Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin bertanya.
Apakah boleh kita share hadis yg ada di grup2 WA, tapi kita tdk tahu apakah hadis tersebut benar2 hadis atau bkn? Dan kita jg tdk tahu apakah hadis nya shahih atau tdk🙏🙏
➡️ Jawaban :
Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.
Menshare hadits yang tidak diketahui derajatnya (shohih atau tidaknya) adalah tidak boleh. Karena jangankan hadits, informasi apa saja jika tidak diketahui kebenarannya maka terlarang bagi siapapun untuk menyebarkannya sebelum diketahui terlebih dahulu kebenaran informasi tersebut agar dia tidak terjebak kepada yang namanya kadzabun khofiyun (kedustaan yang samar) sebagaimana yang pernah dikatakan oleh imam Syafi'i rahimahullah. Bahkan jangankan tidak tau sama sekali, dalam keadaan ragu saja maka tetap terlarang bagi siapapun untuk menyebarkannya. Jadi kuncinya adalah memang harus diketahui terlebih dahulu secara yakin kalau yang akan dishare kembali itu merupakan sebuah kebenaran.
Oleh karena itu solusinya, jika seseorang sedang bersemangat dalam menyebarkan kebaikan yang salah satunya adalah hobi menyebarkan hadits-hadits yang berisikan motivasi misalnya, maka hendaknya dia menanyakan terlebih dahulu kebenaran hadits tersebut kepada orang yang memang dikenal punya kredibilitas dalam bidang hadits. Dan setelah menanyakan kepada orang yang punya kredibilitas dalam bidang tersebut kemudian dia merekomendasikan untuk disebarkan, maka saat itu diperbolehkan bagi dia untuk menyebarkan haditsnya. Dan kalau tidak ada orang yang bisa ditanya apakah hadits ini shohih atau tidak misalnya, maka sebaiknya seseorang menahan diri untuk tidak menyebarkannya demi kemaslahatan diri sendiri supaya tidak terjerumus pada menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
📚 Keterangan :
(الضعفاء والمتروكين : ج ١ ص ٨)
قوله: (من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين). في هذا الخبر زجر للمرء أن يحدث بكل ما سمع حتى يعلم على اليقين صحته، فكل شاك فيما يروي أنه صحيح أو غير صحيح داخل في الخبر
“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Barang siapa yang menyampaikan hadits dariku, yang mana (nampaknya) hadits tersebut terlihat seperti hadits dusta (atau dia ragu), maka dia (si penyampai) akan tergolong sebagai salah satu dari dua golongan pendusta. Didalam hadits ini terdapat larangan bagi siapapun untuk menyampaikan (menyebarkan) setiap apa yang dia dengar sampai dia mengetahui secara yakin tentang kebenarannya. Oleh karena itu setiap orang yang ragu terhadap hadits yang dia sampaikan (sebarkan) apakah hadits tersebut shohih atau tidak, maka dia tercakup ke dalam (ancaman) hadits ini”
📚 Tambahan keterangan :
(الرسالة : ص ٤٠٠)
أن الكذب الذي نهاهم عنه هو الكذب الخفي وذلك الحديث عمن لا يعرف صدقه، لأن الكذب إذا كان منهيا عنه على كل حال، فلا كذب أعظم من كذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Bahwasanya (termasuk jenis) kedustaan terlarang adalah kedustaan yang samar, yakni ketika seseorang menyebarkan informasi (yang dia terima dari orang lain) namun tidak diketahui kebenaran (informasi tersebut). Sebab jika kedustaan itu terlarang pada setiap keadaan, maka tidak ada kedustaan yang lebih besar (keburukannya) dibandingkan kedustaan atas nama rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam”
📚 Tambahan keterangan :
(إرشاد العباد : ج ١ ص ٢١٣)
قال الشافعي رضي الله عنه : ومن الكذب الخفي أن يروي الإنسان خبرا عمن لا يعرف صدقه من كذبه
“Al-Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu berkata: Dan termasuk kedustaan yang samar adalah ketika seseorang menyebarkan informasi dari orang lain, yang mana tidak diketahui apakah dia (si penyebar) sedang jujur ataukah sedang berdusta”
📚 Tambahan keterangan :
(المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ١ ص ٦٠)
اعلم وفقك الله تعالى أن الواجب على كل أحد عرف التمييز بين صحيح الروايات وسقيمها وثقات الناقلين لها من المتهمين أن لا يروى منها الا ما عرف صحة مخارجه والستارة في ناقليه وأن يتقى منها ما كان عن أهل التهم والمعاندين من أهل البدع
“Ketahuilah, semoga Allah memberikanmu taufik. Wajib bagi setiap orang untuk mengetahui perbedaan antara riwayat (atau hadits) yang benar dan yang tidak benar, kemudian mengetahui perbedaan antara perawi yang terpercaya dan perawi yang tertuduh sebagai pendusta. Dan hendaknya seseorang tidak meriwayatkan (menyebarkan) hadits kecuali yang sudah dia ketahui kebenarannya terlebih dahulu dan jujur para perawinya. Lalu mewaspadai apa-apa yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tertuduh (sebagai pendusta) dan juga penentang dari kalangan ahli bid'ah”
📚 Tambahan keterangan :
(المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ١ س ٧٥)
قوله: (كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع). وأما معنى الحديث والآثار التي في الباب ففيها الزجر عن التحديث بكل ما سمع الإنسان فإنه يسمع في العادة الصدق والكذب، فإذا حدث بكل ما سمع فقد كذب لإخباره بما لم يكن
“Sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika menyampaikan setiap apa yang dia dengar. Adapun makna hadits ini dan atsar-atsar (semisalnya) yang ada dalam bab ini adalah sebagai bentuk peringatan dari menyampaikan setiap informasi yang didengar oleh seseorang, karena biasanya dia mendengar informasi yang benar dan informasi yang bohong. Maka jika dia menyampaikan setiap apa yang didengar, niscaya dia akan terjerumus kepada kedustaan karena menyampaikan sesuatu yang tidak terjadi”
والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar