🔄 Pertanyaan :
Assalamualaikum wr wb, mau nanya...
Bagaimana hukum nya ketika ada suami istri yg katakanlah sdg melakukan hubungan intim tpi suami nya pada saat ejakulasi mengeluarkan air mani nya di luar, suami beralasan kata nya tdk mau punya anak dlu. lalu bagaimana hukum nya???
➡️ Jawaban :
Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.
Didalam istilah fiqih, perbuatan yang dilakukan oleh seorang suami itu disebut dengan istilah 'azl. Dan hukum 'azl sendiri, secara umum para ulama telah berbeda pendapat. Diantaranya ada yang menyatakan boleh secara mutlak, lalu ada yang menyatakan boleh dengan syarat, dan ada juga yang menyatakan makruh dilakukan pada setiap keadaan, ya maknanya sama saja yaitu makruh secara mutlak dengan alasan bahwa 'azl ini merupakan jalan untuk memutus keturunan. Namun terlepas dari itu semua, hal tersebut dikembalikan kepada niat masing-masing orangnya.
📚 Keterangan :
(المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ١٠ ص ١١)
(حكم العزل) العزل هو أن يجامع فإذا قارب الإنزال نزع وأنزل خارج الفرج وهو مكروه عندنا في كل حال وكل امرأة سواء رضيت أم لا لأنه طريق إلى قطع النسل، ولهذا جاء في الحديث الآخر تسميته الوأد الخفي لأنه قطع طريق الولادة كما يقتل المولود بالوأد
“(Hukum 'azl). 'Azl adalah menjima istri, namun disaat suami akan mengeluarkan sperma lalu dia mencabut (kemaluannya) dan mengeluarkan sperma tersebut diluar farji. Hukum 'azl ini menurut kami adalah makruh pada setiap keadaan dan pada setiap perempuan (entah itu pada istrinya ataupun pada budaknya), dan entah istrinya ridho ataupun tidak, sebab 'azl ini merupakan jalan untuk memutus keturunan. Atas dasar itu, perbuatan 'azl ini didalam hadits yang lain disebut dengan istilah wa'dul khofi (membunuh secara sembunyi-sembunyi), karena 'azl merupakan jalan untuk memutus lahirnya seorang anak yang mana hal itu (persis seperti) membunuh (secara sembunyi-sembunyi)”
📚 Tambahan keterangan :
(المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ١٠ ص ١٢)
ثم هذه الأحاديث مع غيرها يجمع بينها بأن ما ورد في النهي محمول على كراهة التنزيه وما ورد في الإذن في ذلك محمول على أنه ليس بحرام وليس معناه نفي الكراهة. هذا مختصر ما يتعلق بالباب من الأحكام والجمع بين الأحاديث
“Hadits-hadits ini dan hadits-hadits yang lainnya sudah dipadukan, (yang pada kesimpulannya) bahwa hadits mengenai larangan 'azl itu menunjukkan hukum makruh tanzih. Sedangkan hadits yang membolehkan menunjukkan bahwa 'azl tidaklah diharamkan, namun maknanya juga tidak menafikan kemakruhannya. Inilah ringkasan bab mengenai hukum-hukum dan perpaduan antara hadits-hadits (tentang 'azl)”
📚 Tambahan keterangan :
(الموسوعة الفقهية : ج ٣٠ ص ٨١)
الرأي الأول: الإباحة مطلقا أذنت الزوجة أو لم تأذن، إلا أن تركه أفضل وهو الراجح عند الشافعية وذلك لأن حقها الاستمتاع دون الإنزال، إلا أنه يستحب استئذانها. الرأي الثاني: الإباحة بشرط إذنها، فإن كان لغير حاجة كره، وهو قول عمر وعلي وابن عمر وابن مسعود ومالك، وهو الرأي الثاني للشافعية، وبه قال الحنفية إلا أنهم استثنوا ما إذا فسد الزمان فأباحوه دون إذنها. واستدل القائلون بالإباحة المطلقة بما روي عن جابر رضي الله عنه قال: كنا نعزل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم والقرآن ينزل، وفي رواية مسلم: كنا نعزل على عهد رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فلم ينهنا
“Pendapat pertama (mengenai hukum 'azl) adalah pendapat yang menyatakan kebolehannya secara mutlak entah diizinkan oleh istri atau tidak. Kecuali jika seorang suami meninggalkannya (tidak melakukannya), maka hal itu lebih utama. Inilah pendapat yang rojih dikalangan madzhab Syafi'i, karena hak istri adalah disenangkan meskipun tidak sampai (keluar sperma). Namun jika mau melakukan 'azl itu dianjurkan untuk meminta izin kepada istri terlebih dahulu. Kemudian pendapat kedua adalah pendapat yang menyatakan kebolehannya dengan syarat ada izin dari istri. Oleh karena itu jika tidak ada hajat, maka hal itu dimakruhkan. Inilah pendapat sayyidina Umar, Ali, Ibnu Umar, Ibnu Mas'ud dan imam Malik. Pendapat ini juga merupakan pendapat kedua dikalangan madzhab Syafi'i serta pendapatnya madzhab Hanafi. Namun dikecualikan jika keadaan zaman sudah rusak, maka diperbolehkan melakukan 'azl meskipun tanpa izin dari istri. Adapun pendapat yang membolehkan melakukan 'azl secara mutlak itu merupakan hasil istidlal melalui riwayat yang bersumber dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu dimana beliau berkata: Kami pernah melakukan 'azl pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan pada saat itu Al-Qur'an diturunkan. Dan didalam hadits riwayat imam Muslim disebutkan: Kami pernah melakukan 'azl pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian kabar tersebut sampai kepada beliau dan beliau tidak melarangnya”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٩ ص ٦٨٤٧)
والقول بجواز العزل متفق عليه بين المذاهب الأربعة لحديث أبي سعيد الخدري مرفوعا عند أحمد: إنا نأتي النساء ونحب إتيانهن فما ترى في العزل؟ فقال صلى الله عليه وسلم: اصنعوا ما بدا لكم فما قضى الله تعالى فهو كائن وليس من كل الماء يكون الولد
“Pendapat yang membolehkan 'azl telah disepakati diantara madzhab yang empat berdasarkan hadits Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu secara marfu dari imam Ahmad: Kami pernah bersenang-senang (berjima) dengan istri-istri kami, apa pendapatmu mengenai 'azl wahai Rasulullah? Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Lakukanlah apa yang kamu mau, karena apa yang sudah Allah tentukan maka itulah yang akan terjadi. Dan tidak dari semua air (mani) itu akan menjadi anak”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٤ ص ٢٦٤٤)
إلا أن الشافعية والحنابلة وقوما من الصحابة قالوا بكراهة العزل لأن الرسول صلى الله عليه وسلم في حديث مسلم عن عائشة سماه الوأد الخفي فحمل النهي على كراهة التنزيه
“Kecuali kalangan madzhab Syafi'i, Hambali dan sekelompok kaum dari kalangan sahabat nabi yang menyatakan 'azl itu makruh, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didalam hadits riwayat imam muslim dari sayyidah Aisyah menyebutnya sebagai wa'dul khofi (membunuh secara sembunyi-sembunyi). Dan larangan tersebut menunjukkan larangan yang sifatnya makruh tanzih”
والله اعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar