Selasa, Oktober 03, 2023

KETIKA HTI MEMELINTIR PERNYATAAN IMAM AL-QURTHUBI


Penegakkan khilafah sebagai sistem pemerintahan terus disuarakan oleh kelompok Hizbut Tahrir. Mereka seolah berkeyakinan bahwa penegakkan khilafah itu tiada lain merupakan bagian dari kewajiban yang dibebankan kepada setiap orang muslim. Mereka juga merasa bahwa keyakinannya tersebut telah mendapat legitimasi langsung dari Al-Qur'an. Sebagian dari mereka mendasarkan keyakinannya itu dengan merujuk pada surah Al-Baqarah ayat 30 berikut dengan tafsirannya yang dikemukakan oleh imam Al-Qurthubi rahimahullah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الارض خليفة

“Dan ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi” (Qs. Al-Baqarah : 30)

Namun dengan gegabahnya, Hizbut Tahrir mengutip tafsirnya itu tidak secara utuh. Tapi mereka hanya mengutip penggalan awalnya saja sebagai berikut :

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة

“Ayat ini (surah Al-Baqarah ayat 30) merupakan dasar untuk mengangkat seorang imam atau khalifah” (Tafsir Al-Qurthubi : 1/264)

Jadi dengan mengacu pada penggalan tafsiran imam Al-Qurthubi diatas, Hizbut Tahrir mengklaim bahwa beliau itu mewajibkan penegakkan khilafah. Namun pertanyaannya adalah, benarkah imam Al-Qurthubi mewajibkan penegakkan khilafah sebagai sistem pemerintahan? Dan apa makna khalifah yang dimaksud oleh beliau pada ayat diatas?

Apakah beliau memaknai masalah khalifah pada ayat diatas itu sebagai pemimpin dalam sistem pemerintahan khilafah, ataukah hanya sebatas memaknai secara etimologis saja yakni yang berarti pemimpin secara umum? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan berikan tafsiran beliau secara utuh. Beliau rahimahullah mengatakan :

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الامة ولا بين الائمة إلا ما روي عن الاصم حيث كان عن الشريعة أصم، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه، قال: إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك، وأن الامة متى أقاموا حجهم وجهادهم، وتناصفوا فيما بينهم، وبذلوا الحق من أنفسهم، وقسموا الغنائم والفئ والصدقات على أهلها، وأقاموا الحدود على من وجبت عليه، أجزأهم ذلك، ولا يجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك. ودليلنا قول الله تعالى: إني جاعل في الارض خليفة، وقوله تعالى: يا داود إنا جعلناك خليفة في الارض، وقال: وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الارض

“Ayat ini (surah Al-Baqarah ayat 30) merupakan dasar untuk mengangkat seorang imam atau khalifah yang didengar dan ditaati demi menyatukan (berbagai) pendapat dan juga demi melaksanakan hukum-hukum kekhalifahan. Tidak ada perbedaan pendapat diantara umat islam dan diantara imam-imam (kaum muslimin) tentang kewajibannya, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-Ashom padahal dia adalah orang yang tuli terhadap syariat. Begitu juga orang yang sependapat dengannya dan juga pengikutnya, dia mengatakan : Sesungguhnya mengangkat seorang imam tidaklah wajib, tapi hanya sekedar menyempurnakan agama. 

Dan bahwasanya selama umat islam bisa menunaikan ibadah haji, berjihad, saling gotong royong, saling mencurahkan kebenaran, membagikan harta rampasan perang, fai, memberikan sedekah kepada yang berhak dan menegakkan hudud terhadap pelaku kejahatan, maka yang demikian itu sudah dianggap cukup. Jadi tidak wajib mengangkat seorang imam untuk melaksanakan perkara-perkara tersebut. Adapun dalil kami (imam Al-Qurthubi) terkait wajibnya mengangkat seorang pemimpin adalah berdasarkan firman Allah : Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi, kemudian firman Allah : Wahai daud, sesungguhnya kami akan menjadikanmu seorang khalifah dibumi. Dan juga firman Allah : Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman diantara kamu dan juga orang-orang yang berbuat baik bahwa sesungguhnya Allah hendak menjadikan mereka khalifah dibumi.” (Tafsir Al-Qurthubi : 1/264)

Oleh karena itu jika kita membaca pernyataan imam Al-Qurthubi didalam tafsirnya secara utuh, faktanya tidak ditemukan adanya indikasi kuat bahwa beliau memaknai masalah khalifah pada ayat diatas sebagai pemimpin dalam sistem pemerintahan khilafah. Tapi pada pernyataannya diatas, jelas bahwa makna khalifah yang dimaksud oleh beliau adalah khalifah dalam pengertiannya yang secara umum, yakni pemimpin.

Dan hal itu dapat kita fahami karena beliau hendak menegaskan terkait wajibnya mengangkat seorang pemimpin sebagai instrumen dalam pelaksanaan hukum. Ini merupakan hal yang biasa dalam agama islam, terlepas apakah sistem pemerintahan yang diterapkan itu adalah khilafah ataukah sistem-sistem lainnya. Dengan demikian, yang ditekankan oleh imam Al-Qurthubi disini adalah keberadaan pemimpin sebagai instrumen atau komando dalam pelaksanaan hukum, bukan sistem pemerintahan tertentu sebagaimana syubhat yang muncul dari orang-orang Hizbut Tahrir selama ini.

Lagi pula secara substansial, ayat diatas merupakan ayat yang menceritakan tentang kisah pengangkatan nabi adam sebagai khalifah dimuka bumi. Dan makna khalifah disini tentu merupakan makna yang dalam pengertiannya secara umum, yakni pemimpin atau penguasa dimuka bumi. Karena nabi adam merupakan manusia pertama yang diberikan mandat oleh Allah untuk memakmurkan bumi. 

Oleh karena itu kesimpulannya, mengutip surah Al-Baqarah ayat 30 untuk melegitimasi wajibnya menegakkan khilafah kemudian menerapkan sistem pemerintahan berupa khilafah adalah bentuk politisasi ayat yang tak dapat dibenarkan sama sekali. Terkesan ada pemaksaan tafsir yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir terhadap ayat diatas. Tapi demikianlah, Hizbut Tahrir memang terbiasa mengutip pernyataan ulama-ulama mu'tabar lalu mereka pelintir pernyataannya yang seolah-olah para ulama itu kemudian setuju dengan gagasan mereka. Bagi saya hal itu merupakan sebuah pembodohan publik yang wajib dibantah serta diluruskan.

Salam waras, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...