(فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ٤ ص ٢٦٠)
قوله: (باب تحري ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر)، في هذه الترجمة إشارة إلى رجحان كون ليلة القدر منحصرة في رمضان، ثم في العشر الأخير منه، ثم في أوتاره لا في ليلة منه بعينها، وهذا هو الذي يدل عليه مجموع الأخبار الواردة فيها، إلى أن قال: وقد اختلف العلماء في ليلة القدر اختلافا كثيرا، وتحصل لنا من مذاهبهم في ذلك أكثر من أربعين قولا، كما وقع لنا نظير ذلك في ساعة الجمعة، وقد اشتركتا في إخفاء كل منهما ليقع الجد في طلبهما
“Pernyataan muallif shohih bukhari: Bab mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir. Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata: Didalam tarjamah (atau judul bab) ini terdapat isyarat bahwa pendapat yang rojih adalah bahwasanya Lailatul Qadar itu terbatas (hanya ada) pada bulan Ramadhan, kemudian (hanya ada) pada sepuluh malam terakhir darinya, kemudian (hanya ada) pada malam-malam ganjilnya. Tidak ada satu malam tertentu dari malam-malam ganjil tersebut (secara pasti), dan inilah yang ditunjukkan dari keseluruhan hadits-hadits yang meriwayatkan tentang Lailatul Qadar. Sampai pada pernyataan Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah: Para ulama berselisih pendapat mengenai (kapan terjadinya) Lailatul Qadar dengan perselisihan yang sangat banyak. Dan dari sekian banyak pendapat mereka, terkumpul lebih dari empat puluh pendapat. Hal serupa juga terjadi pada perselisihan pendapat mengenai waktu mustajab pada hari Jum'at. Kedua perkara tersebut (yakni Lailatul Qadar dan waktu mustajab pada hari Jum'at) sama-sama dirahasiakan waktunya supaya manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya”
📝 Catatan:
Perselisihan pendapat mengenai kapan terjadinya Lailatul Qadar tidak saya sebutkan disini.
والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar