Senin, Juni 03, 2024

KESAMAAN UANG & EMAS DARI SEGI ILLAT


🖋️ Didalam kitab Fiqhul Mu'amalat disebutkan :

فإن مجلس المجمع الفقهي الإسلامي قد اطلع على البحث المقدم إليه في موضوع العملة الورقية وأحكامها من الناحية الشرعية وبعد المناقشة والمداولة بين أعضائه قرر ما يلي:

أولا: أنه بناء على أن الأصل في النقد هو الذهب والفضة، وبناء على أن علة جريان الربا فيهما هي مطلق الثمنية في أصح الأقوال عند فقهاء الشريعة. وبما أن الثمنية لا تقتصر عند الفقهاء على الذهب والفضة، وإن كان معدنهما هو الأصل. وبما أن العملة الورقية قد أصبحت ثمنا، وقامت مقام الذهب والفضة في التعامل بها، وبها تقوم الأشياء في هذا العصر، لاختفاء التعامل بالذهب والفضة، وتطمئن النفوس بتمولها وادخارها، ويحصل الوفاء والإبراء العام بها، رغم أن قيمتها ليست في ذاتها، وإنما في أمر خارج عنها، وهو حصول الثقة بها، كوسيط في التداول والتبادل، وذلك هو سر مناطها بالثمنية. وحيث إن التحقيق في علة جريان الربا في الذهب والفضة هو مطلق الثمنية، وهي متحققة في العملة الورقية، لذلك كله، فإن مجلس المجمع الفقهي الإسلامي، يقرر: أن العملة الورقية نقد قائم بذاته، له حكم النقدين من الذهب والفضة، فتجب الزكاة فيها، ويجري الربا عليها بنوعيه، فضلا ونسيئة، كما يجري ذلك في النقدين من الذهب والفضة تماما، باعتبار الثمنية في العملة الورقية قياسا عليهما، وبذلك تأخذ العملة الورقية أحكام النقود في كل الالتزامات التي تفرضها الشريعة فيها

ثانيا: يعتبر الورق النقدي نقدًا قائمًا بذاته، كقيام النقدية في الذهب والفضة وغيرهما من الأثمان، كما يعتبر الورق النقدي أجناسًا مختلفة، تتعدد بتعدد جهات الإصدار في البلدان المختلفة، بمعنى أن الورق النقدي السعودي جنس، وأن الورق النقدي الأمريكي جنس. وهكذا كل عملة ورقية جنس مستقل بذاته، وبذلك يجري فيها الربا بنوعيه فضلا ونسيئة، كما يجري الربا بنوعيه في النقدين الذهب والفضة وفي غيرهما من الأثمان وهذا كله يقتضي ما يلي:

(أ) لا يجوز بيع الورق النقدي بعضه ببعض، أو بغيره من الأجناس النقدية الأخرى، من ذهب أو فضة أو غيرهما، نسيئة مطلقا. فلا يجوز مثلا بيع ريال سعودي بعملة أخرى متفاضلا نسيئة بدون تقابض

(ب) لا يجوز بيع الجنس الواحد من العملة الورقية بعضه ببعض متفاضلا، سواء كان ذلك نسيئة أو يدا بيد، فلا يجوز مثلا بيع عشرة ريالات سعودية ورقا، بأحد عشر ريالا سعودية ورقا نسيئة أو يدا بيد

(ج) يجوز بيع بعضه ببعض من غير جنسه مطلقا، إذا كان ذلك يدا بيد، فيجوز بيع الليرة السورية أو اللبنانية بريال سعودي ورقا كان أو فضة، أو أقل من ذلك، أو أكثر. وبيع الدولار الأمريكي بثلاثة ريالات سعودية، أو أقل من ذلك، أو أكثر، إذا كان ذلك يدًا بيد، ومثل ذلك في الجواز بيع الريال السعودي الفضة بثلاثة ريالات سعودية ورق، أو أقل من ذلك أو أكثر يدًا بيد؛ لأن ذلك يعتبر بيع جنس بغير جنسه، لا أثر لمجرد الاشتراك في الاسم مع الاختلاف في الحقيقة

ثالثا: وجوب زكاة الأوراق النقدية، إذا بلغت قيمتها أدنى النصابين من ذهب أو فضة، أو كانت تكمل النصاب مع غيرها من الأثمان والعروض المعدة للتجارة

 رابعا: جواز جعل الأوراق النقدية رأس مال في بيع السلم والشركات

📚 (فقه المعاملات مكتبة شاملة : ج ٣ ص ٤٧٩)

“Sesungguhnya majelis perkumpulan fiqih dunia (yaitu Majma' Fiqih Al-Islami) telah meneliti sebuah riset yang diajukan terkait masalah mata uang kertas dan hukum-hukumnya berdasarkan syariat. Dan setelah diadakan diskusi diantara anggota majelis, maka diputuskan hal-hal sebagai berikut : 

1. Berpijak pada bahan awal alat pembayaran (nuqud) adalah emas dan perak, dan berpijak pada illat berlakunya hukum riba pada emas dan perak adalah tsamaniyah (standar harga atau alat tukar pembayaran) menurut pendapat yang shohih dikalangan para fuqoha. Dan kriteria tsamaniyah ini menurut para fuqoha tidak hanya terbatas pada emas dan perak sekalipun asal dzattiyahnya adalah emas dan perak.

Dan mata uang kertas telah menjadi sebuah alat pembayaran yang memiliki harga dan berperan layaknya emas dan perak dalam penggunaannya. Sehingga uang kertas telah menjadi standar ukuran nilai barang pada hari ini, karena penggunaan emas dan perak (sebagai alat tukar) tidak lagi nampak dalam interaksi, dan jiwa masyarakat merasa tenang dengan menganggapnya sebagai alat tukar (tamawwul) dan menyimpannya. 

Penunaian pembayaran yang sah terwujud dengannya dalam skala umum. Dan meskipun nilainya bukan pada dzatnya, akan tetapi karena faktor luar, yaitu terwujudnya kepercayaan masyarakat terhadapnya sebagai sarana pembayaran dan pertukaran. Maka inilah titik pertimbangan kuat bagi sisi tsamaniyah yang melekat pada uang kertas. Dan kesimpulan tentang illat berlakunya hukum riba pada emas dan perak adalah tsamaniyah, maka illat ini juga melekat pada uang kertas.

Oleh karena itu dengan pertimbangan-pertimbangan diatas seluruhnya, maka Majma' Fiqih Al-Islami menetapkan bahwa mata uang kertas merupakan alat pembayaran yang berdiri sendiri dan mengambil hukum emas dan perak. Sehingga zakat menjadi wajib pada uang kertas dan pada dua jenis riba, yaitu riba fadhl dan riba nasiah sebagaimana hal itu berlaku pada mata uang emas dan mata uang perak secara sempurna dengan mempertimbangkan kriteria tsamaniyah pada mata uang kertas, sehingga diqiyaskan dengan emas dan perak. Dengan demikian, maka mata uang kertas telah mengambil hukum-hukum mata uang emas dan perak (yaitu dinar dirham) dalam segala konsekuensi yang telah ditetapkan syariat.

2. Uang kertas dianggap sebagai alat pembayaran yang berdiri sendiri sebagaimana fungsi emas, perak dan benda-benda berharga lainnya. Demikian juga uang kertas diklasifikasikan sebagai jenis yang berbeda-beda dan beraneka ragam sesuai dengan pihak penerbitnya di negara-negara yang berbeda pula. Artinya uang kertas Saudi Arabia adalah satu jenis, dan uang kertas Amerika pun adalah satu jenis. Begitulah setiap uang kertas adalah satu jenis yang berdiri sendiri secara dzatnya. Dengan demikian, hukum riba dengan kedua macamnya yaitu riba fadhl dan riba nasiah telah berlaku pada uang kertas sebagaimana kedua riba ini berlaku pada emas dan perak serta barang berharga lainnya.

Semua ini berkonsekuensi sebagai berikut :

a. Tidak boleh menjual (menukar) mata uang dengan sebagian mata uang yang lain, atau dengan mata uang yang berbeda dari jenis-jenis alat pembayaran lainnya berupa emas atau perak, atau selain keduanya dengan adanya tempo (penundaan serah terima) secara mutlak. Misalnya menjual (menukar) sepuluh riyal Saudi dengan mata uang lain dengan selisih nilai disertai adanya penundaan tanpa serah terima secara langsung (yakni tunai atau yadan bi yadin).

b. Tidak boleh menjual (menukar) satu jenis mata uang dengan jenisnya sendiri dimana salah satunya lebih banyak daripada yang lainnya, entah hal itu dilakukan secara tunai maupun tempo (tertunda). Misalnya menjual (menukar) uang kertas Saudi sepuluh riyal dengan uang kertas Saudi sebelas riyal dengan adanya tempo (penundaan) maupun dengan serah terima secara langsung (yakni tunai atau yadan bi yadin).

c. Boleh menjual (menukar) satu jenis mata uang dengan jenis mata uang lainnya yang berbeda jika hal itu dilakukan secara tunai. Dan diperbolehkan menjual (menukar) lira Suriah atau Lebanon dengan riyal Saudi, entah berupa uang kertas ataupun perak dalam jumlah yang sama, atau lebih rendah, atau lebih tinggi. Juga diperbolehkan menjual (menukar) satu dollar Amerika dengan tiga riyal Saudi, atau lebih rendah dari itu, atau lebih tinggi jika hal itu dilakukan secara tunai. Semisal diperbolehkan juga menjual (menukar) riyal Saudi perak dengan tiga riyal Saudi kertas, atau lebih rendah, atau lebih tinggi dari itu jika dilakukan secara tunai. Karena dalam kasus ini dianggap menjual (menukar) satu jenis mata uang dengan jenis yang lainnya, yakni hanya sekedar kesamaan nama yang tidak berpengaruh karena hakikat keduanya berbeda.

3. Uang kertas wajib dikeluarkan zakatnya jika sudah mencapai nishob terendah dari nishob emas atau perak, atau nishobnya terwujud dengan menggabungkannya bersamaan harta berharga lainnya dan harga barang yang disiapkan untuk diperdagangkan.

4. Boleh menjadikan mata uang kertas sebagai modal dalam jual beli salam dan syirkah (kerja sama).”

📕 (Fiqhul Mu'amalat jilid 3, hlm. 479 Maktabah Syamilah)

والله اعلم بالصواب 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...