Sabtu, Februari 21, 2026

PENJELASAN HADIST “BICARA BAIK ATAU DIAM”


➡️ Keterangan :

(المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ٢ ص ١٩)
وأما قوله صلى الله عليه وسلم فليقل خيرا أو ليصمت فمعناه: أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه واجبا او مندوبا فليتكلم، وإن لم يظهر له أنه خير يثاب عليه فليمسك عن الكلام سواء ظهر له أنه حرام أو مكروه أو مباح مستوي الطرفين، فعلى هذا يكون الكلام المباح مأمورا بتركه مندوبا إلى الإمساك عنه مخافة من انجراره إلى المحرم أو المكروه، وهذا يقع في العادة كثيرا أو غالبا، وقد قال الله تعالى: ما يلفظ من قول الا لديه رقيب عتيد، واختلف السلف والعلماء في أنه هل يكتب جميع ما يلفظ به العبد وإن كان مباحا لا ثواب فيه ولا عقاب لعموم الآية أم لا يكتب الا مافيه جزاء من ثواب أو عقاب؟ وإلى الثاني ذهب بن عباس رضي الله عنهما وغيره من العلماء، وعلى هذا تكون الآية مخصوصة أي ما يلفظ من قول يترتب عليه جزاء، وقد ندب الشرع إلى الإمساك عن كثير من المباحات لئلا ينجر صاحبها إلى المحرمات أو المكروهات، وقد أخذ الإمام الشافعي رضي الله عنه معنى الحديث فقال: إذا أراد أن يتكلم فليفكر، فإن ظهر له أنه لا ضرر عليه تكلم، وإن ظهر له فيه ضرر أوشك فيه أمسك

“Adapun sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Hendaklah berbicara baik atau diam, maka maknanya adalah: Seseorang yang hendak berbicara, maka jika apa yang hendak dia bicarakan itu merupakan kebaikan hakiki yang akan diberi pahala (jika mengucapkannya), entah itu perkara yang wajib ataupun perkara yang sunnah, maka hendaklah dia berbicara. Namun jika tidak tampak baginya bahwa apa yang hendak dia bicarakan itu merupakan kebaikan yang akan diberi pahala, maka hendaklah dia menahan diri darinya, entah sudah jelas baginya bahwa apa yang hendak dia bicarakan itu merupakan perkara haram, makruh ataupun perkara mubah yang sama dari kedua sisinya. Dengan demikian, ucapan yang mubah pun diperintahkan untuk meninggalkannya dan dianjurkan untuk menahan diri darinya, karena khawatir akan menjerumuskannya kepada perkara yang diharamkan atau perkara yang dimakruhkan. Hal seperti ini adalah kebiasaan yang banyak terjadi, bahkan gholibnya (umumnya) adalah demikian. Allah Subhanahu Ta'ala berfirman: Tidaklah seseorang mengucapkan suatu perkataan melainkan disisinya ada malaikat pengawas yang selalu (mencatat). 

Para ulama salaf dan para ulama (setelahnya) berbeda pendapat mengenai apakah semua ucapan seorang hamba akan dicatat meskipun hal itu merupakan ucapan mubah yang tidak berpahala dan tidak berdosa berdasarkan keumuman ayat? Ataukah yang dicatat hanyalah ucapan yang mengandung balasan berupa pahala atau dosa? Maka pendapat kedua (inilah yang dipilih) oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dan selain beliau dari kalangan para ulama. Berdasarkan pendapat ini, ayat tersebut bersifat khusus. Yakni tidaklah seseorang mengucapkan suatu ucapan yang memiliki konsekuensi balasan (berupa pahala ataupun dosa), melainkan akan dicatat (sebagai pahala ataupun dosa). Dan sungguh syariat telah menganjurkan untuk menahan diri dari banyak perkara mubah agar tidak menjerumuskan pelakunya kepada hal-hal yang diharamkan atau hal-hal yang dimakruhkan. Al-Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu mengambil makna dari hadits diatas dengan mengatakan: Jika seseorang hendak berbicara, maka berpikir terlebih dahulu. Jika telah tampak baginya bahwa tidak akan ada madhorot (jika dia berbicara), maka hendaklah dia berbicara. Namun jika tampak baginya madhorot atau dia ragu, maka hendaklah dia menahan diri (yakni tidak berbicara).”

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...