلمين أهل الكتاب، وإن كان لهم كتاب فمن صار مسلما من اليهود والنصارى لا يوصف بأنه من أهل الكتاب في اصطلاح القرآن

“Ahli kitab adalah gelar didalam Al-Qur'an yang diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak masuk islam, karena yang dimaksud dengan kitab adalah Taurat dan Injil jika (didepannya) ditambahkan kalimat (ahlu). Oleh karena itu, istilah ahli kitab tidak digunakan untuk orang-orang muslim meskipun mereka memiliki kitab. Dan seseorang yang telah menjadi muslim dari kalangan Yahudi dan Nasrani, maka dia tidak disifati dengan ahli kitab (sebagaimana yang ada) didalam istilah Al-Qur'an”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٩ ص ٦٦٥٥)
رأي الشافعية في زواج الكتابية: هذا هو حكم الزواج بالكتابيات يجوز عند الجمهور بلا شرط لكن قيد الشافعية الزواج بالكتابية بقيد فقالوا: تحل كتابية لكن تكره حربية وكذا ذمية على الصحيح، لما في الميل إليها من خوف الفتنة، والكتابية يهودية أو نصرانية لا متمسكة بالزبور وغيره كصحف شيث وإدريس وإبراهيم عليه السلام. فإن كانت الكتابية إسرائيلية فيحل الزواج بها إذا لم يعلم دخول أول من تدين من آبائها في دين اليهودية بعد نسخه وتحريفه، أو شك فيها لتمسكهم بذلك الدين حين كان حقا وإلا فلا تحل لسقوط فضيلة ذلك الدين. وإن كانت النصرانية فالأظهر حلها للمسلم إن علم دخول قومها أي آبائها أي أول من تدين منهم في ذلك الدين أي دين عيسى عليه السلام قبل نسخه وتحريفه لتمسكهم بذلك الدين حين كان حقا، فإن دخلوا فيه بعد التحريف فالأصح المنع وإن تمسكوا بغير المحرف فتحل في الأظهر. والراجح لدي هو قول الجمهور لإطلاق الأدلة القاضية بجواز الزواج بالكتابيات دون تقييد بشيء

“Pendapat para ulama madzhab Syafi'i terkait menikahi perempuan ahli kitab: Ini adalah hukum menikah dengan perempuan ahli kitab yang diperbolehkan menurut jumhur ulama tanpa adanya syarat (apapun semisal harus keturunan Bani Israil asli atau yang masih berpegang teguh pada agama ahli kitab yang benar), akan tetapi para ulama madzhab Syafi'i membatasinya dengan syarat melalui pernyataan mereka: Dihalalkan (menikahi) perempuan ahli kitab, akan tetapi makruh (jika perempuan ahli kitab tersebut termasuk kafir) harbi, begitu juga dengan (kafir) dzimmi menurut pendapat yang shohih, karena khawatir akan terjerumus pada fitnah. (Dan yang dimaksud dengan) perempuan ahli kitab adalah Yahudi atau Nasrani, bukan perempuan yang berpegang teguh pada kitab Zabur atau yang lainnya seperti Shuhuf nabi Syits, nabi Idris, dan nabi Ibrahim 'alaihissalam. Oleh karena itu jika perempuan ahli kitab tersebut berasal dari Bani Israil, maka halal menikahinya jika tidak diketahui (kapan) orang pertama dari leluhurnya yang menganut agama Yahudi tersebut setelah adanya naskh (penghapusan ajaran atau syariat) dan setelah adanya tahrif (yakni perubahan pada kitab tersebut). Atau ketika ada keraguan mengenainya, (semisal) karena mereka tetap berpegang teguh pada agama tersebut ketika agamanya masih benar. Jika tidak, maka tidak halal menikahinya sebab telah gugurnya (hilangnya) keutamaan agama tersebut. Kemudian jika perempuan ahli kitab tersebut berasal dari kalangan Nasrani, maka menurut qoul adzhar adalah dihalalkan bagi seorang muslim menikahinya jika dia mengetahui bahwa kaumnya (yaitu leluhur mereka) merupakan orang-orang pertama yang menganut agama tersebut, yaitu agama nabi Isa 'alaihissalam sebelum adanya naskh (penghapusan ajaran atau syariat) dan sebelum adanya tahrif (yakni perubahan pada kitab tersebut). Karena mereka tetap berpegang teguh pada agama tersebut ketika agamanya masih benar. Namun jika perempuan ahli kitab tersebut masuk ke dalam agama itu setelah adanya tahrif (perubahan), maka menurut pendapat yang shohih adalah dilarang (tidak dihalalkan menikahinya). Sedangkan jika perempuan ahli kitab tersebut berpegang teguh pada agama ahli kitab yang tidak adanya tahrif (perubahan), maka dihalalkan menikahinya menurut qoul adzhar. Dan pendapat yang rojih menurutku (Syeikh Wahbah Zuhaili) adalah pendapatnya jumhur ulama berdasarkan kemutlakan dalil-dalil yang memutuskan bolehnya menikahi perempuan ahli kitab (mana saja) tanpa adanya taqyid (pembatasan) dengan sesuatu (syarat)”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٧ ص ٥١١٤)
ما حكم ذبائح أهل الكتاب من اليهود والنصارى وما يقدمونه من طعام في مطاعمهم مع عدم العلم بالتسمية عليها؟ الجواب: ذبائح الكتابيين جائزة شرعا إذا ذكيت بالطريقة المقبولة شرعا ولم يذكر اسم الله عليها

“Apa hukum sembelihan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta makanan yang mereka sajikan ditempat makan (atau restoran) mereka tanpa diketahui mengenai tasmiyahnya (yakni apakah mereka menyembelih dengan menyebut nama Allah atau tidak)? Jawaban: Sembelihan orang-orang ahli kitab adalah diperbolehkan secara syariat jika mereka menyembelihnya dengan cara yang maqbul (benar) secara syariat pula (yakni bukan dengan cara ditusuk atau dicekik dan sejenisnya meskipun) saat menyembelihnya tidak disebutkan nama Allah”

📚 Tambahan keterangan :

(أحكام القرآن لابن العربي : ج ٢ ص ٤٣)
وقال جماعة العلماء: تؤكل ذبائحهم وإن ذكروا عليها اسم غير المسيح وهي مسألة حسنة نذكر لكم منها قولا بديعا: وذلك أن الله سبحانه حرم ما لم يسم الله عليه من الذبائح، وأذن في طعام أهل الكتاب وهم يقولون إن الله هو المسيح ابن مريم وإنه ثالث ثلاثة، تعالى الله عن قولهم علوا كبيرا. فإن لم يذكروا اسم الله سبحانه أكل طعامهم وإن ذكروا فقد علم ربك ما ذكروا

“Sekelompok ulama mengatakan: Sembelihan mereka (Yahudi atau Nasrani) adalah boleh dimakan meskipun mereka menyebutkan nama selain Al-Masih, dan ini adalah masalah yang baik. Dan kami akan menyebutkan kepada kalian sebuah pendapat yang sangat bagus: Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah, dan Allah menghalalkan makanan (sembelihan) dari Ahli Kitab, (padahal) mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam, dan Allah adalah salah satu dari unsur trinitas. Maka maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Kemudian, jika mereka tidak menyebut nama Allah, maka makanan (sembelihannya) boleh dimakan. Namun jika mereka menyebutkan nama Allah, maka sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka ucapkan”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٩ ص ٦٦٥٣)
الزواج بالكتابيات، الكتابية: هي التي تؤمن بدين سماوي كاليهودية والنصرانية. وأهل الكتاب: هم أهل التوراة والإنجيل لقوله تعالى: أن تقولوا إنما أنزل الكتاب على طائفتين من قبلنا

“Menikah dengan perempuan kitabiyah, perempuan kitabiyah adalah mereka yang beriman kepada agama samawi seperti perempuan-perempuan Yahudi dan Nasrani. Dan ahli kitab adalah pemilik (atau mereka yang beriman kepada) kitab Taurat dan Injil berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Supaya kalian tidak mengatakan bahwa sesungguhnya kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami (yaitu Yahudi dan Nasrani)”

📚 Tambahan keterangan :

(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٩ ص ٦٦٥٣)
والمراد بالمحصنات في الآية: العفائف ويقصد بها حمل الناس على التزوج بالعفائ، لما فيه من تحقيق الود والألفة بين الزوجين وإشاعة السكون والاطمئنان. ولأن الصحابة رضي الله عنهم تزوجوا من أهل الذمة، فتزوج عثمان رضي الله عنه نائلة بنت الفرافصة الكلبية وهي نصرانية وأسلمت عنده، وتزوج حذيفة رضي الله عنه بيهودية من أهل المدائن. وسئل جابر رضي الله عنه عن نكاح المسلم اليهودية والنصرانية، فقال: تزوجنا بهن زمان الفتح بالكوفة مع سعد بن أبي وقاص

“Dan yang dimaksud dengan Al-Muhshonat yang ada didalam ayat Al-Qur'an adalah iffah (yakni perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya), dan tujuannya adalah untuk mendorong manusia menikahi mereka yang menjaga kehormatannya tersebut. Karena hal itu dapat mewujudkan kasih sayang, kedekatan antara suami istri serta menyebarkan ketenangan dan rasa aman. Dan karena para sahabat radhiyallahu 'anhum juga menikahi perempuan dari kalangan ahli dzimmah (Yahudi dan Nasrani) seperti yang dilakukan oleh Utsman radhiyallahu 'anhu dimana beliau menikahi Nailah binti Al-Farafishah Al-Kalbi yang merupakan seorang perempuan Nasrani, dan dia masuk islam dihadapan Ustman. Begitu juga dengan Hudzaifah radhiyallahu 'anhu yang menikahi seorang perempuan Yahudi dari kalangan penduduk madain. Dan Jabir radhiyallahu 'anhu pernah ditanya mengenai pernikahan seorang muslim dengan perempuan Yahudi dan Nasrani, lalu beliau menjawab: Kami menikahi mereka pada masa pembebasan Kufah bersama Sa'ad bin Abi Waqqosh”

📚 Tambahan keterangan :

(مغني المحتاج : ج ٤ ص ٣١٢)
قال الزركشي: وقد يقال باستحباب نكاحها إذا رجي إسلامها، وقد روي أن عثمان رضي الله تعالى عنه تزوج نصرانية فأسلمت وحسن إسلامها. وقد ذكر القفال أن الحكمة في إباحة الكتابية ما يرجى من ميلها إلى دين زوجها، فإن الغالب على النساء الميل إلى أزواجهن   

“Imam Az-Zarkasyi rahimahullah menyatakan: Dapat dikatakan bahwa menikahi (perempuan ahli kitab) itu disunnahkan jika diharapkan dia akan masuk ke dalam agama islam. Diriwayatkan bahwasanya sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu pernah menikahi seorang perempuan nasrani kemudian perempuan tersebut masuk islam dan sangat baik keislamannya. Imam Qoffal menyebutkan bahwa hikmah (dihalalkannya) menikahi perempuan ahli kitab adalah diharapkan dia akan tertarik kepada agama suaminya. Karena umumnya seorang perempuan itu akan lebih cenderung kepada (agama) suaminya”

📚 Tambahan keterangan :

(المبسوط : ج ٤ ص ٢١٠)
ولا بأس أن يتزوج المسلم الحرة من أهل الكتاب لقوله تعالى: والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب سواء إسرائيلية كانت أو غير إسرائيلية

“Tidak apa-apa seorang laki-laki muslim yang merdeka menikahi seorang perempuan dari kalangan ahli kitab berdasarkan firman Allah Ta'ala: (Dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang muhshonat diantara orang-orang yang diberi Al-Kitab. Entah perempuan tersebut berasal dari kalangan Bani Israil atau bukan itu sama saja (boleh)”

📚 Tambahan keterangan :

(الذخيرة : ج ٤ ص ٣٢٢)
الكفار ثلاثة أصناف: الكتابيون، يحل نكاح نسائهم وضرب الجزية عليهم وإن كرهه في الكتاب لسوء تربية الولد

“Orang kafir itu ada tiga golongan, yang pertama adalah ahli kitab. Perempuan dari kalangan mereka halal untuk dinikahi dan dimintai jizyah meskipun disertai hukum makruh, karena buruk dalam permasalahan mendidik anak”

📚 Tambahan keterangan :

(المغني لابن قدامة : ج ٧ ص ١٢٨)
وحرائر نساء أهل الكتاب وذبائحهم حلال للمسلمين، ليس بين أهل العلم بحمد الله اختلاف في حل حرائر نساء أهل الكتاب، وممن روي عنه ذلك عمر وعثمان وطلحة وحذيفة وسلمان وجابر وغيرهم

“Perempuan merdeka dari kalangan ahli kitab dan sembelihannya itu halal untuk orang-orang muslim. Tidak ada perbedaan diantara ahli ilmu terkait halalnya perempuan merdeka dari kalangan ahli kitab (untuk dinikahi oleh seorang laki-laki muslim). Dan didalam riwayat yang pernah melakukannya itu adalah sayyidina Umar, Utsman, Tholhah, Hudzaifah, Salman, Jabir dan yang lainnya”

📚 Tambahan keterangan :

(دار الافتاء المصرية، رقم الفتوى : ٥٣٥٣)
السؤال: هل المسيحيون واليهود الموجودون الآن من أهل الكتاب؟ وطلب السائل بيان الحكم الشرعي في هذا. الجواب: إن المسيحيين واليهود الموجودين الآن يعتبرون من أهل الكتاب ما داموا متمسكين بدينهم وطقوسه، ولهم ما لنا وعليهم ما علينا

“Pertanyaan: Apakah orang Kristen dan Yahudi yang ada sekarang itu termasuk ke dalam golongan ahli kitab? Dan penanya meminta penjelasan mengenai hukum syariat didalam hal ini. Jawaban: Orang Kristen dan Yahudi yang ada sekarang (tetap) dianggap sebagai ahli kitab selama mereka berpegang teguh pada agama mereka dan ritual agamanya, dan mereka (memiliki hak yang sama) seperti kita serta (kewajiban yang sama pula)”

والله أعلم بالصواب 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...