Minggu, Desember 03, 2023

TANYA JAWAB - HUKUM SHOLAT DENGAN MEMBAWA NAJIS YANG TIDAK DIKETAHUI


๐Ÿ”„ Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Diantara syarat sahnya shalat kan hrus suci dari najis, nah gmna ketika selesai shalat dan selang beberapa waktu lalu ditemukan ada najis pada pakaian. Ini bagaimana hukumnya ya ustadz? Apa shalatnya harus diulang atau tdk, mohon jawabannya syukron๐Ÿ™

➡️ Jawaban :

Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.

Hukum orang sholat dengan membawa najis yang tidak diketahuinya, ulama berbeda pendapat. Ulama madzhab Syafi'i menyatakan bahwa wajib diulang sholatnya, sedangkan jumhur ulama selain daripada madzhab Syafi'i menyatakan bahwa sholatnya tidak wajib diulang. Dan pendapat yang menyatakan tidak wajib diulang adalah pendapat yang lebih kuat dari segi dalilnya, mengingat seseorang yang akan melaksanakan sholat itu pada umumnya akan yakin kalau dia tidak akan membawa najis saat sholat.

๐Ÿ“š Keterangan :

(ูุฑุน) ููŠ ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠู…ู† ุตู„ู‰ ุจู†ุฌุงุณุฉ ู†ุณูŠู‡ุง ุฃูˆ ุฌู‡ู„ู‡ุง، ุฐูƒุฑู†ุง ุฃู† ุงู„ุฃุตุญ ููŠ ู…ุฐู‡ุจู†ุง ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฅุนุงุฏุฉ ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ู‚ู„ุงุจุฉ ูˆุฃุญู…ุฏ، ูˆู‚ุงู„ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก : ู„ุง ุฅุนุงุฏุฉ ุนู„ูŠู‡ ุญูƒุงู‡ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ุณูŠุจ ูˆุทุงูˆุณ ูˆุนุทุงุก ูˆุณุงู„ู… ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆู…ุฌุงู‡ุฏ ูˆุงู„ุดุนุจูŠ ูˆุงู„ู†ุฎุนูŠ ูˆุงู„ุฒู‡ุฑูŠ ูˆูŠุญูŠู‰ ุงู„ุฃู†ุตุงุฑูŠ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ ูˆุฅุณุญุงู‚ ูˆุฃุจูŠ ุซูˆุฑ، ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ ูˆุจู‡ ุฃู‚ูˆู„ ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุฑุจูŠุนุฉ ูˆู…ุงู„ูƒ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆูŠ ููŠ ุงู„ุฏู„ูŠู„ ูˆู‡ูˆ ุงู„ู…ุฎุชุงุฑ

“(Cabang), terkait beberapa pendapat ulama mengenai orang yang sholat dengan membawa najis yang dia lupakan atau tidak diketahuinya. Kami menyebutkan bahwa sesungguhnya pendapat yang shohih didalam madzhab kami (madzhab Syafi'i) disebutkan : Wajib untuk mengulangi sholatnya, dan pendapat ini juga diikuti oleh imam Abu Qilabah serta imam Ahmad. Namun mayoritas ulama (selain madzhab Syafi'i) menyatakan bahwa tidak wajib mengulangi sholatnya, dan pendapat ini dikemukakan oleh imam Ibnul Mundzir yang berasal dari riwayat Ibnu Umar, Sa'ad bin Musayyab, Thowus, Atho, Salim bin Abdullah, Mujahid, Asy-Sya'bi, An-Nakho’i, Az-Zuhri, Yahya Al-Anshori, Al-Auza’i, Ishaq dan Abu Tasur. Imam Ibnul Mundzir dan aku (imam Nawawi) berkata : Pendapat yang menyatakan tidak wajibnya mengulangi sholat adalah pendapat imam Rabi'ah serta imam Malik, pendapat ini lebih kuat dari segi dalilnya dan merupakan pendapat yang dipilih (oleh mayoritas ulama)” 

๐Ÿ“• (Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab jilid 4, hlm. 164)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ูุตู„: ูˆุฅุฐุง ุตู„ู‰ ุซู… ุฑุฃู‰ ุนู„ูŠู‡ ู†ุฌุงุณุฉ ููŠ ุจุฏู†ู‡ ุฃูˆ ุซูŠุงุจู‡ ู„ุง ูŠุนู„ู… ู‡ู„ ูƒุงู†ุช ุนู„ูŠู‡ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฃูˆ ู„ุง؟ ูุตู„ุงุชู‡ ุตุญูŠุญุฉ ู„ุฃู† ุงู„ุฃุตู„ ุนุฏู…ู‡ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ، ูˆุฅู† ุนู„ู… ุฃู†ู‡ุง ูƒุงู†ุช ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ูƒู† ุฌู‡ู„ู‡ุง ุญุชู‰ ูุฑุบ ู…ู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ูููŠู‡ ุฑูˆุงูŠุชุงู†، ุฅุญุฏุงู‡ู…ุง: ู„ุง ุชูุณุฏ ุตู„ุงุชู‡ ู‡ุฐุง ู‚ูˆู„ ุงุจู† ุนู…ุฑ ูˆุนุทุงุก ูˆุณุนูŠุฏ ุจู† ุงู„ู…ุณูŠุจ ูˆุณุงู„ู… ูˆู…ุฌุงู‡ุฏ ูˆุงู„ุดุนุจูŠ ูˆุงู„ู†ุฎุนูŠ ูˆุงู„ุฒู‡ุฑูŠ ูˆูŠุญูŠู‰ ุงู„ุฃู†ุตุงุฑูŠ ูˆุฅุณุญุงู‚ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ، ูˆุงู„ุซุงู†ูŠุฉ :ูŠุนูŠุฏ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุฃุจูŠ ู‚ู„ุงุจุฉ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ู„ุฃู†ู‡ุง ุทู‡ุงุฑุฉ ู…ุดุชุฑุทุฉ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ูู„ู… ุชุณู‚ุท ุจุฌู‡ู„ู‡ุง ูƒุทู‡ุงุฑุฉ ุงู„ุญุฏุซ، ูˆู‚ุงู„ ุฑุจูŠุนุฉ ูˆู…ุงู„ูƒ: ูŠุนูŠุฏ ู…ุง ูƒุงู† ููŠ ุงู„ูˆู‚ุช ูˆู„ุง ูŠุนูŠุฏ ุจุนุฏู‡

“(Pasal), jika seseorang melakukan sholat kemudian melihat najis dibadan dan pakaiannya, namun tidak diketahui apakah najis tersebut muncul ketika melakukan sholat atau bukan, maka terkait hal ini sholatnya dianggap sah. Karena hukum asalnya, (seseorang akan meyakini) bahwa najis tidak berada dibadan dan pakaiannya ketika melakukan sholat. Adapun jika seseorang mengetahui adanya najis ketika melakukan sholat, akan tetapi dia tidak mengetahui keberadaannya sampai selesai melakukan sholat, maka terkait hal ini ada dua riwayat (pendapat). Pendapat pertama menyatakan bahwa tidak rusak (atau dianggap sah) sholatnya, dan ini merupakan pendapatnya Ibnu Umar, Atho, Sa'id bin Musayyib, Salim, Mujahid, Asy-Sya'bi, An-Nakhoi, Az-Zuhri, Yahya Al-Anshori, Ishaq bin Rahawaih dan Ibnul Mundzir. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa dia (wajib) mengulangi sholatnya, dan ini merupakan pendapatnya imam Abu Qilabah dan imam Syafi'i. Karena yang demikian itu berkaitan dengan kesucian yang merupakan syarat sahnya sholat, maka dari itu tidak bisa gugur disebabkan ketidaktahuan sebagaimana halnya kesucian dari hadas. Sedangkan Rabi'ah dan imam Malik menyatakan bahwa dia (wajib) mengulangi sholatnya selama masih berada pada waktunya, namun (tidak wajib) ketika sudah keluar dari waktunya”

๐Ÿ“• (Al-Mughni jilid 1, hlm. 402)

๐Ÿ“š Tambahan keterangan :

ู…ู† ูุนู„ ุงู„ู…ุญุธูˆุฑ ุฌู‡ู„ุง ุฃูˆ ู†ุณูŠุงู†ุง ุจุฑุฆุช ุฐู…ุชู‡ ูˆุชู…ุช ุนุจุงุฏุชู‡

“Barang siapa yang melakukan perbuatan terlarang (saat ibadah) dalam keadaan tidak tau atau lupa, maka akan terlepas tanggungannya dan tetap dinilai sempurna ibadahnya” 

๐Ÿ“• (Mauqi'ul Islam Sual wa Jawab jilid 5, no. 3938)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERINTAH NABI DI DALAM MIMPI YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM SYARA, APAKAH MENJADI HUJJAH?

➡️ Penjelasan ringkas : Mimpi bertemu nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang haq sebagaimana yang disebutkan dalam bebera...