Rabu, November 01, 2023

TEKNIK BUSUK BERKEDOK AGAMA TERKAIT PENGKADERAN ELIT-ELIT HIZBUT TAHRIR


Cara orang-orang Hizbut Tahrir merekrut kader baru sampai terbentuk aktivis yang fanatik dan taklid buta terhadap elit-elit Hizbut Tahrir, kira-kira alurnya seperti ini :

Pertama, diyakinkan terlebih dahulu bahwa menerapkan syariat Islam secara total adalah wajib. Setelah itu diyakinkan bahwa menerapkan Islam secara kaffah tidak mungkin terjadi kecuali dalam bingkai khilafah, oleh karena itu menegakkan khilafah hukumnya juga wajib.

Setelah itu diyakinkan bahwa menegakkan khilafah hanya mungkin dengan membentuk jamaah, oleh karena itu membentuk jamaah hukumnya wajib. Setelah itu diyakinkan bahwa jamaah yang dibentuk harus bersifat jamaah politik, karena menegakkan khilafah adalah aktivitas politik.

Setelah itu diyakinkan bahwa mengingat saat ini belum ada khilafah, maka bergabung dengan jamaah politik yang menegakkan khilafah hukumnya juga wajib. Bukan hanya fardhu kifayah tapi sudah fardhu ain, karena jumlah aktivis yang menegakkannya saat ini belum mecukupi untuk membuat khilafah tegak.

Setelah itu diyakinkan bahwa ada banyak kelompok yang memperjuangkan khilafah, tetapi semuanya salah. Yang benar hanya Hizbut Tahrir, karena Hizbut Tahrir adalah satu-satunya kelompok yang mengikuti Rasulullah ﷺ dalam metode menegakkan pemerintahan Islam yang tidak berbeda dengan sunnah Rasulullah ﷺ meski hanya sehelai rambut. Setelah bisa diyakinkan, barulah dimasukkan Hizbut Tahrir dalam prosesi yang disebut taḥzib, dan mereka dituntut untuk bersumpah setia dengan mekanisme yang disebut dengan qasam. Nah seperti itulah gambaran “pembaiatan” ditubuh Hizbut Tahrir.

Jika pembinaan dengan konsep seperti diatas dikombinasi dengan “perhatian” yang baik dari para mentor dan pengurusnya, maka fanatismenya akan semakin kuat. Jika ditambah dengan penciptaan circle pertemanan yang nyaman, apalagi sampai belasan dan puluhan tahun, maka fanatisme dan ikatannya akan bertambah kuat.

Jika ditambah lagi dengan diberi pekerjaan atau jaringan bisnis, maka fanatisme dan ikatannya akan semakin kuat lagi. Jika ditambah dengan dikawinkan dengan orang Hizbut Tahrir, apalagi ditambah dengan diberi fasilitas bangunan dan kelembagaan, maka fitnahnya akan semakin besar dan fanatismenya akan semakin edan.

Jika ditambah dengan ditokohkan, diorbitkan, diustadkan meskipun jahil, diundang kemana-mana, dirujuk jika ada masalah, dan andalkan jika ada serangan pemikiran ke Hizbut Tahrir, maka fanatismenya bisa semakin menggila.

Dan jika ditambah dengan dijadikan pejabat Hizbut Tahrir, apalagi sampai diberi gaji rutin, lalu diberi privilege jaringan yang luas, wewenang mengumpulkan tokoh-tokoh sehingga bisa semakin memapankan kepentingan bisnis pribadinya, maka ini sudah menjadi “fitnah sempurna”. Oleh karena itu akan jarang orang Hizbut Tahrir kalau sudah sampai pada level ini lalu bisa berkata jujur terkait ilmu, berani melawan kebatilan diinternal organisasinya dan menjelaskan penyimpangan ditubuh jamaahnya. Sebab resikonya semua hal duniawi itu bisa lenyap dalam seketika dan tiba-tiba dijadikan musuh besar bagi orang-orang Hizbut Tahrir sendiri.

Semua pemikiran yang dipakai alur mengkader dalam urutan diatas itu mengandung banyak elemen bermasalah. Ada yang benar, tapi banyak yang salah dan menyesatkan. Oleh karena itu, menyelamatkan kader awam Hizbut Tahrir memang harus mereparasi kesalahan konsep dalam kerangka pikir diatas.

Reparasi itu tidak mungkin dicapai dengan membenci aktivis Hizbut Tahrir dan memaki-makinya. Tapi perlu argumentasi yang runtut, berdasarkan ilmu dan argumentasi yang kokoh. Saya optimis cara mendakwahi awam Hizbut Tahrir seperti itu akan menyelamatkan mereka dari jeratan dan belenggu elit-elit Hizbut Tahrir yang ingin mengeksploitasi dan memanfaatkan mereka. Sebab sebuah pemikiran hanya bisa dibunuh dengan pemikiran yang lebih kuat.

Hanya saja, keberhasilan penyadaran mereka itu tetap tergantung orangnya. Awam Hizbut Tahrir yang sudah kadong cinta mati kepada Hizbut Tahrir dan menikmati posisinya didalam organisasi Hizbut Tahrir, atau mendapatkan keuntungan duniawi selama aktif didalam tubuh Hizbut Tahrir, maka sehebat apapun argumentasi niscaya tidak akan mampu mempengaruhinya.

Sebab kebodohan, keangkuhan dan menuruti hawa nafsu adalah dinding paling tebal yang akan menghalangi hidayah. Jangankan saya yang berusaha menyadarkan, Rasulullah ﷺ yang sangat fasih dalam berhujjah sekalipun tidak bisa menembus hatinya Abu Jahal dan Abu Lahab yang sudah kadong tebal keangkuhannya dan lebih memilih hawa nafsunya daripada menempuh jalan Allah yang haq.

Orang-orang seperti itu sudah bukan masalah hujjah dan argumentasi lagi. Tetapi lebih ke soal selera, kepentingan, fanatisme, ashobiyah dan hawa nafsu. Kerusakan cara berpikir awam Hizbut Tahrir akibat sistem pembinaan Hizbut Tahrir itu levelnya bukan sekedar infeksi virus parsial. Ibarat sebuah komputer, yang terinfeksi bukan hanya satu file atau satu program, tetapi sudah sistemnya secara keseluruhan. Jadi untuk membersihkannya pun tidak cukup sekedar pakai antivirus, tapi harus dengan instal ulang. Yakni dengan “mereparasi” total pemahaman-pemahamannya yang menyesatkan.

Saya berdoa, semoga tidak semakin banyak orang-orang awam yang terkena virus-virus menyesatkan Hizbut Tahrir, aamiin.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...