Taqiyyuddin An-Nabhani selaku pendiri Hizbut Tahrir telah menerapkan konsep atau tahapan-tahapan dakwahnya menjadi tiga tahapan :
1. TAHAPAN TATSQIF (PEMBINAAN).
Pada tahap ini, biasanya orang-orang awam yang tertarik dengan Hizbut Tahrir kemudian memutuskan untuk masuk ke Hizbut Tahrir akan didoktrin dengan sedemikian rupa. Seperti halnya kelompok menyimpang yang lain, elit-elit Hizbut Tahrir pada tahap ini akan mendoktrin awam-awamnya dengan ajaran-ajaran yang sebenarnya batil namun mereka manipulasi dengan harapan awam-awamnya tersebut mudah menerima dan semakin tertarik dengan Hizbut Tahrir. Orang-orang awam tidak akan sadar kalau sebenarnya mereka itu sedang dibodoh-bodohi.
2. TAHAPAN TAFAA'UL MA'AL UMMAH (INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT).
Setelah elit-elit Hizbut Tahrir melakukan doktrinasi kepada para awamnya, maka mereka akan mengajak para awamnya tersebut untuk terjun langsung ke lapisan masyarakat luas dengan tujuan mengajak masyarakat supaya ikut dan mengikuti gagasan dakwah yang dibawa oleh Hizbut Tahrir. Tahapan ini biasanya berhasil apabila yang diajak adalah lapisan masyarakat awam pula.
Karena secara sekilas, dakwah Hizbut Tahrir dilapisan bawah biasanya akan mudah menarik perhatian masyarakat. Sebab yang mereka teriakan adalah ajakan-ajakan untuk menerapkan syariah secara kaffah. Dilapisan bawah ini, ajaran-ajaran menyimpang Hizbut Tahrir seperti tidak percaya kepada takdir, haram meyakini adanya azab kubur dan yang lainnya itu tidak didakwahkan karena berisiko para awamnya dan masyarakat yang mereka ajak akan berubah pikiran dan menjadi tidak simpati kepada Hizbut Tahrir atau bahkan balik membenci.
3. TAHAPAN ISTILAMUL HUKMI (MENERIMA KEKUASAAN).
Apabila tahapan pertama dan kedua sukses dilakukan, kemudian semakin banyak orang yang bergabung dengan Hizbut Tahrir, maka otomatis dukungan pun akan semakin banyak dan kekuasaan akan mudah diambil. Namun khusus untuk tahapan ini, jika tahapan pertama dan kedua gagal, maka Hizbut Tahrir akan menggunakan konsep lain yang bernama tholabun nushroh (mencari dukungan pihak lain) dari kelompok kuat semisal angkatan bersenjata atau militer.
Jadi jika kekuasaan tidak bisa diambil dengan cara halus yakni melalui tahapan pertama dan kedua, maka tidak mustahil kalau Hizbut Tahrir akan mengambil kekuasaan secara paksa dengan meminjam tangan orang lain yaitu pihak angkatan bersenjata tadi. Hizbut Tahrir kalau secara langsung tidak akan ikut-ikutan, hanya saja jika kekuasaan telah ditaklukkan oleh angkatan bersenjata maka tetap pada kesimpulan bahwa Hizbut Tahrir akan sampai pada tahapan yang ketiga yaitu menerima kekuasaan yang telah diambil oleh angkatan bersenjata tersebut.
Jadi Hizbut Tahrir tidak peduli dengan cara apa kekuasaan itu diambil, yang penting bisa mereka kuasai. Maka sangat tidak aneh kalau istilah “membunuh tanpa mengotori tangan sendiri” itu sudah menjadi bagian dari cara-cara Hizbut Tahrir untuk merebut kekuasaan yang mana selama ini mereka berdalih dengan “tegakkan kekhilafahan”, padahal sebenarnya mereka sedang haus kekuasaan dan ingin menjadi seorang pemimpin atau seorang khalifah. Intinya, Hizbut Tahrir ingin memimpin dan jangan ada pihak lain yang memimpin selain Hizbut Tahrir.
Nah itulah analisa saya terkait tahapan dakwah Hizbut Tahrir demi mendapatkan kekuasaan. Oleh karena itu jika analisa saya ini benar, berarti Hizbut Tahrir selama ini menjadikan dakwahnya sebagai propaganda saja demi mewujudkan keinginannya. Maka sungguh biadab jika itu semua benar.
والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar