📚 Ibarot :
وقد أجمعوا جميعا أن الإمام المسلم الذى لا بدعة فية إذا صلى للقبلة فقد حل لك الصلا خلفه، وإن كان فسق وفجر و حرام عليك سبه
“(Para ulama) telah sepakat bahwa seorang pemimpin muslim itu tidak dianggap sebagai ahli bid'ah (sesat) selama dia masih sholat menghadap kiblat. Oleh karena itu diperbolehkan bagi kalian untuk ikut sholat dibelakangnya meskipun pemimpin tersebut fasiq dan fajir. Dan diharamkan bagi kalian untuk mencelanya”
⬇️
وقال أبو بكر رضى الله عنه : لا تسبوا السلطان
“Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata : Janganlah kalian mencela seorang pemimpin (yang muslim)”
⬇️
رأى الشافعى : بل يرى أن الطاعة المتغلب وإن كان ظالما فاجرا واجبة وذلك تجنبا للفتن وهكذا يكون الخروج على هذا الإمام كفرا ، وإن مات الخارج عليه مات ميتة جاهلية
“Al-Imam Syafi'i berpendapat : Bahkan taat kepada seorang pemimpin (muslim) yang menang (atau telah berkuasa) meskipun dia dzolim dan fajir itu hukumnya adalah wajib, karena yang demikian itu untuk menghindari fitnah (atau kekacauan yang lebih besar). Oleh karena itu jika seseorang melakukan khuruj (atau makar) terhadap pemimpin, maka kafirlah dia. Dan jika dia mati maka dia mati seperti matinya orang-orang jahiliyah”
⬇️
واعلم أن السلطان به قوام الدين فلا ينبغي أن يستحقر وإن كان ظالما فاسقا، قال عمرو بن العاص رحمه الله إمام غشوم خير من فتنة تدوم
“Ketahuilah bahwa tegaknya kepemimpinan itu berarti tegaknya agama, maka tidak sepantasnya seorang pemimpin itu dicela meskipun dzolim dan fasiq. Amr bin Ash rahimahullah berkata : (Keberadaan) pemimpin yang dzolim itu lebih baik daripada fitnah (kekacauan) yang berkepanjangan”
⬇️
تجب طاعة الإمام في أمره ونهيه ما لم يخالف حكم الشرع سواء كان عادلا أو جائرا
“Wajib untuk taat kepada seorang pemimpin terhadap apa yang diperintahkan dan dilarang selama perintah dan larangannya tersebut tidak bertentangan dengan hukum syariat. Sama saja entah pemimpin itu adil atau tidak adil (maka hukumnya tetap wajib)”
⬇️
ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أمورنا وإن جاروا ولا ندعوا عليهم ولا ننزع يدا من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضةً ، ما لم يأمروا بمعصية وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة
“Dan kami tidak memandang (terkait bolehnya) melakukan khuruj (makar) terhadap para pemimpin dan pemerintah kami meskipun mereka fajir. Kami pun tidak mendoakan keburukan bagi mereka, kami tidak melepaskan diri dari ketaatan terhadap mereka, dan kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka adalah seperti ketaatan kepada Allah yang hukumnya wajib selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan. Bahkan sebaliknya, kami mendoakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan”
...
Satu dari sekian banyak ajaran islam adalah terkait wajibnya taat kepada seorang pemimpin dan larangan mencelanya meskipun pemimpin tersebut dzolim dan fajir. Maka jika pada hari ini ada sekelompok orang yang hobi mencela pemimpin semisal HTI karena ketidak sukaannya terhadap pemimpin tersebut, pertanyaan besar sebenarnya mereka itu ikut ajaran islam atau ajarannya orang kafir? 😁
Orang-orang HTI coba ente semua simak seruan saya ini. Kalau ente ingin melakukan dakwah dengan dalih amar ma'ruf nahi munkar, ente harus perhatikan nasehat imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah dibawah ini :
لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال: رفيق بما يأمر رفيق بما ينهى، عدل بما يأمر عدل بما ينهى، عالم بما يأمر عالم بما ينهى
“Seseorang tidak boleh melakukan amar ma'ruf nahi munkar kecuali pada dirinya terdapat tiga perangai. Yakni lemah lembut saat menyeru dan mencegah, adil saat menyeru dan mencegah, dan alim dalam perkara yang dia seru dan dia cegah” (Al-Waro' karya imam Ahmad : 55)
Nah demikianlah, salam waras semoga bermanfaat.
والله أعلم بالـصـواب
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar