Salah satu isu rawan yang membuat Hizbut Tahrir disebut sejumlah ulama sebagai kelompok yang keluar dari ahlussunnah wal jama'ah adalah karena sikapnya terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu. Telah menyebar informasi bahwa Hizbut Tahrir mengingkari Muawiyah sebagai sahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mendepaknya dalam barisan shahabat nabi. Sikap semacam ini dianggap sangat berbahaya, karena bisa menggiring pada kemurtadan, kekufuran atau minimalnya melakukan bid'ah besar.
Lantas, benarkah informasi tersebut? Maka jawabannya adalah benar. Hizbut Tahrir khususnya Taqiyyuddin An-Nabhani memang mengingkari Muawiyah sebagai sahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Taqiyyuddin An-Nabhani mengatakan dengan tegas bahwa pernyataan yang mengatakan Muawiyah sebagai sahabat nabi itu adalah pernyataan yang salah.
Sebagai buktinya, simak pernyataan An-Nabhani berikut ini :
ومثلا قد يقال: معاوية بن أبي سفيان رأى الرسول صلى الله عليه وسلم واجتمع به، وكل من رأى الرسول صلى الله عليه وسلم واجتمع به صحابي، فالنتيجة معاوية بن أبي سفيان صحابي، وهذه النتيجة خطأ
“Misalnya ada yang mengatakan : Muawiyah bin Abi Sufyan melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkumpul bersama beliau. Semua orang yang melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkumpul bersama beliau, itu adalah seorang sahabat. Jadi kesimpulannya, Muawiyah bin Abi Sufyan adalah seorang sahabat. Dan ini adalah kesimpulan yang salah” (As-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah cetakan lama, hlm. 56)
Dalam pernyataan diatas, An-Nabhani dengan tegas mengatakan bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai sahabat nabi adalah kesimpulan yang salah. Artinya dia memang tidak pernah mengakui Muawiyah, sang penulis wahyu Al-Qur'an itu sebagai salah satu sahabat nabi.
Namun perlu diketahui, teks pernyataan An-Nabhani yang mengingkari Muawiyah sebagai sahabat nabi diatas pada cetakan yang baru itu sudah dibuang oleh manajemen Hizbut Tahrir pusat. Pembuangannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tanpa keterangan. Alasan pembuangannya pun tidak dijelaskan, dan yang membuang juga tidak diterangkan siapa.
Tapi di Hizbut Tahrir memang ada editor-editor “ghoib” terhadap kitab-kitab An-Nabhani. Editor “ghoib” ini setelah mengedit dan membuang beberapa bagian dari isi kitab An-Nabhani, kitab tersebut tetap dinisbatkan kepada An-Nabhani dan dicetak atas namanya. Didunia percetakan dan karya ilmiyah, tindakan seperti itu adalah bentuk tadlis, kebohongan, penipuan dan ketidak jujuran. Saya sendiri tidak mengerti kenapa manajemen Hizbut Tahrir pusat berani melakukannya tanpa pernah merasa bersalah dan berdosa sedikitpun.
Namun yang harus diperhatikan ketika teks diatas sudah dibuang pada edisi terbaru, maka hal itu tidak bermakna Hizbut Tahrir merevisi pendapatnya. Karena mebiasaan Hizbut Tahrir jika merevisi sebuah pendapat adalah memberi keterangan tertulis dan diumumkan. Tapi pada kasus Muawiyah ini Hizbut Tahrir tidak pernah membuat pernyataan terbuka sama sekali semenjak didirikannya sampai hari ini yang menegaskan bahwa mereka telah merevisi sikapnya terhadap Muawiyah. Artinya, sikap Hizbut Tahrir terhadap Muawiyah sampai hari ini adalah tetap dan tidak berubah, yakni mengingkari Muawiyah sebagai salah satu sahabat nabi.
Tentu saja ini adalah sikap yang keji, karena Muawiyah adalah salah seorang sahabat yang didoakan oleh nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagai orang yang diberi petunjuk dan memberi petunjuk disamping dikenal sebagai salah satu penulis wahyu. Pertanyaannya sekarang, apa motivasi pembuangan pernyataan An-Nabhani dalam kitab tersebut?
Maka jawabannya adalah, tentu saja adalah motivasi soal hati. Kita tidak bisa memastikan, hanya saja jika melihat sejarah, maka yang paling logis alasan pembuangan teks tersebut adalah “manajemen cooling down” karena ada protes keras dunia islam terhadap Hizbut Tahrir gara-gara isu ini. Tahun 1997 contohnya, muncul gerakan keluar dari Hizbut Tahrir besar-besaran karena isu Muawiyah ini. Jadi dengan dibuangnya teks tersebut, Hizbut Tahrir tidak ingin masalah ini menjadi isu yang menghantam Hizbut Tahrir lalu merugikannya. Tindakan seperti ini juga dilakukan oleh Hizbut Tahrir persis saat membuang ajaran keabsahan penguasa hasil kudeta tanpa penjelasan kepada anggotanya maupun kepada umat islam.
Nah demikianlah sekilas tentang Hizbut Tahrir dan An-Nabhani yang mengingkari Muawiyah sebagai sahabat nabi. Salam waras, semoga bermanfaat.
والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar