Minggu, Desember 07, 2025

KENAPA TIDAK BOLEH BELAJAR AGAMA HANYA LEWAT GOOGLE


✅ بســـــــم الله الرحمن الرحيـــــــم

╭────── ☆★☆ ──────╮
╰➤ 𝐀𝐑𝐓𝐈𝐊𝐄𝐋 𝐇𝐀𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐈 

Sebenarnya bukan tidak boleh memanfatkan google untuk mencari informasi-informasi tertentu, termasuk informasi-informasi yang terkait dengan masalah agama. Hanya saja kita harus paham bahwa google bukanlah sumber ilmu agama secara langsung. Akan tetapi google hanyalah sebuah robot mesin pencari yang mampu mencari dengan cepat beragam informasi dan tulisan yang berserakan didunia maya. Google sendiri sebenarnya bukanlah sumber informasi, melainkan hanya berfungsi sekedar memberi clue atau jejak saja yang masih harus ditelurusi lebih lanjut, entah nanti jejak itu sampai ke tempat yang benar atau juga ke tempat yang tidak benar. Bagi google, benar dan salahnya informasi itu tidak ada urusan.

Maka dari itu kita tidak boleh belajar agama dari google, tapi dalam kondisi tertentu dan kondisi yang terbatas, google bisa saja dimanfaatkan untuk mencari jejak tulisan terkait dengan ilmu agama. Tentu dalam jumlah yang amat sangat terbatas sekali. Dan kalau ada orang yang semata-mata mengandalkan ilmunya hanya dari google saja dan sampai menjadikan google sebagai satu-satunya sumber ilmu agama, tentu saja dari awal dia sudah salah dan pasti sesat dan menyesatkan. Sebab sumber ilmu agama adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Dan Allah sama sekali tidak pernah mengirim utusan seorang nabi atau rasul yang bernama nabi google 'alaihissalam.

Berikut ini alasan kenapa seseorang tidak boleh belajar agama dari google :

1. NISBINYA KEBENARAN GOOGLE

Seringkali seseorang itu keliru menjadikan google sebagai tolok ukur kebenaran. Caranya dengan melihat jumlah hasil yang ditampilkan oleh google ketika suatu masalah dicari. Padahal kebenaran itu tidak pernah diukur berdasarkan jumlah suara, sebab kebenaran tidak sama dengan demokrasi. Sebagai contoh, ada 100 orang zindiq menulis didunia maya bahwa khomr itu halal, namun hanya ada satu orang mukmin yang menulis bahwa khomr itu haram. Begitu ada orang bodoh mencari hukum khomr memakai google, maka apa yang akan terjadi? Sudah bisa dipastikan dia akan mengatakan bahwa khomr itu halal. Karena dari hasil pencariannya di google, google ternyata menampilkan bahwa khomr itu halal. Alasannya karena telah ditemukan 100 tulisan yang menghalalkan khomr dan hanya ada satu tulisan yang mengharamkan khomr. Oleh karena itu, bayangkan saja kalau bangsa Indonesia yang rata-rata awam masalah agama hanya mengandalkan hasil pencarian google dalam masalah hukum-hukum agama, apa jadinya dengan agama ini?

2. GOOGLE TIDAK PERNAH MENYELEKSI KAPASITAS DAN OTORITAS SUMBER PENULIS

Belajar agama islam itu seharusnya melalui perantara seorang alim yang kapasitas dan otoritas keilmuannya sudah diakui. Didalam dunia nyata, mustahil ada orang yang baru ngaji kemarin sore lalu tiba-tiba pada pagi harinya dia sudah menjadi seorang mufti yang berani memfatwakan ini dan itu. Tetapi didunia maya, orang yang bahkan tidak pernah belajar ilmu syariat dengan benar, hanya sekedar baca buku-buku terjemahan, atau download-download tulisan yang entah siapa, tiba-tiba menampakkan diri seolah menjadi ustad. Dan sayangnya, sosok-sosok yang semacam ini jumlahnya di sosial media cukup banyak, bahkan justru mendominasi semua dunia maya. Oleh karena itu, orang bodoh yang hanya mengandalkan google semisal ketika dia sedang mencari hadits, maka orang tersebut sudah pasti keliru. Sebagaimana kata para ulama, hadits bisa menyesatkan kecuali bagi para fuqoha.

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata :

الحديث مضلة إلا للفقهاء

“Hadits itu bisa menyesatkan kecuali bagi para fuqoha” (Fatawa Al-Haditsiyah, hlm. 202)

Dan fenomena munculnya ustad-ustad dadakan, yang mana sebenarnya mereka itu belum pantas untuk dikategorikan sebagai ustad, sekarang ini sangat mendominasi sosial media, contohnya digrup-grup WhatsApp. Padahal saya mengetahui begitu banyak ulama yang ilmunya luar biasa. Sebaliknya, saya pun mengetahui dengan ribuan orang bodoh pangkat 3, dalam artian bodoh sebodoh-bodohnya. Dia tidak bisa bahasa arab, tidak bisa baca kitab, bacaannya cuma buku terjemahan yang lebih banyak salah terjemahnya ketimbang benarnya, tidak pernah duduk di majelis ilmu, tidak mengenal para ulama dengan spesialisasinya, bahkan yang menjadi aib besar adalah ketika membaca Al-Qur'an pun masih dalam taraf mengeja dan terbata-bata, lalu tidak mengerti kitab referensi ilmu syariat dan sejuta aib lainnya, namun ternyata merasa dirinya sebagai sumber kebenaran dan sangat pede ketika orang-orang bodoh lainnya memanggil dia ustad.

Dan ironisnya, sosok-sosok seperti ini merasa kepedean serta merasa bahwa dirinya itu sudah sah dan resmi menjadi juru dakwah dan aktifis pergerakan. Dan salah satu dakwahnya adalah rajin sekali menulis tanpa ilmu dan hobi memposting hoax dalam agama. Kemudian dia aktif menjadi pemateri bermacam kajian yang mana ilmunya belum pernah seumur hidup dipelajarinya dari seorang guru dengan benar. Dia hanya mengandalkan google, atau yang hari ini masyhur yaitu AI, dan buku-buku terjemahan tanpa penjelasan langsung dari ahlinya yaitu seorang alim ulama. Maka, potret-potret semacam ini sangat membuat saya miris, karena saya banyak menjumpainya didunia maya khususnya digrup-grup WhatsApp. Dan yang terakhir, yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah mereka yang 100% bodoh ini pun malah punya murid-murid yang secara rutin mengaji kepadanya. Oleh karena itu saya bertanya dalam hati, kok ada ya orang yang mau menimba ilmu dari orang yang tidak punya ilmu?

Maka jika kita mau menyalahkan, sebenarnya kalau kita tau duduk masalahnya ya jangan salahkan google, tetapi salahkan orang yang menggunakan google sebagai satu-satunya sumber dalam memahami ilmu agama. Dan yang paling penting, salahkan dulu mereka yang bodoh itu tapi belagak alim dan pede disaat orang lain menyebutnya sebagai ustad. Dengan demikian, berguru secara langsung kepada seorang alim itu sangatlah penting. Jangan karena zaman sekarang informasi mudah dicari lalu seseorang malah menjadi malas untuk berguru secara langsung. Saya ingat perkataan Al-Imam Ibnul Mubarok rahimahullah :

الإسناد من الدين، ولو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Sanad adalah bagian dari agama. Dan seandainya tidak ada sanad, maka siapapun akan mengatakan (terkait persoalan agama) sesuai dengan apa yang dikehendakinya” (Muqoddimah Shohih Muslim : 1/15)

Dan juga perkataan Al-Imam Ibnu Sirin rahimahullah :

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah (telitilah) dari siapa (dan darimana) kalian mengambil agama kalian” (Muqoddimah Shohih Muslim : 1/15)

Kemudian perkataan Al-Imam Nawawi rahimahullah :

ولا يأخذ العلم إلا ممن كملت أهليته وظهرت ديانته وتحققت معرفته واشتهرت صيانته وسيادته، فقد قال ابن سيرين ومالك وخلائق من السلف: هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم، إلى أن قال: ولا تأخذ العلم ممن كان أخذه له من بطون الكتب من غير قراءة على شيوخ أو شيخ حاذق، فمن لم يأخذه إلا من الكتب يقع في التصحيف ويكثر منه الغلط والتحريف

 “Janganlah mengambil ilmu kecuali dari orang yang telah sempurna kelayakannya, tampak (kebaikan) agamanya, nyata pengetahuannya (ilmunya), masyhur kehati-hatiannya dan masyhur kepemimpinannya (dalam masalah ilmu). Al-Imam Ibnu Sirin, Al-Imam Malik dan banyak ulama dari kalangan salaf rahimahumullah lainnya yang berkata: Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian. Sampai pada pernyataan Al-Imam Nawawi rahimahullah: Janganlah mengambil ilmu dari orang yang hanya mengambil ilmunya dari buku-buku tanpa membacanya langsung kepada para guru atau seorang guru yang ahli. Barang barang siapa hanya mengambil ilmu dari buku, maka dia akan terjatuh ke dalam tashif (salah faham) dan banyak muncul darinya kesalahan serta tahrif (penyelewengan)” (Majmu' Syarah Muhadzdzab : 1/36)

Perkataan Al-Imam Nawawi rahimahullah diatas semakin menegaskan terlarangnya belajar dan mengambil ilmu dari google. Karena jangankan google yang bukan orang, mengambil ilmu dari orang saja itu dibatasi hanya sampai pada taraf orang-orang yang memang sudah memenuhi standar kualifikasi (orang yang sudah ahli atau orang yang sudah layak). Dan mengambil ilmu dari google juga sama persis seperti halnya mengambil ilmu dari sebuah buku, karena yang berserakan di google itu berupa tulisan-tulisan. Dan hal itu mirip seperti tulisan-tulisan yang pada umumnya ada pada sebuah buku. Orang-orang bodoh yang hanya mengambil ilmu agama dari google, maka dia akan seperti yang diucapkan oleh Al-Imam Nawawi rahimahullah diatas. Dia akan terjerumus ke dalam kesalahpahaman, dan akan terjerumus pula ke dalam kesalahan serta penyelewengan. Dengan demikian kesimpulannya, jangan pernah menjadikan google sebagai satu-satunya sarana dalam belajar dan mengambil ilmu agama.

Nah demikianlah, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...