Minggu, Maret 08, 2026

KEDUDUKAN PENDAPAT IMAM QOFFAL TENTANG SABILILLAH DALAM BAB ZAKAT


📚 Keterangan :

(النقض الكاوي لدعوى يوسف القرضاوي : ص ١٨)
وأما ما حكاه الرازي من أن القفال الشاشي عزا القول بشمول (وفي سبيل الله) لوجوه البر الى مجهول من الفقهاء على خلاف رأي الجماعة فلا عبرة به. وأي اعتبار يقام لرواية مجهول على خلاف الإجماع؟ وقد قال الكوثري: إن الشاشي حينما ألف تفسيره كان بعد معتزليا لا يتحاشى نقل ءاراء المبتدعة ممن لا يقام لكلمهم وزن، فزاد هذا الأمر تلك الرواية سقوطا وشذوذا، ولسنا بحمد الله ممن يترك جمهور الأمة ليتبع مجاهيل الشذاذ. ثم إن الشاشي القفال لم يعتمد هذا القول وإلا لكان أورده في كتابه حلية العلماء فإنه ذكر فيه أن سهم في سبيل الله هم الغزاة الذين إذا نشطوا غزوا

“Adapun apa yang dihikayatkan oleh imam Ar-Razi bahwa imam Qoffal Asy-Syasyi menisbatkan pendapat yang memperluas makna sabilillah hingga mencakup berbagai jenis kebaikan kepada orang-orang yang majhul dikalangan fuqoha, yang mana pendapat tersebut bertentangan dengan pendapatnya mayoritas ulama, maka pendapatnya tidak dianggap (tidak bisa diterima). Jadi apakah pantas riwayat yang berasal dari seorang yang majhul itu dianggap (diterima), padahal pendapatnya menyelisihi ijma? Bahkan imam Al-Kautsari menyatakan bahwa As-Syasyi (imam Qoffal) ketika menyusun kitab tafsirnya itu setelah beliau menjadi seorang mu'tazilah yang tidak ragu untuk menukil pendapatnya orang-orang ahli bid'ah yang tidak memiliki bobot. Maka hal ini semakin menambah jatuh dan syadznya (menyimpangnya) riwayat tersebut. Adapun kita, alhamdulillah bukanlah orang-orang yang meninggalkan pendapat mayoritas ulama demi mengikuti pendapatnya orang-orang bodoh yang syadz (menyimpang). Kemudian, imam As-Syasyi Al-Qoffal juga tidak pernah mengukuhkan pendapat tersebut. Sebab jika beliau mengukuhkannya, maka sudah barang tentu beliau akan menyebutkan pendapat itu didalam kitabnya Hilyatul Ulama. Akan tetapi beliau malah menyebutkan bahwa Sabilillah maknanya adalah orang-orang yang berperang (dijalan Allah), yaitu yang jika mereka bersemangat maka mereka akan berperang.”

➡️ Kitab imam Qoffal yang dimaksud :

(حلية العلماء في معرفة مذاهب الفقهاء : ج ٣ ص ١٦١)
(فصل) وسهم في سبيل الله: وهم الغزاة الذين إذا نشطوا غزوا، وبه قال مالك وأبو حنيفة

“(Pasal): Bagian fisabilillah, mereka adalah orang-orang yang berperang (dijalan Allah). Yaitu yang jika mereka bersemangat maka mereka akan berperang. Ini juga merupakan pendapat imam Malik dan Abu Hanifah rahimahumullah”

↪️ Bantahan terhadap imam Qoffal :

(بلغة الطلاب : ص ٢١١)
(مسألة ع): لا يجوز صرف الزكاة الى وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المسجد، ولا يجوز أن يستدل لذلك بعموم قوله تعالى في سبيل الله بأنه عام في الكل كما قاله القفال لأن للزكاة مصرفا خاصا، أما سبيل الله فقد انعقد اجماع من يعتد به سواء الائمة الأربعة وغيرهم على أنه خاص هنا بالغزاة كما هو مقتضى كلام ابن العربي في أحكام القرأن، وأما ما نقل عن القفال فمردود بما قال ابو يوسف أن الطاعات كلها سبيل الله، ولكن عند هذا اللفظ لا يقصد منه الا الغزاة، فسبيل الله عام بخسب معناه لغة خاص في عرف الشرع فصار معنى الخاص هو الحقيقة الشرعية وهو مقدمة على الحقيقة اللغوية كما تقرر

“(Masalah): Tidak boleh mentashorufkan zakat untuk berbagai jenis kebaikan semisal untuk mengurus (mengkafani) jenazah, membangun benteng dan membangun (memakmurkan) masjid. Dan tidak boleh juga beristidlal dengan mengacu pada firman Allah yang bersifat umum mengenai Sabilillah bahwa ayat tersebut bersifat umum untuk semua (jenis kebaikan) seperti yang dikatakan oleh imam Qoffal. Karena zakat itu mesti ditashorufkan (untuk mustahiq) yang khusus. Adapun Sabilillah, maka telah ijma para ulama entah itu ulama empat madzhab maupun ulama yang lainnya bahwa yang demikian itu khusus untuk orang-orang yang berperang (dijalan Allah) sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ibnul Arobi didalam kitabnya Ahkamul Qur'an. Sedangkan apa yang dinukil dari imam Qoffal itu tertolak berdasarkan apa yang dikatakan oleh imam Abu Yusuf bahwa semua bentuk ketaatan adalah Sabilillah. Akan tetapi dalam lafadz ini bahwa yang dimaksudkan adalah untuk orang-orang yang berperang (dijalan Allah). Atas dasar itu, maka Sabilillah hanya bersifat umum jika ditinjau maknanya dari segi bahasa. Akan tetapi jika ditinjau secara syariat, maka maknanya bersifat khusus. Dengan demikian, makna yang khusus adalah kebenaran secara syariat yang lebih hakiki, dan kebenaran hakiki lebih didahulukan daripada kebenaran secara bahasa sebagaimana yang telah ditetapkan (oleh para ulama)”

📝 Kesimpulan :

Jika Sabilillah dimaknai umum untuk semua bentuk taqorrub atau perbuatan baik, maka akan terjadi distorsi terhadap makna yang dikehendaki oleh para mujtahid dari Sabilillah itu sendiri, yang konsekuensinya akan menjerumuskan pada pelanggaran terhadap ijma. Juga akan menimbulkan kesan dan asumsi bahwa ternyata masih banyak mustahiq zakat selain daripada delapan ashnaf yang sudah Allah sebutkan didalam Al-Qur'an. Oleh karena itu, pendapat yang dinukil dari imam Qoffal diatas memang tidak layak diikuti. Lebih-lebih ketika disinyalir bahwa imam Qoffal menukil pendapat tersebut dari orang-orang mu'tazilah. Karena imam Qoffal ketika menyusun kitab tafsirnya itu setelah beliau menjadi bagian dari mu'tazilah sebagaimana yang dikatakan oleh imam Al-Kautsari diatas.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...