🔄 Pertanyaan :
Assalamu'alaikum.
Apakah konsep imamah atau khilafah itu ada dalam pembahasannya para ulama, dan apakah umat muslim wajib mendirikannya sebagaimana dulu yg dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin.? Dan bagaimana dengan di Indonesia, apakah khilafah cocok di terapkan di Indonesia?
➡️ Jawaban :
Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.
Secara syariat, tidak ada standar baku mengenai konsep imamah atau konsep kepemimpinan didalam islam. Dan tidak ada legalitasnya didalam syariat entah itu yang bersifat perintah (kewajiban ataupun anjuran) bahwa umat islam diperintahkan untuk menjalankan sistem pemerintahan dalam bentuk khilafah. Tapi yang ada adalah konsep baku tentang wajibnya iqomatul imam (yakni mengangkat seorang pemimpin), artinya umat islam wajib memiliki seorang pemimpin yang bertugas untuk menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Terlepas sistem pemerintahannya apa entah itu khilafah dengan amirul mu'mininnya, demokrasi dengan presidennya, dan lain sebagainya. Adapun dalam keadaan dimana umat islam sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan munculnya banyak negara, maka sudah diketahui bersama bahwa di setiap negara itu membutuhkan masing-masing pemimpin. Dan ijma ulama sendiri hanya berfokus pada seputar pembahasan wajibnya keberadaan seorang pemimpin, bukan wajibnya keberadaan sistem pemerintahan tertentu.
📚 Keterangan :
(الأحكام السلطانية : ص ١٥)
الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا، وعقدها لمن يقوم بها في الأمة واجب بالإجماع
“Imamah (atau kepemimpinan) itu ditempatkan sebagai khilafah nubuwah (yakni sebagai peran pengganti nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam hal kepemimpinan umat islam) untuk menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Dan akad imamah (kepemimpinan) bagi orang yang mendirikannya (ditengah-tengah) umat, maka hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma”
📚 Tambahan keterangan :
(الفقه الإسلامي وأدلته : ج ٨ ص ٦١٤٨)
وواضح من قول العلماء أن الإجماع منصب على ضرورة وجود الحاكم، وليس المهم شكل الحكم من خلافة أو غيرها مادام الشرع هو المطبق
“Dan yang jelas dari pernyataannya para ulama bahwa ijma itu hanya berfokus pada (butuhnya sebuah negeri dengan) keberadaan penguasa (atau pemerintahan), dan bukan berfokus pada (keberadaan) sistem pemerintahan entah itu sistem kekhilafahan atau yang lainnya selama syariat tetap diterapkan”
📚 Tambahan keterangan :
(السيل الجرار : ص ٩٤١)
وأما بعد انتشار الإسلام واتساع رقعته وتباعد أطرافه فمعلوم أنه قد صار في كل قطر أو أقطار الولاية إلى إمام أو سلطان وفي القطر الآخر أو الأقطار كذلك، ولا ينفذ لبعضهم أمر ولا نهي في قطر الآخر وأقطاره التي رجعت إلى ولايته، فلا بأس بتعدد الأئمة والسلاطين، ويجب الطاعة لكل واحد منهم بعد البيعة له على أهل القطر الذي ينفذ فيه أوامره ونواهيه، وكذلك صاحب القطر الآخر، فإذا قام من ينازعه في القطر الذي قد ثبتت فيه ولايته وبايعه أهله كان الحكم فيه أن يقتل إذا لم يتب، ولا تجب على أهل القطر الآخر طاعته، ولا الدخول تحت ولايته؛ لتباعد الأقطار، فإنه قد لا يبلغ إلى ما تباعد منها خبر إمامها أو سلطانها، ولا يدرى من قام منهم أو مات، فالتكليف بالطاعة والحال هذه تكليف بما لا يطاق، وهذا معلوم لكل من له اطلاع على أحوال العباد والبلاد، فإن أهل الصين والهند لا يدرون بمن له الولاية في أرض المغرب، فضلا عن أن يتمكنوا من طاعته وهكذا العكس، وكذلك أهل ما وراء النهر لا يدرون بمن له الولاية في اليمن وهكذا العكس، فاعرف هذا فإنه المناسب للقواعد الشرعية والمطابق لما تدل عليه الأدلة، ودع عنك ما يقال في مخالفته، فإن الفرق بين ما كانت عليه الولاية الإسلامية في أول الإسلام وما هي عليه الآن أوضح من شمس النهار، ومن أنكر هذا فهو مباهت لا يستحق أن يخاطب بالحجة لأنه لا يعقلها
“Adapun setelah tersebarnya islam dan meluasnya wilayah serta tempat-tempat menjadi saling berjauhan, maka telah diketahui bahwasanya setiap daerah (atau negara itu membutuhkan) seorang imam atau seorang sultan. Demikian juga di daerah dan wilayah yang lain, dan mereka (rakyatnya) tidak perlu melaksanakan perintah serta larangan yang berlaku didaerah (atau dinegara) yang lain. Maka dengan berbilangnya imam dan sultan (yang berlainan daerah kekuasaannya) adalah tidak apa-apa. Dan setelah di baiatnya seorang imam, maka wajib bagi setiap orang yang berada dibawah daerah kekuasaannya untuk mentaatinya, yaitu dengan melaksanakan perintah dan larangannya. Seperti itu pula daerah-daerah (atau negara-negara) yang lainnya. Dan jika ada orang yang menyelisihi (imam atau sultan) didalam satu daerah (atau satu negara) yang mana kekuasaan telah dipegangnya dan orang-orang telah membaiatnya, maka hukuman bagi orang tersebut adalah di bunuh jika dia tidak mau bertaubat. Dan tidak wajib bagi rakyat daerah (atau negara) lainnya untuk mentaatinya dan masuk dibawah kekuasannya, karena saling berjauhan (jarak daerah kekuasaannya).
Karena sesungguhnya berita tentang imam atau sultan di wilayah yang jauh tidak sampai kepada mereka, dan mereka tidak mengetahui siapa yang telah menjadi imam atau siapa yang telah meninggal disana. Maka mentaklif mereka untuk taat dalam keadaan seperti itu merupakan sesuatu yang tidak mampu (tidak mungkin) dilakukan, dan hal ini telah diketahui secara nyata oleh siapapun yang memahami keadaan manusia dan daerah-daerah (negara-negara) mereka. Maka, sesungguhnya penduduk cina dan india tidak mengetahui siapa yang telah berkuasa di wilayah maghrib (maroko), lebih-lebih sampai mereka mampu menaati perintahnya. Begitu juga sebaliknya, penduduk wilayah asia tengah tidak mengetahui siapa yang telah berkuasa di yaman, begitu juga sebaliknya. Maka ketahuilah masalah ini, karena sesungguhnya hal ini sesuai dengan kaidah-kaidah syar'iyyah dan berkesuaian dengan dalil, oleh karena itu abaikanlah pendapat yang menyelisihinya. Sesungguhnya perbedaan antara daerah kekuasaan pada awal permulaan islam dengan yang ada pada saat ini adalah lebih jelas daripada matahari di siang hari. Dan barang siapa yang mengingkari masalah ini, maka dia adalah seorang pembangkang. Orang seperti itu tidak perlu diajak bicara dengan hujjah karena dia tidak akan memahaminya.”
📚 Tambahan keterangan :
(دار الافتاء المصرية، رقم : ٢٤٢٦)
الخلافة أو الإمامة العظمى مترادفتان في الدلالة على معنى واحد هو القيام بخلافة صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا، والحاصل الآن أن منصب الخلافة بمعناها المتمثل في شخص واحد قد انقضى إلا أن علته المتمثلة في الحفاظ على مصالح الناس وسياستهم لا تزال قائمة، وهذا بعينه ما يقوم به رئيس الدولة حديثا من نحو سياسة الناس وتدبير شؤونهم وتنفيذ الأحكام وتجهيز الجيوش وكسر شوكة المجرمين والأخذ على أيديهم، وإظهار الشعائر. وبما أنه قد تقرر شرعًا أن الميسور لا يسقط بالمعسور، فعند تعسر وجود رجل واحد متمثل في شخص الخليفة ووجد حكام أعانوا الناس على إقامة الشعائر وساسوهم بما يحقق مصالحهم، فإنه تجبُ طاعتهم شرعا ما لم يأمروا الناس بمعصية
“Khilafah atau imamul a'dzhom adalah dua istilah yang memiliki makna serupa, yaitu peran (kepemimpinan) sebagai pengganti pemilik syariat (yakni nabi shallallahu 'alaihi wasallam) dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Namun pada saat ini, kekhilafahan dengan makna kepemimpinan tunggal itu sudah berakhir, namun tujuannya untuk menjaga kemaslahatan manusia dan mengatur urusan mereka itu tetap ada. Dan inilah yang dilakukan oleh (setiap) pemimpin negara pada saat ini seperti untuk mengatur urusan manusia, mengelola urusan mereka, melaksanakan hukum, menyiapkan para pasukan bersenjata, melemahkan (kekuatan) musuh dan menegakkan syiar-syiar (agama). Dan sungguh telah ditetapkan secara syariat bahwasanya perkara yang mudah itu tidaklah menjadi gugur karena perkara yang sulit, maka ketika ada kesulitan untuk mewujudkan keberadaan satu orang khalifah, namun ada para penguasa yang membantu manusia dalam menegakkan syiar-syi'ar (agama) dan memimpin mereka untuk menciptakan kemaslahatan, maka para penguasa tersebut wajib ditaati secara syariat selama mereka tidak memerintahkan untuk melakukan maksiat”
والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar