Sabtu, Januari 27, 2024

MAKNA ISTAWA ALLAH


🔄 Pertanyaan :

Didalam Al-Qur'an ada sekitar 7 ayat yang menyebutkan tentang istawa, nah yang ingin ditanyakan sebenarnya makna istawa itu bagaimana?

➡️ Jawaban :

Terkait nash-nash mutasyabihat yang ada didalam Al-Qur'an dan sunnah, para ulama ahlussunnah wal jama'ah dari kalangan salaf dan kholaf itu punya metodologi yang dinamakan dengan metodologi tafwidh dan metodologi takwil saat memahaminya. 

Secara sederhana, tafwidh adalah menyerahkan makna sebuah nash yang ada didalam Al-Qur'an dan sunnah tanpa membahasnya panjang lebar. Artinya nash tersebut diberlakukan saja apa adanya sesuai lafadznya yang tertera didalam Al-Qur'an dan sunnah, tanpa dimaknai entah itu dengan makna majazi ataupun dengan makna haqiqi. Dan inilah yang lebih selamat kata para ulama.

Adapun para ulama kholaf, kebanyakan dari mereka melakukan takwil terhadap nash-nash mutasyabihat. Yaitu nash mutasyabihat tidak dimaknai dengan makna dzohir, namun dimaknainya dengan makna lain yang sesuai dengan keagungan Allah. Semisal lafadz istawa yang ditanyakan, itu ditakwil oleh para ulama dengan makna menguasai. Dan takwil ini adalah salah satu alternatif yang dipakai oleh para ulama, yang mana jika seandainya nash mutasyabihat tidak ditakwil maka orang-orang awam akan terjerumus kepada pemahaman tasybih dan tajsim. Hanya saja, tidak semua orang boleh mentakwil. Melainkan hanya para ulama saja yang boleh untuk mentakwil.

Nah dibawah ini ada keterangan terkait metodologi yang dipakai oleh para ulama salaf dan kholaf saat bertemu dengan nash-nash yang mutasyabihat :

اعلم أن لأهل العلم في أحاديث الصفات وآيات الصفات قولين، أحدهما : وهو مذهب معظم السلف أو كلهم أنه لا يتكلم في معناها بل يقولون: يجب علينا أن نؤمن بها ونعتقد لها معنى يليق بجلال الله تعالى وعظمته مع اعتقادنا الجازم أن الله تعالى ليس كمثله شيء، وأنه منزه عن التجسم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوق، وهذا القول هو مذهب جماعة من المتكلمين واختاره جماعة من محققيهم وهو أسلم، والقول الثاني : وهو مذهب معظم المتكلمين أنها تتأول على ما يليق بها على حسب مواقعها، وإنما يسوغ تأويلها لمن كان من أهله بأن يكون عارفا بلسان العرب وقواعد الأصول الفروع ذا رياضة في العلم

“Ketahuilah bahwa terdapat dua pendapat dikalangan para ahli ilmu berkenaan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits sifat (semisal Allah turun, istawa dan sebagainya). Yang pertama adalah pendapat kebanyakan ulama salaf atau kebanyakan dari mereka bahwa sesungguhnya mereka itu tidak berkata (atau membahas) terkait maknanya, (yakni tafwidh atau menyerahkan maknanya kepada Allah). Bahkan mereka berkata: Kita wajib beriman dan meyakini nash tersebut berdasarkan makna yang layak sesuai dengan keagungan Allah ta'ala dan kebesarannya dengan berpegang teguh bahwa Allah tidak serupa dengan apapun. 

Dan sesungguhnya mahasuci Allah daripada tajsim, berpindah, mengambil ruang pada suatu tempat, dan mahasuci Allah daripada menyerupai sifat-sifat makhluk. Inilah pendapat yang dipegang oleh sebahagian daripada ulama-ulama ahli kalam dan menjadi pilihan oleh sebahagian pengkaji mereka, dan pendapat ini lebih selamat. Yang kedua adalah pendapat kebanyakan dari ulama-ulama ahli kalam. Mereka mentakwil nash-nash tersebut sesuai dengan keadaan tertentu. Dan sesungguhnya keharusan untuk mentakwil sebuah nash adalah khusus bagi mereka yang mengerti bahasa arab (dengan baik), dan memahami kaidah-kaidah ushul serta cabang-cabangnya berlandaskan ilmu pengetahuan yang mendalam” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 3/18) 

Didalam keterangan lain disebutkan :

وجمهور أهل السنة منهم السلف وأهل الحديث على الإيمان بها (يعني استوى)، وتفويض معناها المراد منها إلى الله تعالى ولا نفسرها مع تنزيهنا له عن حقيقتها

“Mayoritas ulama ahlussunnah dari kalangan salaf dan ahli hadits mengimani dan mentafwidh (yakni menyerahkan makna istawa itu kepada Allah). Mereka tidak menafsirkannya, dan mereka pun mensucikan Allah dari hakikat istawa yang sebenarnya (tanpa memberikan gambaran secara dzohir)” (Al-Itqan Fi 'Ulumil Qur'an : 3/15)

Kemudian didalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan :

وقوله: الرحمن على العرش استوى تقدم الكلام على ذلك في سورة الأعراف بما أغنى عن إعادته أيضا، وأن المسلك الأسلم في ذلك طريقة السلف، إمرار ما جاء في ذلك من الكتاب والسنة من غير تكييف ولا تحريف ولا تشبيه ولا تعطيل ولا تمثيل

“Firman Allah: (Yaitu) tuhan yang maha pemurah beristawa diatas arsy. Pembahasan makna istawa telah disebutkan sebelumnya didalam surah Al-A'raf. Dan pemahaman yang lebih selamat dalam memahami makna lafadz istawa adalah dengan mengikuti pemahamannya para ulama salaf. Yaitu dengan memberlakukan (ayat tersebut) apa adanya seperti yang ada didalam Al-Qur'an dan sunnah dengan tanpa memberikan gambaran, penyelewengan, penyerupaan, tidak dipalingkan dan tidak pula dipermisalkan” (Tafsir Al-Qur'anil Adzhim : 5/271)
 
Lalu didalam keterangan lain juga disebutkan terkait istawa Allah :

سئل الامام احمد عن الاستواء، فقال : استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

“Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya mengenai makna istawa, beliau mengatakan: Allah beristawa sebagaimana yang dia kabarkan (didalam Al-Qur'an), tapi tidak seperti yang terlintas didalam pikiran manusia” (Al-Burhanul Muayyad : 87)

Poin penting yang bisa difahami dari pernyataan imam Ahmad diatas adalah sebagai berikut :

1. Secara umum, yang terlintas didalam pikiran manusia terkait istawa itu biasanya adalah dibayangkan dengan bersemayam, duduk diatas singgasana dan lainnya.

2. Namun berdasarkan pernyataan imam Ahmad diatas, maka harus dipangkas pikiran yang semacam itu bahwa istawa Allah tidaklah demikian. Yakni tidak seperti yang terlintas didalam pikiran manusia pada umumnya. Artinya tidak diketahui makna haqiqi daripada istawanya Allah, dan hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.

Dan yang terakhir, ini ada keterangan terkait takwil istawa yang dilakukan oleh salah seorang ulama salaf :

استوى استولى، عن الزجاج ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على غيره. وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك جعلوه كناية عن الملك. فقال استوى فلان على العرش، أي ملك وإن لم يقعد على السرير ألبتة

“Istawa maknanya adalah menguasai, (hal itu sebagaimana yang dihikayatkan) dari imam Az-Zajjaj yang memberitahu dengan penyebutan arsy atas yang lainnya. Dan arsy ini adalah makhluk Allah yang paling besar diantara makhluk Allah yang lainnya, sampai-sampai dikatakan : Istawa atas arsy yakni singgasana raja, adalah sebagian dari sesuatu yang berhubungan dengan kepemilikan. Maka (sebagian ulama) menjadikan istawa sebagai kinayah dari istilah kepemilikan. Seperti dikatakan : Istawa fulan atas arsy, maknanya adalah dia yang memiliki arsy meskipun si fulan tersebut tidak duduk diatas singgasananya sama sekali” (Tafsir An-Nafasi : 730)

Kesimpulannya, yang lebih direkomendasikan saat bertemu dengan nash-nash mutasyabihat semisal saat bertemu dengan lafadz istawa adalah dengan melakukan tafwidh meskipun terkadang pada saat-saat tertentu juga boleh untuk dilakukan takwil. Dan takwil ini sebagai jalan terkahir jika seumpama ada orang awam yang bersikukuh terus menanyakan makna dari ayat mutasyabihat tersebut.

Demikianlah, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...