Terkait masalah Hizbut Tahrir yang berambisi menjadikan amirnya sebagai khalifah, saya yakin banyak pengikut Hizbut Tahrir terutama dari kalangan awamnya yang akan terkejut dan kaget jika memang informasi ini benar. Karena pasalnya jika info ini benar, tentu mereka akan geram luar biasa karena merasa diperalat oleh elit-elit Hizbut Tahrir demi ambisi kekuasaan itu atas nama islam.
Secara logika, mustahil info semacam ini akan disebar luaskan atau diblow-up secara massif. Karena hal itu justru akan menimbulkan interpretasi kuat terhadap Hizbut Tahrir dan mengukuhkan penilaian bahwa hal itu merupakan sektarian, fanatik golongan, dan ambisius dalam kekuasaan. Dan yang logis, informasi semacam ini hanya akan menjadi top secret dikalangan elit-elit Hizbut Tahrir saja. Adapun untuk pengikut-pengikutnya yang awam, maka mereka cukup diajari saja agar semangat dalam berdakwah, terus menerus menyuarakan khilafah, ikhlash dalam melakukan aktivitas dakwah dan juga jargon-jargon yang semisalnya. Tapi jika ambisi semacam ini diungkapkan secara implisit dan dengan isyarat, maka hal ini masih mungkin dilakukan. Karena efeknya tidak seberbahaya jika diungkapkan secara eksplisit.
Untuk itu, saya akan membongkar isyarat-isyarat Hizbut Tahrir yang berambisi untuk menjadikan amirnya sebagai khalifah melalui kitab mereka sendiri yang isinya adalah sebagai berikut :
حدد الحزب طريق سيره بثلاث مراحل، الأولى : مرحلة التثقيف لإيجاد أشخاص مؤمنين بفكرة الحزب وطريقته لتكوين الكتلة الحزبية. الثانية : مرحلة التفاعل مع الأمة لتحميلها الإسلام حتى تتخذه قضية لها كي تعمل على إيجاده في واقع الحياة والدولة والمجتمع. الثالثة : مرحلة استلام الحكم، وتطبيق الإسلام تطبيقا عاما شاملا وحمله رسالة إلى العالم. (منهج حزب التحرير في التغيير : ص ٢٥-٢٦)
Berdasarkan keterangan diatas, maka Hizbut Tahrir telah merumuskan tiga tahapan dakwah mereka untuk mencapai target membentuk darul islam, diantaranya :
1. Marhalatut tatsqif (pengkaderan atau pembinaan).
2. Marhalatut tafaul (interaksi).
3. Marhalatul istilamul hukmi.
Khusus untuk tahapan yang ketiga, yaitu tahapan istilamul hukmi. Coba perhatikan pilihan kalimat yang dipakai oleh Hizbut Tahrir terkait istilamul hukmi ini. Kenapa Hizbut Tahrir memilih kalimat istilamul hukmi? Kenapa mereka tidak memakai semisal kalimat قيام الخلافة yang bermakna tegaknya khilafah atau istilah-istilah lain yang semakna?
Seandainya tahapan ketiga metode dakwah Hizbut Tahrir itu adalah قيام الخلافة, maka hal itu memberi kesimpulan bahwa Hizbut Tahrir tidak peduli siapapun yang akan menjadi khalifahnya, yang penting khilafah tegak. Jadi entah itu orang dari kalangan Hizbut Tahrir sendiri ataupun orang dari luar kalangan Hizbut Tahrir, maka dipersilahkan untuk menjadi khalifah oleh Hizbut Tahrir dengan senang hati, yang penting khilafah tegak.
Tapi kenyataannya adalah tidak, sebab Hizbut Tahrir memutuskan pilihan kalimat yang dipakai adalah istilam. Lalu apa sebenarnya makna istilam itu?
Orang-orang Hizbut Tahrir kalau bisa tanyakan kepada tokoh-tokoh kalian yang benar-benar alim, ikhlas dan jujur. Yaitu orang yang bisa baca kitab dan memahami ilmu nahwu shorof supaya menjelaskan apa makna istilam itu. Dan agar lebih obyektif, tanyakan juga kepada orang alim diluar kelompok Hizbut Tahrir agar menjelaskan apa makna istilam itu. Nanti kalian akan terkejut pada saat mengetahui bahwa makna istilam yang sebenarnya itu adalah تناول باليد yang berarti mengambil dengan tangan.
Jadi istilamul hukmi itu bermakna mengambil kekuasaan atau pemerintahan (dengan tangan) yang kemudian sering diterjemahkan secara bebas menjadi menerima kekuasaan. Hal ini bermakna bahwa Hizbut Tahrir mengkhayalkan pada tahap kedua (tafaul atau interaksi dengan umat) itu berhasil, maka umat akan menyerahkan kekuasaan atau pemerintahan kepada mereka, lalu mereka akan mengambil kekuasaan tersebut. Nah pada tahap inilah Hizbut Tahrir merasa mendapatkan mandat dari umat untuk mengelola kekhilafahan.
Oleh karena itu, tahapan dakwah Hizbut Tahrir pada saat ini secara implisit cukup jelas menunjukkan bahwa mereka memang berambisi untuk menjadikan amirnya sebagai khalifah. Jadi, Hizbut Tahrir tidak sekedar mencita-citakan khilafah, akan tetapi juga berambisi menguasai khalifah. Intinya adalah, khalifah harus dari kalangan Hizbut Tahrir, demikianlah angan-angan mereka yang sebenarnya.
Nah demikianlah sedikit pembahasan terkait Hizbut Tahrir yang berambisi menjadikan amirnya sebagai khalifah. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua sebagai mayoritas umat islam yang beraqidah asy'ariyah dari propaganda-propaganda Hizbut Tahrir, si bughot berkedok pengusung khilafah islamiyyah, aamiin.
والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar