🔄 Pertanyaan :
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mohon solusinya barangkali ada pendapat yg menyatakan klo wanita yg haid itu blh baca quran, soalnya ana punya adik yg mondok di pondok tahfiz, klo haid kan terhalang membaca yg di khawatirkan hafalan nya akan lupa🙏🙏
➡️ Jawaban :
Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.
Pendapat yang memperbolehkan perempuan haid membaca Al-Qur'an itu bersumber dari madzhab Maliki, sedangkan tiga madzhab lainnya memang mengharamkan. Jadi solusinya jika memang khawatir lupa hafalannya, maka boleh taklid atau mengikuti pendapatnya madzhab Maliki tersebut. Tapi tetap, saat membaca itu tidak disertai menyentuh mushafnya.
Adapun dalam madzhab Syafi'i, perempuan haid itu sebenarnya diperbolehkan membaca Al-Qur'an namun dengan membacanya dalam hati, atau dengan menggerakkan bibir namun jangan sampai mengeluarkan suara sehingga terdengar oleh dirinya sendiri, tapi rasanya dalam keadaan seperti itu sangat sulit dan tidak nyaman. Jadi jika demikian, maka solusi terakhirnya memang mengikuti pendapatnya madzhab Maliki saja.
📚 Keterangan :
اختلف الفقهاء في حكم قراءة الحائض للقرآن، فذهب جمهور الفقهاء الحنفيّة والشافعية والحنابلة إلى حرمة قراءتها للقرآن لقول النبي صلى الله عليه وسلم: لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن
“Para fuqoha berbeda pendapat mengenai hukum membaca Al-Qur'an bagi perempuan haid. Jumhur fuqoha dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi'i dan Hambali berpendapat bahwasanya haram bagi perempuan haid membaca Al-Qur'an berdasarkan sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Perempuan haid dan orang junub tidak diperbolehkan membaca sesuatu pun dari Al-Qur'an”
📕 (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah jilid 18, hlm. 321)
📚 Tambahan keterangan :
وذهب المالكية إلى أن الحائض يجوز لها قراءة القرآن في حال استرسال الدم مطلقا، كانت جنبا أم لا، لا خافت النسيان أم لا. وأما إذا انقطع حيضها، فلا تجوز لها القراءة حتى تغتسل جنبا كانت أم لا، إلا أن تخاف النسيان، هذا هو المعتمد عندهم، لأنها قادرة على التطهر في هذه الحالة، وهناك قول ضعيف هو أن المرأة إذا انقطع حيضها جاز لها القراءة إن لم تكن جنبا قبل الحيض، فإن كانت جنبا قبله فلا تجوز لها القراءة
“Para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa perempuan sedang haid itu diperbolehkan untuk membaca Al-Qur'an disaat sedang keluarnya darah secara mutlak. Entah (pada saat itu kondisinya) disertai junub ataupun tidak, dan entah karena khawatir lupa ataupun tidak. Adapun pada saat darah haidnya sudah berhenti, maka tidak diperbolehkan membaca Al-Qur'an sampai dia mandi (atau bersuci terlebih dahulu). Entah (pada saat itu kondisinya) disertai junub ataupun tidak, kecuali jika khawatir lupa (maka diperbolehkan). Pendapat tersebut merupakan pendapat yang mu'tamad (didalam madzhab Maliki), sebab seorang perempuan itu dipandang mampu untuk bersuci dalam kondisi darahnya sudah berhenti. Namun ada juga keterangan dhoif yang menyebutkan bahwa seorang perempuan disaat darah haidnya sudah berhenti itu tetap diperbolehkan membaca Al-Qur'an, asalkan kondisinya tidak disertai junub. Adapun jika disertai junub sebelumnya, maka tidak diperbolehkan untuk membaca Al-Qur'an (sampai dia bersuci terlebih dahulu)”
📕 (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah jilid 18, hlm. 322)
📚 Tambahan keterangan :
وأما جواز القراءة فلما يروى عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تقرأ القرآن وهي حائض والظاهر اطلاعه عليه السلام، وأما المنع فقياسا على الجنب والفرق للأول من وجهين أن الجنابة مكتسبة وزمانها لا يطول بخلاف الحيض
“Adapun yang memperbolehkan perempuan haid membaca Al-Qur'an adalah riwayat yang bersumber dari sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha yang menyebutkan bahwasanya beliau pernah membaca Al-Qur'an dalam keadaan haid, dan hal itu terjadi atas sepengetahuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Adapun larangan membaca Al-Qur'an ini diqiyaskan dengan hukumnya orang junub, dan perbedaan antara keduanya itu ada dua segi. Yakni junub terjadi karena keinginan yang melakukan, sedangkan hal ini berbeda dengan perempuan haid, dan masa junub tidak selama masa haid”
📕 (Adz-Dzakhirah jilid 1, hlm. 379)
📚 Tambahan keterangan :
والحائض والنفساء في ذلك كالجنب وسيأتي حكمهما في باب الحيض ولمن به حدث أكبر إجراء القرآن على قلبه ونظر في المصحف وقراءة ما نسخت تلاوته وتحريك لسانه وهمسه بحيث لا يسمع نفسه لأَنها ليست بقراءة قرآن
“Perempuan haid dan nifas itu dianggap sama seperti orang junub, dan hukum tentang keduanya akan dibahas pada bab haid. Maka bagi orang yang sedang mengalami hadas besar, itu diperbolehkan membaca Al-Qur'an dalam hati, melihat mushaf, membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang sudah dinasakh tulisannya, menggerakkan bibir dan suaranya tidak terdengar oleh dirinya sendiri, karena yang demikian ini tidaklah dianggap sebagai membaca”
📕 (Mughni Al-Muhtaj jilid 1, hlm. 119)
📚 Tambahan keterangan :
(فرع) في مذاهب العلماء في قراءة الحائض القرآن، قد ذكرنا أن مذهبنا المشهور تحريمها وهو مروي عن عمر وعلي وجابر رضي الله عنهم، وبه قال الحسن البصري وقتادة وعطاء وأبو العالية والنخعي وسعيد بن جبير والزهري وإسحاق وأبو ثور. وعن مالك وأبي حنيفة وأحمد روايتان إحداهما التحريم، والثانية الجواز وبه قال داود. واحتج لمن جوز بما روي عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تقرأ القرآن وهي حائض ولأن زمنه يطول فيخاف نسيانها
“(Cabang), terkait beberapa pendapat ulama mengenai hukum membaca Al-Qur'an bagi perempuan haid. Telah kami sebutkan bahwasanya pendapat yang masyhur dalam madzhab kami (madzhab Syafi'i) itu menyatakan bahwa perempuan haid diharamkan membaca Al-Qur'an berdasarkan riwayat yang bersumber dari sayyidina Umar, Ali dan Jabir radhiyallahu 'anhum. Dan ini juga merupakan pendapatnya imam Hasan Al-Bashri, Qotadah, Atho, Abul Aliyyah, An-Nakhoi, Sa'id bin Jubair, Az-Zuhri, Ishaq bin Rahawaih dan Abu Tsaur. Sedangkan pendapat dari imam Malik, imam Abu Hanifah dan imam Ahmad itu terdapat dua keterangan. Yang pertama menyatakan haram dan yang kedua menyatakan boleh, dan ini juga merupakan pendapatnya imam Daud Adz-Dzohiri. Mereka (yang memperbolehkan perempuan haid membaca Al-Qur'an) berhujjah memakai riwayat yang bersumber dari sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya sayyidah Aisyah pernah membaca Al-Qur'an sedangkan saat itu beliau dalam keadaan haid, karena lamanya juga masa haid dan dikhawatirkan lupa (hafalannya)”
📕 (Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 2, hlm. 287)
والله اعلم بالصواب
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar